Aqila Love Story

Aqila Love Story
Bab 38


__ADS_3

“Apa kamu fikir hatiku adalah mainan yang gampang dipermainkan olehmu.” ~Aqila~


.


.


.


Dan benar saja selama satu minggu full Rey tak memberi kabar apapun pada Aqila. Jangankan panggilan, pesan singkat saja tidak pernah. Setiap hari Aqila menunggunya, menunggu pesannya, menunggu kehadirannya. Dan bodohnya Aqila berfikir mulai merasa nyaman dengan Rey. Tapi kenapa sekarang lelaki itu seperti hilang ditelan bumi.


Aqila sudah tak pernah bertemu lagi dengan Rey. Banyak pertanyaan dibenak Aqila untuk Rey. Tapi semua ia tahan karena ia berfikir dirinya tak berhak mengurusi kehidupan pribadi Rey. Begitupun Aqila juga masih berfikiran positif jika Rey pasti sibuk dengan kantornya hingga tak memberi kabar.


Seperti biasa Aqila hari ini berangkat bekerja diantar oleh Axel. Karena memang mobil Aqila sedang dibawa ke bengkel jadinya mau tak mau Axel harus menjadi driver untuk Aqila sementara.


Aqila menatap kosong jendela disampingnya. Ia beberapa hari tak banyak bicara sering mengurung diri dikamar. Axel yang menyadari perubahan itu pun menjadi penasaran.


“Dek,” panggil Axel.


Aqila menoleh. “Iya kak?” tanya Aqila.


“Are you okey?”


“Okey,” ucap Aqila singkat dan tersenyum paksa.


Ia kembali menatap jalanan yang mulai padat. Hingga akhirnya membuang kasar nafasnya dan menatap lalu lalang diluar.


“Sudah seminggu ini kamu gak ada kabar, kamu kemana?” gumam Aqila dalam hati.


“Apa begini caramu membuatku terbang secara tiba-tiba dan sekarang menghempaskanku begitu saja” gumam Aqila dalam hati


Ia hampir menangis tapi ia menahan karena tak ingin membuat sang kakak khawatir.


--*--


Dihalaman Rumah Sakit.


“Makasih ya kak udah antar aku,” ucap Aqila tulus.


Aqila meraih punggung tangan Axel dan menciumnya. “Bye,” Aqila melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkan mobil Axel.


Setelah memastikan Aqila masuk dengan selamat, Axel segera melajukan mobilnya kearah kantor. Karena berkas-berkas dimejanya sudah melambaikan tangannya untuk disentuh.


Sedangkan Aqila sendiri. Ia berjalan gontai dengan menunduk. Tak seperti Aqila biasanya. Ia sekarang menunduk dan tak mendengar orang-orang yang menyapanya.


Banyak suster yang membicarakan perubahan raut Aqila.


Ada yang bilang begini.


“Apa Dokter Aqila putus cinta?”


“Apa dia galau,” saut tetangga satunya.


“Apa dia sudah ditinggal seseorang,” ucap tetangga lainnya lagi.


Aqila segera membuka pintunya dan dia mematung karena ruangan itu sudah tak kosong. Aqila menoleh dan mendapati Bima berada disana.


“Apa maksutnya ini Bim?” tanya Aqila.

__ADS_1


Bima menyodorkan berkas yang seminggu lalu ditanda tangani oleh Rey.


“Apa ini?” tanya Qila bingung.


“Duduklah dulu,” ucap Bima.


Aqila tersentak kecil.


“Ini kan ruanganku,” Aqila mendelik tapi dia juga duduk disofa berhadapan dengan Bima.


“Baca lah,” ucap Bima.


Dengan ragu Aqila meraih berkas yang berada dimeja. Membukanya perlahan dan membaca deret demi deret kata yang tertulis di kertas.


Deg.


Berkas pengalihan kepemilikan.


Aqila mendongak dan menatap Bima dengan tatapan sulit diartikan.


“Maksutnya apa ini ?” tanya Aqila menaikkan nada suaranya.


“Tuan Rey mengalihkan nama pemilik rumah anda menjadi milik anda sepenuhnya nona” ucap Bima sopan


Aqila menegang mendengar nama pria itu lagi dan dia teringat akan hilangnya lelaki itu selama seminggu.


“Apa seperti ini? Dia pergi tanpa kabar dan sekarang dengan seenaknya dia memberikan rumah itu untukku?” teriak Aqila geram.


“Nona sabar tolong nona,” ucap Bima sopan.


Aqila berdiri dan membuka pintu ruangannya.


Bima hanya bisa menghela nafas kasar. Ia sudah siap dengan semua ini. Ia segera membereskan berkas dan berdiri. Mulailah melangkah keluar tapi sebelum sampai keluar pintu Bima berhenti dan menatap Aqila.


“Apapun yang terjadi rumah itu nanti milik anda nona.”


Bima langsung melangkah setelah mengatakan itu. Aqila segera menutup pintu setelah Bima pergi.


Hatinya sakit, perih dan kecewa. Lelaki yang ia tunggu kabarnya hilang dan kembali dengan memberikan rumah untuknya.


“Untuk apa kamu memberikan rumah itu padaku jika kenyataannya kamu menghilang,” lirih Aqila dan badannya runtuh kelantai.


Ia memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya diantara kakinya. Isak tangis pilu ia rasakan. Kedua kalinya hatinya merasa sakit. Tapi tak sesakit pengkhianatan James. Sepertinya hatinya telah biasa dengan keadaan seperti ini. Hatinya seperti mati rasa oleh rasa seperti ini.


Aqila menghapus air matanya. Dan segera beranjak berdiri.


“Aku harus kuat. Ingat Aqila aku harus bahagia tanpa dia atau siapapun” ucap yakin Aqila dalam hati.


Ia mulai bekerja kembali seperti tak mendapati apa-apa. Mood baiknya kembali saat memeriksa anak-anak yang sakit. Memang Aqila menyukai anak kecil yang membuatnya menghilangkan rasa sakit hatinya saat ini.


--*--


Di depan pintu, ada seorang wanita yang sedang menggedor pintu dengan tak sabaran. Wajahnya cantik memang tapi tak semua yang berwajah cantik memiliki akhlaq dan tingkah laku yang baik sesuai wajahnya.


Tok tok tok


Kesekian kalianya dia mengetok pintu dengan tak sabaran hingga si empu membuka pintu itu.

__ADS_1


“Lo,” sentak Alex.


“Ngapain lo kesini ******?” tanya Alex sarkas.


“Gue mau ketemu James, mana dia?” tanya Luna sarkas.


“James gak ada disini,” ucap Alex dengan tenang.


“Hah gak mungkin, mana James suruh dia keluar,” teriak Luna.


“Heh lo ini apa-apaan sih. Ada apa lo cari James,” tanya Alex geram.


Luna dan Alex tetap berdebat didepan pintu. Luna berusaha masuk tetapi kekuatannya tak bisa mengalahkan kekuatan Alex


“Ku mohon Lex, gue mau ketemu James,” lirih Luna dengan wajah memohon.


“Ada keperluan apa lo?” tanya Alex dingin.


“Gue gue..” Luna masih terdiam dia menunduk.


Alex heran dengan tingkah wanita didepannya. “Cepet bilang ada apa?” bentak Alex.


“Gue hamil Lex,” seru Luna.


Luna menatap Alex. “Gue hamil anak James,” seru Luna.


Alex mencoba mencari kebohongan pada wanita didepannya tapi sayangnya disana terlihat pancaran kejujuran.


“Masuk,” Alex membuka pintunya lebih lebar.


Dia berjalan setelah menutup pintu. “Itu,” tunjuk Alex pada salah satu pintu.


“Makasih,” ucap tulus Luna.


Luna segera membuka pintu dan dia mematung. Menatap kamar James yang berantakan. Banyak botol minuman berserakan disana. Luna berjalan pelan menuju ranjang James.


“James,” lirih Luna menggoyangkan bahu James.


James tak bergeming.


“James bangun” ucap Luna


James hanya menggeliat. Luna mendekat dan secara tiba-tiba ia mencium bibir James dan *******. Sontak saja mata James terbuka lebar dan segera mendorong kasar wajah Luna.


“Lo apa-apaan sih,” teriak James murka.


“Sayang apa kamu gak kangen aku,” bukannya menjawab Luna malah mengalihkan.


“Gue tanya lo ngapain disini hah?” bentak James.


“Jangan bentak aku James,” teriak Lun.


“Emangnya kenapa hah?” ucap sinis James


--*--


Ya hahaha gimana nih dengan part ini?

__ADS_1


Tenang saja semua pemain bakalan ada jodohnya insya allah hehehe. Jadi ikuti aja alurnya ya, alur udah dibuat kayak begini harus diikutin aja oke.


__ADS_2