Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 3


__ADS_3

“Sehina itukah aku dimatamu, hingga kau tak mau menatapku sedikitpun.” ~Rossa~


.


.


.


Sepeninggalan Aqila, kehidupan Rey berubah total. Dia yang dulunya dingin semakin dingin. Bahkan cueknya sudah semakin irit bicara. Bahkan saat hari pertunangannya wajah tampan itu menampakkan bahwa dirinya tak bahagia.


Bahkan Adel dan Kevin yang hadir pun sudah bisa melihat wajah Rey yang tak bahagia. Axel sendiri merasa iba tapi dia juga tak bisa berbuat apa. Toh sang adik sudah pergi sementara waktu untuk misi kemanusiaan.


Rey yang semakin hari semakin gila kerja banyak menghabiskan waktunya di perusahaan. Bahkan hampir setiap hari Rey tidur diruang pribadinya dikantor. Ia malas berhadapan dengan sang mama yang selalu mencari cara mendekatkan dirinya dengan Rossa.


Entah kenapa secuil hati pun tak ada untuk Rossa. Bahkan Rey sendiri merasa jijik menatap wanita itu. Berdekatan dengan Rossa membuat Rey muak. Bahkan kerap kali mereka keluar bersama akan berujung Rey pergi tanpa pamit.


Miris memang tapi Rossa tak mengenal lelah. Ia masih berdoa dan yakin bahwa jika biasa bersama maka cinta itu akan ada.


Siang ini entah dewi keberuntungan tak berpihak pada Rey. Sang mama hadir dikantornya dengan ditemani calon istrinya siapa lagi jika bukan Rossa.


“Siang nak,” ucap Mama Ria menatap sang anak.


“Siang ma,” jawab malas Rey.


Rey tampak tak mengalihkan tatapan matanya pada laptop didepannya. Bahkan dia mengacuhkan kehadiran dua wanita itu.


“Rey masak mama datang kamu sibuk sendiri,” ucap Mama Ria kesal.


“Rey memang sibuk ma, banyak kerjaan,” jawab Rey.


“Ya tapi kan udah tiap hari loh kamu kerja, jarang pulang lagi. Masak iya kamu gak bisa ngasih sedikit waktu buat calon istri kamu,” ucap Mama Ria.


“Gak ada waktu ma,” ucap ketus Rey.


“Tapi sekarang mau gak mau kamu harus mau, antar Rossa cari cincin pernikahan,” ucap Mama Ria penuh penekanan.


“Huh kan bisa berangkat sama mama,” Rey menghentikan kegiatannya didepan laptop. Dia menatap sang mama.


“Mama gak mau tau ,kamu harus anter Rossa.”


“Baiklah.”


Mau bagaimanapun dia memang tak bisa menolak sang mama. Jika bukan karena takut penyakit sang mama kambuh dia tidak akan mau mengantarkan Rossa.


Ketiganya keluar dari ruangan Rey. Rey terpaksa keluar dan meminta Bima untuk menyelesaikan segala pekerjaannya.


“Kamu naik mobil Rey aja Sa,” pinta Mama Ria.


“Eh tapi ma,” ucap gagu Rossa.


“Udah gakpapa ayo sana, mama naik mobil sendiri nanti mobil kalian ikutin mobil mama,” ucap Mama Ria.


Rossa mengangguk. Dia memasuki mobil dan duduk disamping Rey. Terlihat jelas wajah Rey yang tak bersahabat dan tak mau menatap wajah Rossa sama sekali.


“Sampai kapan kamu kayak gini sama aku, bahkan sedikitpun kamu gak pernah natap aku sama sekali. Siapa wanita yang sudah bikin kamu jatuh cinta banget sama dia” gumam Rossa dalam hati


Rossa menatap keluar jendela. Satu kata untuk saat ini. Miris, lelaki yang dicintainya mencintai wanita lain. Ia menjadi penasaran siapa wanita itu. Ia ingin berkenalan dengan wanita itu dan mencoba mencari tau apa yang membuat Rey tergila-gila padanya.


--*--


Sesampainya di toko perhiasan.


Rossa bergandengan tangan dengan Mama Ria berjalan masuk, diikuti Rey dibelakang berjalan sambil kedua tangannya masuk disaku celannya. Wajah tegas dan wibawa membuatnya semakin tampan. Bahkan tatapan tajam itu membuat orang yang menatapnya luluh lantak dan berdetak kencang jantungnya.


“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu,” ucap pelayan sopan.

__ADS_1


“Saya cari cincin pernikahan yang ada berliannya,” seru Mama Ria.


“Baik sebentar saya ambilkan kedalam. Mohon ditunggu,” seru pelayan itu.


Mama Ria mengangguk, lalu kedua wanita itu menatap perhiasaan lain sambil menunggu pelayan itu datang.


Rey sendiri berjalan menuju bagian kalung. Dia menatap sebuah kalung yang berinisial A itu.


“Tolong ambilkan kalung ini mbak,” pinta Rey pada pelayan didekatnya.



Pelayan itu mengangguk dan mengambilkan kalung yang diminta Rey.


“Cantik cocok pasti dileher jenjangmu,” gumam Rey membayangkan leher Aqila yang putih.


“Tolong bungkus ya mbak dan pisahkan dari yang lain. Nanti asisten saya yang ambil,” seru Rey.


Rey tak mau kalung itu diketahui oleh sang mama dan wanita itu. Ia ingin memberi hadiah pertemanan pada Aqila. Mungkin kalung itu tak berarti sama sekali untuk Aqila. Tapi bisa menjadi tanda bahwa mereka saat ini akan berteman.


Rey segera mendekat ke arah mamanya ketika pelayan mendekat kearah keduanya.


“Ini nyonya beberapa pilihan cincinnya,” ucap pelayan itu.


Mama Ria memilih dengan teliti. Bahkan Rossa sendiri hanya menatapnya saja, ia memilih diam menurut daripada ikut memilih karena menurutnya semua juga bagus.


“Ini bagus Sa tatanan berliannya cantik,” ucap Mama Ria memegang sepasang cincin pernikahan



“Iya ma itu cantik,” Rossa mengangguk.


Memang bener jika cincin yang dipegang Mama Ria cincin model sederhana tetapi modelnya cantik dan manis. Ada batu berlian yang tertata rapi disalah satu sisi cincinnya.


“Ya udah bungkus ini mbak,” seru Mama Ria.


Tak perlu menunggu lama akhirnya setelah membayar uang cincin itu. Mereka bertiga segera keluar dari toko perhiasaan.


“Kita makan siang dulu Rey.”


Rey diam ia mengecek waktu, dia hanya bisa menghela nafas lelah sudah jam 2 juga mau tak mau ia hanya bisa menurut lagi.


--*--


Di Restoran Ceremony.


Ketiganya sudah memesan makanan dan tinggal menunggu. Kedua wanita itu masih mengobrol dengan sesekali tertawa bersama.


Rey bisa melihatnya bahwa sang mama bahagia jika berada bersama Rossa. Tapi sayangnya hati Rey tak tersentuh. Ia sudah mengunci hatinya. Bahkan ia tak tertarik pada wanita manapun.


Mama Ria yang tak sengaja menatap sang anak yang sedang menatap Rossa dengan tatapan yang sulit diartikan akhirnya menegurnya.


“Sayang,” panggil Mama Ria.


“Iya ma,” saut Rey.


“Bentar lagi kamu antar Rossa ya,” ucap Mama Ria.


Rey mengangguk dalam diamnya. Ia sudah memprediksi bahwa sang mama pasti akan memintanya untuk mengantar Rossa. Ia tak ambil pusing ia setuju saja toh hanya mengantar.


Akhirnya pelayan Restauran pun datang dengan pesanan mereka. Mereka makan siang dengan damai tanpa ada obrolan sama sekali. Setelah menghabiskan makan siangnya akhirnya Rey segera membayar billnya.


--*--


Diluar Restaurant.

__ADS_1


“Hati-hati ya nak,” Mama Ria mencium kedua pipi Rossa.


“Iya ma, mama juga ati-ati yah,” ucap Rossa dengan senyum manis dan mengakhiri pelukan itu.


“Pastinya sayang, dan jangan lupa besok kalian harus siapin gaun kalian oke,” mama Ria mengingatkan.


Rossa mengangguk. Lalu ia segera masuk kemobil ketika Rey dengan tak sabar menekan klakson mobilnya.


Rossa melambaikan tangannya lalu Rey segera menjalankan mobilnya meninggalkam Restaurant. Sepanjang perjalanan seperti biasa keduanya diam, senyap dan sepi dalam mobil.


Rossa akhirnya yang sudah tak kuasa itu memberanikan diri berbicara.


“Mas,” panggil Rossa.


Rey diam.


“Mas.”


“Apa sih,” saut Rey.


“Kamu kenapa sih mas?” tanya Lembut Rossa.


“Gakpapa,” ucap cuek Rey.


“Mas kayaknya gak bahagia ya sama aku,” lirih Rossa menahan air matanya.


“Untuk apa kamu tanya jika tau jawabannya,” ketus Rey.


“Apa tak ada sedikitpun cinta untukku mas,” lirih Rossa.


“Tidak ada,” saut cuek Rey.


“Apa wanita itu sangat spesial untukmu mas,” lirih Rossa.


“Sangat spesial,” seru Rey yakin tanpa menoleh.


“Ijinkan aku mengenalnya mas, agar aku bisa tau apa kelebihannya sampai kamu sangat cinta padanya,” seru Rossa penuh percaya diri.


Tanpa disangka Rey tertawa mengejek.


“Hahahaha untuk apa? Bahkan pada dirimu tak ada satu pun yang membuatku tertarik padamu.”


Nyuttt.


Perih sakit seperti dihujam belati hatinya. Mendengar omongan pedas Rey kali ini entah kenapa lebih menyakitkan untuknya. Rossa mengatur nafasnya agar air matanya tak menetes.


“Tolong mas kenalkan aku padanya,” mohon Rossa.


“Sampai kapanpun kamu gak bakal tau,” seru Rey.


Rossa ingin bertanya kembali tapi sayangnya mobil yang dikendarai Rey telah sampai didepan rumahnya.


“Turun,” titah Rey


Rossa mengangguk ia turun dari mobil dan Rey segera meninggalkan Rossa tanpa sepatah katapun.


“Sehina itukah aku mas sampai tak berhak mendapatkan cintamu. Seperti apa wanita itu mas sampai kamu sangat mencintainya,” lirih Rossa sambil meneteskan air matanya.


---**---


Selamat membaca.


Part khusus Babang Rey sama Rossa. Kayaknya bang Rey udah kangen berat sama si Aqila.


Ayo sana titip salam sama ane biar ane salamin Rey hehehe.

__ADS_1


JANGAN LUPA HARI SENIN, LIKE, KOMEN DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA.


__ADS_2