
“Mengikhlaskan dan merelakan yang saat ini hanya bisa aku hadapi. Meski sulit aku percaya bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.” ~Aqila~
.
.
.
Hari ini tepat keluarnya hasil tes DNA janin Luna dan James. Selama 3 hari Luna tinggal bersama Alex dan James. Karena untuk menjaga Luna agar tak bertingkah dan memanipulasi hasil DNA itu.
Ketiganya segera menuju rumah sakit setelah mendapatkan telfon dari pihak RS. Sesampainya diparkiran ketiganya berjalan beriringan. Wajah James menegang begitupun Alex. Dalam hati keduanya berdoa semoga itu bukan anak James.
Sedangkan Luna ia berjalan santai tanpa beban tapi sejujurnya hatinya juga takut akan kenyataannya. Tapi ia mencoba menepis semua pikiran buruknya karena memang yang dia ingat terakhir intim tanpa pengaman dengan James.
Seorang lelaki paruh baya sudah berdiri didepan mereka.
“Tuan Alex ini hasilnya,” ucap Dokter paruh baya itu.
“Makasih ya Dok,” ucap Alex tulus.
Dokter itu mengangguk dan segera pamit undur diri. Tapi tidak dengan ketiganya. James meraih kertas itu dan mulai membukanya. Membuka lipatan surat dengan hati-hati. Jantungnya sudah berdetak kencang dan gusar. James membuka kertas itu dan mulai membacanya dari atas sampai bawah.
Jderrrr.
Matanya membulat, rahangnya mengeras membaca hasil itu.
Dan benar memang anak itu anak kandung James. James mengepalkan tangannya hingga suratnya ikut menyusut.
“Hey liat James,” ucap Alex meraih kertas itu.
Alex merebut surat itu dan membukanya. Matanya melotot tajam dengan hasilnya.
“Luna, jawab aku,” teriak James.
“Ini anak siapa Lun,” ucap James penuh amarah.
“Kamu udah manipulasi ini kan,” teriak James.
“Maksutmu apa sih James? aku kan gak kemana-mana kemarin,” tanya Luna.
Luna meraih kertas itu dan wajah bahagianya muncul.
“Bener kan kataku kalau ini anakmu,” ucap Luna.
“Tapi aku gak percaya, kamu ****** banyak tidur dengan lelaki lain,” teriak James.
Plakk.
Luna menampar James dengan kencang.
__ADS_1
“Asal kamu tau cuma kamu yang gak pakek pengaman dan lihat hasil itu,” menujuk kertas ditangannya.
“Dan aku bukan ******, aku dari dulu cuma intim sama kamu sebelum aku dijual ke Mami Dena," teriak Luna tak terima.
“Ini anak kamu hah,” sambung Luna.
“Tapi aku gak percaya,” James mencekik leher Luna sampai menabrak dinding.
Alex yang melihatnya segera membantu Luna.
“James jangan gila, lepas,” ucap Alex.
Bukannya melepas tangan James semakin mengerat.
“James ingat ini rumah sakit dan dia ngandung anak lo,” teriak Alex.
Bughh.
Alex memukul wajah James dan akhirnya terlepaslah cekikan James.
“Seharusnya lo berubah bukan kayak gini. Liat didalam dirinya ada anak lo,” ucap Alex dengan menarik kerah baju James.
Alex membantu Luna berdiri dan segera meninggalkan James sendirian. Sejujurnya Alex masih tak percaya tapi mau bagaimana lagi kenyataan memang seperti itu. Saat ini ia harus menjaga anak dari James. Karena ia tau temannya itu tak akan gampang menerimanya.
Sepeninggalan Alex dan Luna, James berdiri dan berjalan gontai menuju mobilnya. Ia kalut harapan untuk kembali dengan wanita yang ia cintai kandas sudah. Pupus dan hancur tak akan kembali. Ia meratapi kebodohannya ini dengan penuh penyesalan. Ia kemakan nafsu dan akhirnya merusak kepercayaan dirinya.
--*--
Sesuai ucapan Rey kemarin, disinilah Aqila berada. Didepan rumah impiannya terlihat mobil Rey sudah terparkir rapi disana. Aqila masih diam menatap rumah itu dengan sendu. Menarik nafas dalam Aqila mulai masuk. Ia memakai celana panjang dan baju santainya berwarna mustard menampilkan salah satu bahunya yang mulus.
Ia berjalan dengan pelan menuju pintu rumah. Hingga pintu itu terbuka lebar dan muncullah wajah lelaki yang sangat Aqila benci saat ini.
Tapi ia sudah berkutat dengan hatinya semalam. Sebentar lagi ia akan pergi jauh untuk sementara dan ia harus bisa memaafkan semuanya. Ia ingin tenang selama di Palestina jadi ia akan memperbaiki semuanya.
“Silahkan masuk,” ucap Rey.
Aqila mengangguk dan masuk kembali kerumah itu. Ia duduk disofa ruang tamu diikuti Rey. Keduanya masih terdiam mencoba mengingat kenangan terakhir ini. Setelah ini keduanya akan berbeda sudah. Mereka akan seperti orang asing atau berteman karena sebentar lagi Rey akan menikah dengan sahabatnya pikir Aqila.
“Pertama aku mau ngucapin minta maaf sama kamu,” Rey membuka suara.
“Maafin aku yang sudah memberikanmu harapan dan nyatanya sekarang aku meninggalkanmu,” ucap Rey pelan.
Tapi yang perlu kamu tau, ini semua buka kemauanku,” ucap Rey.
“Aku melakukan ini untuk mamaku. Anggap saja aku pengecut yang tak bisa melawan mamaku.”
Aqila masih terdiam dia ingin mendengar semua keluh kesah Rey agar dia bisa berlapang dada.
__ADS_1
“Sejak dua tahun lalu aku hanya punya mama, ayahku sudah dipanggil dulu oleh Allah. Hidupku dari kecil selalu dipantau oleh mamaku. Apapun harus sesuai dengan mamaku. Sampai aku selalu merasa tertekan tapi aku tetap melakukannya karena aku sayang sama mama.”
“Dan sekarang aku harus menjalani perjodohan ini karena mama, aku sudah berusaha berbicara dengan mama tapi terakhir kali berakhir dengan mama masuk rumah sakit. Maafin aku La maafin aku. Aku pengecut gak bisa berjuang untuk kamu,” ucap Rey dengan berlutut didepan Aqila.
Aqila spontan berdiri dan mundur.
“Bangunlah Rey,” pinta Aqila.
Rey bangun dan duduk kembali.
“Aku kesini ingin melupakan semuanya. Aku merelakanmu dan mengiklaskanmu,” Seru Aqila pelan.
“Aku memang sudah nyaman denganmu bahkan mulai cinta sama kamu, tapi ternyata Allah sudah mengatur semuanya. Kamu bukan jodohku dan aku bukan jodohmu,” sambung Aqila tenang.
“Aku sudah memaafkan mu Rey ,dan maafkan aku juga yang tidak bisa menepati janjiku untuk selalu bersamamu,” lirih Aqila.
Tak ada air mata. Aqila tetap tenang. Mungkin hatinya sakit tapi ia sudah tegar saat ini. Hatinya sudah kuat dan sudah lelah dengan semua ini.
Aqila menatap teduh Rey. Rey pun balik menatap.
“Aku hanya mau bilang, tolong jaga sahabatku dengan baik. Dia sahabat terbaikku. Aku sayang banget sama dia. Tolong jangan sakiti dia. Mulailah cintai dia dari sekarang. Aku sudah ikhlas dan relain kamu,” ucap Aqila.
“Dan aku minta doakan aku bisa kembali dengan selamat kesini,” lirih Aqila.
Rey mengangguk, tak ada rona bahagia disana. Matanya memancarkan kepedihan dan kesakitannya. Berbeda dengan Aqila. Aqila tetap tenang dan datar. Sepertinya dia pandai menutupi sakit hatinya.
“Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali?” ucap Rey pelan.
Aqila terdiam mencoba menimbang dan akhirnya ia mengangguk dan merentangkan tangannya.
Dan Rey segera menghambur kepelukan Aqila.
“Aku doakan kamu dapat lelaki yang baik, setia dan bisa merjuangin kamu” lirih Rey dalam pelukan Aqila
Aqila mengangguk.
“Aku juga berdoa semoga pernikahan kalian nanti sakinah mawaddah warrahma,” ucap Aqila tulus.
“Makasih sudah memaafkan ku,” ucap Rey
“Sama-sama” suat Aqila dengan melepaskan pelukan itu.
Dan keduanya sama-sama tersenyum. Seperti beban berat keduanya telah menguap hilang. Sakit hatinya memang ada tapi keduanya sudah mengikhlaskan. Apa yang kita ikhlaskan maka sakit hati itu akan perlahan hilang dari diri kita.
Dan ingat cinta tak semuanya harus memiliki, kadang cinta harus merelakan untuk bisa melihatnya bahagia meski kebahagiaan itu bukan dengan kita. Yang penting kebahagiaan menghampiri mereka orang yang kita sayang.
--*--
Selamat membaca😭
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan votenya yah.