
“Pertemuan pertama kita setelah perpisahan baik-baik kita saat itu, bukannya aku membencimu namun aku masih belum siap untuk bertemu.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
“Aqila.”
Aqila langsung berbalik dan matanya terbelalak kaget, tak jauh darinya berdiri seorang gadis yang ia kenal dan yang lebih membuatnya terkejut adalah keberadaan lelaki dibelakang Haura.
Haura yang senang bertemu Aqila pun langsung berlari kecil, dia segera mendekap Aqila ke dalam pelukannya.
“Akhirnya ketemu kamu disini,” ucap Haura senang.
Aqila membalas pelukannya dan mengusap punggung Haura.
“Iya aku gak nyangka kita bakalan ketemu disini,” lirih Aqila.
Haura mulai melepas pelukannya dan menatap ke Aqila.
“Kamu kapan pulang?” tanya Haura.
“Kemarin.”
“Kok gak bilang?” tanya Haura.
“Ehh aku aja ngiranya kamu udah balik,” ucap Aqila.
“Hehehehe kepulanganku diundur karena meetingnya juga mundur,” ujar Haura menjelaskan.
Aqila menganggukkan kepalanya hingga saat ia membuka mulut ingin berbicara, teriakan anak kecil menyadarkannya.
“Aunty.”
Aqila menepuk jidat dan berbalik menuju pintu ruangan tempat ketiga ponakannya berada. Dia hanya cengengesan melihat muka cemberut ketiganya.
“Hehehe maafin aunty yah, aunty lupa,” ucap Aqila pelan.
“Cepet aunty pesen aku lapal aunty,” ucap Brianna.
“Siap bos,” sahut Aqila.
Aqila menghadap ke arah Haura. Tadi dia menyapa keponakannya didepan pintu.
“Kamu mau pulang?” tanya Aqila.
Haura mengangguk.
“Kalau mau, gabung dulu sama aku didalam. Aku mau pesenin mereka dulu. Gimana?” tawar Aqila.
“Emang boleh?” tanya balik Haura.
“Boleh dong.”
“Yaudah bentar aku pamit,” ujar Haura.
Aqila menatap punggung Haura yang berbalik dan menuju ke arah Rey. Aqila memilih diam dan memanggil pelayan. Tanpa menatap kearah Rey lagi dia masuk kedalam ruangannya.
Disana ketiga ponakannya sedang asyik bermain ponsel miliki Taqy. Mereka sedang menonton video menyanyi dan belajar. Aqila menatap mereka dengan tersenyum. Dia bangga dengan kakaknya yang sukses mendidik anak mereka. Sekecil mereka saja tak pernah bermain ponsel untuk game. Mereka hanya menonton video soal menyanyi dan belajar. Namun yang lebih membuat Aqila bangga ketika Kakaknya Adel mengijinkan ketiga anaknya bermain ponsel hanya saat hari libur sekolah dan tanggal merah.
Pandangan Aqila teralihkan ketika ada pelayan masuk. Aqila mulai memesan makanan sesuai dengan apa yang dipesan ketiga bocil.
__ADS_1
Selepas kepergian pelayan tak lama datanglah Haura dan disusul oleh Rey. Tentu saja itu membuat Aqila tertegun. Untuk apa lelaki itu ikut. Namun Aqila hanya bisa menghela nafas berat dan tersenyum.
“Maaf ya La aku, aku harus ajak rekan kerja aku karena dia masih menunggu bawahannya menjemput,” sesal Haura.
“iya gakpapa,” sahut aqila.
“Oh iya kenalin La, ini rekan kerja aku Tuan Rey dan Tuan ini temen saya lebih tepatnya calon istri kakak saya,” ucap Haura enteng.
Aqika tersenyum.
“Sayangnya kita udah kenal Ra,” ujar Aqila.
“Hah! Serius?” tanya Haura kagetm
Rey mengangguk. “Kakaknya Qila temen kuliah saya.”
“Oh,” Haura manggut-manggut.
Kemudian Aqila mulai tenggelam dengan percakapan bersama Haura. Dia hanya sesekali menatap tiga bocil takut mereka berbuat ulah.
Sedang Rey, dia sendiri menatap sendu ke arah Aqila. Dia tak menyangka jika gadis didepannya akan menikah. Bahkan yang ia tau pertemuan Aqila dengan Kakak Haura yaitu Khali juga sebentar. Karena menurut Rey, Khali saja datang ke Indonesia saat kerja sama mereka.
Jauh dilubuk hatinya mungkin Rey belum bisa move on dari Aqila. Namun ia sudah belajar sedikit demi sedikit melupakannya dan sakit hati itu tak sakit seperti dulu. Apalagi ketika melihat senyum manis Haura membuat sakit hatinya mereda.
Rey sendiri tak tau. Dia hanya mengagumi atau memang menyukai Haura. Dia juga sejujurnya tak pandai bermain wanita. Rey akui dia pandai berbinis, namun jika urusan gadis dia masih kalah jauh. Tak ada pengalaman soal pacaran.
Beberapa menit kemudian pelayan datang dan membawakan makanan milik Aqila dan ketiga ponakannya. Setelah makanan tertata Aqila menatap Rey dan Haura.
“Kalian gak pesan?” tanya Aqila.
Haura menggeleng. “ Aku udah makan tadi sehabis meeting.”
“Oh yaudah, aku makan dulu yah,” pamit Aqila.
----*----
Tentu saja karena itu ketiga bocil marah dan menatap garang ke arah Haura. Tapi dengan cepat Aqila segera merayu mereka dengan ice krim dan,
Berhasil.
Memang ketiga anak Kevin dan Adel sangat menyukai es krim. Apalagi kadang mereka sampai nambah-nambah.
Dengan perut kekenyangan, Taqy dan si kembar berjalan kembali ke mobil. Diikuti oleh Rey dan Haura. Haura pamit pada Haki untuk satu mobil dengan Aqila. Tentu saja langsung diiyakan oleh Haki. Lalu mereka mulai berpamitan pada Rey.
Segera keduanya masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu. Tujuan mereka saat ini hanya satu yaitu rumah Aqila.
---*---
Sesampainya dirumah.
“Assalamu’alaykum,” ucap Aqila dan Haura bersamaan.
“Wa’alaykumsalam,” sahut Mama Angel.
Mama Angel kaget melihat gadis yang berdiri tak jauh dari putrinya. Namun ia malah tertegun saat melihat wajah gadis itu. Ia menatap lekat gadis itu, wajahnya seperti seseorang. Seseorang yng sangat ia kenal. Namun Mama Angel masih berusaha mengingat.
Lamunanya buyar saat anaknya Aqila memegang lengannya.
“Ma,” panggil aqila.
“Ya nak,” sahut Mama Angel tersenyum.
“Kenalin ma, Haura adiknya Khali,” ujar Aqila.
__ADS_1
Deg.
Mama Angel terdiam masih menatap Haura. Haura sendiri tangannya menggantung diudara menunggu balasan dari Mama Angel.
Aqila yang melihat menjadi bingung. Kenapa mamanya seperti melamun. Aqila segera menyadarkan mamanya .
“Ehh maaf ya nak mama capek aja mangkanya gak fokus,” kilah Mama Angel.
Mama Angel menatap tangan Haura dan seger mengulurkan tangannya, diciumnya punggung tangan Mama Angel oleh Haura.
“Kenalin nama tante Angel mamanya Aqila,” ucap Mama Angel.
“Ah iya tante, aku Haura,” ucap Haura smbil tersenyum.
Setelah sesi perkenalan, Mama Angel mulai mengajak kedua gadis jtu menuju halaman belakang untuk mengobrol bersama.
---*---
Riyadh, Arab Saudi.
Jika di Indonesia sedang ada percakapan hangat antar ketiga wanita. Namun berbeda dengan di istana Raja Arab Riyadh.
Setelah Ratu Fatimah sadar, dia tak ingin bertemu sama sekali dengan suaminya. Akhirnya Raja Abdulllah tidur di kamar berbeda oleh istrinya.
Ratu Fatimah tak mau makan, dia hanya menangis didalam kamar sambil memegang foto anak lelakinya.
Seluruh anggota kerajaan juga menjadi bingung, bagaimana mereka menghadapi Ratu Fatimah. Jika seperti ini maka kesehatan Ratu Fatimah akan menurun.
Dengan segala pertimbangan dan pergolakan batin serta pertengkaran dengan sang anak, Akhirnya Raja Malik dan Ratu Mayra meminta ijin untuk bertemu dengan Ratu Fatimah.
Awalnya Raja Abdullah tak mau. Namun Raja Salim menenangkan abinya dan mengijinkan kedua orang tua Khali masuk.
Didalam kamar Ratu Fatimah. Kedatangan Raja Malik dan Ratu Mayra tak membuat Ratu Fatimah menatap ke arah mereka.
Wanita paruh baya itu hanya menatap pigura sang anak tertuanya sambil mengusap pigura itu. Jelas saja pemandangan itu membuat hati Ratu Mayra kasihan.
Keduanya segera mendekati Ratu Fatimah.
“Ibunda Ratu,” panggil Mayra pelan.
Ratu Fatimah hanya diam.
“Ibunda ratu harus makan yah,” bujuk Mayra.
Masih diam. Ratu Mayra dan Raja Malik mulai bulat dengan tekadnya. Sepertinya hanya jalan ini yang bisa mereka tempuh agar Ratu Fatimah tak semakin jatuh sakit.
“Ibunda Ratu kami tau dimana Khalid dan wanitanya Angel.”
---*---
Assalamu'alaykum warrahmatullahi wabarakatuh,
Mau kasih info nih author.
Bagi siapapun yang mau masuk GC, dimohon Follow akun emak dulu yah, lalu tinggalkan komen jejak di karya emak.
Kalau gak ada komen dan jejak bakalan dilempar keluar.
Karena emak dan mimin membuat GC tulus buat kumpul keluarga yang membaca karya JBlack. Tak ada hal apapun selain itu. Author remahan ini tak bisa sampai sekarang tanpa pembaca.
Jadi terimakasih all, karya ini aku curahkan dan tulis untuk kalian semua💋
Dan emak boleh minta tolong? Rate bintang 5 dong karya emak yang ini, soalnya ada orang yang gak suka diturunin. Makasih sayang.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YANG BANYAK YAH KAN GRATIS!
TERUS BUAT VOTE. EMAK MINTA VOTENYA DONG KAN HARI RABU, BIAR EMAK MAKIN SEMANGAT UP SORE.