
“Melihat seorang ibu memohon kepadakumembuat hatiku iba, namun disisi lain kebahagiaan Adikku juga sedang dipertaruhkan.” ~Adelia Cullen~
.
.
.
Jakarta Indonesia.
Sejak pagi bunyi handphone diatas meja bergantian berbunyi. Bahkan nada panggilan berbeda pun berbunyi berulang kali. Semua orang hanya bisa menatapnya tanpa mengambil handphone tersebut.
Ya sejak semalam keluarga Kevin dan Adel tidur dirumah baru Mama Angel disamping rumahnya. Dan setelah sholat subuh mereka sudah berkumpul di ruang keluarga dengan tumpukan ponsel diatas meja.
Mereka semua sedang mencari solusi untuk masalah yang sudah sangat penting ini. Apalagi mengingat ini menyangkut nyawa dari seseorang yang sangat berarti untuk Aqila adiknya.
Mengingat kejadian semalam membuat Adel ingin menangis.
🍵🍵🍵
Ketika waktu menunjukkan pukul setengah 9 malam, ponsel Kevin berulang kali berbunyi. Sang empu sedang asyik-asyikkan berduaan dikamar dengan istrinya karena ketiga buah hatinya sedang diasuh oleh Mama Angel dan Axel.
Dengan malas Kevin menggeser tubuhnya dan menggapai ponselnya yang berada diatas nakas. Dilihatnya id nama Rey tersemat disana.
Adel yang sedang bersantai itu pun menatap suaminya. Ia heran kenapa suaminya tak segera mengangkat panggilan itu dan membiarkan nada panggilan menggema dikamarnya.
“Kenapa gak diangkat mas?” tanya Adel.
Kevin tak menjawab tapi dia mengarahkan layar yang menyala ke arah istirnya.
“Rey,” lirih Adel.
Adel terdiam dia menjadi penasaran apa yang membuat teman kampusnya itu menelfon suaminya malam-malam begini.
“Angkat coba mas,” ucap Adel.
“Yakin kamu yang?” tanya Kevin.
Adel mengangguk mantap, Kevin menggeser ikon hijau lalu meletakkan benda pipih itu ditelinganya. Terlihat wajahnya menegang saat setelah ia menempelkan ponsel ditelinganya.
Kevin hanya diam mendengar suara dari seberang. Adel sendiri juga bingung menatap suaminya yang seperti serius dan tegang itu. Adel menunggu dengan sabar sambil melingkarkan tangannya pada perut suaminya.
Tanpa kata Kevin mematikan sambungan telfon dan menatap dalam kearah kedua mata Istrinya.
“Ada apa mas?” tanya Adel dengan mata selidik.
“Rey bilang kalau Rossa ....,” suara Kevin masih menggantung.
__ADS_1
“Kenapa Rossa mas?” seru Adel dengan nada tinggi.
Saat ini kekhawatiran menyelimuti hati Adel. Ia memanjat doa agar sahabat dari adiknya itu sembuh dan bisa seperti sedia kala.
“Rossa kritis sayang,” lirih Kevin.
“Apaa!” Adel terbelalak kaget.
Adel segera duduk dan lama-lama matanya berkaca-kaca ia sudah bingung dengan semua ini.
“Ayo kerumah sakit mas,” ajak Adel.
Dia berlari menuju walk in closet untuk mengganti pakaian tidurnya. Kevin pun segera menyusul istrinya ketika melihat istrinya itu begitu terburu-buru.
“Pelan-pelan aja sayang,” ujar Kevin.
“Kamu masih bisa bilang pelan mas, kita keburu mas. Rossa itu kritis,” ucap Adel dengan nada tinggi.
Hanya butuh waktu 5 menit akhirnya mereka sudah berganti pakaian. Berlari bersama ke bawah, Kevin segera menuju garasi mobil. Pikiran keduanya kacau, pikiran buruk pun saling menghinggapi di otak mereka. Namun mereka masih memanjatkan doa terbaik agar Rossa masih diberi kesempatan.
---*---
Sesampai dirumah sakit.
Adel dan Kevin berlari menuju ruangan UGD, didepan sana terdapat Rey, Mama Ria dan Mama Clara. Kedua wanita paruh baya itu saling memeluk untuk mencari kekuatan satu dengan yang lain.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Adel.
“Kritis,” ucap Rey parau.
Tatapan mata lelaki itu terlihat putus asa. Bahkan penampilan Rey pun terlihat menyedihkan. Rey sendiri sungguh frustasi mencari keberadaan Aqila, dimana saja tak ada harapan. Seakan Aqila ditelan bumi tak ada jejaknya sama sekali.
Maka dari itu Rey menghubungi keduanya kesini agar mereka tau keadaan Rossa sesungguhnya. Saat Rey ingin mengatakan sesuatu, suara pintu terbuka membuat mereka semua berjalan menuju pintu.
“Bagiamana keadaannya dok?” tanya Rey.
Dokter terlihat menghela nafas berat dan menggeleng pelan. “Keadaannya semakin buruk, pasien sangat lemah. Namun berulang kali dia menyebut nama Aqila dalam tidak sadarnya.”
Semua orang tercengang. Bahkan Adel sendiri seperti sulit menelan ludah. Adel menunduk dan menangis. Kevin meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat.
Sedangkan Mama Ria terlihat begitu menyesal, bagaimana tidak jika bukan karena dirinya yang egois ini semua pasti tidak akan seperti ini. Saat ini ia harus menekan perasaannya sendiri dan memeluk besannya itu yang makin melemah juga.
Rey sendiri yang mendengar ucapan dokter hanya bisa meremas rambutnya.
“Aghhhhhh,” terik Rey.
“Dasar diriku tak berguna,” seru Rey dengan memukul tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Kevin dan yang lain membantu Rey yang mulai hilang kendali itu. Bahkan hingga bantuan semua orang dibutuhkan karena Rey mulai mengamuk. Dengan sangat terpaksa dokter menyuntikkan penenang ditubuh Rey dan benar saja lama kelamaan tubuh Rey melemah dan ia memejamkan matanya.
Beberapa suster membantu Rey menuju sebuah ruangan didekat posisi mereka. Diikuti Kevin dan yang lain, mereka menuju ruangan Rey. Untuk Rossa, dia diletakkan diruang ICU untuk mengecek kondisinya secara langsung.
“Bagaimana ini mas?” lirih Adel dalam pelukan Kevin.
Sungguh Adel dan Kevin dipenuhi kebimbangan. Disisi lain mereka ingin adik mereka menjadi hahagia dan melupakan segalanya. Namun disisi lain melihat Rossa sudah seperti ini masih mencari Aqila membuat keduanya tak bisa berkutik.
Setelah beberapa saat hening dan Mama Clara sendiri tidur. Mama Ria mendekat kearah keduanya.
“Nak Adel,” panggil Mama Ria.
Adel mendongak dan menatap seorang wanita paruh baya didepannya. Ibu dari temannya sendiri yang entah kenapa menurut Adel bisa senekat dan seegois itu.
“Ada apa tante?” sahut Adel lirih dipelukan Kevin.
“Saya mohon nak, panggilkan adikmu Aqila untuk pulang ” ucap pelan Mama Ria.
Adel menatap wajah wanita paruh baya itu. Wajah yang biasanya terpancar keangkuhan dan sombong saat ini hilang. Tersisa keputus asaan, menyesal dan sedih saat ini di wajahnya. Perang batin Adel berkecamuk. Dia hanya diam tak bisa menjawab ucapan Mama Ria.
“Tante mohon Adel hiks hiks tolong temukan tante dan Rossa dengan Aqila. Tante sangat jahat padanya Del. Tante ingin minta maaf tolong bawa dia pulang,” ucap Mama Ria tulus.
Adel menatap wajah Kevin, mencoba mencari jawaban dari pria itu namun tak kunjung ada jawaban. Hingga membuat Adel hanya bisa diam tanpa memberi jawaban pasti.
🍵🍵🍵
“Angkatlah nak,” pinta Mama Angel.
Mereka hanya duduk diam diruang keluarga tanpa mengambil salah satu ponsel itu.
“Aku bingung ma harus mengatakan apa pada Aqila. Aku takut membuatnya sedih kembali ” lirih Adel menghapus air matanya sendiri.
“Namun jika kita mendiamkannya saja akan berakibat buruk pada Aqila nak. Mama takut Aqila tau dari orang lain saat Rossa tiada. Apa kalian tak memikirkan bagaimana perasaan Aqila nanti. Dia akan merasa bersalah,” ujar Mama Angel lembut.
Tak ada yang menjawab apapun dan semua membenarkan apa yang Mama Angel ucapkan. Saling berkutat dengan pikiran masing-masing. Dan terjadi banyak perang batin didiri mereka.
Disatu sisi mereka ingin sekali mengatakan kebenarannya pada Aqila dan memintanya pulang. Namun disatu sisi juga mereka takut Aqila akan kembali bersedih kembali dan tak cepat-cepat membuka hatinya untuk lelaki lain.
---**---
Selamat membaca.
Gimana part ini?
Pulang gak yah gadis bergamis? Ayo tebak.
Ini hari senin loh jangan lupa LIKE. VOTE DAN KOMENNYA YANG BANYAK.
__ADS_1