
“Aku tak akan mengucapkan selamat tinggal disini, karena aku berharap pada-NYA jika aku akan kembali kemari dengan status berbeda.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
“Apa kau tau dimana Khalid berada?”
Deg.
Degub jantung ketiga orang itu saling berdegub kencang. Bahkan Raja Malik langsung menatap ke arah istri dan anaknya. Tampak dari mata Khali mengisyaratkan agar sang ayah jangan mengatakan apapun.
Raja Malik mulai mengatur nafasnya dan menggenggam tangan pria paruh baya didepannya.
“Mohon maaf ayahanda, Malik juga belum mengetahui dimana Khalid,” ucapnya pelan.
Spontan tangan Raja Abdullah melepaskan genggaman tangan Malik ditangannya. Terlihat wajah sedih di wajah lelaki itu.
“Mohon maafkan aku ayahanda,” lirihnya menahan sakit.
“Seharusnya yang bersalah adalah aku Malik, kau tau kan nak. Karena keegoisan diriku Khalid meninggalkanku. Dia pergi tanpa kembali lagi. Apa dia tak merindukan kami berdua. Apa dia setega itu.” Air mata Raja Abdullah sudah merambat jatuh.
Dia menangis karena sudah tak tahan dengan deritanya, ia begitu menderita karena ditinggal oleh anak tertuanya. Bagaimanapun Khalid adalah anak paling pintar dari semua saudaranya. Namun Raja Abdullah dan Ratu Fatimah mencoba bersikap adil pada semua anaknya. Ya meski kadang tingkah Raja Abdullah pada Khalid begitu keterlaluan.
Dan sekarang mereka harus menghabiskan waktu tua tanpa tau anak mereka yang jauh, tanpa tau kabar tentang anak dan mungkin menantunya.
Jika mengingat itu membuat Ratu Fatimah menangis namun kali ini ia tahan. Akhirnya para pengasuh mulai membantu Raja Abdullah dan Ratu Fatimah kembali ke kamar. Mereka berdua sudah harus selalu menjaga waktu istirahat. Tak boleh kecapekan, telat makan dan harus tepat waktu dalam jam istirahat. Karena bagaimanapun umur mereka sudah lanjut usia.
----*----
Setelah kepergian satu pasangan suami istri paruh baya itu, kali ini menyisakan Raja Salim, Raja Malik, Ratu Mayra dan Khali.
Sepertinya keadaan ini bisa Khali tebak jika akan ada pembicaraan serius. Mendapati raut wajah sendu dari Raja Salim mulai tadi bisa membuat Khali berfikir jika lelaki didepannya itu juga merasa rindu dengan kakak tertuanya.
“Ada apa Salim? Kenapa kau gusar?” tanya Raja Malik.
__ADS_1
“Bukan begitu paman, hanya saja keadaan seperti tadi selalu sukses membuatku merasa bersalah,” lirih Salim.
“Memang kenapa?” tanya Raja Malik ingin tau.
“Abi dan Umi selalu berada dalam lingkaran penyesalan. Mereka selalu terbayang bagaimana kehidupan abang diluar sana. Dulu ketika ia hidup disini harta bahkan tak ada habisnya. Lalu sekarang bagaimana kehidupan yang membuat abang sekarang harus bertahan. Pergi tanpa uang sepersenpun lalu ia juga harus menghidupi seorang wanita untuknya,” ucap Salim pelan sambil menunduk.
Sejak kepergian kakaknya, memang Salim termasuk saudara yang juga dekat dengan Khalid. Bagaimanapun semua anak Raja Abdullah yang terdiri dari 4 anak yaitu terdiri 3 laki-laki dan 1 perempuan. Namun sayangnya anak ketiga mereka harus meninggal saat masih kecil dan menyisakan dua jagoan dan satu putri yang cantik.
Raja Malik dan Ratu Mayra tertegun mendengar ucapan Salim. Dia bisa menyimpulkan jika keluarga Khalid merasa kehilangan dan penyesalan menyeruap kehati mereka. Tapi Raja Malik masih mencoba menarik benang merah untuk melakukan tahap selanjutnya yang akan ia lakukan.
“Lalu apa selama ini keluarga kerajaan mencari paman Khalid?” tanya Khali bersikap tenang.
“Semenjak kepergian Abang, esok harinya keamanan kerajaan sudah mencari keseluruh arab, namun naas tak ada kabar apapun. Keberadaan abang seperti tertelan bumi. Abi udah mencari detektif handal untuk mencari keseluruh penjuru dunia namun sama saja hasilnya nihil. Hingga akhirnya abi dan umi jatuh sakit lalu seperti ini ” lirih Salim menunduk.
“Jadi sekarang kalian hanya menunggu Khalid kembali begitu?” tanya Raja Malik.
“Iya paman. Aku hanya selalu berdoa semoga hati abang bisa melemah dan mau pulang. Mungkin kehadiran abang bisa membuat abi dan umi sembuh,” ucap Raja Salim dengan tubuh bergetar.
Bisa dipastikan jika saat ini Raja Salin menangis. Tentu saja itu membuat hati Raja Malik bersedih. Lelaki paruh baya yang memiliki dua anak itu mendekat lalu menarik bahu Salim untuk memeluknya.
“Tenanglah nak, akan paman bantu kalian mencari mereka,” lirihnya sedih.
Ia sudah bukan seperti Raja melainkan seorang adik yang ditinggal pergi kakaknya. Kakak yang begitu ia sayang dan ia rindukan. Raja Malik bisa merasakan itu, saat ini ia hanya bisa mengusap punggung lelaki didekapannya ini. Hingga Salim mulai merasa tenang dan melepas dekapan hangat paman yang sudah ia anggap seperti pamannya sendiri.
----*----
Apartemen Aqila.
Keadaan apartemen itu sudah mulai rapi, barang-barang Aqila dan pakaiannya sudah tersusun rapi didalam koper. Dia sudah bertekad untuk mengakhiri pekerjaannya disini. Ia ingin pulang. Ia ingin mengatakan kepada dunia bahwa dia sudah tak merasa sakit jika berada di tanah kelahirannya.
Ia sudah bisa melupakan semuanya. Melupakan rasa kecewa dan segalanya. Dia juga sudah memiliki tambatan hati. Bahkan mereka sudah akan menjejak dikehidupan yang nyata. Tinggal beberapa pertemuan dengan keluarganya dan menentukan pernikahan mereka.
Aqila tak menginginkan pernikahan megah. Ia hanya ingin pernikahan sederhana namun sakral. Ia ingin menikah sekali dan seumur hidupnya. Jika boleh meminta pada tuhan. Ia hanya ingin disatukan dalam ikatan suci dengan seorang lelaki yang berani langsung meminangnya didepan mamanya sendiri.
Tak ada lagi keinginan apapun untuk Aqila saat ini. Melepaskan segalanya yang menyakitkan dan mengikhlaskannya. Lalu tanpa diduga tuhan begitu baik menggantikan segala kesakitan dihatinya dengan kehadiran seorang lelaki yang sholeh dan taat beragama.
Ah jika mengingat itu sepertinya dirinya akan menghabiskan waktu bergelung diatas ranjang.
__ADS_1
Aqila mulai bangkit saat mendengar suara bel apartemen. Dibukanya pintu itu lalu terlihat wajah sahabatnya disana.
“Akhirnya kita pulang” ucap Dini bahagia saat memasuki apartemen Aqila.
“Ya kau benar sekali Din, hah rasanya aku sudah tak sabar untuk pulang,” ucap Aqila tak kalah bahagia.
“Lalu kita pulang kapan nih?” tanya Dini.
“Nanti sore. David sudah menyiapkan semuanya dan kita pulang menggunakan pesawat pribadi,” ujar Aqila.
“Yah enak yess. Gak perlu desak-desakan,” lirih Dini.
“Hah tapi enakan pakai pesawat biasa. Bisa berbaur dengan semuanya,” ucap Aqila.
“Sudahlah La, terima aja yakan. Pumpung gratis,” ucap Dini dengan cekikikan.
“Kalau kamu mah gratisan mulu,” gerutu Aqila.
“Hahahha itu lo tau,” sahut Dini.
Dan akhirnya mengalirlah obrolan tak berfaedah sampai menjelang waktu sholat dhuhur.
----*----
Sore harinya, David dan para pengawal lainnya mulai datang ke apartemen Aqila dan Dini. Satu persatu koper dan barang-barang mereka berdua diangkut turun kebawah dan dimasukkan ke dalam mobil.
Jika ditanya Aqila dan Dini ngapain? Mereka hanya berdiri diam melihat. Karena bagaimanapun jika mereka membantu pastinya akan ditolak mentah-mentah oleh para pelayan.
Setelah semua barang sudah terangkut beres, Aqila dan Dini mulai masuk kedalam mobil. Menatap jalanan Brunei yang mulai terlihat ketika mobil mereka bergerak meninggalkan apartemen.
Aqila tak ingin mengucapkan selamat tinggal untuk negara ini. Karena ia berharap pada Allah semoga doanya dan doa lelaki nan jauh disana dikabulkan. Ia yakin akan kembali ke negara ini dengan status berbeda, Aamiin.
-----*-----
Ayo aamiinkan dulu, ayo ayo.
Wahh udah makin seru gak?
__ADS_1
Kapan hayo keluarga Khali ke rumah Aqilam gimana ekspresi mereka kalau ketemu ya? Kepo gak.
YOK LIKE DAN KOMEN YANG BANYAK.VOTENYA BESOK AJA SENIN YAH!