
“Aku hanya meminta terimalah hadiah terindah ini untuk yang terakhir kalinya dariku.” ~Rey~
.
.
.
Setelah pelukan terakhir itu terlepas keduanya terdiam, Rey sendiri hanya menatap wajah cantik Aqila sedang sang empu hanya diam sambil menunduk.
“Apa sudah tak ada lagi yang ingin kamu sampaikan?” tanya Aqila.
“Masih ada 1 lagi aku berdoa semoga kamu menerimanya,” ucap Rey.
Aqila mendongak menatap wajah Rey. Alis nya terangkat pertanda dia bertanya apa.
Rey berjalan masuk kedalam rumah, dan disana ternyata sudah ada Bima yang sedang duduk santai sambil menatap laptop didepannya.
“Mana Bim,” ucap Rey sambil menengadahkan tangannya.
“Ini taun,” Bima berdiri dan menyodorkan berkasnya.
Ia baru sadar jika tuannya sudah berdiri disampingnya. Rey segera menerimanya dan keluar menghampiri Aqila.
Aqila menatap berkas yang dibawa oleh Rey. Sepertinya dia tau apa yang akan Rey bahas.
“Kalau kamu mau bahas,” belum selesai Aqila bicara ucapannya telah terpotong oleh Rey.
“Ku mohon terimalah hadiah dariku untuk yang terakhir kalinya,” ucap Rey dengan wajah penuh permohonan.
Aqila masih terdiam menatap sayu berkas didepannya. Dia ingat kata-kata Rey yang membuat rumah ini untuk mereka tinggali. Tapi sayangnya semua itu hanya angan-angan sekarang. Dia dan Rey tidak bisa bersatu. Itu hanya mimpi mereka saja.
Aqila menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia mengangguk samar tanda setuju akan menerima rumah ini.
“Tapi,” Aqila menggantung.
Rey masih menunggu. “Misal rumah ini aku tinggali bersama mamaku, atau aku membuat taman baca disini apa boleh?” tanya Aqila.
Mau tak mau Aqila harus ijin karena menurutnya rumah ini tetaplah rumah Rey. Rey tertawa geli mendengar ucapan Aqila.
“Bukankah rumah ini sudah menjadi milikmu,” ucap Rey dengan menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Tapi tapi ini rumah kan kamu yang bangun, tetap saja aku harus ijin,” saut Aqila.
“Tapi mulai detik ini rumah ini adalah milikmu. Terserah kamu mau diapakan rumah ini yang pasti aku sudah senang telah mewujudkan salah satu impianmu,” ucap Rey berbangga hati.
Aqila tersenyum ternyata rasanya memaafkan seseorang membuat hati tenang. Bahkan Aqila merasa hatinya tak sakit lagi.
“Baiklah terserah aku yah,” goda Aqila.
Rey mengangguk setuju.
Aqila menatap jam dipergelangan tangannya. “Sepertinya aku harus pergi,” ucap Aqila.
“Mau kemana?” tanya Rey.
“Gak kemana-mana” Aqila terkekeh, “Aku mau tidur aja,” sambung Aqila.
“Astaga aku kira apa,” saut Rey geleng-geleng kepala.
“Kan udah gak ada lagi yang disampein,” ucap Aqila polos.
__ADS_1
“Apa kamu mau makan siang denganku,” tawar Rey.
“Masih jam 11 sudah mengajak makan siang?” tanya Aqila.
“Kan aku nawarin dulu,” seru Rey.
Aqila menimang-nimang tapi ia terhantam kenyataan yang tak boleh ia lupakan. Lelaki didepannya adalah calon dari sahabatnya. Bagaimana jika Rossa melihatnya makan siang dengan Rey. Bisa bisa Rossa salah faham dengannya.
“Bisa kah kita makan siang disini saja,” ucap Aqila.
“Memangnya kenapa jika diluar?” tanya Rey heran.
“Aku takut Rossa memergoki kita,” lirih Qila.
“Sejujurnya aku mau jujur sama Rossa kalau gadis yang aku suka yaitu kamu,” ucap Rey.
“Apa!” Aqila membulatkan matanya.
“Ku mohon jangan mas,” pinta Aqila.
“Memangnya kenapa?” tanya Rey.
“Ku mohon turuti saja. Jangan bicara apapun pada Rossa tentang kita.”
“Tapi biar Rossa tau bahwa kamu adalah orang yang aku cintai.”
“Enggak mas enggak jangan, plis kumohon jangan bilang apapun pada Rossa. Aku tak mau dia salah faham denganku dan rusak persahabatan kita,” lirih Aqila dan matanya berkaca-kaca.
Mau tak mau Rey pun mengangguk setuju. Menatap mata cantik itu berkaca saja sudah membuat Rey tak tega dan langsung setuju.
--*--
Alex sendiri yang menatap keadaan James pun menjadi tak tega. Sepertinya kali ini ia harus meminta bantuan Aqila untuk bisa membuat James sadar.
Alex pergi keluar dan merogoh ponselnya. Ia mencari nomor ponsel Aqila dan segera menelfonnya.
Tut tut.
Tut tut.
Hingga dering tiga kali panggilan itu tak terhubung. Dan akhirnya Alex mencoba kembali untuk yang terakhir kalianya dan tersambung.
“Ya kak,” suara Aqila dari seberang.
“Kamu dimana?” tanya Alex.
“Aku lagi makan siang sama temen kak, kenapa?” tanya Aqila.
“Apa kamu bisa datang ke rumah tembak,” ucap Alex.
Aqila terdiam diseberang terdengar helaian nafas diseberang.
“Baiklah nanti aku akan kesana,“ucap Aqila lemas.
“Kakak tunggu yah,” ucap Alex.
“Iya kak,” saut Aqila.
Dan panggilan pun terputus. Alex masuk kedalam rumah dan menghampiri James. Ia menarik satu botol minuman yang berada ditangan James.
“Sudah James berhenti,” ucap Alex sambil membuang minuman itu.
__ADS_1
“Hei kenapa kau buang,” ucap kesal James yang sudah dipengaruhi alkohol.
“Kau sudah banyak minum James. Ayolah sudah cukup semua ini. Kau harus ingat ada anakmu diperut Luna,” ucap Alex.
“Hahahhahahaha anak, itu bukan anakku,” James berdiri sambil sempoyongan.
“Kau sudah terlalu mabuk ayo kembali ke kamar,” Alex menghampiri James.
Ia memapah James yang sempoyongan untuk kembali ke kamar. Ia membuka pintu dan segera masuk merebahkan James ke ranjangnya dan menyelimutinya.
Alex menatap nanar kearah James.
“Hidupmu begitu kacau saat ini. Padahal dulu ketika masih bersama Aqila kamu selalu hidup sehat tapi sekarang,” lirih Alex menatap iba sahabatnya.
Ia keluar dari kamar dan berpapasan dengan Luna.
“Kamu darimana?” tanya Alex heran.
“Keluarlah,” ucap Luna.
“Ingat ya kamu lagi hamil anak James jangan banyak tingkah,” ancam Alex.
“Iya iya,” ketus Luna lalu ia masuk ke dalam.
Alex hanya menghembuskan nafas kasar dan keluar rumah.
--*--
Ditempat Aqila.
“Siapa?” tanya Rey pada Aqila.
“Kak Alex,” ucap Aqila.
“Untuk apa dia menelfonmu.”
“Gak ada dia hanya minta aku mampir aja,” ucap cuek Aqila.
Keduanya kembali menyantap makan siang yang sempat terganggu karena telfon dari Alex. Selesai makan siang Aqila segera pamit pulang pada Rey. Mau tak mau Rey mengijinkan.
“Sekali lagi mohon maafkan aku telah mendustai segalanya dan aku minta kamu tetap mau bertemu denganku ” ucap Rey.
“Pasti, mas sudah aku anggap sebagai kakak aku sendiri ” saut Aqila sambil tersenyum lebar.
“Hati-hati pulangnya,” ucap Rey.
Aqila melambaikan tangannya lalu segera menginjak pedal gas meninggalkan rumah impiannya itu. Diperjalanan Aqila bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan oleh Alex padanya. Tumben sekali lelaki itu memintanya datang ketempatnya.
Aqila menginjak pedal gas dalam. Kecepatan meninggi dan untung saja jalan sedang sepi. Jadinya tak perlu merasa takut dengan adegan Aqila yang mengebut.
Hingga akhirnya sampailah Aqila didepan rumah tembak. Aqila sudah siapkan mental jikalau nanti bertemu James didalam.
--*--
Nah kan sudah ketemu berdua kan gimana gimana hati kalian?
Apa aku masih terlihat jahat?
Maafkan author yah jangan gebukin author yang penting hehe.
YOK LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH
__ADS_1