Aqila Love Story

Aqila Love Story
Bab 33


__ADS_3

"Seharusnya Mama menjadi tempat pertama untukku berkeluh kesah tapi sayangnya hubungan mama denganku terlalu buruk untuk menjadi tempat berkeluh kesah." ~Rey~


.


.


.


Dirumah Rey.


“Assalamu’alaykum,” salam Rey ketika masuk kedalam rumah.


Ia segera masuk dan hendak naik ke tangga menuju kamarnya tapi berhenti karena suara Mama Ria.


“Mau kemana Rey?” tanya Mama Ria.


Rey berbalik.


“Mau ke kamar ma,” ucap Rey singkat.


“Gak boleh, ayo sini turun,” ajak Mama Ria.


“Mau ngapain sih ma,” tanya Rey kesal.


“Ada Rossa dirumah ayo sini,” Mama Ria menarik tangan Rey.


“Rey capek ma ayolah ma biarin Rey istirahat,” ucap Rey melepas cekalan tangan Mama Ria.


Mereka sudah ada di ruang Keluarga dan terlihat Rossa disana. Ternyata saat masuk tadi Rey tak melihat adanya Rossa dan Mamanya diruang Keluarga.


“Temenin Rossa aja duduk,” masih mengotot sang Mama Ria.


“Ma udahlah ma, Rey capek ma mau istirahat,” ucap Rey lalu melepas paksa tangan sang mama dan berbalik ke kamar.


“Rey kamu,” suara Mama Ria meninggi.


“Agghhh,” mama Ria hampir jatuh tapi ditangkap oleh Rey.


“Bi ambilin obat mama,” teriak Rey panik.


Bibi segera mengambil obat dan memberikannya pada Rey. Rey membantu sang mama minum obatnya karena jantungnya kembali kambuh.


Setelah selesai meminumnya. Rey membantu sang mama kembali ke kamar dibuntuti oleh Rossa.


“Ya tuhan apa yang sudah aku lakukan,” ucap Rey frustasi sambil meraup wajahnya kasar.


Dia menatap wajah sang mama yang memejamkan matanya.


“Mas bisa kembali ke kamar biar aku yang jagain Mama Ria,” ucap Rossa dengan menunduk.


Tanpa mengucapkan apapun Rey meninggalkan Rossa dikamar sang mama dan kembali ke kamarnya. Ia segera membuka pakaiannya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia menyegarkan pikirannya dengan membiarkan air shower membasahi kepalanya.


“Apa yang harus aku lakukan. Aku sangat mencintai Aqila tapi kalau mama tetep kekeh jodohin aku. Aku harus bagaimana aghhh” teriak Rey sambil menjambak rambutnya sendiri.


Ia memejamkan matanya dan yang terlintas dimatanya adalah wajah bahagia Aqila saat mereka menghabiskan waktu bersama. Rey segera menyudahi acara mandinya dan segera mengambil pakaiannya.


Sehabis memakai celana pendek dan kaos ketat yang membuat lekukan tubuh nya terlihat ia turun kembali menuju kamar sang mama.


Ceklek.


Rossa yang sedang memijat kaki Mama Ria akhirnya berhenti dan menoleh pada pintu.


“Mama sudah bangun?” tanya Rey.

__ADS_1


Mama Ria mengangguk, dan menatap Rossa dengan lembut.


“Rossa tunggu diluar sebentar ya nak, mama mau bicara sama Rey dulu. Boleh?” tanya Mama Ria.


“Boleh ma,” ucap Rossa.


Ia langsung berdiri dan keluar kamar setelah pamit pada Rey. Selepas kepergian Rossa, Rey mendekat dan duduk disamping Mama Ria.


“Mama jangan seperti itu lagi ya ma, Rey takut banget tadi ma,” lirih Rey saat mereka cukup lama diam.


“Kalau kamu gak mau jantung mama kambuh kamu harus nurut sama Mama Rey,” ucap Mama Ria menatap sang anak.


“Apa yang harus aku lakukan untuk mama?” ucap Rey dengan menatap sendu pada mamanya.


“Mama mohon kamu terima perjodohan mu dengan Rossa nak,” ucap Mama Ria pelan.


“Apa mama tidak tau, aku sudah mencintai wanita lain ma,” Rey menghindari tatapan sang mama.


“Bahkan aku sangat mencintainya ma, memang dia bukan dari keluarga kaya tapi dia seorang dokter dan wanita cerdas sekaligus keibuan. Aku bangga padanya ma, meski umur kita beda jauh dia sudah terlihat dewasa ma,” ucap Rey dengan menitikkan air matanya.


Ia menceritakan Aqila pada sang mama sambil membayangkan Aqila berada didepannya.


“Tapi mama gak setuju kamu sama dia Rey,” ucap Mama Ria tegas.


“Kenapa ma, kenapa? Aku dari dulu selalu nurut sama mama, apapun itu mama atur. Apa masalah jodoh harus mama atur juga ma?” tanya Rey dengan menangis.


“Bahkan mama memaksa aku menerima perjodohan ini ma, apa maksut mama mah jawab ma,” ucap Rey dengan nada tinggi.


“Karena mama gak mau kamu jadi sama adik dari perempuan yang pernah kamu cintai Rey,” ucapan Mama Ria meninggi.


“Dan keluarga kita banyak berhutang dengan keluarga Rossa juga Rey,” seru Mama Ria dengan nafas menderu.


“Tapi apa mama pernah membayangkan jadi Rey, apa mama pernah mikir perasaan Rey. Enggak kan ma. Mama selalu mikir apa mau mama aja, apa keinginan mama tanpa tau apa yang aku inginkan ma” ucap Rey lalu segera keluar dari kamar sang mama. Ia menyambar kunci mobilnya dinakas dekat ruang keluarga dan keluar.


Rey memukul setir kemudi.


“Kenapa mama selalu mengaturku, kenapa ma kenapa” teriak Rey dengan emosi memukul setir mobil.


Ia masih diam didalam mobil dengan nafas menderu dan dada naik turun. Hingga suara telfon diponselnya membuat perhatiannya beralih.


My Queen calling...


Senyum mengulas diwajah Rey saat melihat panggilan dari wanitanya itu, Rey menarik nafas dalam dan membuangnya.


“Hallo sayang?” sapa Rey.


“Halloo,” saut suara lembut diseberang.


“Merindukanku hmm,” ucap Rey dengan menggoda.


Aqila diseberang sana sudah merona pipinya. “Enggak,” ucap ketus Aqila.


“Terus ada apa menghubungiku malam-malam?” tanya Rey.


Aqila terdiam ia juga bingung harus mengucapkan apa. Karena perasaannya menjadi tak enak sejak lelaki itu pamit pulang dari rumahnya.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Aqila pelan.


Deg.


Jantung Rey berdebar kencang. Apa wanitanya merasakan kesakitannya.


“Iya aku baik-baik aja. Kenapa hmm?” tanya Rey.

__ADS_1


“Perasaanku tak enak sejak kamu pulang dari rumah mas,” ucap Aqila jujur.


Ada nafas lega saat ia sudah memberitahukan pada lelakinya itu.


“Mmm mungkin hanya perasaanmu saja sayang,” ucap Rey pelan.


“Mungkin,” saut Aqila.


Tin tin!


Aqila sontak kaget. Kenapa ada bunyi klakson.


“Kok ada bunyi klakson mas?” tanya Aqila.


“Mmm itu itu..” Rey masih terdiam.


“Jangan berfikir mas mau bohongin aku ya. Aku paling gak suka dibohongi,” ucap Aqila penuh penrkanan.


“Maaf sayang, mas lagi dijalan,” ucap pelan Rey jujur.


“Apaa! Malam-malam begini,” ucap Aqila kaget.


“Iya yang,” saut Rey.


“Ada urusan apa kamu keluar mas?” tanya Aqila.


“Gak ada cari angin yang,” Rey mencari alasan.


“Aku gak percaya. Pokoknya sekarang kamu kerumah mas daripada kelayapan begitu,” ucap tegas Aqila


Tanpa menunggu jawab dari Rey. Ia segera mematikan panggilan itu.


--*--


Berarti perasaanku benar bahwa ada sesuatu dengan Rey saat ini pikir Aqila seperti itu.


Ia duduk di kamarnya sambil menatap langit bintang dibalkon kamarnya.


“Aku ingin menjadi seperti bintang. Cantik indah dan tangguh,” ucap Aqila dengan menatap bintang itu.


Menunggu setengah jam akhirnya terdengar bunyi mobil mendekat. Aqila segera turun kebawah dengan memakai sendal tidur dan daster rumahan.


Ceklek.


--*--


Readers : Ceklek apaan thor? gantung banget


Author : Ceklek buka pintu itu maksutnya bambang


Readers : Lah terus ngapain pakek acara gantung segala?


Author : Yakan gue seneng kalau cerita beginian hahaha


Stop stop udah.


Author mau ngucapin Selamat Hari Raya Idul Adha bagi kaum muslim muslimin di lapak author🤗


Kalau author ada salah kata sengaja atau tidak mohon maaf yah❤️


Hari ini waktunya kurban hewan guys, buat kalian kurban perasaan aja yah hahahaha..


canda yee

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE


__ADS_2