Aqila Love Story

Aqila Love Story
Bab 35


__ADS_3

“Mungkin jalan satu-satunya untuk membahagiakan mama dengan mengikuti apa yang diinginkan mama.” ~Rey~


.


.


.


Dikantor Rey.


Setelah ia berangkat dari rumah Aqila, berakhirlah disini di ruangannya. Rey memfokuskan dirinya pada berkas yang berkumpul diatas meja kerjanya.


Ia benar-benar mengerjakan dengan fokus hingga ia melewatkan makan siang. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 dan suara ketukan pintu membuat Rey mau tak mau harus menghentikan pekerjaannya.


“Masuk,” ucap Rey dari dalam.


Ceklek.


Rey mengangkat wajahnya dan tersentak kecil saat mendapati kehadiran sang mama dan wanita yang akan dijodohkan untuknya.


Mama Ria mendekat sedangkan Rossa berjalan menuju sofa yang tersedia disana.


“Sedang sibuk nak?” tanya Mama Ria.


“Seperti yang mama liat,” ucap cuek Rey sambil kembali berkutat kembali dengan berkas dimejanya.


“Mama sama Rossa sudah masakin untuk makan siang. Ayo makan,” ajak Mama Ria.


“Apa aku harus mengulangi perkataanku ma,” ucap Rey dingin.


Mama Ria tau sang anak pasti masih marah padanya tapi dia masih berusaha sekuat tenaga agar sang anak mau dijodohkan dengan anak temannya.


“Rey kasihan Rossa yang sudah memasak,” desak Mama Ria.


“Aku gak nyuruh dia buat masakin aku ma,” ucap Rey dengan nada tinggi.


“Rey kamu harus ngehargain dia,” ucap Mama Ria dengan nada sedikit tinggi.


“Kamu harus inget dia itu calon istri kamu,” sambung Mama Ria.


“Dalam mimpi ma, bahkan aku gak mencintai dia sama sekali,” ucap Rey sarkas.


“Bahkan aju sudah memiliki calon istri dan sangat mencintainya ma,” sambung Rey.


Deg.


Rossa mematung mendengar ucapan kasar Rey. Ia tak menduga akan mendengar kenyataan pahit itu. Tapi ia berusaha agar tak menangis. Ia takut dianggap cengeng. Sebisa mungkin ia menahan gemuruh hatinya agar tak berontak.


Plakk.


Mama Ria menampar Rey hingga pipi Rey sebelah kiri memerah.


“Apa seperti ini ajaran wanitamu pada mama agar jadi anak membangkang,” ucap sinis Mama Ria.


“Jangan pernah bawa-bawa wanitaku ma, dia wanita sempurna dan dia tidak pernah mempengaruhimu,” bentak Rey dengan nafas menderu.


“Asal mama tau yang buat aku kayak gini ya mama sendiri, akibat keegoisan mama selama ini aku jadi membangkang,” ucap Rey lantang.


“Kamu ...” belum menyelesaikan ucapannya Mama Ria sudah memegang jantungnya dan akhirnya jatuh merosot tak sadarkan diri.


“Mama,” teriak Rey.

__ADS_1


“Tante,”


Rossa pun sama terkejutnya ia mendekati tubuh Mama Ria dan berusaha membuatnya sadar.


“Cepat bawa kerumah sakit,” ucap Rossa.


Rey segera menggendong sang mama dan keluar dari ruangannya diikuti Rossa.


“Urus semua Bima,” teriak Rey didepan ruangannya.


--*--


Setelah menerjang jalanan yang ramai akhirnya mereka sampai dengan selamat dirumah sakit. Dan saat ini mereka menunggu pemeriksaan Mama Ria.


“Bagimana dokter?” tanya Rey ketika melihat Dokter Amran keluar dari ruangan mamanya.


“Apa ada yang memicu jantungnya bekerja keras?” tanya Dokter Amran.


“Mungkin karena tadi perseteruan ku dengan mama dikantor,” lirih Rey.


“Saya mohon jaga mental dan emosi Nyonya besar Tuan Rey. Anda tau kan bahwa nyonya tidak bisa mendapatkan hal tak terduga atau tekanan berat. Karena akan memacu gerak jantungnya,” ucap Dokter Amran mengingatkan.


Rey mengangguk.


“Nyonya akan dirawat selama 2 hari tuan biar beliau istirahat dulu.”


“Baik dokter,” ucap Rey.


“Saya pamit yah, nanti kalau ada apa-apa panggil saya,” ucap Dokter Amran.


Selepas kepergian Dokter Amran mereka mengikuti perawat dan brangkar Mama Ria ke ruang perawatan khusus.


“Tuan apa tuan butuh sesuatu?” tanya Bima sopan.


Rey menggeleng.


Dia mendekat ke arah sang mama dan duduk disampingnya. Ia genggam tangan wanita yang sudah melahirkan dan merawatnya itu.


“Maafkan Rey ma, Rey udah buat mama jadi begini,” lirih Rey sambil meneteskan air matanya.


Bagaimanapun Rey sangat menyayangi sang mama karena semenjak papanya meninggal hanya sang mama yang jadi penguatnya.


Sang Papa juga 2 tahun lalu meninggal karena penyakit jantung. Dan ternyata sang mama juga memiliki riwayat sang mama. Maka dari itu Rey takut sang mama akan pergi meninggalkannya.


“Mama harus sembuh ma, Rey janji bakalan nurut sama mama. Tapi Rey mohon mama harus sadar ma,” ucap Rey sambil mencium tangan sang mama.


Rossa yang tak dianggap kehadirannya oleh Rey pun pergi meninggalkan ruangan itu dan berjalan gontai keluar rumah sakit. Hingga benturan dipundaknya membuatnya meringis.


“Aww,” ringis Rossa dengan menggosok pundaknya.


“Ah maaf nona maaf, saya buru-buru,” ucap seseorang yang suaranya tak asing untuk Rossa.


Ia mengangkat wajahnya dan kaget.


“Aqila,” teriak Rosaa.


“Oca, maafin gue,“ucap Aqila penuh sesal.


“Oke gakpapa santai aja kok,” ucap Rossa.


“Sorry ya gue keburu nih,” ucap Aqila.

__ADS_1


“Lah lo mau kemana?” tanya Ross.


“Bentar ya ada pasien anak-anak dia lagi sakit kangker otak dan dia dekat denganku. Sekarang dia mau dioperasi tapi dia minta aku menemuinya sebelum operasi. Aku pergi yah,” ucap Aqila hendak berjalan.


“Ehh bentar,” Rossa menarik tangan Aqila.


“Apaan ca?” ucap kesal Aqila.


“Kalau udah ntar temuin gue dicafe depan yah,” pinta Rossa memelas.


Aqila mengangguk lalu ia segera berlari menuju ruangan anak-anak yang sudah ia beri janji.


--*--


Setelah menunggu 1 jam sendirian akhirnya Aqila muncul juga.


“Maaf lama yah,“ ucap Aqila dengan wajah bersalah.


“Iya gakpapa santai aja kali gue tau lo sibuk,” ledek Rossa


“Dasar,” Aqila meneloyor kepala Rossa pelan.


“Eh bentar. Lo kok bisa sih dirumah sakit?” tanya Aqila heran.


“Calon mertua gue sakit,” ucap Rossa.


“Astagfirullah ,sakit apa?” tanya Aqila.


“Jantung,” ucap Rossa sedih.


“Lo ya sabar yah, disini dokter Amran dokter terbaik kok. Gue yakin camer lo pasti sembuh,” ucap yakin Aqila.


Rossa mengangguk dengan lesu. Aqila mengernyit menatap ekspresi Aqila.


“Lo kenapa kayak ada masalah sih?” tanya Aqila.


“Gue bingung La,” lirih Rossa.


“Bingung kenapa?” tanya Aqila.


“Calon suami gue itu” ucap Rossa menggantung.


Tatapannya seperti menerawang kedepan dengan mata penuh kesedihan.


“Calon suami gue nolak perjodohan ini. Bahkan dia sudah punya calon istri dan dia sangat mencintai wanita itu,” ucap Rossa dengan menangis.


Aqila segera memeluk Rossa.


“Terus?” tanya Aqila dengan mengelus punggung Rossa lembut.


----*----


Readers : Kalau terus ya nabrak dong thor


Author : Ehhh ya gak bakal nabrak la. Orang tinggal belok aja.


Readers : Heleh yaudah iya apa kata dirimu dah thor


Author : Ya harus dong. yaudah ga aku mau keluar bye bye.


YOK JANGAN LUPA LIKE ,KOMEN DAN SKATE BINTANG 5 YA

__ADS_1


__ADS_2