
“Memang benar penyesalan itu datangnya dibelakang dan aku sangat sangat menyesal padamu atas semuanya.” ~Rossa~
.
.
.
Jakarta Indonesia.
Beberapa hari pun berlalu. Aqila yang masih pengangguran hanya diam dikamar dan sesekali ke taman baca. Sedangkan Adel dan Kevin masih sama tinggal bersama dirumah Aqila karena Adel merasa butuh bantuan menjaga anak-anak mereka yang aktif.
Aqila akan terlihat bahagia hanya saat ia bermain dengan keponakannya jika ketiga ponakannya pergi Aqila akan kembali dengan kesedihannya.
Hari ini Adel berniat untuk bertemu dengan Rossa. Sepertinya dia harus turun tangan, melihat sang adik yang hanya berdiam diri dikamar sambil menunggu keberangkatannya ke Brunei membuat semua orang ikut bersedih. Aqila yang lembut, jahil, mudah senyum sekarang berubah. Aqila bahkan ikut berkumpul hanya ketika makan, sholat dan membantu Kevin mengerjakan tugas kantor. Selain itu dia hanya akan diam dikamar.
Semalam Adel sudah mengirim pesan singkat pada sahabat adiknya itu untuk bertemu disebuah Cafe. Adel ingin membantu sang adik menyelesaikan semua salah faham ini. Apalagi Adel sangat tau jika Aqila begitu menyanyangi sahabatnya itu. Bisa dilihat ketika kemarin Rey mendatangi rumahnya Aqila tak berniat membuka pintu utama. Bahkan siapapun yang berani membukanya Aqila sudah mengancamnya. Hingga Rey menyerah dan pulang.
Adel segera bersiap dikamarnya. Ia mengenakan dress dan tak lupa membawa tas kesukaannya. Kevin yang baru saja masuk menatap istrinya itu.
“Sudah siap sayang?” tanya Kevin sambil mencium kening Adel.
“Iya mas.” Adel mengangguk.
“Yaudah bentar mas ganti baju yah.”
“Mas jadi ikut berarti?”
“Iya dong mangkanya tunggu yah.”
Adel mengangguk. Menunggu 20 menit akhirnya Kevin telah keluar dengan keadaan segar dan wangi. Adel mendekat dan meletakkan kedua tangannya ke leher suaminya.
“Papa wangi banget.” Goda Adel.
“Hmm mama juga wangi, apa kita disini saja bergelung dengan...,” belum selesai Kevin berucap Adel telah memotongnya.
__ADS_1
“Jangan aneh-aneh pa, ayo Rossa sudah menunggu.”
Menarik tangan sang suami lalu keluar dari kamar. Sejenak Adel menatap pintu kamar Aqila yang berada dilantai satu. Ia ingin menghampiri tapi pintu itu terutup. Adel mengurungkan niatnya lalu ia keluar dari rumah.
---*---
Jalanan pagi itu terlihat begitu padat. Mungkin karena hari libur menjadikan jalanan macet seperti ini. Beberapa kali Adel dan Kevin berdecak melihat mobil yang mereka tumpangi tak bergerak.
Sepanjang jalan mobil saling berdesakan dan sulit bergeram. Hingga akhirnya perjuangan hampir satu jam berakhir. Mobil perlahan berjalan dan mulai keluar dari kemacetan.
Tibalah mereka diparkiran cafe yang sudah menjadi tempat janjian. Kevin dan Adel keluar dari mobil sambil bergandengan tangan. Bahkan sesekali keduanya melempar senyum yang membuat siapapun yang melihat menjadi iri.
“Maaf ya Sa kamu nunggu lama pasti, kakak kena macet,” ucap Adel tak enak hati.
“Udah kak gakpapa loh,” sahut Rossa.
Adel tersenyum tipis. Sebelum mereka masuk ke obrolan yang lebih serius Adel memesan makanan ringan dan minuman untuknya mengemil. Sambil menunggu kehadiran makanan yang ia pesan kedua wanita berbeda usia itu saling mengobrol ringan dan menanyai kabar sekaligus pekerjaan. Bahkan sesekali mereka melempar candaan satu dengan yang lain.
Setelah makanan yang Adel pesan telah tersaji dimeja, wanita itu mulai memasukkan makanan sedikit demi sedikit. Sesekali Adel menyuapi Kevin yang begitu manja padanya. Berkali-kali Rossa memprotes karena melihat keuwuwan pasangan didepannya itu.
“Sebenarnya kakak datang kesini juga ingin menyelesaikan sesuatu sama kamu,” lirih Adel pelan.
“Iya kak, ada apa?” tanya Rossa pelan.
“Kakak akan menceritakan semuanya, kakak ingin kamu gak mutus apapun perkataan kakak sampai kakak selesai berbicara yah,” pinta Adel.
Adel akan mengantisipasi rasa keegoisan dari diri Rossa. Biarlah seperti ini tetapi sang adik tak akan kehilangan sahabatnya dan Rossa mengangguk setuju.
“Saat Aqila terjatuh terpuruk karena kepahitan perselingkuhan James dan Luna disitulah Rey datang pada Aqila. Pertama kali Aqila begitu acuh pada Rey. Bahkan Rey juga gak tau kalau kakaknya Aqila adalah aku, dan dulu Rey juga pernah suka sama aku.”
“Kemudian kehadiran Rey membuat Aqila mulai bisa bangkit lagi, bahkan keduanya sudah saling terbuka dan mulai tak canggung. Rey sendiri bahkan sering datang kerumah kami hanya untuk bertemu Mama Angel dan kami meski disana tanpa Aqila.” Adel berhenti sejenak. Dia menatap wajah Rossa yang begitu shock.
“Rey mengutarakan niat baiknya pada keluarga kami, dan kami menyetujui yang penting Aqila mau dengan Rey. Hingga suatu hari Rey dan kamu ke Restaurant untuk betemu dengan Aqila. Lalu setelah itu jadilah Aqila yang pendiam.”
Adel melihat Rossa yang menunduk, air mata bahkan meluncur begitu banyak diwajah cantik gadis didepannya. Adel berjalan kesamping Rossa dan meraih tubuhnya untuk ia rengkuh.
__ADS_1
“Aqila sudah merelakan Rey denganmu sayang. Malahan Aqila belum mencintai Rey. Dia masih sulit menumbuhkan cinta itu dalam dirinya. Bahkan Aqila bilang bahwa dia menyanyangi Rey hanya sebatas teman gak lebih.”
“Tapi kenapa mereka tak mengatakan dari awal kak, kenapa mereka masih menahannya apalagi mereka bertemu berdua di taman saat resepsi pernikahanku,” ucap Rossa menangis.
Ya saat ini Rossa sudah menangis mendengar semua dari kakak dari sahabatnya. Kecewa, sedih, menyesal menjadi satu dihatinya. Ia bingung harus melakukan apa sekarang. Bahkan mungkin sahabatnya itu tak ingin melihatnya saat ini.
Rossa menunduk sambil menghapus air mata yang terus turun.
“Aqila takut kamu akan cemburu padabya dan memutuskan hubungan kalian. Aqila begitu menyanyangimu Sa. Dia tak ingin membuatmu bersedih. Aqila dan Rey saat itu masih mencari waktu yang tepat untuk mengatakan padamu tetapi ternyata kamu tau terlebih dahulu,” ucap lirih Adel.
Rossa tak berani mengangkat wajahnya. Perlakuannya pada Aqila semua bertebaran di pikirannya. Apalagi saat tangan kanannya menampar wajah Aqila. Ia merasa sangat bodoh menjadi orang yang tak ingin mendengar penjelasan Aqila dulu.
“Sudah jangan menangis saat ini sayang. Kau harus bisa menerima semua ini,” ucap pelan Adel dengan menepuk lengan Rossa.
“Iya kak, aku menerima semua ini, aku merasa malu kak. Aku jahat. Aku telah menampar sahabatku sendiri kak hiks hiks,” lirh Rossa sambil menangis kembali ke pelukan Adel.
Adel yang tadi sudah pindah disamping Rossa hanya bisa mengelus lembut punggung Rossa. Ia berdoa dalam hati semoga Rossa dan Aqila saling memaafkan.
“Temuilah sahabatmu dia juga sama terpuruknya sama kamu,” lirih Adel.
Rossa mengangguk akhirnya obrolan mereka saat itu begitu berarti dan bermanfaat. Adel bersyukur dalam hati masalah ini akhirnya terselesaikan dan tak ada salah faham lagi. Dia hanya tinggal berdoa semoga Rossa secepatnya bertemu dengan Aqila sebelum adiknya berangkat ke Brunei.
Setelah semuanya selesai, Adel mulai berpamitan pada Rossa untuk segera pulang. Rossa berdiri dan memeluk kembali tubuh wanita didepannya.
Selepas kepergian kakak dan kakak ipar dari Aqila, Rossa membenamkan wajahnya di meja itu. Ia menangis bahkan sesekali memukul dadanya karena terlalu sakit menerima semua bukti ini. Rossa menyesal, sekelebat bayangan dia menampar sahabat yang sangat ia sayang juga membuat dadanya semakin sesak. Ia seperti menjadi sahabat yang tak tau diri pada Aqila. Ia malu untuk bertemu Aqila tapi mengingat penyakit dan semuanya ia berfikir ingin menemui Aqila untuk meminta maaf.
---*---
Selamat membaca.
Bagaiman dengan part ini?
Mau ditemuin gak? apa si Aqila terbang aja duluan. Hayooo
JANGAN LUPA LIKE, VOTE KOMEN YAH SEKARANG HARI SENIN.
__ADS_1