Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 38


__ADS_3

“Menurutku lebih sedikit orang yang tau identitasku maka akan lebih muda mencari mana yang benar-benar teman.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


.


.


.


Setelah kegiatan liburan satu minggu berakhir akhirnya hari ini Aqila mulai bekerja di rumah sakit. Aqila segera mengenakan gamis hitam polos dipadu dengan hijab hitam polos juga. Ia juga menyampirkan jas kebanggaannya ditangan kirinya dan tangan kanan membawa tas. Diikuti Dini berjalan disampingnya dengan pakaian susternya.


Hari ini adalah hari pertama mereka akan datang ke rumah sakit tempat mereka bekerja. Jadinya mereka bekerja sambil datang untuk pertama kalinya.


David mulai menjalankan mobilnya menuju Rumah Sakit milik keluarga Raharja yang letaknya masih di daerah Bandar Seri Begawan. Hanya butuh waktu 10 menit mereka telah sampai didepan rumah sakit besar itu.


Keduanya turun dari mobil dan diikuti oleh David. Didepan sana sudah ada beberapa dokter dan petinggi rumah sakit yang menyambut kehadiran Aqila.


“Duh pasti ini kelakuan Kak Kevin,” gerutu Aqila.


Ya sejak awal Aqila sudah bilang pada kakak iparnya untuk menutupi identitas dan sekarang kenapa berbanding terbalik. Datang saja pakai disambut dan sekarang begitu dihormati. Jika begini Aqila merasa segan untuk melakukan sesuatu.


Setelah saling menyapa, petinggi rumah sakit segera mengajak Aqila dan Dini masuk kedalam menuju ruangannya. Sepanjang jalan setiap yang berpapasan dengan Qila semua menunduk hormat.


“Awas aja ntar,” gerutunya.


Dini yang disebelah Aqila pun menoleh. “Kenapa?” tanya Dini.


“Ya begini ini bikin males,” bisik Aqila.


“Kok bisa?” tanya Dini heran.


“Enakan kita kayak orang biasa gak repot begini,” ucap Qila.


“Ah ya bener kamu La,” sahut Dini sambil berbisik juga.


Mereka menyusuri lorong dan segera naik lift. Ternyata ruangan Aqila berada dilantai kedua. Dan untuk ruangan poli anak berada dilantai satu.


Petinggi rumah sakit segera mengantar Aqila sampai didalam ruangan. Mereka berbicara menggunakan bahasa melayu.


“Semoga anda betah bekerja bersama kami disini,” ucap Petinggi Rumah sakit.


“Pastinya pak, kami pasti betah,” sahut yakin Aqila.


“Ya sudah kami permisi yah,” pamitnya.


Aqila dan Dini sama tersenyum dan mengangguk lalu mempersilahkan mereka keluar. Aqila segera menghempaskan tubuhnya di sofa setelah semua orang pergi.


“Kenapa Kak Kevin bilang segala sih,” ucap kesal Qila.

__ADS_1


“Mungkin Kak Kevin gak mau kamu kecapekan La,” sahut Dini.


“Lah mana bisa? Namanya aja aku kerja ya pasti capek lah,” ujar Qila dengan memajukan bibirnya.


“Udah jangan cemberut aja,” rayu Dini.


Obrolan mereka terhenti saat suara David ijin masuk dan langsung disahut oleh Aqila. David masuk dengan membawa sebuah berkas. Ia duduk di sofa depan Aqila dan menyerahkan map itu.


“Ini jadwal nona mulai saat ini,” ucap David.


“Ah baiklah David makasih,” ujar Aqila.


“Sama-sama nona, apa ada lagi?” tanya David.


“Ya ada.” Aqila mengangguk.


“Apa nona?” tanya David sopan.


“Apa Kak Kevin yang meminta identitas saya dibongkar?”


“Iya nona betul,”sahut David.


Aqila menghelas nafas kasar. Dia pasti sudah tau jawaban apa yang akan didengar dari asisten kakak iparnya itu. Ia memijat pelipisnya yang sedikit pusing. Sedangkan Dini dia mulai membuka satu persatu isi map itu.


“Baiklah David kau boleh pergi,” ucap Aqila lesu.


“Sudahlah La, udah terlanjur tau juga,” ujar Dini.


“Ya tapi males banget kalau gini,” dengus kesal Aqila.


Aqila memilih menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya, ia harus menata emosinya karena pasti hari ini ia akan mulai jadwal periksa.


“Apa ada jadwal hari ini Di,” tanya Qila.


“Ada La, nih.” Menyodorkan sebuah kertas.


Aqila membuka mata dan menegakkan tubuhnya. Gadis itu mulai membaca kata demi kata diatas kerta putih dan mulai meletakkan kembali ke atas meja. Dia mulai beranjak diikuti Dini. Keduanya saling menatap dan tersenyum.


“Semangat,” teriak keduanya dengan diikuti tawa lebar.


Merapikan baju yang mereka kenakan lalu segera keluar dari ruangan menuju ruang poli barunya. Sepanjang perjalanan banyak Dokter dan Suster yang menyapa mereka. Bahkan tak segan-segan banyak juga perempuan yang iri dengan kecantikan Aqila. Menunjukkan raut wajah tak suka dan bahkan ada yang berbisik tetapi semua itu tak digubris oleh wanita bergamis hitam cantik itu. Tujuan Aqila hanya satu bekerja bekerja dan bekerja.


---*---


Jakarta.


2 minggu sudah setelah kepergian Aqila tanpa pamit dan kata maaf dari bibirnya membuat hidup Rossa menjadi hampa. Bahkan wajah kurus dan pucatnya sudah terlihat jelas. Gadis itu seperti tak punya semangat hidup. Bahkan dia hanya diam didalam kamar. Hanya keluar ketika makan dan menyiapkan keperluan Rey.

__ADS_1


Rey sendiri bisa merasakan penyesalan dalam diri Rossa. Dirinya juga merasakan kehilangan ,sakit hati, rindu dan menyesal.


Dia kehilangan gadis yang begitu ia cintai, dia juga merasa sakit hati mengingat perjuangan gadis itu dulu saat Aqila masih bisa tersenyum dipernikahan mereka. Dia juga rindu senyuman manis dibibir gadis cantik itu dan juga dia menyesal telah kalah oleh permintaan mamanya. Dia lelaki pengecut yang diam patuh pada mamanya.


Karena rasa kehilangan membuat pekerjaan Rey lebih banyak di pegang oleh Bima. Bahkan Bima sendiri sampai harus kewalahan mengurus semuanya. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa karena memang kondisi bosnya begitu kacau dan buruk.


Seperti siang ini Rey pulang kerumah setelah dia menghadiri rapat penting yang harus dia sendiri tangani. Kepala pelayan datang tergesa-gesa dari belakang.


“Tuan,” panggilnya sopan.


“Iya ada apa pak?” tanya Rey sopan.


Bagaimanapun Rey termasuk lelaki yang punya sopan santun pada orang yang lebih tua bahkan dia tak pernah melihat status sosial. Siapapun dia yang lebih tua dari dirinya pasti Rey akan hormat dan sopan padanya.


“Itu Nyonya Rossa dari tadi pagi belum keluar tuan,” ucap Kepala Pelayan.


“Apa!” kaget Rey.


Rey segera berjalan menuju kamar, dia bukanya pintu itu namun na'as tak bisa.


“Rossa Rossa,” teriak Rey.


Tangan Rey tak henti menggedor pintu kamar itu.


“Sa buka Sa,” teriaknya lagi.


Namun tetap saja hening yang didapat.


“Kunci cadangan mana pak,” tanya Rey dengan emosi.


Kepala pelayan segera mengambil kunci cadangan semua kamar dan setelah menemukan dia memberikan pada Rey.


Ceklek.


“Astagfirullah,” teriak Rey.


---*---


Selamat membaca -_-


Hayoo ada yang tau gak apa yang terjadi? pasti pada mikir aneh-aneh.


Mau lanjut atau 1 bab aja hihi.


Yuk jangan lupa LIKE, KOMEN DAN VOTE YANG BANYAK DONG.


Biar author remahan rengginang ini makin semangat buat up lagi nanti sore.

__ADS_1


Ditunggu yah oke oke.


__ADS_2