
“Sejujurnya kau harus mencari bukti terlebih dahulu padaku sebelum mengambil tindakan buruk.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
Deg.
“Sedang apa kamu disini?” tanya Aqila dengan berdiri dan menatap marah kearah lelaki didepannya.
Bisa-bisanya lelaki itu menghampirinya disini, sedangkan beberapa jam yang lalu statusnya telah berubah menjadi seorang suami dari sahabatnya sendiri.
“Kamu ngapain disini?” tanya ulang Aqila dengan nada tinggi.
“Aku ingin menemuimu,” ucap Rey.
“Untuk apa lagi? Kamu tau kan kamu udah nikah Rey. Status kamu bukan lajang lagi,” ucap Aqila pelan.
“Kumohon pergilah jangan sampai Rossa tau semuanya,” mohon Aqila.
“Kenapa kamu selalu mentingin perasaan orang La, kenapa?” tanya Rey.
“Kenapa kita gak bisa egois sedikit dengan perasaan kita, kenapa? Apa tuhan tak ingin kita bersatu? Apa aku begitu hina untukmu la,” tanya Rey beruntun.
Aqila menggeleng lemah, ia masih terdiam.
“Ku mohon La, jangan menjauhi ku ” pinta Rey.
“Aku bukan menjauhimu tapi aku hanya ingin menjaga jarak karena kamu adalah suami sahabatku. Aku gak mau dia cemburu sama aku.”
“Setiap istri pasti akan cemburu ketika melihat suaminya bersama wanita lain, sekalipun itu sahabatnya sendiri. Kumohon Rey.” mengangkat kedua tangannya dan menyatukan seperti memohon.
“Masuklah kedalam, aku gak mau Rossa tau semua ini,” ucap Aqila lirih.
“Dia gak bakal tau La, gak bakal,” Rey menggeleng.
“Jika kamu gak mau pergi biar aku yang pergi,” ancam Aqila.
“Kamu emang wanita egois La, kamu itu egois banget. Kamu itu wanita munafik La. Munafik kamu, kamu suka kan sama aku tapi kamu gak mau ngakuin itu,” geram Rey.
Aqila yang mendengarpun ikut emosi, bahkan tangannya mengepal erat sudah.
“Iya aku wanita egois aku munafik. Memang benar semua itu benar,” ucap Aqila emosi.
“Aku emang cinta sama kamu, sayang sama kamu. Tapi itu dulu, dulu sebelum kita ketemu bertiga di Restaurant. Dan sekarang cinta itu buat kamu udah mati, udah gak ada. Paham kamu,” sambung Rey.
__ADS_1
“Dan asal kamu mengerti, aku melakukan ini semua demi kebahagiaan mamamu dan sahabatku. Aku sangat menyayangi Rossa melebihi apapun. Jika kamu masih anggap aku seperti itu. It's oke no problem. Aku akan akui itu,” seru Aqila lemah.
Aqila membalikkan tubuhnya membelakangi Rey. Dia menatap lurus kedepan dan sampai saat ini hebatnya air mata Aqila tak turun sama sekali. Malahan dia mengatur nafasnya karena emosinya naik turun.
Aqila tak ingin dikuasai amarah, bahkan sampai bertindak hal-hal buruk. Dia mencoba meredakan emosinya agar lebih tenang.
“Maafkan aku,” cicit Rey.
“Maafkan aku La,” sambungnya.
“Aku sudah memaafkanmu sejak dulu, pergilah,” usir Aqila tanpa menatap Rey.
Rey menatap sendu punggung wanita yang berdiri tak jauh darinya. Ia ingin sekali memeluknya bahkan menciumi pucuk kepalanya sayangnya itu mustahil. Rey menunduk menghapus bulir air mata yang berada dipelupuk matanya. Dia mengontrol emosinya sama seperti Aqila. Lalu ia membalikkan tubuhnya dan mengangkat wajahnya. Tapi sebelum melangkah pemandangan didepannya sungguh membuatnya terkejut.
“Rossa,” seru Rey pelan.
Meski suara Rey pelan tapi Aqila bisa menangkap suara itu. Segera dia membalikkan tubuhnya dan benar saja. Matanya terbelalak kaget mendapati Rossa sudah berdiri dibelakang mereka.
Prok prok prok.
“Hebat hebat,” Rossa bertepuk tangan.
“Apa maksutmu Ca?” ucap Aqila bingung.
Rossa mendekat ke arah Aqila dan,
Plak.
“Diam kamu La,” teriak Rossa dengan wajah merah padam menahan emosi.
“Karena kalian aku menjadi wanita bodoh, dan kau!” menunjuk Aqila.
“Bisa-bisanya kamu menyembunyikan ini semua dariku dan tak jujur padaku,” ucap Rossa geram.
“Dan gara-gara kamu juga, suamiku tak mencintaiku,” teriak Rossa.
“Bukan seperti tu Ca,” Aqila menggeleng.
“Bukan seperti apa maksutmu La? Hah,” teriak Rossa.
“Kumohon kamu yang tenang dulu,” pinta Aqila.
“Tenang bagaimana, melihat suami berdua bersama wanita lain. Apa aku harus diam?” tanya Rossa.
“Aku bisa jelasin ini La,” ucap Aqila mendekat.
“Kamu itu emang gak mau lihat aku seneng ya La,” teriak Rossa.
__ADS_1
“Ku mohon Ca jangan emosi kita bisa bicara baik-baik," pinta Aqila.
“Aku sudah denger semua dan gak ada penjelasan lagi,” sinis Rossa.
Deg.
Jantung Aqila hampir berhenti berdetak. Dia tak menyangka percakapannya didengar oleh Rossa. Inilah ketakutan Aqila dari dulu. Salah faham dan hubungan persahabatan mereka akan terputus.
“Kamu selalu jadi tempat curhat Aku La, tempat curhat Rey dan sekarang kamu mau nikung aku,” seru Rossa.
“Enggak Ca enggak ada niat aku sama sekali buat nikung kamu. Kamu udah salah faham ” ucap pelan Aqila.
“Kamu itu udah sama aja, sama busuknya kayak mantan kamu James itu,” seru Rossa murka.
Bak tersambar petir, Aqila naik pitam. Emosinya sudah meledak-ledak. Dia tak menyangka akan mendengar ucapan sampah keluar dari mulut sahabatnya. Aqila mendekat dan secara spontan menaikkan tangannya dan,
Plak.
Pipi kiri Rossa memerah terkena tamparan Aqila. Aqila menegaskan sambil mengacungkan telunjuknya diwajah Rossa.
“Asal kamu tau, aku sama Rey berhubungan sebelum kamu dijodohin sama dia. Bahkan ketika aku ketemu sama kamu dan dia di restaurant. Itulah terakhir kali perasaanku untuknya. Tak ada niatan aku buat nikung kamu apalagi untuk mengambil Rey. Dan asal kamu tau, kemarin Rey sempat mengajakku nikah lari. Tapi aku gak mau karena apa?” ucap Aqila didepan wajah Rossa.
“Karena kamu, aku gak mau kamu nangis dan patah hati. Aku gak mau kamu sedih karena cowok. Aku gak mau Mama Rey jadi sakit lagi. Aku memikirkan perasaanmu dan Mama Ria lalu menekan perasaanku sendiri. Tapi sekarang kamu bilang aku busuk sama seperti James. Apa sehina itu aku dimatamu?” tanya Aqila lemah.
“Aku gak habis pikir aja. Hubungan pertemanan kita dari sekolah SMP Ca, SMP tapi kamu belum bisa melihat betapa aku sangat menyanyangimu dan kamu masih belum tau sifatku? Bagaimana bisa Ca. Segitu gak percayanya kamu sama aku,” sambung Aqila.
“Aku hanya mengingatkanmu, dengarkan kata-kataku ini,” ancam Aqila mendekat.
“Sedikitpun aku gak pernah berniat mengkhianatimu, bahkan mengambil calon suamimu. Yang ada aku yang meminta Rey untuk menjalani ini semua karena menurutku ini sudah takdir dia dan dia harus belajar mencintaimu. Dan asal kamu tau aku dulu memang cinta sama Rey tapi sejak kita bertemu bertiga cinta itu sudah hilang menguap. Aku sudah ikhlaskan dia untukmu dan jangan pernah mengira aku akan bersikap buruk padamu. Terimakasih atas semua ini dan maafkan aku.”
Aqila berbalik dan meninggalkan mereka berdua. Tanpa ketiganya sadari ternyata Pangeran Khali dan Ibra melihat itu semua. Bahkan Khali sempat tertegun dengan percekcokan itu. Tapi ia masih kagum pada sosok Aqila karena ketegarannya bahkan berbicara dengan Rey dan Rossa tak ada air mata sama sekali dimatanya.
Axel dan Adel pun sejujurnya melihat tapi mereka kembali terlebih dahulu sebelum Aqila kembali agar Aqila menganggap mereka tak tau.
“Ayo kita pulang kak,” ajak Aqila.
“Eh pipimu kenapa?” tanya Axel pura-pura.
“Nanti aku ceritain tapi sekarang kita pulang.”
Akhirnya mau tak mau keluarga Kevin pulang kerumahnya dengan segera. Mereka semua sudah tak kuasa menatap penampilan Aqila yang sedikit berantakan dengan wajah merah padam. Sepanjang perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan karena mereka ingin Aqila tenang dahulu.
---*---
Selamat membaca
Bagaimana part ini? ikut emosi gak? kuy ramaikan Vote dan Komen yah😙😙
__ADS_1