
“Saat ini tujuanku hanya dua yaitu membahagiakan mama dan fokus dalam pekerjaan.” ~Rey~
.
.
.
Rumah sakit.
Setelah perbincangannya dengan Aqila waktu itu, Aqila menepati ucapannya. Esoknya dia sudah memberi info dokter terbaik yang Aqila kenal dan ternyata dia adalah teman Aqila saat masih membantu dirumah sakit Raharja.
Dengan bantuan Aqila. Rey meminjam teman Aqila itu untuk dibawa ke rumah sakitnya, agar segera mengoperasi mamanya.
Dengan segala upaya dan bantuan, akhirnya operasi berjalan dengan lancar. Bahkan tanpa sadar semenjak terakhir bertelfon dengan Aqila, Rey menjadi semakin sibuk. Selain menjaga mamanya dia juga harus mengerjakan pekerjaan kantor.
Mau bagaimanapun ini sudah kewajiban dia sejak dulu. Rey mengerjakan tanpa mengeluh. Meski jika harus jujur badannya terasa sakit jika tidur di rumah sakit. Namun mau siapa lagi yang akan menjaga mamanya jika bukan dirinya.
Sejak 2 hari yang lalu mamanya pun sudah sadar setelah melakukan operasi jantung, keadaannya semakin baik. Bahkan saat ini kondisi mamanya masih dalam pengawasan teman Aqila. Selama 4 harian teman Aqila berada di rumah sakit Rey. Keluarga Kevin pun sudah mengetahui hal ini dan mengijinkannya.
Rey semakin dekat dengan mamanya, dia bahkan tak mau meninggalkan mamanya sedetikpun. Bahkan dia menyewa perawat untuk menjaga mamanya jika memang dia sudah ada meeting penting tak dapat diwakilkan.
---*---
Pagi ini seperti biasa, Rey menyuapi mamanya dengan bubur yang tersedia. Ibu dan anak itu pun terlihat bahagia dengan keadaan sekarang. Mama Ria menjadi bersyukur karena anaknya sudah kembali seperti semula. Bahkan badannya sudah tak sekurus seperti dulu.
Mama Ria tersenyum menatap anaknya yang mengomel. Karena dirinya meminta menyudahi makannya padahal bubur masih banyak, itulah yang menjadi alasan untuk Rey memarahi mamanya.
“Mama sudah kenyang nak,” ujar Mama Ria.
“Tapi mama masih makan dikit loh, ayo makan lagi,” bujuk Rey.
Mama Ria menggeleng dan akhirnya Rey menyerah. Dia meletakkan mangkok putih itu diatas nakas lalu mengambilkan gelas berisi air putih itu.
“Minum obat ya ma,” ucap Rey.
“Iya sayang,” sahut Mama Ria.
Membantu mamanya meminum obat, lalu ia segera membereskan mangkok dan gelas diatas nampan. Tak lupa meminta Bima untuk meletakkan nampan itu diatas meja agar tak jatuh.
Setelah semua selesai, Rey berpamitan pada mamanya untuk mengerjakan tugas kantor di sofa. Mama Ria mengangguk dan Rey segera beranjak.
“Gimana Bim?” tanya Rey.
“Saya sudah dapat kabar jika yang akan datang adalah putrinya tuan, bukan Pangeran Khali lagi,” ucap Bima sopan.
“Hah, berarti tandanya itu adik kandung Tuan Khali?” tanya Rey.
“Iya tuan,” sahut Bima sopan.
“Luar biasa, anak perempuannya tak ada yang tau dan sekarang kita akanbertemu,” ucap Rey tersenyum.
Sungguh dia tak percaya, bagaimana bisa seorang perempuan yang disembunyikan keadaanya dan rupanya dari publik, akan bertemu dengannya besok. Ia sungguh penasaran bagaimana cantiknya rupa gadis itu. Jika dilihat dari wajah Khali yang tampan, maka Rey menjamin jika adiknya pasti akan cantik.
Keduanya mulai kembali fokus dengan berkas-berkas didepannya. Rey sendiri sampai dibuat kualahan melihat berkas yang tak kunjung selesai. Namun dia juga tetap harus menyelesaikan sekarang karena besok rapat pertamanya dengan sang Tuan Putri akan dimulai.
Beberapa menit kemudian konsentrasi mereka buyar karena suara handphone milik Khali. Khali mengerutkan keningnya saat melihat id pemanggil.
__ADS_1
“Ya assalamu’alaykum,” ucap Rey.
“Wa’alaykumsalam, kamu dimana Rey?” tanya wanita diseberang.
“Aku lagi ada di rumah sakit, kenapa?” tanya Rey heran.
“Aku mau jenguk tante. Boleh?” tanyanya dari seberang telfon.
“Boleh kok kesini aja,” sahut Rey.
“Baiklah. Aku bakalan kesana nunggu mas Kevin pulang yah.”
“Oke.”
Keduanya memutuskan panggilan. Rey mulai duduk kembali di sofa dan mendongakkan kepalanya sejenak.
“Bim,” panggil Rey.
“Ya tuan ada apa?” tanya Bima sopan.
“Tolong belikan kue coklat kesukaan Adel dulu dong!” ucap Rey.
“Baiklah tuan, saya belikan didepan rumah sakit yah,” ujar Bima.
“Terserah yang penting sesuai kayak dulu,” ucap Rey enteng.
Bima mengangguk mengerti lalu segera keluar dari ruangan kamar Mama Ria. Sepeninggalan Bima, Rey menatap ranjang mamanya. Terlihat mamanya sedang tertidur pulas dengan selimut yang menutup sampai perutnya.
----*----
Setelah berjalan dari rumah sakit akhirnya Bima sampai di kedai roti yang terkenal enak itu. Cabangnya saja sudah banyak, bahkan disini melayani pemesanan untuk acara apapun.
Bima segera menuju bagian kasir.
“Selamat pagi tuan, sedang mencari roti apa?” ucap pelayan soapn
“Saya mau roti rasa coklat nya yang 10 biji dan rasa strawberry 10 biji,” ucap Bima sopan.
Pelayan itu mencatatnya dan pamit untuk menyiapkan pesanan Bima. Sambil menunggu pesanan, Bima pamit untuk ke toilet karena ia sudah tak dapat menahan.
Dengan tergesa-gesa Bima segera menuntaskan hajatnya itu hingga selesai. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Bima berjalan keluar sambil membenahi pakaiannya tanpa menatap kedepan.
Dan ternyata karena kecerobohannya dia menabrak seorang wanita.
Bukkk.
Dengan spontan Rey memegang lengan gadis itu. Seperkian menit keadaan hening, hingga akhirnya gadis itu bergerak dan mengangkat wajahnya.
Deg.
“Ya allah cantik bener,” teriak hati Bima.
Keduanya diam saling menatap hingga gadis itu yang menyadarkannya kembali.
“Astagfirullah,” ucap gadis itu.
“Tolong lepasin lengan saya tuan,” sambung Haura pelan.
__ADS_1
Jujur baru kali ini dia dipegang oleh lelaki selain abi dan kakaknya. Meski terhalang oleh kain namun tetap saja ia bisa merasakan betapa eratnya lelaki tadi mencengkram lengannya.
“Maaf nona, apa nona baik-baik saja?” tanya Bima sopan.
“Iya tuan saya baik-baik saja. Terimakasih,” ujar Haura pelan.
Haura mulai membenarkan posisinya dan meletakkan nampan berisi roti itu. Bima sendiri masih terpaku menatap wajah cantik didepannya. Dia mengingat-ngingat sepertinya dia tak asing dengan wajah gadis didepannya.
“Emm maaf nona, apa kita pernah bertemu?” tanya Bima kikuk.
“Oh tidak tuan, saya saja bukan orang sini,” sahut Haura acuh.
Haura kembali memilih beberapa roti dengan diikuti Bima.
“Ohh, anda dari mana?” tanya Bima sopan.
“Brunei,” sahut Haura cuek.
Deg deg.
“Ya allah apa ini rekan bisnis besok yang akan ditemui oleh Tuan Rey,” gumam Bima dalam hati.
Haura sendiri menjadi aneh pada lelaki di depannya. Bahkan dia sampai melambaikan tangan didepan wajah Bima.
“Ada apa tuan?” tanya Haura.
“Oh tidak apa-apa,” sahut Bima.
Hingga keadaan itu menjadi bebas karena pelayan sudah memanggil Bima. Mengucapkan maaf dan terima kasih pada Haura. Bima segera membawa kantung belanjaan itu kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan Buma diam seperti mengingat sesuatu. Dia begitu familiar dengan wajah gadis tadi namun masih berusaha mengingat.
Sampailah Bima di depan pintu ruangan Mama Ria. Dia segera masuk setelah mengetuk pintu. Meletakkan kotak kue didepan meja. Bima masih mengantur nafasnya. Rey yang berada di sofa menjadi cukup heran dengan tingkah temannya itu.
“Ada apa Bim?” tanya Rey.
“Tak ada tuan, sebentar.”
Bima mulai mengambil ipadnya dan mencari seseorang yang ia duga.
Klik.
“Masya allah dari wajahnya aja mirip,” lirih Bima dalam hati.
Rey yang masih mengamati tingkah Bima menjadi penasaran, ia lalu mendekat ke arah lelaki yang sudah lama bekerja dengannya.
“Kamu kenapa sih Bim?”
“Itu tuan saya tadi sepertinya bertemu dengan rekan bisnis anda besok yang tadi kita bicarain,” sahut Bima masih dengan rasa tak percaya.
Kevin yang mendengar pun terbelalak kaget dan spontan,
“Apa!!”
----*----
Yang salah ngira woy. hahahahaha keciwir yah. Yang tenang yang sabar.
__ADS_1
Elus dada dulu hahaha.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH.