Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 bab 84


__ADS_3

“Aku tak menyangka jika wajah kakekku begitu mirip dengan papaku. Memandang rupa kakek bisa mengobati kerinduan yang mendalam pada almarhum papa.” ~Adelia Cullen~


.


.


.


“Cucuku,” lirih Raja Abdullah.


Suara itu masih terdengar oleh Adel dan Kevin. Tubuh Adel mematung, bahkan untuk berbicara saja dia merasa sulit. Dia diam sampai seorang pria paruh baya memakai kursi roda berada di samping Raja Salim.


Perlahan Adel menatap orang itu. Ditatapnya wajah itu dengen lekat. Dari matanya yang tajam, alisnya yang tebal, hidung mancung, rahang tegas dan bibir yang sedikit tebal. Terdapat keriputan diwajahnya namun tak mengurangi ketampanannya memang.


Eh tunggu tunggu.


“Kenapa wajahnya wajahnya,” gumam Adel dalam hati.


Kearaban.


Adel diam sambil mencoba menelan ludahnya paksa. Dia masih menatap lelaki itu tanpa memindahkan posisinya. Hingga ia tak menyadari jika Raja Abdullah mulai menjalankan sedikit kursi rodanya untuk mendekat. Hingga salah satu suara mengagetkan semuanya.


“Berhenti,” teriak wanita dari kejauhan.


Sontak saja semua orang menatap ke arah asal suara. Mata Raja Salim melotot ke arah wanita itu. Rasanya badanya begitu melemas. Matanya memerah menahan tangis. Jika ada wanita itu pasti ada kakaknya pikir Raja Salim. Salim mulai menatap sekeliling gadis itu namun tak menemukannya.


Apa kakak bekerja, fikir Salim.


Mama Angel mendekat ke arah anak pertamanya. Ditariknya anaknya itu hingga berada dipelukannya. Ketakutan itu muncul secara alami. Memang dasarnya Angel takut akan hal ini. Takut anaknya diambil, takut dia hidup sendiri begitulah memang hati ibu. Selembus kapas dan dengan mudah hancur.


“Mama,” panggil Adel menatap mamanya.


Mama Angel diam saja dengan matanya tetap menatap tajam kedua lelaki didepan Adel.


“Mama kenapa wajah pria itu seperti papa?” tanya Adel pelan.


Ucapan Adel sontak saja membuat Mama Angel menegang. Namun dia sebisa mungkin merubah ekspresi wajahnya agar kegugupan dan ketakutannya tak terlihat.


“Kau ingin tau dia siapa?” tanya Mama Angel.


Adel mengangguk.


“Dia.” Tunjuk pada Raja Salim. “Dia adik papamu nak.”


Jderr.


Rasanya Adel lunglai seperti hilang pijakan. Jika saja tubuhnya tak ditopang oleh suaminya bisa dipastikan Adel akan roboh di tanah.

__ADS_1


Fikirannya menatap bergantian ke arah Raja Salim dan Raja Abdullah. Perasaannya berdebar sepertinya pikirannya saat ini mengatakan iya.


“Apa apa dia...,” ucapan Aqila menggantung.


“Iya nak,” potong Mama Angel cepat.


Adel menatap mamanya tak percaya.


“Iya dia kakekmu,” ucap Mama Angel.


Adel perlahan melepaskan pelukan mamanya. Dia menatap penuh kebencian ke arah keduanya. Rasanya Adel ingin meluapkan amarah ini namun tak bisa. Adel memilih pergi meninggalkan halaman rumahnya. Kepergiannya diikuti oleh Aqila dari belakang untuk menyusulnya.


Hanya tersisa Axel. Axel berjalan menuju mamanya dan memeluknya dari samping. Kehadiran Axel membuat Salim dan Raja Abdullah menatap lelaki tampan itu.


“Apa dia anak dari bang Khalid?” tanya Salim.


“Ya,” sahut Angel.


“Ponakanku,” ucap Raja Salim dengan senang.


Dia mendekat ingin memeluk ponakannya itu namun Axel malah menjauhkan tubuhnya. Seperti Axel enggan didekati mereka.


Suasana ini hanya hening tanpa suara hingga Raja Malik mulai mendekat pula.


“Kevin bolehkah kami membawa mereka masuk dulu untuk bicara,” pinta Raja Malik pada Kevin.


Kevin diam saja, sebenarnya dia ragu. Bahkan dirinya sekarang menatap mama mertuanya dalam diam. Angel tersenyum seperti memberi pertanda bahwa semua keputusan Kevin akan Mama Angel terima.


Raja Salim mendengus namun ia tak bisa berucap apapun. Bagaimanapun lelaki itu adalah suami dari ponakan pertamanya itu.


---*---


Di ruang keluarga rumah Aqila.


Semenjak kedatangan mereka di ruang keluarga. Aqila memeluk erat kakaknya itu untuk menyalurkan kehangatan. Ingin memberikan ketenangan dan kenyamanan pada kakak yang ia cintai.


Perlahan Adel melepas pelukan adiknya lalu menatap wajah Aqila.


“Wajah wajah kakek kamu lihat?” tanya Adel terbata.


“iya kak tapi dari jauh,” jawab Aqila jujur.


Memang benar Aqila melihatnya tapi sayangnya dia terlalu jauh dari posisi sang kakek. Jadi dia tak terlalu jelas dengan rupanya.


“Wajahnya mirip banget sama papa. Itu yang buat kakak nangis,” lirih Adel meneteskan air matanya kembali.


Kerinduan selama ini merasa terobati ketika melihat wajah kakeknya. Meski tadi Adel menahan diri dengan baik agar tak menghambur kepelukan lelaki paruh baya itu namun sejujurnya dihati terdalam ia ingin merasakan pelukan seorang kakek. Mungkin juga bisa mengobati kerinduannya dengan sang ayah.

__ADS_1


“Beneran kak?” tanya Aqila tak percaya.


Adel mengangguk mantap tanpa ragu.


“Wajahnya sama persis kayak papa cuma bedanya ini versi lanjut usia,” ujar Adel dengan tawa kecil.


“Astaga kek begini masih bisa bercanda ” Aqila geleng geleng kepala sambil menepuk jidat.


Emang candaan receh kakaknya ini selalu ada disetiap suasana apapun. Hingga akhirnya kedua adik kakak itu tetap mengobrol didalam rumah Aqila untuk melupakan sejenak perdebatan keluarga di rumah Kevin.


---*---


Rumah Kevin.


Saat Adel dan Aqila tadi berjalan menuju rumah Aqila. Akhirnya mereka semua diijinkan masuk di rumah Kevin. Mereka Semua duduk di ruang tamu Kevin. Untung saja Kevin membuat ruang tamu yang besar hingga bisa menampung mereka semua.


Mama Angel masih diam duduk disamping Mayra dan Mama Nora. Sepertinya dua wanita itu sedang menguatkan Angel yang sedang takut dan gugup. Dibelakangnya berdiri tegak Axel yang selalu menatap tajam ke arah keluarga ayahnya itu.


Saat ini prioritas Axel adalah mamanya. Dia tak ingin mamanya disalahkan, disakiti ataupun di ancam. Dia yang akan menjaga mamanya, setelah papanya meninggal dulu. Axel sudah berjanji akan menjadi pengganti papanya untuk menjaga mama dan kedua saudarinya.


Axel adalah seorang lelaki yang hangat dan penyayang dikeluarganya. Ilmu agamanya sudah baik. Wajahnya rupawan dan kepintarannya jangan ditanya lagi.


Itulah yang menyebabkan dirinya banyak digandrungi oleh wanita diluar sana. Namun sayangnya meski umurnya sudah 25 tahun. Dia tak pernah membawa seorang wanita pun ke rumahnya.


Lalu saat ini dia tak ingin mencari pendamping dulu karena dia ingin fokus dengan keluarga dan kebahagiaan mama serta saudarinya terlebih dahulu.


Setelah beberapa saat diam akhirnya Raja Malik mulai berbicara.


“Sebelumnya aku minta maaf karena telah menutupi semua ini,” ucapnya tiba-tiba.


“Sejujurnya kami pun juga baru pertama kali bertemu dengan Angel. Hanya dengan Aqila ini pertemuan kedua kami,” ujarnya lagi.


Ucapan Raja Malik pun hanya didengarkan tanpa disahut oleh semua orang. Rasanya dipikiran Raja Salim bukan itu. Dirinya sejak tadi mencari keberadaan kakaknya. Karena memang dia begitu merindukan sosok Khalid.


Sejenak Raja Salim menarik nafas berat dan hembuskan. Ia ingin mencari poaisi dan letak kakaknya sekarang.


Berdeham sebentar hingga semua perhatian berkumpul padanya.


“Kak Angel bolehkah aku bertanya?”


Panggilan seperti itupun sudah biasa. Karena apa? Dulu Salim pernah bertemu dengan Angel saat Angel merawat neneknya dan mereka juga sempat kenal dan akrab. Hingga akhirnya panggilan Kakak pun tersemat untuk Angel.


Angel mengangguk mengiyakan. Sungguh ia berdebar menunggu apa yang akan ditanyakan oleh Salim padanya.


“Dimana Kakakku saat ini.”


----*----

__ADS_1


Happy Reading💋


LIKE DAN KOMENNYA JANGAN LUPA YAH. VOTE NYA BUAT BESOK AJA SENIN.


__ADS_2