Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 62


__ADS_3

“Entah kenapa ada perasaan takut ketika seseorang di masa lalumu datang untuk mengusikmu kembali.” ~Khali Mateen~


.


.


.


Istana Nurul Amin.


Setelah Haura berganti pakaian. Dia segera berjalan menuju kamar sang kakak tertuanya. Menunggu dengan sabar didepan pintu hingga suara pintu terbuka membuatnya menatap kearah sumber suara.


Disana kakaknya berdiri dengan memakai pakaian santai yaitu celana panjang dan kemeja. Tak lupa kaca mata, masker dan topi yang selalu keduanya bawa. Berjalan bersama menuju mobil dan mulai menutupi wajahnya dengan masker.


Keduanya berpamitan pada Raja dan Ratu, tak lupa mencium punggung tangan kedua orang tua yang sudah merawat mereka. Setelah selesai, mereka segera masuk ke dalam mobil. Ibra menjadi supir hari ini, Khali disamping Ibra dan Haura ditengah.


Mobil mulai melaju meninggalkan istana dengan diiringi lambaian tangan Haura pada kedua orang tuanya. Mobil mulai membelah jalanan yang sedikit senggang itu. Mungkin karena waktu yang masih pagi hingga membuat jalanan masih lenggang.


Akhirnya perjalanan itu pun berakhir. Ketiganya memakai masker dan topi kembali. Keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam lift.


--*--


Ting tong ting tong.


Bunyi bel yang tak sabaran membuat Aqila mengelus dadanya. Apa tamunya tak tau, dirinya sedang membersihkan apartemen, bahkan ia tak memakai jasa pelayan akrena sengaja agar bisa membersihkannya sendiri.


Meletakkan alat pel didekat meja tv, Aqila berjalan menuju kamarnya untuk mengambil kerudung dulu. Ia tak perlu mengganti pakaian, karena ia sudah memakai daster panjang.


Berjalan dengan cepat menuju pintu ketika mendengar bunyi bel yang masih bersahutan. Tanpa melihat layar dia membuka pintu itu.


Ceklek.


“Bisa saba....,” Aqila langsung diam dan matanya melotot saat tau siapa didepan pintunya saat ini.


“Assalamu’alaykum La,” ucap Haura dengan tawa lebar.


“Ehh wa’alaykumsalam,” sahut Aqila ramah.


Hampir saja ia memarahi orang didepannya, dan ternyata yang memencet bel tak sabaran adalah adik dari lelaki yang ia kagumi. Aqila segera meminta ketiga tamunya masuk.


Setelah meminta Haura dan kedua lelaki tampan duduk. Aqila mulai membawa alat pel dan timba ke belakang. Ia letakkan di kamar mandi, setelah selesai ia segera menuju dapur untuk membuatkan minuman.


“Silahkan diminum,” ucap Aqila ramah.


Haura dan Khali tersenyum lalu mulai minum, jika tanya ekspresi Ibra sudah pasti tetap diam dan dingin.


“Kamu habis bersih-bersih ta La?” tanya Haura saat dia sudah meletakkan cangkir minuman di atas meja.


“Iya Ra, aku habis ngepel lalu kamu datang,” sahutnya tenang .


“Kamu lakuin sendiri”? Tanya Haura kaget.


Aqila mengangguk polos. Anggukan itu membuat Khali tersenyum. Ia bangga perempuan didepannya sungguh sangat mandiri. Khali yakin jika untuk menyewa pelayan pasti Aqila bisa. Tapi ia tak menyangka jika Aqila mengurus dirinya sendiri.


Begitupun Haura, ia begitu terpana dengan jawaban polos gadis didepannya. Haura semakin yakin untuk menjadikan Aqila sebagai istri kakaknya itu.


“Oh iya kamu ada apa kemari Ra?” tanya Aqila lembut.


“Aku kesini gak ada, mau main,” sahut Haura santai.


“Hah main, sama ini.” Memandang kearah dua lelaki yang ikut bersama Haura.


“Iya La, kalau gak ngajak mereka sudah kupastikan apartemenmu akan banyak pengawal,” ucap Haura sambil terkikik geli.


“Ah iya aku lupa, kamu kan seorang putri,” ucap Aqila sambil tersenyum.

__ADS_1


“Sudah jangan memanggil atau menyebutku seperti itu. Apa kataku dulu saat kita bertemu. Panggil nama saja dan anggap aku warga biasa. Ingat?” tanya Haura menegaskan.


“Jelas dong aku ingat. Apalagi lihatlah, bicara kita saja pakai Bahasa Indonesia. Yang kutau disini kan bahasa inggris dan melayu ” ujar Aqila.


“Hey kalau aku pakai melayu memang kamu bisa?” goda Haura.


“Hehehe bisa sedikit,” ucap Aqila sungkan.


Keduanya tertawa tanpa menghiraukan pandangan dua lelaki yang berada disana. Hingga akhirnya Haura mengajak Aqila untuk mengajarinya membuat kue dan disanggupi olehnya. Meninggalkan dua lelaki di sofa ruang tamu, mereka berdua langsung menuju dapur.


“Kamu mau buat apa Ra?” tanya Aqila.


“Emm aku pingin bikin kue yang ada lava-lavanya itu loh,” ucap Haura.


“Ohh oke bentar aku siapkan bahan-bahannya. Kamu lihat aja,” pinta Aqila.


“Enggak, aku juga mau masak,” ujar Haura yakin.


“Eh tapi kamu kan....,”


Aqila ragu untuk meneruskan ucapannya. Bukan karena ia takut dapurnya berantakan, namun dia tau Haura adalah seorang putri kerajaan. Yang sudah pasti ia yakini bahwa gadis didepannya adalah seorang yang selalu diagungkan dan tak pernah disuruh. Jadi jika seperti inipun Aqila juga ragu dan takut untuk Haura ikut memasak dengannya.


“Jangan pernah berpikiran untuk bersikap spesial denganku, meski aku putri kerajaan aku tetap seorang sahabat dan adik yang meminta kakak iparnya untuk mengajariku membuat kue,” ucap Haura mengancam.


“Hah kakak ipar?” ucap Aqila kaget.


“Ya, bukannya kamu sudah dilamar kakakku?” tanya Haura.


“Iya, tapi aku kan belum memberi jawaban,” sahut Aqila pelan.


“Ya sudah, sekarang saja kamu kasih jawaban,” ucap Haura enteng.


“Ehhh belum saatnya.” Aqila menggeleng.


Memang benar ini bukan saatnya. Aqila masih meminta petunjuk pada Allah. Dia bahkan sering mengerjakan sholat istikhoroh dan malam untuk memantapkan hatinya agar bisa menjalani hubungan halal sesuai ridho allah dan orang tuanya.


Dalam pernikahan kita akan diajari banyak hal, dari mengurus suami, rumah, menata semuanya bahkan menyiapkan diri untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya nanti.


Jadi menurut Aqila ,orang mau menikah jangan gegabah mengambil jawaban iya untuk suatu hubungan sakral. Bahkan hubungan yang mungkin banyak orang mengira itu main-main. Namun tidak untuk Aqila. Dia ingin menikah dengan orang yang sudah menjadi tetapan hatinya.


Haura yang mendengar jawaban Aqila pun terdiam. Ia menunggu apa ucapan selanjutnya dari gadis didepannya ini.


“Tunggu sampai hatiku mantap dan aku siap lahir batin ya Ra. Sebentar lagi saja untuk menungguku setelah itu aku akan mencurahkan seluruh jiwa ragaku untuk suami dan keluargaku,” sambung Aqila.


“Uhh makin sayang sama calon kaka iparku,” ujar Haura sambul memeluk Aqila.


Keduanya kembali fokus untuk membuat kue, dengan sabar Aqila mengajari Haura sampai dia mengerti, sesekali gadis kerajaan itu manggut-manggut sambil mencolek coklat kotak milik Aqila. Aqila hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu.


Setelah semua selesai tinggal langkah akhir yaitu dikukus. Cetakan hasil kue itu mulai diletakkan didalam panci untuk dikukus. Haura meletakkan dengan hati-hati karena ia takut adonannya tumpah kemana-mana.


---*---


Diruang tamu apartmen Aqila.


Sejak ditinggal oleh Aqila dan Haura. Kedua lelaki tampan itu fokus dengan pekerjaan mereka. Ya Khali dan Ibra mulai mengerjakan pekerjaan kantor melalui ipad dan laptop yang dibawa Ibra. Saling berkoordinasi dan bekerja sama. Itulah kunci syarat keduanya bekerja.


Hingga beberapa saat konsentrasi mereka terputus karena suara dering ponsel. Khali mengangkat wajahnya dan mencari ponsel itu. Ya diatas meja, ponsel keluaran terbaru bergetar dan berbunyi disana. Khali mengambil ponsel yang menyala itu dan ada id nama disana.


Deg.


Jantung Khali berdetak kencang, ia tak menyangka bahwa gadisnya masih menyimpan nomer lelaki itu. Namun Khali masih berfikir positif. Mungkin ini adalah panggilan penting. Khali segera beranjak dan membawanya ke dapur.


“Qila,” panggil Khali.


Aqila yang sedang menunggu kue matang segera menatap asal suara.

__ADS_1


“Ya ada apa?” tanya Aqila bingung.


“Nih ponselmu berbunyi,” ucap Khali dengan mengulurkan tangannya.


Aqila berjalan menuju Khali dan mengambil ponselnya secara hati-hati. Dilihat siapa yang memanggil, matanya membulat penuh saat tau nomer lelaki yang dulu pernah dekat dengannya. Dilihatnya wajah Khali yang berubah. Ada wajah datar disana. Namun bagaimanapun Aqila harus mengangkat telfon itu.


Ia segera berjalan agak menjauh dari Khali dan mengangkatnya.


“Assalamu’alaykum,” ujar Aqila pelan.


Tak ada suara disana hanya ada hembusan nafas yang terdengar.


“..........”


Aqila diam, ia bingung ada apa lelaki itu menelfonnya. Bahkan dia sudah merasa nyaman kemarin tak ada hubungan dengan lelaki ini. Namun Aqila masih mencoba positif thingking.


“Ya ada apa?” tanyanya tenang.


“....”


“Aku baik. Kamu gimana?” sahutnya.


“.....”


Hening kembali hingga kemudian Rey mulai memanggilnya lagi.


“Ya,” sahutnya.


“.....”


“Boleh,” ucap Aqila.


“.....”


“Hah jantung?” tanya Aqila bingung.


“.....”


“Emmm terus gimana kabar tante?” tanya Aqila cemas.


“....”


“Aku tanya temenku dulu yang Dokter bedah yah, nanti kalau udah dapet info aku kabarin kamu. Gimana?”


“....”


“Oke, tunggu aja kabarku.”


Akhirnya panggilan terputus, tanpa Aqila sadari, ada sepasang mata yang menatapnya lekat tanpa berkedip. Entah kenapa ada sebuah titik sakit dihatinya melihat gadis yang ia suka sedang mengobrol dengan lelaki lain. Namun dia juga bingung ingin berekspresi seperti apa.


Aqila meletakkan ponselnya diatas meja makan lalu berbalik. Dirinya membeku saat pandangannya menyatu dengan pandangan Khali. Disana lelaki itu diam menatap kearahnya tanpa berkedip dan juga tanpa senyuman.


Aqila menjadi tak enak hati, ia harus menyelesaikan masalah ini sebelum salah faham. Dirinya menunduk untuk mengumpulkan niatan mengatakan semuanya.


Setelah membuang nafas secara perlahan, Aqila menatap kembali wajah Khali kemudian tersenyum. Dia mulai mengatakan apa yang telah ia bahas dengan Rey.


“Rey meminta bantuan ku untuk mencarikan sebuah rumah sakit untuk operasi jantung mamanya.”


---*---


Astagfirullah mana ada putus ditengah jalan dulu aja tu naskah, hehehe.


Sabar yaw. Yuk bayar aku dong, Aku lagi nyoba nulis lagi loh. Kalau selesai update lagi nanti malam. Kalau gak aku usahain besok up 3 bab yah.


JANGAN LUPA, LIKE DAN KOMEN YANG BANYAK LOH.

__ADS_1


VOTENYA JUGA YAH! POIN ATAU KOIN AKU TERIMA BANGET, TERIMAKASIH.


Jangan lupa mampir di instagram ku : @ini_jblack


__ADS_2