
“Ternyata aku masih malu mengakui perasaan cemburuku darimu.” ~Khali Mateen~
.
.
.
“Rey meminta bantuan ku untuk mencarikan sebuah rumah sakit untuk operasi jantung mamanya. Dia ingin rumah sakit dan dokter terbaik. Jadi dia meminta bantuanku. Plis jangan salah faham,” bujuk Aqila dengan wajah memelas.
Perlahan rasa cemburu pada dirinya menguap dan digantikan rasa gemas ketika melihat wajah gadis didepannya ini. Khali bahkan harus menahan tawanya agar terlihat masih marah pada Aqila.
“Siapa yang tanya?” tanya Khali dengan wajah menyebalkan.
“Huh lihatlah wajahnya. Ingin sekali ku masukkan ke dalam kandang harimau” hanya bisa menjerit dalam hati.
Dengan sebal Aqila melewati Khali dan menghampiri Haura yang sedang kebingungan. Sungguh rasanya Khali ingin tertawa pada Aqila tapi ia memilih pergi dan menahannya.
Kembali ke dapur, Aqila merasa heran melihat wajah bingung gadis didepannya.
“Ada apa Ra?” tanya Aqila heran.
“Apa kuenya sudah jadi?” tanya Haura polos.
“Oh sebentar aku cek,” ujar Aqila.
“Lah gimana ngeceknya, dimakan gitu?” tanyanya polos.
Aqila tertawa terbahak dengan perkataan Haura. Bahkan tanpa sadar ada air mata di kedua matanya karena terlalu ketawa. Ia segera berhenti tertawa dan kembali mencari tusukan untuk mengetes kuenya.
“Begini caranya Ra,” ujar Aqila saat ia menemukan tusukan.
Haura memperhatikan dengan cermat.
“Nah ini ditusukkan, jika sudah tak ada yang lengket dibagian luar maka sudah jadi,” ucap Aqila.
“Loh tapi itu tengah tusukannya kenapa basah?” tanya Haura.
“Kan memang dibuat berlava Ra,” ujar Aqila lembut.
“Ohh.” Aqila manggut-manggut.
Lalu Aqila mulai mencari penghalang untuk tangannya agar tak panas, dikeluarkannya cetakan kue dengan hati-hati diatas meja dapur. Sambil menunggunya agak dingin, Aqila membereskan alat-alat memasaknya, sedangkan Haura mencoba melepas kue dari cetakannya.
__ADS_1
“Astagfirullah La, yah lavanya meletus,” ujar Haura dengan wjaah sedih.
“Sudah gakpapa. Masih bagus kok,” rayu Aqila.
“Tapi kan jelek,” ujar Jaura dengan wajah sedih.
“Sudah gakpapa, coba yang lain.” Aqila memberi semangat.
Haura senang Aqila sangat pengertian padanya. Bahkan dia tau, dia banyak merusak kuenya ini, namun bukan membantu malah mengacaukan tapi lihatlah Aqila, dia bahkan dengan sabar mengajarinya membuat Haura bangga pada Aqila.
Setelah semua selesai dan kue terlepas dari cetakannya. Haura membawa kue itu ke meja tamu, sedangkan Aqila mencuci cetakannya.
---*---
Di ruang tamu.
“Udah jadi dek?” tanya Khali dengan bahasa melayu.
“Udah kak, nih dicoba yah,” ucap Haura bangga.
Khali dan Ibra menatap hasil kue didepannya, mereka mengerutkan keningnya menatap kue yang mungkin bentuknya agak berantakan. Bahkan lavanya ada yang berceceran. Khali dan Ibra mulai mendongakkan kepalanya, mulutnya sudah mulai terbuka namun terkatub lagi ketika melihat seseorang dibalik Haura.
Ya disana Aqila memberi kode agar mereka berdua memuji Haura. Aqila takut Haura akan bersedih dan dia tak mau membuat kue kembali.
“Wah cantik dek, kakak coba yah,” ujar Khali semangat.
Haura tentu saja senang dan mengangguk.
Dia membantu kedua lelaki itu mengambil kue dan diletakkannya dipiring kecil. Khaki dan Ibra mulai memotong kue itu sedikit hingga lavanya meleleh. Perlahan namun pasti, merekamulai menyendokkan kedalam mulutnya. Dikecapnya rasa makanan itu. Mata Khali dan Ibra membulat sempurna.
Enak.
Menurut keduanya penampilan tak sesuai dengan rasanya. Sungguh rasanya sangat nikmat bahkan lava yang meleleh bikin ketagihan. Lihatlah kedua lelaki itu bahkan sangat bersemangat memakannya. Aqila dan Haura ikut duduk dan mulai memgambil kue itu. Ikut memakannya dan sama dengan kedua lelaki itu.
Wajah mereka terlihat berbinar. Bahkan makannya saja Haura tak sabaran. Dalam sekejab kue itu habis dilahap empat orang itu.
“Enak banget ternyata. Haura mau bikin di istana besok,” ucap Haura senang.
“Buatlah dan sesuaikan dengan resepku yah,” ucap Aqila.
“Catatkan resepnya yah, takut aku lupa,” pinta Haura.
Aqila mengangguk setuju. Hingga tak terasa adzan dhuhur sudah berbunyi. Khali dan Ibra memilih keluar dari apartmen untuk sholat di masjid terdekat. Tentu saja permintaan mereka diiyakan oleh Haura.
__ADS_1
Selepas kepergian mereka, Aqila menagajak Haura untuk masuk kedalam kamarnya. Didalam kamar lagi-lagi Haura berdecak kagum. Kamar minimalis namun indah, rapi dan wangi. Itulah kesan pertama yang didapat oleh Haura.
Mereka segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah dengan Haura menjadi imam mereka. Setelah selesai keduanya mulai bersantai ria diatas ranjang sambil tiduran dan bercerita tentang kehidupan mereka yang bertolak belakang. Yang satu seorang putri kerjaan dan yang satu hanya gadis biasa menurut keduanya.
Namun lagi-lagi Haura tak mempermasalahkannya karena bagaimanapun Haura begitu menyayangi calon kakak iparnya itu.
Dering ponsel membuat obrolan mereka berhenti, suara itu ternyata dari handphone Haura. Haura segera mengankat ponselnya ketika melihat id nama pemanggil.
Terlihat wajah Haura yang serius itu didekat jendela. Ya tadi ketika memgambil ponsel Haura berjalan menuju ke dekat jendela.
“Kenapa Ra?” tanya Aqila heran melihat raut berubah Haura.
“Hahah tadaa aku senang, kakak sedang ada keperluan jadi aku ditinggal disini dulu,” ucap Haura semangat.
“Wah syukur deh jadi kita bisa ngobrol lama,” sahut Aqila bahagia.
Haura mengangguk membenarkan hingga kedua gadis itu tertidur dengan nyenyak. Mungkin karena banyak makan dan juga kelelahan.
---*---
Istana Nurul Amin.
Suasana diruangan kerja Raja Malik terlihat tegang, berbeda dengan beberapa waktu lalu. Bahkan wajah Khali begitu terkejut sedangkan Raja Malik dan Ratu Mayra terlihat sedih.
Berulang kali, Khali menahan air matanya ini. Sungguh sejujurnya ia ingin menangis. Semenjak dapat telfon dari Raja Malik agar Khali cepet kembali ke Istana dan membiarkan Haura bersama Aqila, membuat Khali bingung. Ia yakin akan ada hal penting yang bersifat rahasia.
Dugaanya tentu benar, ketika dia duduk dan mulai medengarkan kedua orangtuanya. Ada kabar mengejutkan dari Raja Malik dan Ratu Mayra.
Sejak dulu Khali memang diperintah untuk berkeliling dunia dan melakukan bisnis karena satu tujuan utamanya. Tujuannya yaitu mencari keberadaan Khalid bersama istrinya yang kabur. Lalu sekarang Abi dan Uminya mengatakan bahwa mereka sudah menemukan keberadaan dua orang itu dan tentu saja itu membuat Khali bahagia.
Namun lagi-lagi ia dibuat terkejut saat tau jika gadis yang ia lamar adalah anak dari orang yang mereka cari. Bahkan Khali begitu mengingat bagaimana dengan dandanan Mama Angel. Mama Angel yang dulu dan sekarang memang berbeda. Jika yang dulu Mama Angel memiliki rambut pirang namun sekarang berganti sudah warna hitam. Apalagi ditambah memakai jilbab jika keluar rumah lalu tak lupa merias wajahnya.
Baru kali ini Khali menyadari jika Mama Angel berdandan untuk menutupi wajah aslinya. Ya Khali mengakui itu, mengakui jika dandanan Mama Angel bisa mengelabuhi semua orang.
“Terus apa yang harus Khali lakuin abi?” tanya Khali bingung.
----*----
Hayoo Si Prince harus ngelakuin apa yaw? kan udah tau tuh kalau ternyata si gadis bergamis adalah seorang putri kerajaan juga.
Dududududu semangat aja Prince ya. Harus berjuang dong. Jangan dibikin sedih lagi si Qila.
JANGAN LUPA YAH KOMEN, LIKE DAN VOTENYA GUYS
__ADS_1