
“Hanya bisa bersyukur dan bersyukur pada Allah yang dengan mudah membolak-balikkan hati setiap hambanya.” ~Angel~
.
.
.
Setelah obrolan singkat dengan putrinya, sore harinya Mama Angel keluar dari kamar dengan wajah seperti biasanya. Bahkan terlihat cerah dan bahagia seperti orang tak memiliki beban dihidupnya.
Keluar dari kamar Mama Angel segera ke rumah Kevin. Bagaimanapun dia harus bersikap baik meningat jika kedua orang tua almarhum suaminya ada disina.
Mama Angel berjalan dengan mantap masuk ke Rumah Kevin. Tak ada rasa takut sudah dihatinya, dia yakin dan percaya pada ketiga anaknya.
Saat sudah mencapai ruang keluarga, disana keluarga Khali dan Keluarga suaminya berada sedang duduk seperti membicarakam sesuatu. Mama Angel berfikir dia salah datang di waktu yang tepat. Namun keberadaannya sudah diketahui oleh mama mertuanya.
Ratu Fatimah berdiri dan tersenyum.
“Kemarilah nak,” ucap Ratu Fatimah tanpa ragu.
Angel diam saja namun dia melangkahkan kakinya menuju ibu mertuanya itu. Ia memeluk tubuh wanita paruh baya yang sudah melahirkan suaminya itu.
Lalu Ratu Fatimah mengajaknya duduk disampingnya sambil tersenyum. Mama Angel masih diam entah kenapa rasa yakinnya tadi menguap terganti ketakutannya kembali. Ia mulai mengatur nafasnya agar tenang.
“Bunda mau minta maaf sama kamu nak, maafkan bunda karena bunda telah membuatmu dengan Khalid menderita,” ujar Ratu Fatimah membuka suara.
“Bunda merasa menjadi ibu yang jahat dan kejam untuk anak bunda sendiri,” lanjutnya dengan menahan tangisannya.
Ratu Fatimah memang tulus menerima menantunya itu. Cukup sudah ia kehilangan anak sulungnya. Kali ini ia tak ingin kehilangan menantu yang begitu baik dan disembunyikan oleh anaknya Khalid.
Mama Angel yang sedari tadi menunduk langsung mendingak menatap ibu mertuanya itu.
“Mohon maafkan bunda sayang karena keegoisan bunda kalian pergi meninggalkan kami. Tapi sekarang bunda gak mau kamu pergi nak. Bunda ingin kamu bersama kami dan anak-anak kamu,” pintanya dengan mata penuh pengharapan.
Angel tertegun, matanya memanas dan hatinya menghangat. Kata-kata ini yang sudah ia tunggu sejak dulu. Kata-mata manis dari mertua yang selalu ia impikan akhirnya menjadi kenyataan. Namun seketika nyalinya menciut kembali ketika mengingat bahwa ayah dari almarhum suaminya tak ada di ruang keluarga.
Ratu Fatimah melihat Angel yang seperti melihat sekelilingnya. Ia mulai mengerti lalu menatap menantunya itu.
“Apa kamu mencari Raja Abdullah?” tanya Ratu Fatimah.
Mama Angel sontak memggeleng. Ia takut dan belum siap bertemu lelaki paruh baya yang tegas, jujur dan angkuh jika dilihat.
“Kenapa nak? Apa kamu takut?” tanya Ratu Fatimah lagi.
“Iya ibunda Ratu, dan saya belum siap juga bertemu dengannya,” ucapnya dengan menunduk.
__ADS_1
“Jangan takut nak, ayah mertuamu ada di kamar. Datanglah kesana,” bujuk Ratu Fatimah.
Mama Angel menatap tak percaya namun melihat senyum Ratu Fatimah dan anggukannya membuat Angel memiliki rasa percaya diri. Dia berjalan pelan menuju sebuah kamar yang pintunya tertutup.
Diketuknya pintu itu secara perlahan.
“Assalamu’alaykum,” salam Angel.
“Wa’alaykumsalam,” sahutan dari dalam.
Mama Angel diam menenangkan debaran hatinya. Dia mulai membuka pintu dan masuk perlahan. Terlihat seorang lelaki paruh baya yang sangat ia takuti sedang duduk diatas ranjang.
Perlahan namun pasti dia mendekat dan mulai berdiri di dekat ranjang. Ia tak berani duduk disamping mertuanya, ia takut akan membuat ayah mertuanya ini tidak nyaman. Ia mulai mengatur nafas yang menurutnya terasa mencekik.
“Kuatkan aku ya allah” gumam Angel dalam Hati.
Ia mulai sedikit mendongakkan kepala dan menatap mertuanya.
“Apa kabar yang mulia?” tanya Angel pelan.
“Apa kamu hanya ingin berdiri tanpa duduk?” tanya Raja Abdullah dengan nada dingin tanpa menjawab pertanyaan menantunya.
Mama Angel tersentak mendengar suara Raja Abdullah yang tak menjawab pertanyaannya. Mama Angel mengangguk dan mencoba mengambil kursi duduk yang berada di dekat ranjang. Ia mulai duduk disana dengan debaran jantung yang makin menjadi
Raja Abdullah menatap wanita yang berada di depannya. Ia merasa bersalah melihat tangan istri dari anaknya itu bergemetar hebat. Ia tau jika wanita ini begitu takut pada dirinya. Ia jadi teringat obrolan beberapa jam lalu dengan semua keluarganya.
🍵🍵🍵
“Aqilanya ada?” tanya Khalid to the point.
“Ada tuan. Mbak Qila dikamar ibunya,” ujar Kepala pelayan sopan.
“Baiklah tunjukkan kamarnya padaku,” ucap Khalid.
Kepala pelayan mengangguk dan menunjukkan pintu kamar coklat di dekat ruang keluarga. Setelah mengucapkan terimakasih pada kepala pelayan, Khalid berjalan menuju pintu itu. Namun saat tangannya mengudara ingin mengetuk ia mendengar ucapan kedua wanita didalam kamar dengan jelas.
Khalid mematung dengan telinga yang terpasang tajam itu. Rasa ingin bertemunya menguap entah kemana. Dia memilih kembali saat terdengar keduanya wanita itu menyudahi percakapannya.
Khalid kembali dengan cepat menuju rumah Kevin. Tanpa babibu lagi dia meminta semua keluarganya dan keluarga Arab untuk berkumpul. Dengan persetujuan Raja Salim mereka berkumpul di kamar Raja Abdullah.
Semuanya diam menatap Khali yang ingin mengatakan sesuatu yang penting. Terlihat lelaki itu mengembuskan nafasnya seperti menenangkan dirinya sebelum mengucapkan kata-kata.
“Aku kesini ingin bertanya pada Kakek Abdullah,” ujar Khali to the point.
Begitulah memang panggilan keluarga jika hanya mereka yang berkumpul.
__ADS_1
“Tentang apa nak?” tanya Raja Abdullah.
“Apa kakek akan memisahkan Tante Angel dengan ketiga anaknya?” tanya Khali menatap tegas lelaki paruh baya itu.
Tentu saja pertanyaan Khali membuat semua orang tertegun. Kenapa Khali bisa bertanya disaat situasi masih sedih dan memanas. Namun melihat dari pancaran matanya sepertinya Khali sudah mantap dengan pertanyaannya itu.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Raja Abdullah.
“Karena aku mendengar jika Tante Angel tadi tak mau makan karena ia takut ketiga anaknya dipisahkan darinya,” ujarnya memberitahu.
“Asal kakek tau, jika Tante Angel begitu takut padamu kek. Dia takut dengan kuasamu kakek akan mengambil ketiga anaknya melalui jalur hukum. Tante Angel sudah begitu menyanyangi ketiga anaknya. Karena semasa ditinggal paman Khalid, hanya ketiga anaknya saja yang selalu ada untuknya dan menghiburnya.”
“Jadi jika boleh memohon tolong jangan pisahkan mereka kakek. Berilah sedikit hati kakek untuk kebahagiaan mereka. Mereka begitu kesusahan karena keegoisan kakek juga,” ucap Khali tanpa takut.
Ucapan Khali juga begitu terdengar menusuk di hati Raja Abdullah. Dia diam merasakan ada yang nyeri di hatinya. Ia sadar ia begitu kejam pada kebahagiaan anaknya hingga sang anak meninggal. Lalu sekarang apa dia akan merenggut kebahagiaan ketiga cucunya? Raja Abdullah menggeleng tanpa sadar.
Dia tak ingin menjadi seorang kakek yang begitu jahat dia tak akan memisahkan cucunya dengan ibu yang sudah melahirkan mereka.
Raja Abdullah menatap semua orang dengan tegas tanpa ragu lalu ia mulai mengeluarkan suara yang sejak tadi ia tahan.
“Aku akan membawa menantu dan ketiga cucuku ke kerajaan Arab dan tinggal bersama kami.”
Semua orang tersenyum bahagia, bahkan Ratu Fatimah memeluk suaminya dengan senang. Ia tak menyangka tingginya ego suaminya bisa menyurut dan roboh hanya demi ketiga cucunya.
🍵🍵🍵
“Jangan takut nak, duduklah disini,” menepuk tempat ksoong didekat kaki Raja Abdullah.
Mama Angel dengan takut-takut mendekat namun tetap kepala menunduk dan tangan masih bergetar. Raja Abdullah sudah memantapkan hati dan menyakini keputusannya ini sudah tepat.
“Aku sebagai ayah dari suamimu meminta maaf padamu Ngel. Maafkan keegoisan seorang lelaki tua ini hingga kalian hidup susah. Maafkan kakek tua ini yang telat menemukan kalian dan membuat kalian harus banyak berjuang dengan pahitnya hidup. Maafkan aku,” ucap Raja Abdullah penuh keyakinan.
Tentu saja ucapan itu membuat Mama Angel tertegun. Dia segera mendongakkan kepala dan tak percaya lelaki didepannya menangis. Menangis karena dirinya dan ketiga anaknya, menangis karena kesalahan masa lalunya. Perlahan rasa takut itu hilang dan berubah menghangat.
“Aku sudah memaafkan Yang mulia sejak dulu,” sahut Mama Angel.
“Panggil aku abi jika kamu sudah memaafkanku,” ucap Raja Abdullah.
“Iya abi, kami sudah memaafkan abi dan mari kita berdamai dengan masa lalu. Pasti diatas sana Mas Khalid begitu bahagia melihat kita sudah akur abi,” ujar Angel sambil membayangkan senyum bahagia suaminya.
Semua orang yang melihat dari pintu yang terbuka oleh mereka menjadi bahagia. Penantian panjang ternyata bisa merobohkan dinding egois dari seorang Abdullah.
Mereka semua memanjat syukur atas apa yang allah berikan pada mereka. Dan ternyata memang benar, Allah adalah maha membolak balikkan hati manusia.
---*---
__ADS_1
Alhamdulillah akur, waktunya cuss ke lamaran sama selipin si babang rey hot duda hehe.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA YAH GUYS.