Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 bab 40


__ADS_3

“Aku pasti akan berusaha untuk mempertemukanmu lagi dengan sahabat terbaikmu.” ~Rey~


.


.


.


Mengemudikan mobil dengan hati yang kalut. Tujuannya saat ini satu, rumah gadis yang masih singgah dihatinya. Rey merasa harus mencari keberadaan Aqila. Tujuannya satu untuk mengembalikan semangat hidup untuk Rossa. Rey menyadari semenjak kepergian Aqila, Rossa menjadi pendiam, pemurung dan tak seceria dulu.


Keadaan hati yang kacau ditambah suasana jalanan yang ramai membuat kemarahan Rey bertambah. Berulang kali dirinya mengklakson mobil didepannya tanpa peduli umpatan dari pengguna jalan yang lain.


Saat ini ia hanya ingin sampai dirumah Aqila secepat mungkin. Setelah beberapa menit mengemudikan mobil akhirnya dia sampai di gerbang tinggi kediaman Aqila.


Rey keluar dari mobil lalu berjalan cepat menuju pos satpam.


“Pak tolong buka gerbangnya pak,” pinta Rey.


“Mohon maaf tuan, rumah lagi kosong,” ucap Pak Adi.


“Saya gak percaya, tolong buka gerbangnya pak saya mohon,” pinta Rey memelas.


“Mohon maaf tuan, rumah memang sedang kosong,” ujar Pak Adi tegas.


Rey tetap tak percaya lelaki itu berjalan menuju gerbang dan memegangnya. Dia menatap sekeliling memang sepi tapi ia yakin keluarga Aqila ada disana.


“Mama Angel, Axel, Adel kumohon buka pintunya,” teriak Rey.


“Aku mohon keluar aku ingin mengucapkan sesuatu pada kalian,” teriaknya lagi.


Tak ada sahutan. Bahkan keadaan pintu sepi.


Rey tetap tak menyerah, dia masih mode memohon sampai memelas pada Pak Adi. Namun sayang Pak Adi tetap mengatakan bahwa rumah itu kosong. Rey tetap menatap rumah itu sebentar, ia memikirkan sesuatu lalu dia membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk ke mobil. Mobil Rey mulai meninggalkan rumah Aqila.


---*---


Di dalam rumah.


“Gimana mas?” tanya Adel.


“Biarkan, apa kita akan terus membiarkan Aqila bersedih,” ujar Kevin.


Adel menggeleng.


“Sudahlah kak, aku tak ingin adikku terus menangis karena lelaki brengsek itu,” geram Axel.

__ADS_1


Akhirnya Adel menyerah, sejujurnya bagaimanapun hati seorang perempuan yang paling lemah dan mudah terpengaruh. Namun untuk saat ini Adel harus bisa mengendalikan hatinya untuk kuat demi sang adik.


Mama Angel sendiri semenjak kepergian sang anak gadisnya. Dia lebih banyak menyendiri didalam kamar dan jika keluar dia akan menghabiskan waktunya dengan cucu dari anak pertamanya. Menurutnya ketika bermain dengan Taqy dan sikembar, bayangan Aqila sejenak akan hilang.


Merasa suara mobil Rey menjauh Adel segera membantu pelayan untuk membersihkan barang-barang dirumah. Ya Kevin sudah membuat keputusan untuk membeli sebuah rumah disamping rumah miliknya karena menurut Kevin perumahan di Rumah Kevin sungguh ketat penjagaan. Tak ada yang bisa masuk sebelum dapat ijin dari pemilik rumah.


Dibantu oleh satpam dan pelayan. Tas dan barang-barang penting semua dimasukkan kedalam mobil. Sedangkan Axel dia menyusul mamanya yang berdiam diri dikamar.


“Ayo ma,” ajak Axel.


Mama Angel mendongakkan kepalanya. Axel dapat melihat wajah wanita paruh baya itu habis menangis. Axel mendekat dan memeluk mamanya.


“Jangan bersedih ma, Aqila disana udah bahagia,” lirih Axel.


“Mama Kangen adikmu,” ucap Mama Angel.


“Nanti kita kapan-kapan jenguk Aqila ya ma,” bujuk Rey.


“Bener yah.”


“iya ma.” Rey mengangguk.


Lalu Rey mulai membantu Mama Angel berdiri dan berjalan keluar dari kamar. Mereka segera masuk kedalam mobil yang sudah disediakan oleh Kevin.


Kevin mulai melajukan mobilnya saat sudah melihat mama mertua dan adik iparnya duduk dengan tenang. Mereka mulai meninggalkan rumah itu dengan diikuti mobil yang berisi barang-barang mereka. Tanpa mereka sadari disana ada sepasang mata yang menatap kepergian mobil mereka.


Sebelum sampai di gerbang perumahan sebuah mobil menyalip mobil Kevin dan berhenti didepannya. Untung saja dengan spontan Kevin mengerem secara langsung hingga tubuh mereka terpental kedepan.


Keadaan Adel dan Kevin baik-baik saja karena mereka menggunakan sabuk. Mama Angel dan Axel juga bersyukur, mereka baik-baik saja karena mereka berpegangan.


Kevin dengan geram keluar dari mobil hendak melihat siapa gerangan yang mengendarai mobil begitu brutal.


Saat hendak sudah sampai dipintu kemudi mobil itu, pintu itu langsung terbuka dan menampakkan wajah seorang lelaki seumuran dengan istrinya. Rahang Kevin mengeras bahkan baku tangannya memutih karena terlalu kuatnya mengepal.


“Mau apa lo hah! Lo gak bisa nyetir yang bener,” geram Kevin sambil menarik kerah baju Rey.


“Seharusnya gue yang harus bilang ke kalian manusia gak punya hati,” sindir Rey.


“Hah gak punya ati,” ejek Kevin.


“Ya gak punya hati,” jawab Rey angkuh.


“Apa lo gak inget siapa yang gak punya ati disini?” tanya Kevin dengan menaikkan salah satu alisnya.


Rey bungkam ia jadi mengingat semua perlakuannya pada Aqila.

__ADS_1


“Apa perlu gue ingetin sama lo semuanya,” ucap Kevin penuh penekanan.


Adel yang berada didalam mobil melihat keadaan diluar memanas segera ikut keluar. Dia berjalan menuju suaminya.


“Ayo mas gak usah diladenin,” ajak Adel.


Dia menarik tangan Kevin dan mulai berjalan meninggalkan Rey. Rey sendiri yang mendengar suara Adel mulai tersadar akan tujuannya.


“Apa sebegitu bencinya kalian padaku hingga tak ingin bertemu denganku,” ucap Rey pelan.


Adel menghentikan langkahnya namun dia tak berbalik. Dia lebih memilih menunggu kata apalagi yang keluar dari bibir lelaki yang telah menyakiti adiknya.


“aku ingin bertemu kalian karena ingin mengatakan sesuatu,” sambung Rey.


Adel dan Kevin masih terdiam. Mereka memberikan waktu agar lelaki itu menyampaikan tujuannya. Namun tatapan mereka masih membelakangi Rey.


“Tolong beritahu aku dimana Aqila tinggal,” pinta Rey.


Mendengar ucapan Rey sontak saja Adel meradang dia berbalik sedikit dan memberikan tatapan tajam.


“Mimpi aja lu buat tau dimana Aqila tinggal,” ucap Adel sinis.


Adel meneruskan langkahnya dengan Kevin yang berjalan juga menuju pintu kemudi.


“Asal lo tau, Rossa masuk rumah sakit. Dia sakit kangker otak stadium 4. Dia gak ada semangat hidup selama Aqila pergi. Gue pengen disisa hidupnya Aqila ada didekatnya” teriak Rey.


Deg.


Jalan keduanya langsung berhenti. Mereka terpaku didekat pintu mobil. Jantung Adel seperti diremas. Dia menyadari hahwa dia juga dekat dengan sahabat temannya itu. Bahkan mereka dulu sering menghabiskan waktu bersama.


Sekarang ketika tau bahwa sahabat adiknya sakit parah entah kenapa hatinya jadi sedih. Dia terdiam tapi matanya telah menangis. Begitupun Kevin, dia hanya diam sambil mulai mencari solusi akan semua ini.


“Ku mohon kasih tau aku dimana Aqila. Dia harus tau temannya sedang sekarat,” mohon Rey.


Adel yang sedari tadi diam, akhirnya bergerak dia meraih pintu mobil dan segera membukanya lalu masuk. Diikuti Kevin yang juga ikut masuk mengikuti istrinya.


“Jalan mas,” pinta Adel.


Kevin menurut, dia menghidupkan mesin mobil lalu segera melajukan mobilnya meninggalkan Rey yang masih diam terpaku ditempat. Rey menatap kepergian mobil itu yang mulai menjauh darinya. Dia memejamkan matanya sesaat. Fikirannya saat ini makin kacau melihat keluarga Aqila tak membantunya.


“Arggggggg,” jerit Rey dengan kepala menatap ke langit.


---*---


Selamat membaca.

__ADS_1


Kasihan babang Rey kacau banget huee. Sabar ya bang sini aku peluk biar tenang.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN dan VOTE YAH


__ADS_2