Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 61


__ADS_3

“Bagaimanapun aku tetap berusaha berdamai dengan masa lalu, melupakan semua yang terjadi dan mengubur perasaan yang bisa saja menyakitimu.” ~Rey~


.


.


.


“Ke Brunei?” tanya ulang Rey.


“Iya nak, tapi insya allah beberapa waktu dekat dia akan pulang kemari,” ucap Mama Angel.


“Bolehkah aku meminta nomer ponselnya tante?” tanya Rey.


“Boleh.”


Mama Angel memberikan nomer ponsel anak gadisnya pada lelaki ini. Dia yakin Rey tak akan memgecewakan dan menyakiti anaknya lagi.


Setelah mengobrol panjang lebar akhirnya Rey pamit undur diri. Mereka melepas pergi dengan senyum mengembang. Mama Angel hanya bisa berdoa untuk kebaikan lelaki muda didepannya itu.


---*---


Selepas meninggalkan Rumah Aqila, Rey segera melajukan mobilnya menuju Rumah sakit tempat mamanya dirawat. Ya tepat 3 hari mamanya dirawat disana karena penyumbatan pembuluh darah pada jantung. Hal itulah yang menyebabkan Mama Ria mengalami serangan jantung.


Selama perjalanan, Rey sudah menguatkan hatinya untuk menghubungi Aqila. Tujuannya saat ini hanya satu untuk bertanya rumah sakit bagus demi mamanya. Tak ada hal lain lagi untuk tujuannya saat ini. Dirinya juga sudah ikhlas akan semua yang terjadi dengannya. Bahkan dia juga sudah belajar melupakan Aqila dari hatinya.


Dirinya juga ingin bahagia, memulai hidup baru dengan seorang wanita menjadi pilihan terbaik menurut Rey. Dia juga tak ingin melukai hati perempuan sebaik Aqila. Sudah cukup kemarin luka yang ia beri terlalu dalam jika diingat.


Hingga tak terasa mobil Rey mulai memasuki rumah sakit, keluar dari mobil dan berjalan tegas kedalam rumah sakit. Tujuannya saat ini hanya satu yaitu kamar mamanya.


Setelah berjalan hampir 10 menit akhirnya dia sampai dikamar paling atas. Kamar pribadi milik keluarga Rey dan yang boleh masuk hanya dokter yang berkepentingan saja.


Ceklek.


Dibukanya pintu itu lalu ia masuk. Menatap tubuh sang mama yang berbaring di ranjang dengan mata terpejam. Dirinya mendekat lalu perlahan duduk dikursi samping ranjang. Mengusap rambut sang mama dengan sayang lalu menghadiahi ciuman di dahi sang mama.


“Mama pasti sembuh. Rey yakin itu,” ucap Rey dalam hati.


Air mata lolos dari matanya. Kelemahannya memang ini. Mama yang sangat ia cinta dan sayang adalah orang yang bisa membuatnya lemah. Namun ia selalu pintar menutup perasaan itu. Ia ingin terlihat kuat dan tak dikasihani semua orang.


Beberapa saat kemudian Bima datang.


“Maaf tuan, saya baru datang,” ucapnya sambil menunduk hormat.


“Tak apa Bim, duduk lah di sofa,” ajak Rey.


Keduanya berjalan menuju sofa yang tersedia. Lalu segera mendudukkan dirinya. Keduanya duduk secara berhadapan dan sepertinya akan ada obrolan penting diantara keduanya.


---*---

__ADS_1


Istana Nurul Amin.


Pagi-pagi sekali Putri Haura sudah membuat heboh di ruang kerja Khali. Karena apa? Dirinya sedang meminta izin pada kakaknya untuk bertemu dengan Aqila. Dia berjanji akan mengunjungi apartemen gadis yang bisa mengikat hati kakaknya itu.


“Ya kak ya,” bujuk Haura.


“Memangnya kamu mau ngapain sih Ra?” tanya Khali lembut.


“Gak ada kak, aku mau main aja kesana,” ucap Haura.


“Tapi kamu tau kan, kalau kamu keluar pengawalan bakalan ketat,” ujar Khali dengan tenang.


“Nah karena itu, Haura minta bantuan kakak,” rayu Haura.


“Hah.” Khali menghela nafas berat.


Beginilah adiknya, paling tidak suka diikuti apalagi dibuntuti. Jika sudah begini pasti dirinya yang akan menjadi sasaran sang adik. Namun jika sudah menatap wajah gadis yang ia sayang itu pasti Khali tak bisa menolak.


Haura masih menunggu dengan tak lupa wajah polos dan mata dibuat seimut mungkin.


“Jika sudah begini kakak gak bisa bantah kamu,” ucap Khali pelan.


“Yey akhirnya.” Haura terlihat senang bahkan dia tertawa melihat wajah masam sang kakak tertuanya.


Khali segera beranjak dari ruang kerjan dan berjalan menuju ruang kerja ayahanda. Misinya hanya mempertemukan adiknya dengan wanita pujaan hatinya.


Menggunakan bujuk rayu apapun, akhirnya raja mengijinkan Haura keluar tanpa pengawalan. Dengan syarat Khali dan Ibra harus ikut serta dengan adiknya. Mau tak mau Khali menuruti permintaan abinya itu.


---*---


Rumah sakit Jakarta.


Selepas kepergian Bima, Rey segera mengambil ponselnya. Ia hidupkan lalu mulai menekan nomor yang sudah ia tulis di secarik kertas. Diketiknya nomor itu lalu langsung ia panggil.


Tut tut.


Tut tu


Tut tut.


Hingga dering ketiga akhirnya panggilannya tersambung.


“Assalamu’alaykum,” suara dari seberang telfon.


Rey terdiam, suara ini masih sama. Bahkan kelembutan dan ketulusan dari suaranya saja bisa didengar. Rey mulai meneguhkan hatinya.


“Ingat Rey move on,” ujar Rey dalam hati menyemangati dirinya sendiri.


“Wa’alaykumsalam, ini aku Rey La,” ucap Rey dengan suara bergetar.

__ADS_1


Hening di seberang sana. Bahkan ia yakini pasti gadis itu shock saat tau jika telfon ini darinya. Terdengar tarikan nafas diseberang sana.


“Ya ada apa?” tanya Aqila pelan dari seberang.


“Apa kabar?” tanya Rey basa-basi.


“Aku baik. Kamu gimana?” suara Aqila terdengar tenang.


Sepertinya gadis itu mulai bisa menguasai dirinya saat ini.


“Aku baik juga,” ucap Rey pelan.


Terdiam sesaat, Rey bingung harus mengucapkan darimana untuk niatannya ini. Ia mulai memutar otak dan merangkai kata untuk meminta bantuan dari gadis diseberang sana.


“La,” panggil nya.


“Ya,” sahut Aqila.


“Bolehkah aku meminta tolong”? Tanya Rey.


“Boleh,” ucap Aqila.


“Sebenarnya aku menghubungimu untuk bertanya. Dimana rumah sakit bagus untuk operasi jantung?” ucap Rey.


“Hah jantung?” tanya Aqila bingung.


“Iya La, mama beberapa hari ini drop dan ternyata ada penyumbatan dalam pembuluh darahnya, itu yang kata dokter sering membuat mama serangan jantung,” ucap Rey menjelaskan.


“Emmm terus gimana kabar tante?” tanya Aqila cemas.


“Mama masih belum sadarkan diri. Makanya aku tanya kamu biar aku segera bawa mama. Meski aku punya rumah sakit tapi aku tetep butuh yang terbaik untuk mama,” ujar Rey .


“Aku tanya temenku dulu yang Dokter bedah yah, nati kalau udah dapet info aku kabarin kamu. Gimana?”


“Oke gakpapa aku tunggu yah secepatanya,” ucap Rey.


“Oke, tunggu aja kabarku.”


Lalu keduanya mulai memutuskan panggilannya ketika sudah mengucapkan salam. Ada kelegaan dalam hati Rey saat ia bisa menguasai dirinya juga untuk melakukan panggilan dengan Aqila. Sekaligus dia lega sudah meminta tolong pada ahlinya. Ia yakin Aqila banyak sinyal untuk rumah sakit dan dokter terbaik.


Rey memilih beranjak dan berjalan menuju mamanya. Ia cium punggung tangan sang mama dengan tulus.


“Tenang ya ma, mama pasti sembuh dan nanti kita akan hidup bahagia berdua lagi ma,” ucap Rey dengan senyum lebar.


Lelaki itu mulai menumpukan kepalanya pada ranjang sang mama lalu mulai memejamkan mata. Rasanya mata itu sangat lelah saat ini dan ia ingin segera tidur untuk mengarungi mimpi indah sementara waktu.


---*---


Alhamdulillah gak gantung pagi. sejujurnya bab ini mau aku upload malem-malem tapi kok ragu, yaudah pos pagi aja.

__ADS_1


Semoga hari ini bisa update tiga bab yah..Ote nulis bab 2 masih ini hehehe.


Yok semangatin sama LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH.


__ADS_2