
“Apa kamu tau usahamu masih belum bisa menarik perhatianku.” ~Aqila~
.
.
.
Hari ini Rey akan memulai semangatnya untuk membuktikan pada wanita itu bahwa ia benar mencintainya.
Rey akan datang ke rumah sakitnya. Dan ia tau wanitanya bekerja shift pagi saat ini. Dengan diantar Bima mereka sudah melakukan perjalanan menuju rumah sakit. Senyum tak luntur di bibir Rey hingga membuat Bima geleng-geleng kepala. Sepertinya bosnya sudah gila menurutnya.
Setelah melewati jalanan yang lumayan ramai ia turun dari mobil dengan gagah. Dengan langkah dingin dan mengintimidasi ia berjalan tegak diikuti Bima dibelakangnya. Tatapan tajam rahang tegas membuat ketampanannya naik 100%.
Dan tepat dilorong rumah sakit Rey melihat wanita yang dicintainya sedang berdiri sambil mengobrol dengan seorang wanita yang tak lain adalah Dini.
--*--
Ditempat Aqila.
“Gimana Din?” tanya Aqila saat mereka berada dilorong Rumah sakit.
“Katanya pemberangkatan relawan diundur bulan depan La, berarti 3 minggu lagi,” ucap Dini.
“Ah oke gakpapa lah Din,” ucap Aqila.
“Yang penting kita nanti lupain sejenak Indonesia La,” lirih Dini.
Aqila diam-diam mengangguk, ia juga membenarkan perkataan sahabatnya. Ia ingin melupakan sejenak masalahnya disini.
“Gue setuju,” ucap Aqila.
“Yuk Din ke poli,” ajak Qila lalu ia segera beranjak tapi baru saja ia membalikkan tubuhnya. Kepalanya membentur sebuah benda kokoh.
“Aww,” ringis Aqila dengan mengusap dahinya.
Dengan kesal ia membuka tangannya dan menatap apa yang ia tabrak.
Seketika matanya terbelalak saat tahu apa yang membuatnya mengaduh kesakitan.
“Kamu,” ucap kesal Aqila.
“Apa kamu tak melihatku,” ucap Rey tenang.
“Ya gak lah orang kamu dateng kayak jin aja. Nongol gak diundang,” sinis Aqila.
Dini yang mendengar perkataan temannya itu melotot tajam. Ia segera menarik tangan Aqila dan membisiknya.
“Kamu gila yah, dia direktur disini tau,” lirih Dini.
“Apaa,” kaget Aqila.
“Iya bener La dia direktur,” ucap ulang Dini.
Aqila mengigit bibir bawahnya dan menunduk.
“Mati aku ck gini aja gaktau,” ucap Qila dalam hati.
__ADS_1
“Ada apa Dokter Qila. Kenapa menunduk?” Rey semakin gencar menggodanya.
Aqila malu untuk mendongak dan beradu tatap dengan lelaki didepannya ini. Sungguh menyebalkan sekali lelaki ini batin Aqila.
“Suster Dini saya masih ada urusan dengan Dokter Qila. Apa bisa tinggalkan kami?” tanya Rey dengan dingin.
“Ah iya bisa tuan,” Dini hendak beranjak tapi tangannya dicekal oleh Aqila.
“Lepasin La,” lirih Dini dengan menatap Aqila.
Aqila menggeleng.
“Plis lepasin Direktur pingin ngomong berdua sama kamu,” ucap Dini.
Mau tak mau Aqila melepaskan tangannya dari Dini. Dan Dini pun beranjak meninggalkan Aqila yang masih setia menunduk.
Rey maju dua langkah mendekat ke arah Aqila. Tapi sang empu mundur hingga ia tak bisa bergerak karena dia sudah terpojok di dinding.
Rey tersenyum dan mengungkung tubuh Aqila dengan kedua tangannya.
“Mau apa kamu?” tanya Aqila dengan gugup.
“Kenapa takut yah?” ledek Rey.
“Gak takut sama sekali,” ketus Aqila.
“Lepasin,” sambung Aqila dengan mendorong dada Rey.
Tapi bukannya terdorong Rey malah semakin mendekatkan tubuhnya. Hingga perlahan tangan Rey mengusap pipi putih mulus Aqila.
Aqila menegang, ia merasakan aliran darahnya memanas. Ia yakin pipinya sudah memerah. Dia memilih memejamkan matanya sebentar.
Sampai sang empu melepas kungkungannya dan menjauh.
“Kapok wlee,” menjulurkan lidah lalu sedikit berlari dari Rey.
Bima sampai membelalakan matanya dengan kejadian itu. Ia sudah menghampiri Rey. Ia takut bosnya memgamuk. Tapi bukannya mengamuk sang bos malah tersenyum.
“Gadis manis,” gumam Rey dalam hati.
“Ahh gigitanya membuatku menegang,” lirih Rey.
“Tuan gakpapa?” tanya Bima.
Rey menoleh dan menatap Bima yang cemas dengan dirinya.
“It’s oke Bim,” ucap Rey.
Rey langsung beranjak menuju ruangan Direktur diikuti oleh Bima. Hari ini akan ada rapat meeting dengan para Dokter disana.
---*---
Diruang Meeting.
Semua dokter sudah berkumpul di ruangan meeting dan tak lama derap langkah kaki mengintimidasi datang. Para dokter berdiri menyambut dan menundukkan kepalanya.
Rey masuk dengan angkuh dan melirik pada gadis yang mencuri atensinya. Setelah sampai dikursinya ia mulai meminta semua dokter duduk.
__ADS_1
Semua dokter pun menurut. Hingga akhirnya meeting itu pun dimulai.
Aqila sendiri dia merasa risih dengan tatapan Rey yang selalu menatap kearahnya. Hingga suara Dokter Paul mengagetkannya.
“Dokter,” bisik Dokter Paul.
Aqila reflek menoleh.
“Iya Dokter,” saut Qila lirih.
“Nanti siang kita makan bersama bisa?” tanya Dokter Paul.
Aqila terdiam ia menimbang apa ia bisa atau tidak. Sejujurnya tak ada jadwal apapun nanti siang. Tapi entah kenapa ia merasa moodnya turun ketika tadi sudah bertemu dengan Rey.
“Baiklah,” Aqila mengangguk.
“Ehem,” deheman Rey membuat semua Dokter menatap kearah Rey.
“Jika sedang rapat jangan banyak bicara sendiri,” sindir Rey dengan menatap tajam ke arah Dokter Paul.
Dokter Paul dan Aqila pun diam lalu fokus pada kertas di depannya.
Meeting itu berjalan lancar. Membahas tentang pemberangkatan Relawan, berapa lama dan semua persiapan. Setelah hampir 2 jam akhirnya meeting selesai dan semua Dokter kembali ke ruangannya masing-masing.
Aqila dan Dokter Paul pun berjalan bersama. Mereka terlihat mengobrol dengan hangat bahkan diselingi tawa Aqila yang lebar.
Rey yang melihat pun mengepalkan kedua tangannya. Ia cemburu melihat wanitanya bisa tertawa bersama lelaki lain.
Seketika Rey mendekat pada keduanya yang sedang berjalan bersama itu.
“Selamat pagi Dokter,” sapa Rey sopan.
“Ah iya selamat Pagi Tuan Rey,” saut Dokter Paul.
“Wah sepertinya kalian memiliki hubungan yah kalau dilihat dari kedekatan kalian ini,” ucap Rey dengan menatap tajam ke arah Aqila.
“Ah tidak Tuan, saya dan Dokter Qila hanya partner kerja,” jawab Paul sopan.
“Oh seperti itu,” seru Rey.
“Apaan sih nih orang malah bahas pribadi nyebelin banget” gerutu Aqila dalam hati.
Entah kenapa ketika melihat Rey rasa sebalnya selalu muncul dan ia benci dengan lelaki yang secara terang-terangan mendekatinya ini.
“Ya sudah mari Tuan saya kembali ke ruangan saya,” pamit Dokter Paul.
“Saya juga mari,” saut Aqila dengan menundukkan kepalanya.
Keduanya pergi meninggalkan Rey yang masih mematung menatap keduanya. Bima yang berdiri dibelakang Rey pun masih terdiam ia menggaruk rambutnya yang tak gatal karena bingung dengan sikap atasannya itu.
---*---
Tetot sabar Bang Rey jangan gegabah hahaha.
Entar Aqilanya malah kabur loh hehehe. Harus sabar, perlahan dong jangan keburu-buru.
Ada yang dukung Bang Rey gak? Apa Bang James? Apa Dokter Paul? Apa lainnya hayooo??
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE KOIN/POIN DAN RATE BINTANG 5