
“Sesibuk-sibuknya aku, untuk menyelamatkan pasienku semuanya akan ku tinggalkan.” ~Aqila~
.
.
.
Setelah makan siang, akhirnya Mereka keluar bersama. Tapi sebelum mereka menaiki mobil, ponsel Aqila berbunyi.
“Assalamu’alaykum,” suara lembut Aqila setelah menggeser icon hijau.
“.......”
“Ah saya ada direstaurant, kenapa?” tanya Aqila heran.
“......”
“Ah ya bisa-bisa, tunggu saya disana, saya segera kesana,” ucap Aqila dengan nada tinggi.
“......”
“Sama-sama wa’alaykumsalam,” saut Aqila.
Aqila berubah panik dia hendak beranjak tapi suara Kevin mencegahnya.
“Ada apa Qila?” tanya Kevin.
“Ah itu kak anu. Ada pasien dan dokter anak kosong aku harus segera kesana,” ucap Aqila.
“Ah baiklah ayo kakak antar,” ajak Kevin.
Bagaimanapun Kevin sudah sangat sayang pada Axel dan Aqila. Ia menganggap mereka adik jadi demi kebahagiaan mereka, Kevin selalu menuruti segalany.
“Loh Kevin kamu gak lupa kan,” seru Rudi tiba-tiba.
“Memang ada apa?” tanya Kevin.
“Kamu ada jadwal meeting sebentar lagi,” ucap Rudi.
“Ya allah iya aku lupa. Bagaimana ini,” sesal Kevin.
Aqila tersenyum. “Gakpapa kak aku naik taxi aja yah, yaudah aku berangkat ya kak,” pamit Aqila.
“Kami antar,” celetuk Pangeran Khali tiba-tiba.
Asisten Ibra membelalakkan matanya mendengar seruan Khali, bahkan Aqila sendiri mematung entah apa yang ada dipikiran Aqila.
“Ah tidak perlu tuan, saya tau anda pasti sibuk,” ucap Aqila ketika sadar dari keterkejutannya sambil menunduk.
“Saya dan Asisten saya tidak ada jadwal lagi sekarang, ayo kami antar anda terburu-buru kan,” ucap Khali mengingatkan.
Sontak saja otak Aqila mengangguk karena sekarang keselamatan pasiennya nomer satu daripada apapun.
Aqila pamit pada Rudi dan Kevin lalu segera beranjak naik ke mobil Khali. Aqila duduk tenang dikursi belakang dan Pangeran Khali disamping Ibra. Ibra segera mengemudikan mobilnya lumayan tinggi. Tujuannya satu segera mengantarkan seorang wanita yang sangat dibutuhkan keberadaannya sekarang.
Aqila masih mengotak-atik ponsel dan meletakkan tasnya di kursi sampingnya. Aqila menekan pesan pada Dini. Untuk membawakan jas nya didepan lobi. Dan Dini pun menyanggupi.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama akhirnya mobil telah sampai didepan rumah sakit dan Aqila segera keluar.
“Saya pamit dulu tuan. Terimakasih banyak,” ucap Aqila tulus.
Tanpa mendengar jawaban kedua lelaki itu Aqila segera berlari dan Khali bisa melihat sorang perawat memberikan jas putih pada Aqila.
Aqila mempercepat langkahnya kedalam tanpa menengok kebelakang. Dia berjalan sambil memakai jasnya. Tujuannya satu saat ini ruangan gawat darurat.
--*--
Di mobil Khali.
Kedua lelaki itu fokus dengan jalanan depan hingga suara Asisten Ibra mengejutkan pikiran Khali.
“Tuan,” panggil Asisten Ibra.
“Ya Ibra ada apa?” tanya Pangeran Khali.
“Kenapa tuan sepertinya tertarik pada wanita tadi?” tanya balik Ibra.
“Entahlah Ibra,” mengangkat kedua bahunya, “Saya merasa nyaman saja melihatnya,” jawab jujur Khali.
Memang benar, entah kenapa ketika menatap Aqila, Khali merasa tenang dan senang. Ada semburat kenyamanan ketika berada didekatnya dan menatapnya. Tapi Khali segera menepis karena ia takut melebih takdir Allah.
Ia juga sadar diri, dia seorang Pangeran. Ia harus memiliki istri yang nanti juga tak bisa keluar sembarangan. Mungkin akan selalu berdua didekatnya saja. Dan Khali juga seperti masih menunggu waktunya dia menikah. Mungkin dengan datangnya lamaran dari kerajaan lain dia menerimanya.
Semua itu masih Khali simpan dalam hatinya sendiri dan pikiran. Ia hanya selalu berdoa pada Allah jika jodoh dekatkan jika tidak makan jauhkan. Itulah yabg selalu Khali doakan.
Khali tak ingin berharap pada manusia, karena sebaik-baiknya pengharapan berharaplah pada Allah. Allah maha segalanya, Allah maha tau. Allah maha adil dalam memberi takdir dan ujian. Jika kita berharap pada Allah maka apapun yang Allah beri makan kita akan sellau beryukur. Tetapi jika kita berharap pada manusia yang ada kita akan mendapat kekecewaan dan sakit hati.
Mobil melaju menuju tempat hotel penginapan mereka. Setelah memarkirkan mobil Khali hendak memgambil ponsel disampingnya tapi perhatiannya teralihkan melihat tas kecil dikursi belakangnya.
“Tas milik siapa tuan?” tanya Asisten Ibra sopan.
“Sepertinya ini milik Nona Aqila,” jawab Khali.
“Iya tuan benar ini punya nona,” Ibra menambahkan.
“Berarti kita harus mengembalikannya tuan,” ucap Ibra.
Pangeran Khali mengangguk.
“Biarkan saya yang mengantar tuan,” ucap Ibra Sopan.
“Nanti saja kita antar Ibra, kita harus bekerja sekarang. Apa kamu lupa?” tanya Khali
Ibra terdiam dan mengingat. Hingga ia tersentak ketika mengingat bahwa dia ada jadwal rapat online.
“Ah iya tuan maaf saya lupa,” ucap maaf Ibra.
“Tidak apa-apa Ibra, yaudah ayok masuk kita sekarang.”
Khali berjalan sambil menenteng tas Aqila. Ketika Ibra meminta untuk membawakan Khali menolak. Membuat Ibra berpikiran aneh tapi hanya bisa diam. Keduanya masuk dikamar masing-masing. Membersihkan diri lalu segera bertemu dikamar Khali.
Keduanya melakukan meeting via online karena memang terlalu banyaknya perusahaan diberbagai negara dan waktu Khali sendiri yang masih belum bisa berkunjung itu yang membuat mereka selalu meeting via online.
Hampir 3 jam mereka rapat akhirnya rapat itu berakhir. Kedua lelaki tanpan itu menutup laptop. Asisten Ibra segera mengecek catatannya sendiri. Sedangkan Pangeran segera beranjak dan sholat ashar terlebih dahulu.
__ADS_1
Bagi umat muslim tetap saja. Serepot apapun kita melakukan kegiatan dunia jangan pernah lupakan kewajiban kalian. Sesibuk apapun itu luangkan untuk melaksanakan kewajiban umat muslim. Bagaimanapun ketika kita melanggar kewajibannya maka kita akan berdosa.
---*---
Di Rumah Sakit.
Akhirnya Aqila bisa bernafas lega. Kondisi anak yang ia periksa pun mulai membaik. Bahkan Aqila tadi melakukan sholat asharnya hampir telat.
Matahari sudah terbenam dan berganti bulan. Aqila menghela nafas berat. Inilah resikonya meski ia libur jika dibutuhkan ia juga harus segera datang. Karena nyawa pasiennya berada ditangannya.
Aqila berjalan menuju ruangan pribadinya. Dia segera meletakkan jasnya dan melaksanakan shokat magrib dulu. Selesai dengan kewajibannya dia duduk dan hendak mencari sesuatu.
“Astagfirullah tas ku dimana,” gumam Aqila sambil celingukan.
Ia berkeliling di area ruangan pribadinya tetapi yang ia cari tak ada. Aqila keluar dan satu tujuannya ruangan poli. Mungkim tas nya berada disana karena tadi dia mampir keruangan polinya.
Aqila masuk dan berangsur mencari tapi sama. Kosong tak ketemu. Aqila mulai takut. Didalam tas itu ada berkas penting dan kartu kartu pentingnya. Aqila mencari Dini dan akhirnya ketemu.
“Din?” panggil Aqila.
Dini menoleh “Ya,” saut Dinin
“Aku mau tanya nih,” ucap Aqila.
“Ya ada apa?” Dini menaikkan salah satu alisnya.
“Kamu tadi liat aku bawa tas gak pas datang?” tanya Qila.
Dini terdiam sepertinya dia berfikir untuk mengulangi kejadian beberapa jam lalu. Dan,
Ingat!
“Kamu datang gak bawa tas La,” ucap Dini.
“Serius?” tanya Qila.
Dini mengangguk ,akhirnya Aqila kembali berfikir dia kemana saja membawa tas. Menjulang kejadian setelah darinrestaurant dan menunduk kepala Aqila.
“Ah iya,“ucap Aqila.
“Gimana inget kamu”? Tanya Dini heboh.
“Tasnya ketinggalan dimobil pa-” belum selesai Aqila meneruskan ucapannya ia tersadar
Aqila elus dada dan hampir saja pikir Aqila.
“Dimobil siapa La? Pa siapa?” tanya Dini curiga.
“Oh itu nggak mobil temenku kok” ucap Aqila dibuat biasa saja.
Ia menyembunyikan ini karena ia takut sang teman akan semakin tak sehat dan mengada-mengada jika tau sahabatnya sangat dekat dengan idolanya.
---*---
Gimana si neng Qila tau gak tasnya dimana?
Hahahaha gimana nih pembaca setia.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH