
“Perasaan hangat ini tiba-tiba menjalar ke lubuk hatiku tanpa permisi.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
Matahari telah diganti oleh Bulan, langit cerah pun telah menggelap. Kemerlap bintang tampak menghiasi langit yang terlihat cerah oleh cahaya bulan.
Namun seorang gadis masih belum sadarkah diri dari tidur panjangnya. Kesadarannya bahkan telah ditunggu oleh semua keluarganya. Sampai-sampai Mama Nora dan Papa Radit pun pulang dari bulan madunya karena mendengar bahwa anak gadis yang sudah mereka anggap sebagai anak kandung mengalami kecelakaan.
Melihat ruangan Aqila adalah ruangan terbaik dari rumah sakit milik Rey. Maka tak sadar mereka pun juga sedikit nyaman dengan ruangannya. Mereka semua bahkan tanpa canggung makan bersama dengan duduk bersama diatas karpet. Yang lebih mengagetkan lagi, seorang Pangeran mau untuk makan bersama dan duduk diatas sebuah karpet seperti mereka.
Keadaan yang semula canggung lama kelamaan menjadi hangat. Pangeran Khali pun menjadi sedikit senang karena rasa rindunya dengan keluarga sedikit berkurang dengan kehadiran keluarga yang baru ia kenal.
Satu persatu ia pandangi wajah orang-orang baru didepannya. Terutama yang jadi sorot matanya adalah Mama Angel. Wanita yang telah melahirkan gadis yang memenuhi pikirannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kedua orang tua Kevin sudah pamit untuk pulang karena ketiga cucu mereka hanya bersama pengasuh. Sesungguhnya Adel ingin mengajak ketiganya ke rumah sakit. Akan tetapi perintah dari suaminya tak bisa ia bantah. Kevin mengatakan jika suasana rumah sakit tak baik untuk anak-anak dan Adel pun membenarkan ucapan suaminya dari hati.
Setelah kepergian orang tua Kevin. Akhirnya Kevin menatap kedua lelaki tampan didepannya.
“Apa saya boleh menginap disini?” tanya Khali.
“Ehhhh,” saut Adel gelagapan. Dia bingung dan hanya menatap wajah sang mama. “Boleh nak selagi kamu nyaman disini.”
Ucapan Mama Angel membuat Khali tersenyum, inilah yang ia suka dari Mama Angel sifatnya mengingatkan dirinya pada Ibunda Ratu. Ibra sendiri dengan sigap juga ikut menunggu sang majikannya.
“Nak Khali tidur di ranjang situ saja,” ucap Mama Angel.
“Jangan Tante biar tante aja.” Khali menggeleng.
“Tante bisa tidur disamping Aqila,” ucap Mama Angel tersenyum.
“Baiklah.” Khali mengalah.
Akhirnya mereka semua tidur dengan posisi mereka masing-masing. Adel dan Kevin tidur bersama pada sofa yang sudah diatur seperti ranjang hingga cukup menampung tubuh keduanya.
Sedangkan Mama Angel dia tidur sambil duduk disamping ranjang sang anak yang masih memejamkan matanya. Untuk Ibra sendiri dia tidur pada sofa yang biasanya dapat diduduki oleh tiga orang dan Pangeran Khali tidur diranjang single bed yang terletak tak jauh dari ranjang Aqila.
Untuk Axel sendiri ia pulang karena Kakaknya Adel juga menitipkan ketiga anaknya pada Axel. Malam semakin larut dan hanya dentingan jarum jam yang terdengar.
Terlihat jemari lentik bergerak dan mata indah itu perlahan terbuka. Pertama kali yang ia rasakan adalah kepalanya sakit hingga dia mengaduh.
“Ughhhhh,” ucap Aqila mengaduh sambil memegang dahi yang terluka.
Aduhannya membuat Mama Angel yang tidur disampingnya terbangun. Tak henti-hentinya ia menciumi wajah sang anak dan bersyukur atas kesadaran anaknya.
__ADS_1
“Ma,” panggil Aqila.
“Ya sayang,” saut Mama Angel.
“Aku laper ma,” rengek Aqila.
Mama Angel menatap jam disudut dinding. Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Ia juga kasihan melihat sang anak yang kelaparan.
Mama Angel mencoba memesan makanan lewat online dan akhirnya ada driver yang masih mau mengantar.
Hampir 1 jam mereka menunggu akhirnya pesanan diantar sampai didepan pintu oleh tukang Ojolnya. Dengan pelan Mama Angel menata makanan pesanan Aqila dimeja nakas. Sebungkus bubur ayam terlihat mengepul dimangkuk.
Aqila memang tak begitu suka dengan bubur tapi mau bagaimana lagi ia sudah lapar. Dengan telaten Mama Angel menyuapi sang anak dengan keduanya saling berbicara meski saling berbisik.
Mendengar suara celotehan orang membuat Pangeran Khali terbangun. Dia mengucapkan syukur ketika melihat mata cantik itu telah terbuka.
“Loh Tuan Khali,” ucap Aqila.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Khali mengalihkan pertanyaan Aqila.
“Ah tinggal sedikit pusing saja tuan,” ucap Adel ramah.
“Banyak-banyaklah istirahat biar cepat sembuh,” ujar Khali.
“Iya tuan,” ucap canggung Aqila.
Bahkan sesekali Mama Angel tertawa lirih dengan gurauan Khali. Diam-diam Aqila tersenyum menatap sang mama yang terlihat bahagia dengan kehadiran Khali. Tiba-tiba ada perasaan hangat menyusup ke rongga dadanya.
Hatinya hangat dan jiwanya senang melihat Khali begitu akrab dengan mamanya. Hingga lama kelamaan mata Aqila mulai mengantuk dan ia tertidur dengan posisi duduk.
Mama Angel melirik sang anak yang sedari tadi terdiam.
“Astagfirullah nak.” Mama Angel geleng-geleng kepala menatap kelakuan anaknya.
Dia membantu Aqila menidurkan anaknya agar nyaman. Setelah selesai mereka kembali meneruskan mimpi indah yang sempat terpotong tadi.
--*--
Club Bintang.
Disebuah club malam terkenal dikota Jakarta. Seorang lelaki tampan dengan masih mengenakan pakaian kerja yang terlihat lusuh dan kotor sedang asyik meminum alkohol dengan sekali teguk.
Bahkan ia tak mendengarkan ocehan asisten pribadinya untuk berhenti. Bima hanya bisa menghela nafas dan menjaga majikannya agar tak melakukan hal gila kembali.
Hampir 2 botol alkohol diminum sendiri oleh Rey. Melihat keadaan tuannya begitu mabuk, Bima berinisiatif membawa Rey ke apartemennya agar ia tak dimarahi oleh sang ibu dari majikannya.
Bima membopong Rey dengan hati-hati. Hingga perjuangan itu akhirnya berakhir di apartemen Rey. Bima membantu melepas sepatu yang Rey kenakan. Membaringkan tubuh sang majikan dan menutupinnya dengan selimut.
__ADS_1
Selesai semua Bima meninggalkan kamar Rey dengan perasaan lega. Dia tidur disofa ruang tamu Rey dan akhirnya mimpi indah mulai datang ke alam mimpinya.
---*---
Di rumah utama Rossa.
Sedari pagi Rossa uring-uringan mencari kabar tentang suaminya. Sejak pagi memang Rey tak menghubungi Rossa sedikitpun.
Rossa bahkan berpikiran buruk dan negatif thinking tentang Aqila yang ia yakini sedang bersama suaminya.
“Awas saja jika dia berani bertemu dengan suamiku. Aku gak segan-segan buat ancem dia,” murka Rossa.
Hingga kemarahan Rossa semakin menjadi ketika sampai malam suaminya tak kunjung pulang. Puluhan kali Rossa mencoba menelfon Rey, tak satupun telfon itu diangkat olehnya.
Hingga Rossa berinisiatif untuk keluar dan mencari kerumah sahabatnya yang tak lain Aqila. Ia meyakini bahwa suaminya berada disana.
Dengan mengendarai mobil Rossa meninggalkan halaman rumahnya. Tujuannya satu rumah Aqila, meningkantkan kecepatan laju mobilnya saat jalanan yang ia lewati mulai sepi. Hingga tak butuh waktu lama akhirnya Rossa telah sampai didepan gerbang rumah Aqila.
Rumah besar itu terlihat sepi dan sunyi. Rossa turun dari mobil dan menghampiri satpam yang sedang membuka pintu sedikit.
“Selamat malam pak,” ucap Rossa.
“Malam nona,” saut satpam.
“Apa Aqilanya ada?” tanya Rossa.
Karena keadaan sedikit gelap didepan gerbang membuat sang satpam agak kesulitan menatap wajah orang didepannya. Jadi ia tak tau jika didepannya adalah orang yang sering berkunjung dirumah majikannya.
“Oh Non Aqilanya sedang tidak ada dirumah nona ” ucap satpam.
“Jika boleh tau kemana ya pak?” tanya Rossa.
“Kalau itu kami gaktau nona maaf ” tutur sopan satpam.
Rossa mengalah dan pamit pulang. Ia masuk kedalam mobil dan memasang setbeltnya. Setelah selesai ia memandangi rumah didepannya.
“Dasar wanita murahan, pasti sekarang kamu bersama suamiku kan,” seru Rossa dalam hati
Wajahnya merah padam menahan gemuruh di dadanya terlihat. Dia segera menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan rumah Aqila dengan perasaan hati yang panas dan marah.
---*---
Selamat membaca.
Gak gantung lagi kan hehehe.
Ayo jangan lupa, LIKE, KOMEN DAN VOTE nya yang kenceng yah.
__ADS_1
Kalau kenceng nanti sore aku up lagi. Kalau enggak ya besok aja yah.