
“Kau tau apa yang kau inginkan saat ini, sungguh begitu sulit untuk ku lakukan.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
.
.
.
Selama perjalanan, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Aqila. Hanya air mata yang mengalir dari matanya. Tak ada lagi Aqila yang kuat, yang ada saat ini hanya seorang sahabat yang takut akan kehilangan sahabatnya.
Perjalanan 2 jam itu terkesan lama. Bahkan Aqila sudah tak sabar ingin segera sampai. Ia ingin cepat-cepat menuju rumah sakit untuk melihat sahabat SMP itu.
Pangeran Khali sendiri hanya diam sambil menatap gadis bergamis didepannya yang tampak gelisah. Ia tau bahwa gadis itu sedang kepikiran dan takut. Namun Khali sendiri tak tau apa yang harus ia lakukan. Wajar saja lelaki yang tak pernah dekat dengan wanita dan jatuh cinta itu pasti kesulitan untuk memahami seorang wanita.
Setelah menunggu lama akhirnya perjalanan itu berakhir. Ketiganya turun dari pesawat dan langsung disambut oleh mobil yang sudah disiapkan Ibra.
Pangeran Khali duduk didepan bersama Ibra yang mengemudi. Lalu Aqila duduk dibelakang mereka. Tak ada percakapan apapun dalam mobil, semua orang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
---*---
Sekuat tenaga Aqila berlari kedalam rumah sakit. Tujuannya satu yaitu ruang ICU. Disana ya disana ia melihat kakaknya Adel dan Kevin duduk berpelukan. Tak jauh dari sepasang suami istri, terdapat seorang lelaki dengan penampilan santai namun wajahnya terlihat kacau. Aqila mendekat kearah kakaknya.
“Kakak,” panggil Aqila.
Adel mendongak mendengar suara sang adik yang ia rindukan. Matanya berkaca-kaca menatap adik yang dia sayangi sudah didepannya.
Aqila segera menghambur kepelukan Adel.
“Maafin kakak sayang,” bisik Adel.
“Kakak gak mau kamu sedih mangkanya kakak cari waktu yang tepat untuk memberitahumu,” lirih Adel.
Aqila bukannya menjawab ia hanya mempererat pelukannya. Saat ini yang dia butuhnya hanya pelukan. Adel membawa sang adik duduk dikursinya dengan mereka masih berpelukan.
“Sudah jangan menangis, lebih baik kita doakan Rossa supaya cepat membaik,” ucap Adel.
Aqila mengangguk lalu dia melepas pelukannya.
Kevin sendiri yang melihat kedatangan sang adik ipar tentu saja tak kaget namun yang membuatnya kaget lelaki yang berdiri dibelakang sang adik. Begitupun Adel, dia juga bingung kenapa adiknya bisa berangkat bersama lelaki didepannya ini.
“Maafin adik ipar saya sudah merepotkan anda Tuan Khali,” ucap Kevin sopan.
“Tidak apa-apa tuan,” sahut Khali ramah.
Kevin mengajak Khali menuju Restaurant terdekat untuk minum diikuti Adel dan Aqila dibelakang. Sengaja Kevin dan Adel membawa Aqila jauh dari Rey agar adiknya tak bersedih kembali.
----*----
Restaurant.
Setelah makanan dan minuman mereka tertata rapi diatas meja. Mulailah mereka menyemil makanan secara perlahan. Aqila sedang mencoba merancang kata yang tepat untuk bertanya pada kakaknya.
“Kak,” panggil Aqila.
“Ya sayang,” sahut Adel.
“Sejak kapan kakak tau?” tanya Aqila pelan.
“Beberapa hari yang lalu saat Rey kerumah,” ucap Adel dengan menatap pada sang adik.
__ADS_1
“Terus kenapa kalian tak bilang padaku?” seru kesal Aqila.
“Kamu kontrol dulu emosi kamu dek,“pinta Adel
Aqila mengatur deru nafasnya yang ingin membuncah. Dia harus ingat dia tak boleh emosi dalam keadaan ini.
“kakak takut kamu masih belum siap untuk kembali kemari. Apalagi ketemu sama Rey, kakak gak mau kamu jatuh kepelukannya lagi dan bersedih,” lirih Adel.
“Usst kakak ngomongnya ngelantur,” ujar Aqila geleng-geleng kepala.
“Loh serius La kakak gak bercanda,” tutur Adel.
“Iya iya kak aku percaya,” ucap Aqila.
“Tapi aku memang udah melupakannya kak,” sambung lirih Aqila.
Adel menatap penuh dalam kearah mata sang adik dan benar saja disana hanya terlihat ketulusan Adel. Sudah tak ada tatapan penuh cinta dimata Aqila. Aqila sendiri juga merasakannya bahwa dia sudah tak ada getaran aneh didadanya saat bertemu Rey tadi. Terkesan biasa saja hatinya saat ini.
Untung saja percakapan mereka hanya berdua, karena Pangeran Khali, Kevin dan Ibra duduk di meja sendiri di dekat meja Aqila.
Setelah Adel menjelaskan semua alasan dan membuat Aqila paham. Aqila tak marah kembali. Akhirnya mereka kembali kedalam rumah sakit diikuti Pangeran Khali dan Ibra.
Ketiga lelaki itu sedari tadi di restaurant hanya membahas bisnis. Lalu Adel dan Aqila duduk dimeja sendiri untuk saling menjelaskan agar tak salah faham.
Kelimanya berjalan menuju rumah skaitsakit untuk bertemu dengan Rossa. Dokter mengijinkan Aqila masuk karena pasien hanya memanggil nama itu saja didalam ketidak sadaran.
Masuk kedalam ICU, Aqila digiring untuk memakai seragam yang bersih dan steril. Setelah pakaian itu melekat Aqila mulai mendekat ke arah sahabatnya itu.
Semakin mendekat, pandangan Aqila semakin kabur. Air matanya menggenang sekali berkedip air mata itu akan jatuh.
Benar saja sedetik kemudian air mata itu telah menggenangi kedua pipinya. Aqila duduk dikursi samping ranjang. Dia menatap miris keadaan sahabatnya. Tubuhnya mengurus, wajahnya pucat dan terlihat sekali badannya dipenuhi oleh alat-alat bantuan kehidupan.
Aqila mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan sahabatnya itu. Mendekatkan tangan Rossa ke bibirnya kemudian ia mengecupnya lama sambil memejamkan matanya.
Dia sudah tak sanggup melihat sahabatnya tak sadarkan diri seperti ini. Jika dari awal dia tau pasti dia tak akan pergi.
“Sadarlah Ca aku sudah memaafkanmu,” gumam Aqila dengan menggenggam tangan sahabatnya dengan erat.
Kepalanya tertunduk, isak tangis memecah keheningan ruangan itu. Terdengar sangat memilukan memang suara tangisannya. Namun bagaimanapun Aqila mencoba menghapus air mata itu. Ia takut sahabatnya akan mendengar isak tangisnya.
Perlahan ia dikejutkan dengan gerakan di tangannya. Ia menatap tangannya yang digenggam erat oleh seseorang. Aqila segera menatap ke pemilik tangan itu.
Ya disana, Rossa tengah membuka matanya dan menatap kearahnya. Bibir pucat itu tersenyum namun air matanya menangis.
“Maafkan aku,” ucap Rossa dengan terbata-bata.
“Ustt sudah jangan berkata apapun,” tolak Aqila dengan menggeleng kepalanya.
“Tunggu sebentar disii aku akan memanggil dokter,” ucap Aqila dengan melepas tangan Rossa.
“Jangan,” ucap pelan Rossa.
“Aku tidak akan meninggalkanmu.” Yakinnya.
Rossa mengangguk lalu dengan perlahan Aqila keluar dan memanggil dokter yang ternyata berada didepan ruangan Rossa. Dokter segera masuk dan memeriksa Rossa diikuti Aqila yang berada dibelakang dokter.
Setelah dokter memeriksa, Aqila dapat menangkap wajah dokter yang seperti putus asa. Namun Aqila menepis dia mendekati sahabatnya sambil memaksakan senyum.
“Kamu mau apa sekarang Ca?” tanya Aqila pelan.
__ADS_1
“A-k-u m-a-u s-e-m-u-a k-e-l-u-a-r-g-a b-e-r-k-u-m-p-u-l.” Suara Rossa terdengr terbata.
Nafasnya sudah mulai agak berat, Aqila segera mengiyakan dia memanggil semua orang agar masuk kedalam. Semua orang berkumpul mengelilingi ranjang Rossa.
Pangeran Khali juga ikut namun dia berada sedikit jauh dari ranjang. Lebih tepatnya dia berada didekat Kevin karena ia merasa bahwa ia tak mengenal Rossa. Ia masuk hanya ingin tau semuanya dan juga memastikan gadisnya itu kuat.
“Mama,” panggil Rossa pada mamanya.
Mama Clara mendekat dan mencium sayang kening sang anak.
“Rossa minta maaf ya ma, kalau Rossa selama ini ada salah sama mama. Tolong ampuni kesalahan Rossa ya ma. Rossa sangat bahagia karena allah telah menitipkan rossa diperut mama. Mama adalah mama terbaik yang rossa miliki ma. Jika Rossa pergi mama gak boleh nangis ataupun bersedih yah. Anak mama masih ada Aqila. Mama sudah anggap dia anak mama kan. Jadi sayangi dia ya ma,” lirih Rossa dengan suara terbata.
Mama Clara tak bisa bersuara dia hanya mengangguk dan menciumi seluruh wajah sang anak yang sudah semakin pucat dan lemah. Rossa beralih menatap mama mertuanya.
“Kemarilah ma,” ujar Rossa menatap mama mertuanya.
Mama Ria pun mendekat menggantikan posisi Mama Clara. Dia tersenyum menatap wajah menantunya itu.
“Mama, Rossa mau minta maaf yah. Jika semenjak jadi menantu mama, Rossa ada salah mohon maafin Rossa ya ma. Rossa sayang banget sama mama. Rossa seneng punya mertua baik kayak mama dan juga Rossa titip jagain Mama Clara ya ma. Jangan biarkan dia sendirian,” lirih Rossa dengan mata sendunya.
Tak ada air mata dimatanya hanya tersirat ketulusan dan kepasrahan saja. Dia beralih menatap Rey. Tersenyum lebut dan mengulurkan tangannya meski terasa sulit. Rey menggapai tangan Rossa dan mendekat.
“Ada apa hmm?” tanya Rey menekan agar ia tak menangis.
Belum menjawab Rossa menatap Aqila. Dia mengulurkan tangannya ke aarah sahabatnya dan ditangkap oleh Aqila. Kedua tangan Rossa berada diatas dadanya dengan menggenggam erat tangan kedua orang terpenting dihidupnya.
“Untukmu mas, Rossa ucapin makasih karena mas mau menikah sama Rossa. Rossa bahagia bisa jadi istri mas meski hanya sebentar. Rossa sangat mencintai mas dari kita kecil mas. Namun aku tau cinta mas dulu hanya sebagai teman tak lebih tapi aku tak marah mas. Aku sudah senang bisa menikah denganmu meski harus melalui perjodohan. Jika aku ada salah juga maafin aku ya mas.” Suara Rosaa kian memberat dengan tarikan nafasnya.
“Ustt udah jangan bahas yang aneh-aneh. Kamu bakalan sembuh Saa,” Lirih Rey menahan air matanya.
Sungguh saat ini ia tak kuasa menatap mata itu. Mata yang selalu menatapnya penuh cinta sekarang terlihat pasrah dan lemah.
“Aku tidak apa-apa mas,” lirih Rossa dengan tersenyum.
Rossa bergantian menatap sahabatnya dan tersenyum.
“Terimakasih sudah memaafkanku La,” lirihnya.
“Ussttt dalam persahabatan tak ada kata terimakasih,” ujar Aqila dengan menggelengkan kepalanya.
“Tapi aku harus bilang makasih karena kamu merelakan Mas Rey untukku. Makasih kamu sudah mengikhlaskannya untukku La. Aku sayang padamu sahabatku,” ucap Rossa.
“Aku juga sangat menyanyangimmu. Berjanjilah untuk sembuh,” lirih Aqila.
Rossa tak menjawab dia hanya tersenyum. “Bolehkah aku meminta sesuatu darimu?” tanyanya pada Aqila.
“Mintalah apapun jika bisa aku akan mengabulkannya demi untukmu,” ucap yakin Aqila.
Ruangan itu mendadak hening. Hanya bunyi detak jantung dari alat yang terdeteksi dengan jantung Rossa. Semua orang menunggu dengan jantung berdebar apa yang akan diminta Rossa di saat seperti ini.
“Tolong menikahlah dengan Rey setelah aku tiada.”
----*----
Selamat membaca.
Wahhhh hahaha jemuran tetangga mangkir dimari.
Mau tau jawabannya gak? Kepo gak hehe
__ADS_1
Bab ini bab terpanjang dalam sejarah yah hehehe. Kalau nanti sore gak up ya besok hahaha soalnya author belum ada stok bab buat nanti sore.
Tapi kalau LIKE, KOMEN DAN VOTE KENCENG DAN MEMBLUDAK MUNGKIN AUTHOR BAKAL NULIS BUAT NANTI SORE HEHEHE.