
“Aku merasa bahagia untuk hari ini, disaat aku berharap pada Allah, ternyata Allah mendekatkan kita dengan jalannya. Tinggal satu langkah lagi jalan kita untuk menapaki jalannya kehidupan yang nyata.” ~Khali Mateen~
.
.
.
“Aku menerima pinanganmu pangeranku” ucap Aqila tegas lalu menunduk malu.
“Alhamdulillah ya allah,” ujar Khali dengan menengadahkan kedua tangannnya dan mengusap ke wajahnya.
“Kamu beneran kan ini?” tanya Khali lagi.
Aqila mengangguk malu.
“Makasih banyak yah,” kata Khali tulus.
Aqila memberanikan diri menatap lelaki didepannya lalu tersenyum. “Seharusnya aku yang berterimakasih padamu, karena kamu telah memilihku diantara banyak wanita yang menginginkanmu.”
“Kau tau, meski banyak wanita diluar sana yang mengharapkanku. Namun aku selalu berdoa semoga seseorang yang selalu muncul dipikiranku lah yang menjadi jodohku,” ujar Khali.
Aqila menautkan kedua alisnya mencerna perkataan Khali. “Memang siapa yang selalu muncul dipikiranmu?” tanya Aqila penasaran.
“Kamu,” ucap tegas Khali.
Ahhh ada yang meleleh bukan lilin. Ada yang panas bukan api. Tapi hati dan jantung yang bergenderang keras. Berdetak kencang bahkan pipi gadis itu sudah memerah. Kata-katanya mungkin tak romantis tapi kenapa bicara seperti itu saja sudah berhasil membuatnya tersipu malu.
Aqila hanya bisa menunduk sambil meremas kedua tangannya.
“Jadi kapan aku dan keluargaku bisa bertemu keluargamu?” tanya Khali.
“Kalau aku nurut sebisamu tuan ehh....,” ucap Aqila.
“Sama calon suami panggil tuan?” sindir Khali.
“Terus aku manggil apa?” tanya Aqila pelan.
“Hmmm apa yah.” Berfikir sejenak.
“Jangan aneh-aneh ” ucap Aqila.
“Bagaimana kalau sayang, honey, cinta....,” Aqila menyebutkan semua panggil kesayangan namun tak ada yang cocok dengan Khali.
__ADS_1
Aqila terdiam menunggu Khali yang sepertinya sedang berfikir. Sepertinya lelaki itu benar-benar berfikir keras untuk mencari panggilan terbaik untuknya.
“Bagaimana kalau panggil aku mas?” tanya Khali.
“Mas?” ulang Aqila.
“Iya, entah kenapa manggil mas lebih baik daripada lainnya,” ujar Khali semangat.
“Tapi kan gak mungkin aku panggil mas terus, apalagi kalau sudah menikah nanti,” lirih Aqila pelan.
“Memang kenapa?” tanya Khali heran.
“Kamu kan nanti seorang raja, dan juga kita bakal tinggal disini. Masak iya panggil mas ” ucap Aqila protes.
Aqila sadar diri, dia bukan ingin menikah dengan orang biasa. Melainkan dia menikah dengan orang besar, calon penerus kerajaan. Idola banyak wanita dan gadis diseluruh dunia. Siapapun yang mengenal Khali pasti akan langsung penasaran, dan terpesona jika sudah melihatnya. Karena itulah kadang Aqila merasa kecil jika berada bersama calon suaminya.
“Sudah jangan pikirkan itu, yang penting kita jalani ini sampai hari H. Secepatnya aku akan kerumahmu. Tapi aku pamit yah,” ujar Khali.
“Pamit kemana?”
“Besok aku akan ke Arab untuk bertemu dengan para petinggi kerajaan Arab,” tutur Khali.
Aqila mengangguk, dia harus mulai membiasakan diri nanti ditinggal kapan saja untuk pekerjaan.
“Iya pulanglah kesana sama Dini, nanti setelah menikah kamu baru tinggal disini bersamaku ”
Ahhhh ya tuhan ada yang merah tapi bukan tomat. Ada yang malu seperti putri malu. Ada yang berbunga tapi bukan bunga.
Kenapa malam ini Khali begitu menggemaskan dan lucu dalam berkata. Akhirnya malam itu berakhir dengan keuwuwan dua insan yang sedang dimabuk asmara. Eh bukan asmara melainkan bahagia karena lamarannya diterima.
Tanpa mempedulikan kebisuan dua insan berbeda jenis yang menjadi nyamuk. Ya mereka adalah Dini dan Ibra. Dua orang itu sejak ditinggal oleh Aqila dan Khali agak menjauh. Akhirnya keduanya mencari tempat duduk
Setelah berkenalan cuma-cuma akhirnya hanya ada keheningan. Ibra yang kaku, ceek dan tegas bersanding dengan Dini yang periang, cerewet dan mudah bercanda. Namun malam ini kecerewetan Dini seakan lenyap. Dia membisu, sejujurnya bibirnya sudah gatal untuk mengajak Ibra bicara namun karena ia mengedepankan rasa malu mangkanya dia diam saja.
Berbeda dengan Ibra. Memang baru kali ini dia pertama kalinya duduk bersama seorang wanita sedekat ini. Wanita asing yang beberapa kali bertemu. Tak ada yang spesial dari pertemuannya dengan wanita itu. Namun entah kenapa beberapa saat ini gadis itu bisa menarik atensi Ibra.
Ibra dibuat heran karena biasanya gadis itu suka bicara tapi sekarang hanya diam. Ibra sendiri juga ingin mengajaknya mengobrol. Namun gengsi tinggi membuatnya terdiam. Apalagi dia juga tak pernah sekalipun melakukan obrolan terlebih dahulu, apalagi obrolan tak penting.
Sampai akhirnya Aqila dan Khali bergabung kembali bersama mereka, dan melihat hanya kediaman yang ada di keduanya. Aqila mulai berpamitan dengan Khali untuk kembali.
Sudah beberapa kali Khali menawari untuk diantar namun ditolak oleh Aqila. Aqila dan Dini memilih jalan kaki sambil mencari cemilan atau makanan ringan.
Malam itu menjadi malam membahagiakan bagi dua insan yang memiliki masa lalu berbeda. Namun keduanya memiliki tujuan masa depan yang sama. Menjalin hubungan serius yaitu ikatan halal. Mencari ridho dan pahala Allah. Itulah saat ini harapan keduanya.
__ADS_1
---*---
Seperti perbincangan kemarin, Hari ini Raja Malik, Ratu Maura dan Khali akan berangkat ke Kerajaan Arab. Seluruh keamanan Kerajaan Brunei akan dipantau dari jauh oleh mereka dan tak lupa keberadaan Ibra di Istana yang akan menjadi pusat kontrol utama.
Dengan menaiki Pesawat Pribadi kerajaan, rombongan keluarga Khali mulai meninggalkan tanah Brunei itu. Jarak tempuh yang lumayan jauh yaitu 7,735 km itu ditempuh mereka dalam waktu 8 jam 35 menit.
Selama perjalanan tak ada obrolan apapun. Mereka bertiga menyiapkan hati untuk mencari tau bahkan jika kondisinya memungkinkan maka mereka akan membongkar posisi keluarga Khalid.
Di dalam pesawat Khali hanya bisa berdoa untuk kebaikan semua orang terutama untuk keluarga calon istrinya. Namun Khali bersyukur ini termasuk bonus dari Allah. Allah memberikan kemudahan padanya, orang yang ia cari selama ini ternyata dekat dengannya. Meski yang dekat hanya keturunan darahnya namun ia sudah merasa senang.
Memang sejak kecil Raja Malik selalu menceritakan tentang kegagahan dan kewibawaan Khalid dulu. Persahabatan keduanya juga diceritakan oleh Raja Malik pada anak tertuanya, dan yang paling menjadi poin penting adalah Raja Malik memberi nama anak tertuanya Khali agar ia bisa mengingat nama sahabatnya dan ia berharap anak lelakinya akan memiliki jiwa hebat seperti Khalid.
Akhirnya perjalanan selama 8 jam lebih itu berakhir saat pesawat mereka telah sampai di Bandar Udara Internasional King Abdulaziz.
Keluarga Khali sudah dijemput oleh kendaraan Kerajaan Arab. Perjalanan menuju Istana Raja, Riyadh pun berjalan lancar. Kehadiran mereka begitu disambut hangat oleh Raja Salim adik kandung dari Khalid ayah dari Aqila.
Raja Malik beserta anak dan Istrinya masuk kedalam istana. Mereka berjalan menuju ruang keluarga. Disana ternyata ada pasangan suami istri yang sudah renta. Bahkan sang raja dahulu yaitu ayah dari Khalid saat ini hanya bisa duduk diatas kursi roda karena usianya.
Raja Malik mendekat dan berlutut didepan Raja Abdullah. Ia mencium kedua tangan pria paruh baya itu dengan sayang. Ia menitikkan air mata. Memang Raja Malik dulu sudah dianggap seperti anaknya sendiri oleh Raja Abdullah dan Ratu Fatimah.
“Apa ini kau Malik?” tanya Raja Abdullah.
“Iya ayahanda ini aku,” lirih Raja Malik.
“Aku begitu merindukanmu nak, lama tak jumpa,” lirih Raja Abdullah.
Terlihat bulir bening di kedua mata Raja Abdullah. Raja Salim hanya bisa mendekat ke arah ayahandanya dan menghapus air mata itu.
Raja Salim sendiri tau apa yang dirasakan oleh ayahnya itu. Penyesalan seumur hidup sudah menghantui kehidupan Raja Abdullah. Kepergian anak tertuanya ternyata menyisakan luka berat bagi sepasang suami istri itu.
Bahkan Ratu Fatimah langsung jatuh sakit saat itu dan Raja Abdullah lah yang merawatnya sendiri.
“Malik,” panggil Raja Abdullah setelah lama diam.
“Iya ayahanda,” saut Raja Malik.
“Apa kau tau dimana Khalid berada?”
----*----
Oh mulai mulai...
Mulai apaan tapi yah? hihihi
__ADS_1
Hari minggu waktunya LIKE SAMA KOMEN DOANG YAH. VOTENYA HARI SENIN AJA. AYOK GRATIS LOH WAJIB LIKE SAMA KOMEN.