
“Maafkan aku sayang. Aku mengunjungimu saat ini dengan banyak tangisan bersama keluargamu. Kamu pasti merindukan mereka kan, tersenyumlah disana. Mereka sudah berkumpul disini.” ~Angel~
.
.
.
“Ikutlah bersamaku jika ingin bertemu dengan Mas Khalid,” ajak Angel dengan berdiri.
Angel berdiri diikuti oleh semua orang. Didepan pintu rumah Kevin, bertepatan dengan kedua anak gadisnya berdiri mematung disana. Mama Angel menatap sendu keduanya sambil mengangguk. Kedua anaknya seperti mengerti dan membantu mamanya masuk ke dalam mobil.
Mobil-mobil itu mulai berjalan meninggalkan rumah Kevin. Setiap jalan yang dilewati, membuat sakit di hati Mama Angel semakin menjadi. Meski ia sudah mencoba ikhlas namun memang hatinya tak pernah kuat jika ia menatap makam suaminya.
Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah pemakaman.
Untuk Angel dan ketiga anaknya. Pemakaman ini begitu familiar. Kevin pun juga tau jika mereka akan kemana. Namun untuk keluarga Khalid mereka bingung dan menatap sekitar. Raja Salim mendekat ke arah kakak iparnya.
“Kenapa kita kesini?” tanya Salim.
Angel hanya diam lalu berjalan masuk melewati gerbang pemakaman. Langkah Angel diikuti oleh semuaa orang.
Entah kenapa setiap langkah terasa berat untuk Ratu Fatimah. Ia memegang dadanya yang tiba-tiba nyeri. Perasaannya mulai tak enak. Dia menatap sekelilingnya yang terlihat banyak gundukan kuburan. Dia berjalan dengan dibantu oleh Ratu Mayra sedangkan Raja Malik membantu Raja Abdullah.
Hingga langkah Mama Angel berhenti disebuah gundukan tanah yang terlihat begitu terawat. Bahkan masih ada bunga yang segar di atasnya tanahnya.
Salim dan kedua orang tuanya pun penasaran. Lalu mereka mendekat ke gundukan tanah itu, nisannya masih tertutup oleh tubuh Angel dan anak-anaknya. Hingga akhirnya nama itu. Nama yang begitu familiar ada disana.
Jantung ketiga orang itu seakan berhenti.
Abdullah Khalid.
Salim langsung terduduk didekat gundukan yang bernisan nama kakaknya. Dia tertunduk sambil langsung menghambur memeluk gundukan tanah itu. Isak tangisnya terdengar oleh semua orang. Begitu memilukan dan menyayat hati.
Ratu Fatimah sendiri langsung tak sadarkan diri. Tubuhnya segera dibopong oleh Khalid dan Raja Malik. Sedangkan Raja Abdullah hanya menatap tak percaya ke arah gundukan tanah itu.
Tiba-tiba dia tertawa begitu kencang.
“Hahaha ini bercanda kan?” tanyanya dengan tertawa keras.
Semua orang menatap iba ke arah Raja Abdullah. Namun sejurus kemudian lelaki paruh baya itu menangis dengan kencang.
__ADS_1
“Kenapa kau meninggalkan abi nak,” ucapnya dengan marah.
“Kenapa kau meninggalkan abi dulu sebelum kau bertemu dengan abi,” serunya lagi.
Tangisan seorang ayah yang ditinggal pergi oleh anaknya begitu memilukan. Semua orang juga tak bisa melakukan apapun.
Salim masih memeluk gundukan itu sambil menangis.
“Kenapa abang, kenapa abang pergi meninggalkanku?”
“Apa kau begitu membenciku ,kau tak menyanyangiku lagi hingga kau tak kembali hanya untuk bertemu denganku nak,” sambung Raja Salim dengan menangis.
Tak ada kewibawaan, tak ada keangkuhan tak ada status sosial. Yang ada hari ini hanya seorang ayah yang ditinggal anaknya selamanya. Seorang adik yang ditinggal pergi juga oleh sang kakak. Raja Abdullah tiba-tiba mendekat disamping makam anaknya.
Ia mengusap nisan itu penuh kasih. Lalu berucap dengan Bahasa Arab.
“Apa kamu marah pada abi karena abi tak merestuimu hingga kau meninggalkan abi nak,” isaknya.
“Apa kau tak tau, abi begitu khawatir hingga mencarimu kemana-mana. Tanpa henti dan lelah sampai abi dan umimu jatuh sakit,” sambungnya.
“Tapi lihatlah sekarang. Kau pergi dalam keadaan marah ya kan. Kau marah pada abimu ini kan. Abi yang begitu egois ini kan,” ucapnya dengan sedikit berteriak.
“Kenapa kau pergi sendiri. Ajaklah abi nak ajaklah.”
“Jangan berkata seperti itu abi, jangan tinggalkan aku, umi dan adik.” Raja Salim berdiri dan menghampiri abinya.
“Abang pasti sudah memaafkan abi,” sambungnya. “Iya kan bang?” ucap Salim seperti mengajak makam kakaknya mengobrol.
Tak ada yang berani bersuara. Semua orang hanya menatap pedih ke arah kedua ayah dan anak itu. Tapi tidak dengan Angel dan ketiga anaknya. Mereka hanya menatap sendu makam orang yang tercinta. Kehidupan tanpa ayahnya memang menurut Adel dan Axel begitu sepi. Namun kesepian itu seakan terganti dengan tangisan Aqila kecil.
Menurut mereka saat Allah mengambil papa mereka, Allah sudah menggantikan dengan hadirnya sang adik. Itulah yang membuat Axel dan Adel begitu menyanyangi Aqila. Karena menurut mereka hidup Aqila tak seberuntung mereka.
Aqila tak bisa bertemu ayah dan bertatap muka. Hanya mereka yang bisa. Itulah salah satu alasan mereka juga begitu peduli pada Aqila.
Setelah isak tangis dan emosi Raja Salim dan Raja Abdullah terkontrol. Angel mulai duduk diseberang Salim. Ia mengusap makam sang suami penuh cinta.
“Assalamu’alaykum suamiku sayang,” sapanya lembut.
“Angel dateng lagi mas dengan masih menitikkan air mata. Mungkin mata Angel begitu bengkak yah, tapi kamu jangan marah padaku karena terus menangis,” lirihnya dengan menarik nafas dalam.
“Angel nangis soalnya ketemu abi dan uminya mas. Angel juga ketemu sahabat mas yaitu Malik. Disini juga ada adiknya mas yang begitu manja yaitu Salim. Dia udah jadi lelaki tampan loh mas. Kayak kamu hehehe, apa kamu bahagia disana melihat kami,” ujar Mama Angel mengajak makan suaminya untuk mengobrol dengan bahu bergetar.
__ADS_1
Ia menahan air mata itu mati-matian namun sialnya air matanya sudah mengalir deras.
Ia menunduk dengan menutup kedua wajahnya, lalu mengusapnya kasar.
“Maafkan aku yang ternyata masih cengeng mas,” ujar Angel dengan tawa kecil.
Angel berbicara sudah seperti dengan Khalid yang berada didepannya. Dia berbicara dengan santai bahkan sesekali mengelus nisan suami dengan lembut. Hingga akhirnya Ratu Fatimah yang sudah sadar pun dibawa kembali ke makam karena permintaannya.
Wanita paruh baya itu duduk disamping Angel. Angel memeluknya erat dengan tangisannya. Ratu Fatimah masih diam menatap nisan yang bertuliskan nama anaknya.
Ia ulurkan jemarinya lalu mengusapnya perlahan dengan memejamkan mata. Ratu Fatimah ingin menikmati kebersamaannya dengan sang anak. Meski kebersamaan ini sudah berbeda alam. Namun ia merasa rindunya sudah terobati melihat gundukan tanah sang anak.
Ratu Fatimah tak menangis namun banyak raut kesedihan dimatanya. Dia tetap berupaya tegar dan menerima semua ketetapan tuhan. Bagaimanapun ini sudah takdir Allah, tak ada yang bisa merubah dan menundanya. Beginilah seorang manusia. Kita sudah diberi akal untuk berfikir sebelum kita menyesal dikemudian hari.
Angel perlahan melepas pelukannya.
“Bunda maafkan aku,” lirihnya dengan sesenggukan.
Ratu Fatimah mengalihkan pandangannya dari nisan ke arah wajah menantunya.
“Bunda yang seharusnya minta maaf sama kamu nak. Maafkan keegoisan bunda sama yang mulia raja. Karena kami kalian harus susah dan hidup jauh dari kata mewah. Bunda merasa sangat bersalah apalagi dengan ketiga cucu bunda. Rasanya bunda tak ada hak utuk bertemu mereka,” ucapnya pelan.
“Bunda jangan bilang seperti itu, aku sama mas sudah melupakan kejadian dulu bunda. Mas juga sempet bilang bahwa dia pernah bermimpi berkumpul bersama abi, bunda dan kedua adiknya dulu. Aku dulu hanya bisa bilang sabar mas. Suatu saat nanti pasti kita berkumpul dan sekarang....,” Angel menatap semua orang.
“Kita berkumpul bunda, mas akan senang disana meski kita sudah beda alam,” tangisan Angel pecah kembali.
Ratu Fatimah tertegun. Dia tak menyangka anaknya masih mengharapkan dirinya dulu. Ia berfikir anaknya akan selalu marah padanya namun ternyata sebaliknya.
Ratu Fatimah menatap kembali nisan itu dan mengusapnya.
“Maafkan umi nak, maafkan abi juga. Karena keegoisan abi dan umi kamu pergi meninggalkan wanita tua ini. Kamu juga harus menderita nak. Maafkan umi, umi telat menemukanmu. Maafkan umi, umi begitu menyanyangimu sayang. Umi mohon tunggu umi disana nak. Makasih juga Khalid udah kasih cucu yang begitu tampan dan cantik yang wajahnya mirip dengan mu. Semua ini begitu mengobati penyesalan dan rindu kami. Ijinkan umi membawa mereka ke kerajaan dan umi janji akan menyayangi Angel seperti kamu menyanyanginya.”
---*---
Happy Reading.
Gimana? tisunya udah habis berapa? aku aja nulis ini semalem sambil ngusap air mata.
Hah emang tiap part begini nguras emosi.
JANGAN LUPA LIKE DI BAB SEBELUMNYA JUGA.
__ADS_1
VOTENYA HARI SENIN GUYS. KUY KASIH VOTE KALIAN.