
“Aku berharap semoga apa yang berada dipikiranku semuanya salah.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
Permintaan Pangeran tentang alasan Aqila berada disini telah didapat secara akurat oleh Ibra. Hal sekecil apapun jika berurusan dengan Ibra pasti akan didapatkan secara cepat dan tepat.
Ibra segera menuju kamar Pangeran Khali pagi itu. Dia bersiap menunggu kehadiran majikan sekaligus temannya itu dan menyampaikan hasil penyelidikannya.
Pintu terbuka.
Muncullah Khali dengan memakai pakaian kerajaan dan juba menjuntai dikedua pundaknya. Penampilannya berbeda 180° dari biasanya. Ketampanan dan kewibawaan semakin terpancar diwajah Khali pagi itu.
“Selamat pagi tuan,” ucap Ibra dengan menunduk.
“Pagi, bagaimana Ibra? Apa kamu sudah mendapatkan yang aku minta?” tanya Khali sambil berjalan.
“Sudah tuan, saya mendapatkan semua informasinya,” sahut Ibra.
“Bagus, saya sarapan dulu baru nanti kita bahas,” ujar Khali.
Dimeja makan sudah ada Baginda Raja dan Ratu sekaligus putri kesayangan mereka Haura.
“Assalamu’alaykum adek kakak,” ucap Khali dengan mencium pucuk kepala Haura.
“Wa’alaykumsalam kak,” sahut Haura manja.
“Pagi umi,” sapa Khali sambil mencium pipi uminya.
“Pagi sayang,” sahut Umi Almayra.
Mereka berempat duduk mengelilingi meja makan yang panjang itu. Meja berwarna emas dan dilengkapi peralatan makan mewah terlihat disana. Menu sarapan yang tak kalah enak dari restaurant bintang 5 terlihat memenuhi meja makan. Para pelayan membantu menyiapkan semuanya. Kecuali untuk mengambilkan makanan khusus Ibunda Ratu sendiri yang akan melayani keluarganya jika sedang bersama.
Tak ada obrolan apapun dimeja makan. Semua tampak lahap memakan sarapannya. Hingga akhirnya waktu sarapan selesai dan Khali segera meninggalkan meja makan setelah berpamitan.
Kedua lelaki muda berbeda sifat itu berjalan bersama menuju ruang kerja Khali yang berada disamping kamarnya. Ruangan itu dulu kamar milik Haura. Namun ketika Haura beranjak 17 tahun kamar Haura dipindah beda 3 kamar dengan kamar Khali. Jadinya kamar lamanya itu menjadi ruang kerja Khali saat ini.
---*---
Diruang kerja Khali.
“Bagaimana?” tanya Khali tak sabar.
“Ini tuan,” ucap Ibra memberikan berkas tentang semua kepindahan Aqila ke Brunei.
Kata demi kata dibaca secara pelan dan hati-hati oleh Khali. Ekspresi wajah Khali tetap datar dengan pandangan tetap fokus akan informasi ditangannya.
“Apa ini semua benar Ibra?” tanya Khali.
“100% akurat tuan,” ucap Ibra.
“Hmmm jadi perihal ini kamu pergi kemari gadis bergamisku,” gumam Khali dengan senyum manis.
Masih dengan setia Ibra menunggu perintah Khali selanjutnya.
“Kamu boleh keluar, nanti saya panggil kamu lagi,” ucap Khali.
__ADS_1
Ibra keluar meninggalkan ruang kerja Khali, meninggalkan lelaki tampan yang mulai menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.
Memutar kursi itu menghadap kearah jendela, pikirannya menerawang tentang pertemuan pertama mereka hingga saat ini. Tak henti-hentinya senyum kecil tersemat dibir Khali.
“Mungkin ini pertanda Allah mendengar doaku saat itu. Kita dipertemukan lagi dengan takdir Allah. Secepatnya aku akan membawa keluargaku kerumahmu untuk mengkhitbahmu,” lirih Khali dalam hati.
Hatinya sudah mantap. Memang semenjak pertemuan terakhir di Bandara dengan Aqila. Sejak saat itu pria yang memiliki senyuman manis selalu melakukan sholat istikhoroh untuk menentukan semua pilihan hatinya terutama tentang jdoohnya kali ini.
Khali ingin melibatkan semuanya dengan di iringi atas nama Allah. Terutama dia juga tak ingin terjerumus dalam dosa terus menerus jika bertemu tanpa ikatan dengan gadis bergamis.
Hanya satu jalan yang Khali tau agar tak ada dosa lagi diantara mereka dengan cara menikahinya. Mungkin dia akan memilih jalur taaruf dulu dan mulai mengkhitbah gadis itu.
---*---
Dirumah sakit.
Siang itu, setelah semua pekerjaannya selesai, Aqila mulai melepas jas kerjanya dan mengambil air minum dikulkas kecil yang berada diruangannya.
Rasanya berkeliling ke kamar ruangan Anak serasa menyenangkan meski memang ia akui membuat dirinya capek harus kesana kemari.
Aqila melegut minuman itu hingga tandas lalu membuang botol kosong itu. Ia membuka tasnya dan mengambil ponsel miliknya.
Terdapat id pemanggil seseorang. Keningnya berkerut saat membaca deretan pesan yang tertulis disana.
Ia segera mendial nomer tersebut sayangnya tak diangkat. Perasaan Aqila menjadi tak tenang. Dia segera menelfon nomer keluarganya.
“Ayo angkat angkat,” gumam Aqila sambil mondar mandir.
Fikirannya mulai tak tenang setelah membaca pesan pendek itu.
“Ya tuhan kemana mereka semua sih,” ucap Aqila dengan mulai menangis.
Menunggu dengan tak sabar di lobby rumah sakit, akhirnya mobil SUV hitam terlihat memasuki area rumah sakit dan masuk kedalam.
Aqila segera masuk dan meminta David membawanya kembali ke apartemen.
To : Dini
Aku pulang dulu ke apartemen kan jadwal ku sudah selesai. Nanti kamu telfon David kalu pulang oke.
Send.
Setelah mengirim pesan pada Dini. Aqila mencoba menghubungi kembali nomor yang bisa ia hubungi.
Didering kelima akhirnya panggilan tersambung.
“Assalamu’alaykum kak,” salam Aqila.
“Wa’alaykumsalam La,” sahut orang diseberang.
“Kakak ada dimana?” tanya Aqila.
“Aku ada di monas sih. Kenapa?” tanya wanita diseberang telfon.
“Bolehkah aku meminta tolong?” pinta Aqila.
Dalam nadanya sudah tersirat kekhawatiran dan keseriusan.
“Boleh. Memang ada apa sih dek?” tanyanya tak sabaran.
__ADS_1
“Tolong lihatkan nama pasien dirumah sakit tempatku bekerja dulu kak. Atas nama Rossa,” ucap Aqila dengan jantung berdebar kencang.
Sungguh dadanya berdebar. Ia takut apa yang dikatakan dipesan itu semua benar. Entah apa yang akan ia lakukan namun saat ini yang terpenting berita itu benar atau tidak.
“Baiklah, sebentar lagi aku akan kesana kamu tunggu aja kabarku oke,” ujar dari balik telfon.
“Oke kak makasih.”
Akhirnya panggilan terputus bersamaan dengan mobil telah sampai didepan apartemen Aqila. Gadis itu segera turun dan berjalan menuju apartemennya. Ia ingin menenangkan pikirannya yang mulai kacau dan detakan jantung yang kencang.
---*---
Jakarta Indonesia.
Seorang perempuan bergamis dengan menggendong putri kecilnya turun dari mobil. Berjalan dengan menggunakan masker untuk menutupi wajahnya. Keduanya berjalan bergandengan tangan menuju ruangan informasi pasien.
“Ada yang bisa kami bantu?” tanya Pegawai Rumah sakit dengan ramah.
“Ya saya mau tanya, atas nama Rossa ada diruangan apa yah?” tanya Kayla ramah.
“Sebentar yah.”
Kayla mengangguk. Dia menunggu dengan sabar sambil melihat anaknya yang berjalan kesana kemari dengan baik.
“Nona,” panggil petugas itu.
“Iya bagaimana?” tanya Kayla ramah.
“Pasien atas nama Rossa ada diruang ICU nona.”
“ICU,” gumam Kayla pelan.
“Kalau boleh tau pasien sakit apa dok, kenapa dia diruang ICU?” tanya Kayla ingin tau.
“Untuk itu mohon maaf rumah sakit kami sangat menjaga privasi pasien.”
“Oh baiklah terimakasih ya,” ucap Kayla ramah.
Kayla segera berjalan keluar. Namun saat hendak keluar melewati pintu masuk. Kayla menatap wajah seseorang yang sedang berderai air mata berjalan masuk dengan tergesa-gesa.
Dengan rasa kepo yang tinggi, Kayla mengikutinya secara diam-diam. Toh apapun infonya akan sangat dibutuhnya oleh Aqila.
Kayla mulai bersembunyi dibalik dinding saat melihat sepasang suami istri itu berhenti didepan sebuah ruang ICU. Matanya membulat saat melihat orang yang sama yang ia kenali disana juga. Bahkan semua orang juga sedang menangis.
Hingga tiba-tiba ruangan ICU terbuka dan menampilkan seorang dokter yang keluar dengan wajah serius.
Kayla mencoba menguping, membuka indra pendengarannya agar lebih jelas. Menunggu dengan cemas apa yang akan diucapkan dokter.
Sepertinya dewi keberuntungan berpihak padanya kali ini. Suara dokter terdengar jelas ditelinganya. Hingga sebuah kalimat membuatnya mematung.
“Keadaan pasien sangat buruk, sepertinya sudah tak ada harapan lagi untuknya. Dilihat dari semangatnya saja dia tak ada. Penyakit kangker otaknya sudah menyebar dan menjalar hingga membuat kita tak ada harapan untuk menyembuhkannya.”
Deg.
----*----
Selamat membaca.
Gimana dengan part ini yah. Penasaran gak? pulang gak ya gadis bergamis.
__ADS_1
Yok LIKE. KOMEN DAN VOTE YANG BANYAK BIAR AKU UP LAGI SORE