
“Sesibuk apapun kita pada urusan dunia maka jangan pernah lupakan urusan kita untuk akhirat.” ~Aqila~
.
.
.
Para relawan pun mulai memanjat doa ketika pesawat yang mereka naiki mulai memberikan informasi jika pesawat akan lepas landas. Aqila tak henti-hentinya berdoa pada Allah agar ia diberikan kesempatan untuk kembali ke Indonesia dengan keadaan sehat wal’afiat.
Bisa dikatakan perjalanan relawan saat ini adalah yang pertama kalinya dalam sejarah Indonesia-Palestina. Setelah menempuh perjalanan dua hari dua malam dari Indonesia, akhirnya 32 relawan Indonesia berhasil memasuki Gaza, Palestina.
Penantian akan kepastian untuk memasuki Gaza bukanlah waktu yang singkat. Selama lima tahun segala upaya dilakukan agar bisa memasuki wilayah yang terblokade tersebut. Proses perizinan, audiensi mulai dari Presiden RI, Wakil Presiden RI dan Menlu RI- pun membuahkan hasil. Dilepas oleh Gubernur DKI Jakarta di Balai Kota Jakarta, para relawan ini pun meninggalkan tanah air menuju Gaza.
Para relawan berangkat pada Minggu dan mendarat di Kairo pada pukul 02:00 dini hari waktu Mesir. Mereka kemudian bersilaturahmi dengan Bapak HF selaku Dubes RI di Mesir. Tim yang diketuai oleh Ir. Halim ini.
Tim ini menyampaikan bahwa misi mereka di Gaza adalah melanjutkan pembangunan Rumah Sakit Indonesia, yaitu lantai dua dan lantai tiga, yang merupakan amanah dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Rumah sakit yang didirikan di Bait Lahiya Gaza Utara ini menjadi simbol persahabatan Indonesia dan Palestina. Dan juga untuk memberikan sumbangan bagi rakyat yang membutuhkan disana.
Usai shalat subuh, didampingi tim KBRI Kairo, tim bertolak menuju Dermaga penyebrangan Maaddiyah di kota Ismailiyyah, yang terletak tak jauh dari jembatan terusan Suez.
Waktu yang ditempuh oleh tim dari Kairo menuju Rafah terbilang singkat, yaitu kurang dari 18 jam. Tidak seperti biasa, orang-orang yang menempuh perjalanan serupa harus menghabiskan waktu setidaknya tiga hari tiga malam. Pengawalan dari militer Mesir dan koordinasi dari pihak KBRI Kairo menjadi faktor pendukung yang singkatnya perjalanan tim ini.
Selama perjalanan Aqila dan Dini pun tak beranjak menjauh satu dengan yang lain, bahkan keduanya kerap bergandengan tangan karena hati nereka sama-sama berdebar. Keduanya tak lupa memanjat doa dan berdzikir agar diberi keselamatan ditanah Palestina itu.
“La serem gak sih?” tanya Dini.
“Ih apaan sih udah jangan bikin parno,” gerutu Aqila.
Pukul 12:00, putus kontak terjadi hingga empat jam antara tim KBRI Kairo dan tim di Gaza. Melewati zona militer berbahaya, terutama saat berada di terusan Suez hingga kota El Arish, sinyal komunikasi benar-benar terputus.
“La ini serius nakutin banget suwerr,” ucap Dini dengan badan gemetar.
“Udah jangan bikin orang tambah takut banyak doa dalam hati,” ucap Aqila menenangkan.
Dini menatap benda pipihnya. “Gak ada sinyal La,” ucap Dini memperlihatkan ponselnya.
“Iya bener lo,” ucap Aqila manggut-manggut.
Tapi Aqila tak menghiraukan itu. Ia masih fokus berdzikir dalam hatinya agar bisa melewati perjalanan ini dengan selamat.
Bang Candra, relawan Indonesia yang telah lama menetap di Gaza menuturkan bahwa pukul 17:00 ia menerima pesan melalui Whatsapp dari tim KBRI Kairo, yang mendampingi para relawan. “Kami baru akan memasuki kota El Arish, alhamdulillah,” isi pesan tersebut.
Kota El Arish berada di pesisir pantai Mediterania. Kota ini menjadi tujuan wisatawan lokal dan mancanegara sebelum tahun 2011. Namun, berbeda dengan kondisi saat ini. Tak lagi ada wisatawan, bahkan hotel-hotel kosong tanpa pengunjung.
Beberapa menit setelah Adzan Maghrib, sekitar pukul 18:33 waktu Mesir, “Saya mendapat kabar terbaru bahwa seluruh tim relawan pertama sudah tiba di Ma'bar Rafah perlintasan antara Mesir dan Palestina, Ya Allah Alhamdulillah selalu diberi kemudahan oleh Allah Subhanahu wata a'ala,” ungkap Bang Candra penuh rasa syukur.
Selanjutnya, 32 relawan asal Indonesia dan tim KBRI Kairo menunggu proses admintrasi hingga koordinasi dengan petugas Imigrasi Rafah Mesir yang mestinya sudah ditutup pada pukul 16:00 waktu setempat. “Para relawan harus melewati proses stempel paspor. Tepat pukul 22.30, atas izin Allah dan doa teman-teman di Indonesia para relawan memasuki imigrasi Rafah, Gaza Palestina. Mereka disambut oleh pihak Kementerian Kesehatan Gaza dan pejabat Palestina lainnya,” tutur Bang Candra.
__ADS_1
Pukul 23:30, akhirnya relawan Indonesia berhasil memasuki pelataran dan Guest House Indonesia. “Haru dan syukur mewarnai suasana di pelataran RSI di Gaza utara. Tim mendapat sambutan hangat dari warga Gaza dan tim medis RSI. Bahkan, pasien pun menengok dari masing-masing jendela ruang rawat inap rumah sakit itu.
“Untuk para relawan sementara waktu kalian akan tinggal dirumah sakit ini, tidur dengan beralaskan karpet atau dibrangkar pasien,” ucap Ir. Halim sebagai ketua tim.
Semua relawan manggut-manggut tanda mengerti. Aqila sendiri ia menengok sekelilingnya. Mungkin sedikit merasa takut tapi harus bagaimana lagi dia harus bisa hidup disini selama hampir 2 bulan.
Aqila menengok ke arah Dini. Ia hampir meledakkan tawanya ketika melihat wajah Dini yang ketakutan dan seperti enggan untuk menginap disini.
“Kamu yakin La mau tidur sini?” tanya Dini.
Aqila mengangguk.
“Tapi ngeri lo La,” ucap Dini.
“Udah jangan dipikiran itu mulu nanti kamu gak bisa tidur lo,” ucap kesal Aqila.
“Iya iya,” jawab Dini ketus.
Akhirnya semua relawan diantar ketempat masing-masing. Para wanita diberikan dua ruangan yang menjadikan 1 ruangan untuk 6 orang wanita. Dan seperti lem Dini tak mau dipisahkan oleh Aqila. Mau tak mau semuanya pun mengijinkan Dini yang berdekatan dengan Aqila.
Setelah menata semua perlengkapan yang mereka bawa, mereka menunaikan kewajiban umat muslim secara berjamaah. Ya meski mereka harus mengantri kamar mandi. Setelah selesai sholat mereka semua keluar langsung tidur agar besok badan mereka fit kembali.
Keesokan harinya.
Semua orang telah berkumpul didepan rumah sakit untuk melaksanakan sarapan pagi bersama. Ir. Halim pun memberikan sambutan-sambutan kecil terlebih dahulu.
Aqila dan Dini membantu para wanita yang mulai membawa nampan berisi makanan khas Palestina.
“Itu apa La?” tanya Dini.
“Entahlah,” jawab Aqila.
“Kok kek gitu sih,” gidik ngeri Dini melihatnya.
“Hus gak boleh gitu,” sikut Aqila.
Dini hanya diam cemberut. Dia menatap makanan-makanan itu didepannya tanpa minat. Aqila sendiri penuh semangat memberikan pada orang-orang didepannya.
"Shukraan,” ucap wanita berpakaian putih bertudung hitam berwajah khas Palestina.
“Na’am,” saut Aqila dengan tersenyum.
Dini sendiri bingung apa yang diucapkan keduanya.
“Kamu ngomong apa?” tanya Dini.
“Dia bilang terima kasih ya aku jawab iya lah Din, astaga,” ujar Aqila menepuk dahinya.
__ADS_1
“Namanya aja aku gak bisa ngomong arab,” gerutu Dini.
“Ya mangkanya belajar,” saut Aqila.
“Efu sayidati (permisi),” pamit Aqila pada Wanita Palestina dan dia pun mengangguk.
“Assalamu’alaykum.”
“Wa’alaykumsalam.”
Aqila dan Dini pun beranjak dari duduknya lalu bergabung dengan para relawan wanita yang lain. Aqila mengeluarkan kotak makan itu dan memberikannya pada Dini.
Dini membukanya dan ia menelan ludahnya kasar.
“Kamu tau apa nama makanan ini La?” tanya Dini.
“Tau,” saut Aqila.
Aqila menengadahkan tangannya dan berdoa,
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Alaahumma barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa 'adzaa bannar”
"Ya Allah, berkahilah untukku dalam sesuatu yang Engkau rezekikan kepadaku, dan peliharalah aku dari siksa kambing." (HR.Ibnu Sunni).
Selesai berdoa Aqila menatap Dini yang masih menunggunya jawaban.
“Ini namanya Hummus,” seru Aqila.
“Hummus?,” ulang Dini.
“Iya, Hummus itu makanan yang paling legendaris di Palestina karena sudah ratusan tahun hadir di wilayah Timur Tengah. Makanan ini sendiri memiliki tekstur yang lembut dan juga lumer ketika sudah masuk ke mulut mirip dengan tekstur bubur pada umumnya. Makanan ini terbuat dari beberapa bahan, antara lain wijen giling, kacang arab, zaitun, garam, dan juga bawang putih. Selain itu, makanan ini akan cocok jika disajikan sebagai cocolan roti, bola ayam atau daging,” ucap Aqila menjelaskan.
“Oh,” Dini mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ayo makan,” ajak Aqila.
Akhirnya mereka melaksanakan sarapan sederhana itu. Meski aneh dilidah mereka tetapi bisa tertelan habis karena mereka memang sedang kelaparan.
--*--
Selamat membaca season 2 😚
Mbak Aqila cepet pulang ke Jakarta yah, banyak yang kangen nih!
Hihihi
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH.