
“Suara itu bahkan masih sama seperti terakhir kali kita bertemu.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.
Sore ini cuaca begitu cerah, bahkan dilihat dari balkon apartemen, dibawah sana banyak orang berlalu lalang dengan jalan kaki. Mungkin jalan-jalan sore menjadi ide bagus pikirnya.
Dengan langkah santai, Aqila berjalan menuju walk in closet. Mengganti pakaiannya dengan satu set gamis cantik dan jilbab warna senada akhirnya penampilan Aqila sore itu terlihat fresh dan segar. Memakai sedikit polesan pada wajahnya menambah kecantikan yang hakiki diwajah babyfacenya itu.
Tak lupa ia menghubungi tetangga sebelah yang tak lain Dini untuk mengajaknya jalan-jalan. Ajakan itu disambut antusias oleh Dini yang langsung bersiap-siap. Menunggu hingga 30 menit akhirnya bel apartemennya berbunyi, Aqila berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Sudah siap?” tanya Aqila basa-basi.
“Udah, yuk,” ajak Dini semangat.
Kedua gadis yang memiliki umur sama itu dan profesi sama dibidang kesehatan berjalan bersisian. Senyum mengembang diwajah mereka yang cantik. Mulai meninggalkan apartemen, suasana sore itu memang begitu indah.
Pantas saja Kota Brunei terkenal dengan sebutan kota nyaman dan aman. Karena memang sebutan itu sangat pas dan tepat. Selain itu tingkat kebersihan, ketertiban dan keamanan kota Burnei sangat dijunjung tinggi.
Tempat-tempat umum selalu bersih dan terawat, perkantoran megah berdiri rapi dan tertata, pengendara jalanan juga tertib dan menghormati para pejalan kaki, di Brunei tak ada yang namanya bermacet-macet ria dan untuk keamanan udah dijamin sama pemerintahnya sendiri, Brunei sangat ketat akan peraturan.
Aqila dan Dini begitu menikmati suasana ini. Mereka berjalan dengan santai menuju satu tempat. Tempat yang sering mereka lewati tapi tak pernah mereka kunjungi. Ya tempat yang tak lain adalah Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien
Sebuah Taman yang terletak di Jalan Sultan Omar Saifuddin itu terkesan asri karena banyak pepohonan hijau yang tumbuh disana. Bahkan banyak juga anak-anak yang menghabiskan waktunya disaana.
Akhirnya perjalanan panjang itu berbuah manis. Suasana sore disana begitu indah. Banyak anak-anak yang bermain bola, berlarian kesana kemari. Bahkan ibu-ibu banyak yang duduk dengan tenang menjaga anaknya disana.
Aqila dan Dini memilih duduk disebuah rerumputan. Kedua gadis itu mengeluarkan sebotol air putih dari tas yang mereka bawa dan melegut minuman air bening itu. Setelah merasa tenggorokannya basah mereka berdua saling mengeluarkan ponselnya.
Dini dengan segala kenarsisannya meminta bantuan Aqila untuk memotret dirinya di benda pipih miliknya itu. Aqila sendiri dengan senang hati membantu Dini untuk mengabadikan momen indah itu. Bergantian kedua wanita itu saling mengabadikan keindahan semesta kali ini.
Setelah puas berfoto, Aqila perlahan mengeluarkan kotak salad dalam tas kecilnya. Ya tadi sebelum dia berangkat memang sengaja membawa bekal salad untuknya cemilan bersama Dini.
“Din mau?” tawar Aqila.
“Wah Bu Dokter memang menjaga makan yah,” ledek Dini.
“Hahahaha wajih dong,” sahut Aqila.
__ADS_1
“Tapi bosen juga makan beginian Bu Dokter,” ucap Dini.
“Yaelah orang kamu juga makan beginian dikit,” sahut Aqila.
“Hehehehe tau aja.” Aqila menjawab diiringi dengan tawa kecilnya.
Keduanya tenggelam dengan obrolan santai sambil ditemani sekotak salad. Entah apa yang mereka obrolkan tetapi wajah mereka kadang dipenuhi keseriusan kemudian berganti tawa pecah keduanya.
---*---
Di waktu bersamaan.
Sore ini adalah hari bebas Pangeran Khali dari tugas pekerjaan. Dia mengajak Ibra untuk berkeliling menikmati sore di kota kelahirannya.
Bahkan semenjak kedatangannya disini, baru kali ini dia keluar. Karena memang kesibukan Khali membuatnya betah berada didalam Istananya.
Dengan menaiki mobil SUV Khali duduk disamping Ibra yang fokus mengemudi. Pandangan Khali mengedar, dia menatap keluar jendela yang tampak orang-orang berlalu lalang.
“Kita kemana tuan?” tanya Ibra.
“Terserah Ibra yang penting kita jalan-jalan,” ucap Khali.
“Bagaimana kalau kita ke Masjid Omar tuan,” tawar Ibra.
“Ide bagus, ayo.” Khali mengiyakan.
Seketika tatapannya membeku dengan obyek didepan matanya. Wajah wanita yang lama tak ia temui. Bahkan nama yang selalu ia panjatkan dalam sepertiga malamnya jika dia mungkin jodohnya.
Tanpa sadar Khali memegang pundak Ibra.
“Stop,” ucap Khali tegas.
Tentu saja perintah Khali segera dilaksanakan oleh Ibra. Mobil berhenti tak jauh dari lokasi kedua wanita yang masih asyik bersenda gurau.
“Tuan ada apa?” tanya Ibra bingung.
Khali mengacuhkan perkataan Ibra ia masih tak percaya jika pandangan didepannya ini nyata. Bahkan berulang kali Khali mengusap kedua matanya tapi memang itu nyata. Gadis nya berada dikota yang sama dengannya. Lihatlah senyuman yang manis dan cantik itu membuat Khali melebarkan senyumannya.
Ibra yang masih bingung pun mengikuti arah mata Pangeran. Matanya terbelalak kaget saat melihat obyek yang sama dengan Pangeran.
“Tuan apa itu itu....,” ucapan Khali menggantung.
“Entahlah Ibra, tapi ini nyata kan?” tanya balik Khali.
“Iya tuan ini nyata,” ucap Ibra setelah ia mencoba mencubit lengannya dan merasakan sakit.
__ADS_1
Kedua lelaki itu pastinya merasa bingung dan heran. Bagaimana bisa gadis yang mereka temui di Indonesia saat ini berada satu negara dengan mereka.
Khali bersiap membuka pintu tapi Ibra segera menahannya.
“Pangeran mau apa?” tanya Ibra.
“Turun lah Ibra,” sahut Khali.
“Tapi tuan tidak ada penjagaan,” ucap Ibra.
“Apa tidak ada masker disini dan topi?” tanya Pangeran terdengar tak ramah.
“Ah sebntar tuan,” ucap Ibra sopan.
Ibra segera menengok kebelakang untuk mengambil apa yang dibutuhkan oleh Khali. Peralatan ini memang selalu ada didalam mobil karena kedua benda itu sangat penting untuk penyamaran keluarga kerajaan.
Setiap mobil kerajaan pasti ada topi, masker atau cadar karena memang kedua putra dan putri Raja Ratu adalah dua anak yang mau membaur dengan orang luar. Bahkan Putri Haura sering melakukan kegiatan amal diluar istana dengan tak lupa memakai masker untuk menutupi identitasnya. Namun tak lupa penjagaan pengawal jarak jauh selalu menjaganya.
Setelah memakai masker dan topi. Pangeran Khali segera turun diikuti oleh Ibra dibelakangnya. Pangeran Khali berjalan santai menuju kearah kedua gadisnya yang masih terfokus dengan makanan didepan mereka dan obrolannya.
Kedatangan Pangeran Khali tak membuat fokus keduanya terpecah bahkan kehadiran itu seperti angin yang tak diketahui oleh gadis itu.
Hingga Pangeran Khali mulai mengeluarkan suara untik mengambil perhatian keduanya itu dan tentu saja cara itu berhasil menarik atensi mereka.
“Assalamu’alaykum,” salam kedua lelaki tampan bersamaan.
Sontak saja kedua gadis itu menoleh ke sampingnya. “Wa’alaykumsalam.”
Aqila mematung, dia bahkan terngiang suara benerapa detik lalu. Suara ini suara ini gumamnya dalam hati.
Pangeran Khali berjongkok didekat mereka dan mulai menurunkan sedikit maskernya didepan Aqila.
“Masya allah pangeran,” ucap Aqila kaget bukan kepalang.
---*---
Selamat membaca.
Hayoo kaget kan Dokter, hehehe jangan sampao pingsan dok liat pangeran tampan pemilik senyum manis.
Nah kan gimana dengan ini? Pada kangen kan nih udah aku munculin hehe.
Jika kalian sabar pasti kalian akan menikmati setiap alur yang aku ciptakan. Aku gak bisa cepetin atau lambatin ini udah pas. Jadi kalau tiap part aku jelasin semua keadaan harus sabar yah.
Yaudah gitu aja. Kalau tanya Alex sama James tunggu aja pasti dateng.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN YAH. UNTUK VOTENYA SENIN AJA.