Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 44


__ADS_3

“Bagaimanapun juga, jauh dari keluarga adalah keputusan yang sangat sulit dan menyakitkan.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


.


.


.


Di depan pintu apartmen Aqila.


Setelah membuka pintu Apartemen dengan pin, Dini tiba-tiba menerobos masuk dengan memegang dadanya. Terlihat wajahnya begitu berseri-seri.


“La tadi itu pangeran kan La.”


“Bener kan La.”


“Ya tuhan La ganteng bener”


“Senyumnya La omegat bikin hatiku meleleh.”


Masih banyak lagi kata-kata hiperbola yang diberikan Dini untuk Pangeran Khali. Aqila hanya menepuk dahinya dan masuk kedalam kamar tanpa menjawab semua ocehan sahabatnya itu. Ia sudah dibuat bingung dengan jantungnya sendiri dan sekarang harus mendengar ucapan tak bermanfaat sahabatnya itu.


Dini mengekori Aqila ke kamarnya, dia duduk diatas ranjang sambil menemani Aqila yang membersihkan make up dan berganti baju.


“La kamu denger gak sih?” seru Dini dengan kesal.


“Denger denger,” sahut Aqila.


“Ya tapi kamu gak jawab satu pun.”


“Lah aku harus jawab apa. Kamu aja ngomong terus gak berhenti ” ujar Aqila.


“Hehehe oh iya sih.” Cengengesan Dini menjawab.


“Sana ganti baju pas siap-siap sholat isya,” perintah Aqila.


“Oke aku balik dulu deh yah terus kesini.”


“Oke.”


Selepas kepergian Dini, Aqila menatap pantulan dirinya di cermin. Seutas senyum mendarat di bibir merah mudanya. Mengingat perkataan pangeran memang membuat hatinya berbunga-bunga. Namun ketika melihat statusnya dengan lelaki itu nyalinya menciut.


“Sepertinya aku harus melibatkan allah dalam kasus ini,” ucap Aqila lirih.


Setetes air mata jatuh di pipinya. Aqila berfikir ia tak ingin mengalami sakit hati lagi. Ia berharap semoga apa yang ia lakukan dan melibatkan Allah didalamnya akan membuatnya mengambil keputusan yang tepat.


Aqila segera membuka mata dan mulai bersiap-siap untuk melaksanakan sholat isya’.

__ADS_1


---*---


Di dalam mobil.


Setelah Khali kembali kedalam mobil, tak henti-hentinya ia tersenyum membayangkan wajah cantik gadis bergamis itu.


Bahkan Ibra yang berada di samping Khali hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah majikannya itu. Akhirnya perjalanan pulang pun berakhir. Khali segera keluar dan berjalan menuju istana.


Dengan langkah tegab dan cepat Khali mengayunkan kakinya menuju kamarnya. Tetap diikuti oleh Ibra di belakangnya Khali sendiri tak peduli.


Setelah sampai didalam kamar, Khali menghempaskan tubuhnya disofa dan Ibra tetap berdiri didekatnya.


“Ibra tolong cari tau kenapa Aqila bisa berada disini,” ucap Khali menatap Ibra tajam.


“Baik tuan,” sahut Ibra.


“Baiklah keluarlah aku mau istirahat.”


Ibra menurut dia undur diri dan segera meninggalkan Khali sendirian dikamar. Khali mulai melepas pakaiannya dan terlihat dada bidang dan roti sobek yang selalu tertutupi oleh kain yang melekat itu. Badan kekar nan otot-otot yang selalu dijaga oleh Khali terlihat begitu mempesona.


Lalu Khali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan mengambil wudhu lalu berganti pakaian untuk bersiap-siap melaksanakan kewajiban menghadap yang maha kuasa.


---*---


Keesokan harinya.


Setelah memasak sarapan untuknya, Aqila bergegas mandi dan memakai gamis agar tak telat berangkat bekerja. Memilih memakai gamis bercorak maroon dan kerudung segi empat syar’i berwarna senada, entah kenapa warna ini membuat kesan semakin manis untuk yang memakainya.


Tak lupa memakai make up tipis, Aqila segera memoles wajahnya yang putih mulus itu dan terakhir sentuhan lipstik berwarna bibir menambah kesan fresh diwajahnya. Setelah selesai ia membawa tas, dan jasnya menuju ruang tamu. Meletakkan barang itu ke sofa dan dirinya menuju meja makan.


Mulai membaca doa dan hendak memasukkan makanannya kedalam mulut, hingga suara bel menghentikannya.


“Ya sebentar,” teriak Aqila jengkel.


Ia berjalan dengan sedikit tergesa dan membuka pintu. Disana didepan pintu, sahabatnya berdiri dengan tampang tak berdosa bahkan diiringi cengiran dibibirnya itu.


“Kebiasaan,” ketus Aqila sambil membuka pintu lebih lebar.


“Heheheh kan kamu tau aku gimana,” jawab Dini sambil cengengesan.


Jika ditanya untuk apa Dini ke apartemen Aqila sepagi ini. Jawabannya adalah numpang makan. Ya begitulah Dini dia tipikal cewek suka masak sesuai mood. Kalau lagi gak mood dia bakal numpang makan pada Aqila.


Keduanya memang sudah kenal betul satu dengan yang lain. Membuat mereka sudah tak ada canggung dan sungkan satu dengan yang lain. Bahkan keduanya sudah seperti anak kembar yang tak pernah terpisah.


Setelah drama dimeja makan berakhir, akhirnya mereka telah sampai di parkiran Rumah sakit. Keduanya berjalan menuju ruangan Aqila.


“Din jadwal hari ini gimana?” tanya Aqila saat mereka menunggu lift terbuka.

__ADS_1


“Jadwal hari ini gak banyak kok tenang aja,” sahut Dini.


“Kapan jadwal kita keliling?” tanya Aqila.


“Ntar lagi,” sahut Dini santai.


“Hah serius?” tanya Aqila.


Dini mengangguk ,memang begitulah Aqila dia lebih suka jalan-jalan mengunjungi pasien daripada berdiri diam di ruangan polinya. Menurutnya duduk sambil menunggu lebih membosankan daripada berkeliling.


Sesampai diruangannya, Aqila mulai memakai jasnya dan merapikan pakaiannya. Ia segera mengambil stetoskop dan Dini mengambil buku catatan pasien. Sebelum keluar, Dini membaca buku catatan dulu agar dia tau pasien-pasien yang akan mereka periksa. Sedangkan Aqila, dia duduk sambil menekan panggilan telfon namun tak kunjung diangkat.


“Kenapa gak diangkat,” gumam Aqila lirih.


Dia terus mencoba beberapa nomor namun tetap sama tak diangkat. Dengan putus asa ia meletakkan ponselnya diatas meja dengan wajah sedih. Niatan ingin menghubungi keluarganya karena rindu, sayangnya itu semua pupus karena nomor mereka tak ada yang menerima panggilan itu.


Dini menatap Aqila saat ia mendengar helaan nafas berat dari sahabatnya


“Kenapa La?” tanya Dini.


“Aku telfon orang rumah kenapa gak ada yang angkat,” lirih Aqila dengan tatapan nanar.


“Mungkin mereka sedang sibuk La,” jawab Dini.


“Ya gak mungkin lah Din, aku udah kangen banget beberapa hari ini gak nelfon mereka,” ujar Aqila dengan nada sedih.


Di matanya sudah nampak cairan bening berkaca-kaca. Dini sendiri ikut sedih melihat kondisi sahabatnya. Dia berjalan mendekat dan menarik Aqila kepelukannya.


“Mereka pasti sibuk La, udah jangan sedih,” hibur Dini.


“Aku kangen banget Din, aku pengen telfon mangkanya,” ucap Aqila dengan isak tangis.


Siapapun pasti akan sedih dan menangis saat ia merindukan anggota keluarganya. Bahkan Komunikasi mereka beberapa hari ini terputus karena Aqila yang sibuk dan keluarga di Indonesia yang entah kenapa.


“Ayo kita berangkat,” ajak Dini saat melihat jam di dinding sudah waktunya.


Aqila berdiri dengan lesu lalu berjalan keluar dari ruangannya. Sambil berjalan Dini mencoba menghibur Aqila yang terlihat sekali dia sedang tidak baik-baik saja. Padahal tadi pagi Aqila masih bahagia dan wajahnya berseri-seri namun sekarang semuanya sudah musnah berganti muram.


---*---


Selamat membaca.


Bab selanjutnya ganti oke kita berkunjung ke Indonesia guys hihi. Kasihan kan kalau sana gak kita jenguk. Harus adil lah yah hehehe.


Sekarang Hari senin loh yah jangan lupa biasanya.


LIKE, KOMEN DAN VOTE YANG BANYAK DIHARI SENIN YAH. DITUNGGU

__ADS_1


__ADS_2