
“Aku tak pernah menyangka, ternyata bepergian bersamamu sangat menyenangkan.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
Sehari setelah pernikahan mereka, keluarga Kerajaan mengajak Mama Angel dan semua untuk kembali ke Arab. Namun Mama Angel menolaknya, entah kenapa rasa takut dan trauma itu muncul kembali. Tapi dengan usaha bujuk rayu ketiga anaknya, akhirnya Mama Angel mau ikut.
Di dalam kamar pengantin baru.
Khali membantu Aqila membereskan semua pakaian yang akan mereka gunakan. Aqila dengan cepat bergerak kesana kemari mengambil dan membereskan semuanya. Sedangkan Khali merasa terpesona dengan sang istri. Perlahan namun pasti Khali mendekat. Saat Aqila memasukkan pakaian ke dalam koper dengan sekali gerakan tangan Khali melingkar dipinggang Aqila.
Deg.
Aqila mematung, merasakan pelukan itu semakin erat membuat Aqila tersadar.
“Sayang,” ucap Aqila membujuk.
Sejujurnya ia sudah merasa tak nyaman namun menolak pun ia yang berdosa. Melihat Khali diam tak berpindah akhirnya membuat Aqila tetap melanjutkan pekerjaannya. Ia biarkan suaminya memeluknya karena ia juga baru tau jika suaminya adalah sosok yang manja jika berdua.
“Kenapa diam hm?” tanya Khali dengan mengendus tengkuk Aqila.
Aqila yang geli mulai bergerak gelisah.
“Jangan diendus mas, geli,” lirih Aqila.
“Aku pingin lagi,” serak Khali.
Ya semalam adalah malam yang indah untuk keduanya, Aqila menyerahkan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk suaminya. Untuk pertama kali dua manusia yang sama-sama menjaga diri akhirnya melebur menjadi satu.
Berharap jika dalm waktu dekat nanti akan tumbuh makhluk kecil didalam perut wanita yang begitu Khali cintai. Keduanya sama-sama tak ingin menunda. Mereka ingin merasakan segera menggendong seorang anak. Namun balik lagi kembali pada kuasa Allah. Bagaimanapun segalanya sesuai dengan kehendak Allah karena manusia hanya bisa berencana.
Aqila langsung membalikkan tubuhnya dan mengalungkan lehernya.
“Kita masih beres-beres ya sayang. Tahan sebentar boleh?” tanya Aqila.
Aqila tau bagaimana hukumnya jika seorang suami meminta maka sang istri wajib memberi. Namun lihatlah keadaan ranjang saja banyak ditumpuki pakaian keduanya. Mangkanya Aqila meminta waktu sedikit untuk membereskan.
Khali tersenyum dan mengangguk, dia menjauh dari istrinya dan duduk di sofa. Dengan cepat Aqila segera menyelesaikan segala urusanya.
Dan selesai.
Akhirnya semua sudah rapi masuk kedalam koper. Aqila menghampiri sang suami dan memeluk pinggang Khali.
Khali yang sedang mengecek laporan perusahaan hanya menatap sekilas sang istri.
“Sudah humairah?” tanya Khali penuh kasih.
“Sudah mas,” sahutnya.
Aqila tetap meletakkan kepalanya pada lengan sang suami. Dia mengendus bau tubuh Khali yang menjadi candu baru untuknya.
“Jangan diendus yang. Kamu membangunkan singa tidur,” ucap Khali parau.
Aqila tertawa kecil. Dia tau jika suamimya tak pernah bisa menahan jika sudah berduaan dengannya. Aqila bergeser dan duduk dipangkuan sang suami. Namun sebelum itu ia mengambil laptop yang ada dipangkuan Khali dan diletakkan di meja.
__ADS_1
“Istriku semakin berani yah,” goda Khali.
“Untuk menyenangkan suami apapun itu akan kulakukan,” goda Aqila dengan mengendus dada Khali.
Khali mendesah merasakan sensasi aneh yang kembali pada tubuhnya. Dirinya sudah tak kuat. Ia langsung menggendong sang istri ke kamar mandi.
“Kita sholat dulu sayang yah.”
“Iya mas,” sahut Aqila.
Inilah yang semakin membuat Aqila makin jatuh cinta. Seberat apapun Khali ingin namun dia selalu bisa menahan untuk sholat sunnah dulu sebelum melakukan itu. Nilai plus yang membuat Aqila makin cinta cinta dan cinta pada suaminya.
Setelah sholat sunnah, Aqila mulai membereskan mukenah dan meletakkannya ditempat. Perlahan Aqila menyisir rambutnya yang terkena air wudhu. Ia pandangi wajahnya dicermin namun saat ia hendak mengambil sisir yang tadi ia letakkan, tiba-tiba tubuhnya sudah berada digendongan Khali.
Spontan Aqila merangkul leher Khali.
“Pelan-pelan mas,” peringat Aqila.
“Maafin mas sayang, mas sudah gak tahan,” goda Khali.
Dan akhirnya terjadilah apa yang terjadi. Khusus pihak profesional saja yang melakukan.
--*--
Tepat selesai sholat Ashar. Semua orang mulai berangkat meninggalkan rumah Aqila dan Kevin. Mobil mulai melaju membelah jalanan Jakarta. Tujuannya saat ini hanya satu Bandara Soekarno Hatta. Rencananya mereka akan menggunakan pesawat pribadi milik Kerajaan Brunei dan Arab.
Khali dan Aqila berada satu mobil bersama Adel dan Kevin. Sedangkan ketiga anak kecil berada satu mobil dengan neneknya Mama Angel.
“Kak Kevin perusahaan gimana?” tanya Aqila memecah keheningan.
Dia sejujurnya ingin mengalihkan perhatian Khali yang sedari tadi hanya menatapnya penuh cinta. Tatapan itu selalu membuat Aqila salah tingkah. Ia paling tidak bisa menatap lama manik mata teduh itu. Menurutnya tatapan Khali sungguh bisa membuatnya lemas.
“Eh untung saja, aku fikir kakak gak ikut,” ucap Aqila.
“Ini semua demi ratuku, dia merayuku dengan baik hingga aku mau ikut,” ucap Kevin menatap Adel.
Aqila mengernyit kemudian menjulurkan tubuhnya ke depan mendekat ke kakaknya.
“Emang kakak merayunya bagaimana?” tanya Aqila heran.
Muka Adel memerah. Ia ingat betul bagaimana semalam menggoda Kevin dan membuat laki-laki itu berkali-kali meneriaki namanya. Bahkan sampai Kevin puas dan dibuat kelelahan. Adel hanya diam dan mengalihkan mukanya.
“Ih kakak jawab,” kesal Aqila.
“Udah nanti kamu pasti tau,” jawab Aqila mengibaskan tangannya.
Aqila cemberut dan menyandarkan tubuhnya kebelakang. Ia melirik sang suami yang menatap ke arahnya.
“Mas ada apa?” tanya Aqila pelan.
“Gak ada.” Menggeleng pelan.
“Mas kenapa liatin aku?” tanya Aqila.
“Liatin istri gak boleh yah?” tanya Khali.
“Ya gakpapa mas.”
__ADS_1
Obrolan mereka mulai berhenti ketika mobil telah sampai di Bandara. Mobil terparkir aman di slot parkir. Para pelayan yang diajak mulai membawakan semua barang majikannya. Aqila bergandengan tangan dengan Khali.
Ia merasa bahagia dan senang. Tak menyangka jika pergi bersama sang suami akan seindah ini. Semua segera memasuki ruangan dan tembus ke jalan khusus menuju pesawat pribadi kedua kerajaan.
Semua mulai masuk kedalam pesawat sesuai dengan permintaan mereka sendiri. Keluarga Angel dan anak-anaknya sekaligus besannya ikut pesawat Kerajaan Arab sedangkan keluarga Raja Malik ditambah Aqila menaiki pesawat Kerajaan Brunei.
Pesawat mulai mengudara meninggalkan Bandara Soekarno Hatta. Aqila tersenyum menatap keindahan dibawahnya dengan tautan tangan terus menyatu.
“Ternyata jalan bersamamu begitu indah dan istimewa,” guman Aqila menatap wjaah suaminya.
Khali yang merasa ditatap akhirnya menoleh dan balas menatap. Aqila terbuai namun ia sadar jika ini dipesawat. Jangan sampai mereka membuat hal aneh didepan orang banyak.
--*--
Akhirnya perjalanan panjang itupun berakhir. Untuk pertama kalinya Aqila dan keluarga menapakkan kakinya ke Tanah Arab.
Hari ini yang ia lihat pertama adalah Bandar Udara International King Abdul Aziz Jeddah. Mereka mulai digiring oleh para pengawal kerajaan menuju mobil yang sudah disediakan.
Mobil-mobil mulai melaju dengan rapi meninggalkan bandara menuju ke Istana Raja Riyadh. Keadaan tempat yang berbeda membuat Aqila sedikit sulit menyesuaikan diri. Keadaan di Arab sedikit lebih panas dari Indonesia. Ini yang membuat Aqila merasa berkeringat hebat.
Khali yang menatap istrinya menjadi kasihan.
“Panas ya sayang?” tanya Khali.
“Banget mas,” lirih Aqila dengan mengibaskan sebuah kipas ke arah tubuhnya.
Keringat mulai membasahi dahi dan baju bagian belakang. Dengan kesabaran Khaki ikut membantu mengipasi istrinya. Sungguh suatu fenomena yang membuat kaum hawa iri. Lihatlah seorang calon raja mau mengipas istrinya dengan lembut.
Aqila selalu bersyukur karena Allah sungguh baik padanya. Memberikan suami pengertian, sabar dan penyayang. Perjalan menuju Istana Raja Akhirnya berakhir.
Wajah Aqila mendadak kaku. Dia terpaku dengan Istana Raja yang begitu indah dan besar. Sampai Aqila turun ia tak henti-hetinya berdecak kagum. Bahkan ketiga ponakannya saja sampai berlarian kesana kemari karena merasa senang. Aqila menatap mamanya yang menangis melihat sekeliling.
Adel, Axel dan Aqila mendekat lalu memeluk mamanya. Mereka tau apa yang mamanya rasakan.
“Maafin mama yang sedih. Mama merindukan papa kalian,” lirih Mama Angel.
“Gak papa ma kami tau. Mama janji jangan sedih lagi yah,” pinta Aqila.
Mama Angel mengangguk. Lalu suara seorang wanita membuat perhatian mereka teralih. Disana seorang putri kerajaan yang tak lain adalah adik Khali yaitu Maryam menghampiri Angel.
Maryam memeluk kakak iparnya itu begitu erat.
“Aku seneng kakak mau kesini,” ucap Maryam tulus dipelukan Mama Angel.
“Aku kesini untuk membuat kedua orang tua kalian bahagia,” sahut Mama Angel.
Maryam melepaskan pelukannya dan mengangguk. Dia paham betul wanita didepannya adalah wnaita yang tak pernah memandang harta yang dimiliki kakaknya.
Raja Abdullah dan Ratu Fatimah mulai meminta semua orang masuk ke dalam Istana. Semua mulai mengikuti langkah dua sesepuh yang duduk diatas Roda. Rasa kagum tak henti-hentinya keluar dari mulut semua orang.
Mama Angel dan ketiga anak Khalid bersyukur dalam hati karena ternyata perjuangan selama ini berbuah hasil yang indah. Kesabaran mama Angel membuat kedua orang tua Khalid menerimanya. Dia berharap keluarga mereka akan berkumpul terus seperti ini dan selalu bahagia.
---*---
Hihi akhirnya pada minta ekstra part yah!
Sistemnya sama kayak kemarin, Like lebih dari bab sebelumnya maka up ekstra part selanjutnya. Yok like yang banyak oke.
__ADS_1
MAAF AUTHOR GAK BALES KOMENTAR KALIAN YAH, EMAK LAGI ADA KESIBUKAN DARI KEMARIN. JADI INSYA ALLAH MULAI SENIN EMAK BALES SATU-SATU.
JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKENYA GUYS JANGAN VOTE HARI INI YAH. VOTE BESOK AJA HARI SENIN.