Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 55


__ADS_3

“Rasanya aku masih merasa mimpi jika hari ini akan bertemu langsung dengan kedua pahlawanmu.”~Aqila Kanaira Putri Cullen~


.


.


.


Malam hari di Istana.


Pangeran Khali segera menuju ke meja makan, karena orang tuanya pasti akan menunggunya untuk bergabung bersama. Dengan senyuman manis, Khali berjalan mengayunkan kedua kakinya cepat ke meja makan.


“Assalamu’alaykum umi,” ucap Khali sambil mencium pipi Ibunda Ratu.


“Wa’alaykumsalam nak,” sahut Umi Mayra.


“Kakak aku juga gak dicium,” rajuk Haura sambil memanyunkan bibirnya.


“Uh adek abang kemarilah,” bujuk Khali.


Setelah selesai dengan drama adik dan kakak ,mereka segera makan malam dengan diam. Begitulah adat mereka, makan tanpa bicara dan dengan cepat. Setelah makan malam mereka habis terlahap, keempatnya beranjak menuju ruang keluarga. Sepertinya Raja dan Ratu ingin menyampaikan sesuatu pada kedua anaknya.


Khali sendiri sudah menyiapkan kata-kata untuk memulai pembicarannya itu.


“Khali,” panggil Raja Malik.


“Iya abi,” sahutnya.


“Bagaimana, apa kamu sudah mendapat keputusan?” tanya Raja Malik.


“Belum abi, Khali masih menunggu jawaban darinya. Namun kHali sudah mengajaknya untuk datang kemari,” ucap Khali tenang.


“Apa maksut kamu gadis dokter itu nak?” tanya Ratu Mayra.


“Iya umi, jika abi dan umi mengijinkan. Aku akan mengajaknya kemari,” sambungnya.


“Baiklah kami memberi ijin.” Raut wajah senang tergambar di wajah Umi Mayra.


Memang sejak beberapa tahun ini, Umi Mayra sudah meminta anak tertuanya mencari seorang pasangan agar segera menikah. Kehidupan di Istana sungguh sepi. Karena memang Raja Malik dan Ratu Mayra hanya dikaruniai dua orang anak. Oleh sebab itu, pasangan paruh baya itu ingin segera memiliki menantu dan cucu.


“Umi serius?” tanya Khali memastikan.


Ratu Mayra mengangguk dan mengembanglah senyum Khali.


“Ciee yang bahagia,” sindir Haura.


“Ya jelas dong,” sahut Khali.


“Huu cepat bawa kemari, agar aku punya kakak perempuan,” ucap Haura.


“Apa kamu ingin bertemu dengannya,” tanya Khali.


Haura cepat mengangguk.


“Datanglah ke rumah sakit milik Raharja di dekat Apartmen Mawar. Disana dia bekerja,” ujar Khali.


“Hah serius kak?” tanya Haura tak percaya.


“Iya,” Khali menjawab.


“Wah umi bolehkah aku besok kesana?” pamit Haura.


“Biarlah besok kakakmu mengajaknya kemari, nanti kau kesana setelah bertemu dengannya,” tutur Umi Mayra lembut.


“Baiklah.” Haura setuju.


Bagaimanapun seorang putri kerajaan tak bisa bebas untuk keluar. Apalagi kedua orang tuanya sangat menjaga Haura dengan baik. Kemana pun dia pergi penjagaan ketat pasti akan dilakukan. Sekalipun itu dari jarak jauh atau penyamaran tetap saja pasti banyak mata-mata untuk seorang putri.


Raja mulai beralih menatap putrinya itu.


“Sayang Haura. Maukah kamu membantu kakakmu melakukan perjalanan bisnis?” tanya Raja Malik.


Haura menoleh ke arah Abinya. “Boleh abi.”

__ADS_1


“Baguslah, minggu depan kamu ke Indonesia yah, ada beberapa pekerjaan disana nanti kamu akan dibantu asisten Abi,” ujar Raja Malik.


“Iya abi.” Mengangguk patuh.


Setelah obrolan penting itu berakhir. Akhirnya mereka semua masuk kedalam kamar masing-masing. Waktu sudah tak terasa menunjukkan pukul 21.00.


Sesampai dikamar, Khali segera merebahkan dirinya ke sofa dan merogoh ponselnya yang berada di saku celana.


Mencari nomor seseorang yang mengusik hatinya, kemudian menulis beberapa kata untuk di kirim. Setelah selesai ia segera mengirimnya dan meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Matanya masih terbuka menatap langit-langit kamarnya sambil membayangkan wajah imut gadis bergamisnya.


--*--


Di Apartmen.


Aqila baru saja selesai membersihkan alat memasaknya, setelah semuanya beres, gadis itu segera kembali ke dalam kamar. Menidurkan tubuh lelahnya dan mulai memejamkan mata. Baru 5 menit dia terpejam, suara handphone mengagetkannya.


Beranjak malas lalu mengambil ponsel yang ia charger di dekat meja rias. Dilihatnya sebuah pesan masuk di notifikasi. Ia menekannya dan matanya membulat sempurna saat tau siapa yang mengirim pesan.


Pemilik senyum manis.


Besok aku akan menjemputmu ke Istana pukul 09.00. Selamat istirahat gadis bergamis.


Senyum lebar menghias di wajah Aqila. Gadis itu bahkan membawa ponselnya dan membaringkan tubuhnya ke ranjang. Ia pandangi pesan pendek itu.


“Ya allah. Beneran dia mengajakku bertemu orang tuanya,” ucapnya pada layar ponselnya.


Aqila buru-buru menggeleng dan segera meletakkan ponselnya diatas nakas samping ranjang. Pikirannya tak boleh bertindak jauh, ingat memikirkan seseorang dan terlalu berharap juga tak boleh. Aqila segera memejamkan matanya setelah berdoa. Ia berharap semoga besok akan ia lewati dengan baik dan lancar.


---*---


Keesokan harinya.


Seorang gadis sudah berkutat di dapur untuk membuatkan dirinya sendiri sarapan. Hidup mandiri mengajarkan Aqila banyak hal. Dari tepat waktu, memasak, membersihkan semuanya sendiri bahkan kemandirian ia peroleh.


Dulu mungkin ketika di rumah Indonesia, ia lebih fokus berangkat bekerja tanpa memikirkan bersih-bersih dan memasak. Jika sekarang ia harus membagi waktunya untuk bekerja dan mengatur semuanya. Jika telat waktu sedikit saja maka jadwalnya akan hancur.


Hampir 1 jam dia berkutat didapur, akhirnya dua piring nasi goreng mata sapi telah tersaji sempurna. Aqila meletakkan 2 piring itu diatas meja makan dan menunggu kehadiran sahabatnya.


“Ya,” teriak Aqila.


Namun setelahnya dia memukul kepalanya karena lupa, meski ia teriak juga tak akan terdengar dari luar karena apartemen Aqila kedap suara. Aqila segera membuka pintunya dan disana, sahabatnya tengah tersenyum lebar.


“Selamat pagi,” sapa heboh Dini seperti biasa.


“Pagi,” sahut Aqila.


Dini masuk dengan semangat lalu segera menuju meja makan.


“Wah baunya aja enak, perutku rasanya sudah meronta,” goda Dini dengan mengelus perutnya


“Heleh, sudah sana makan,” sahut Aqila malas.


Membaca doa bersama-sama lalu segera memakan makanan sederhana namun jangan salah, Rasanya sungguh enak dan lezat. Bahkan sampai-sampai Dini minta menambah nasi. Untung saja tadi di penggorengan ada kelebihan nasinya sedikit.


“Kamu hari ini mau kemana?” tanya Dini saat mereka sudah selesai makan.


“Aku akan keluar,” ucap Aqila sesudah meminum segelas air.


“Keluar kemana?” tanya Dini heran.


“Entah,” ucap Aqila dengan mengangkat kedua bahunya.


Dia malu untuk bilang pada sahabatnya jika dirinya akan kerumah Khali. Lebih seperti ini, teka teki pikir Aqila.


“Lah kok bisa gaktau sih,” kesal Dini.


“Ya kan aku diajak,” ucap Aqila acuh.


“Hayoo diajak siapa woy,” heboh Dini.


“Huss jangan rame-rame,” kesal Aqila.


“Ya kalau gak mau rame, bilang dulu sama siapa?” bujuk Dini.

__ADS_1


“Khali.”


“Apa!!” teriak Dini.


“Astagfirullah, dibilangin jangan teriak-teriak kok. Kamu cewek loh,” ujar Aqila.


“Heheheheh keceplosan La.” Cengengesan.


“Keceplosan kok tiap hari,” sindir Aqila.


“Ya biarin.”


Ya begitulah kedua gadis itu, tak ada hari tanpa bertengkar. Namun pertengkaran itu hanya sepele tak memakai hati. Keduanya berniat hanya bercanda agar suasana mereka tidak serius melulu.


Setelah keluarnya Dini dari apartemennya. Aqila segera bersiap karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


---*---


Pukul 09.00


Saat Aqila baru turun ke bawah, disana sudah ada sebuah mobil sport keren berwarna hitam. Berjalan secara anggun menuju mobil lalu keluarlah lelaki yang ia tau yaitu asisten dari si pemilik senyum manis.


“Silahkan masuk nona,” ucap Ibra sopan.


Aqila tersenyum dan segera masuk ke dalam mobil.


Mencoba mencari duduk yang enak dan menenangkan debaran hatinya yang sudah berdentak cepat. Sungguh tangannya sudah dingin, ia merasa gugup dan tak percaya diri. Sepanjang jalan, Aqila menatap jalanan sambil meremas jarinya. Terlihat sekali jika gadis itu sedang gelisah. Hanya butuh waktu 15 menit mereka sudah tiba di gerbang Istana.


Gerbang nan indah dan menjulang tinggi itu terbuka. Lalu terlihatlah banyak pengawal berbaris. Bahkan halaman istana begitu bersih nan indah. Banyak bunga berpot tertata rapi disana. Jantungnya semakin tak karuan membayangkan bagaimana reaksi orang tua lelaki itu.


Mobil berhenti didepan pintu utama, Ibra membukakan pintu mobil dan sedikit menunduk.


“Selamat datang nona,” ucap Ibra sopan.


“Iya dan trimakasih,” ujar Aqila lembut dengan tersenyum.


Berjalan pelan menaiki tangga menuju kearah pintu, disana lelaki pemilik senyum manis sedang berdiri tegak seperti menunggunya. Wajahnya bahkan semakin tampan dan lihatlah tubuh tegab dan dada bidangnya masih terlihat meski terbalut oleh kemeja berwarna navy pula.


Seketika Aqila menunduk malu, ketika dia menyadari bahwa kehadirannya menjadi pusat perhatian. Lelaki itu juga menatap intens ke arahnya. Suasana ini membuat Aqila ingin sekali menenggelamkan dirinya di dalam tanah.


“Assalamu’alaykum,” salam Aqila saat sudah berdiri di depan Khali.


“Wa’alaykumsalam,” sahut Khali.


“Silahkan masuk,” sambung Khali dengan ramah.


Aqila tersenyum dan mengikuti Khali. Berjalan bersisian meski ada jarak, mereka sudah terlihat seperti pasangan couple. Bagaimana tidak, baju sama dan wajah pun tampan dan cantik. Yang melihat pun pasti banyak yang iri dan terkagum.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka telah sampai disebuah ruangan. Disana pasangan paruh baya sedang duduk bercengkrama dengan seorang gadis. Jantung Aqila semkain berdetak kencang tak karuan ketika jarak mereka telah dekat.


“Assalamu’alaykum ayahanda,” ucap Khali.


“Wa’alaykumsalam,” sahut pasangan paruh baya itu.


Raja Malik dan Ratu Mayra mendekat ke arah Aqila dan Khali. Secara spontan Aqila segera menunduk sopan memberi salam dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ratu Mayra. Sambutan itu dibalas dengan hangat oleh Ratu Mayra bahkan Ratu tanpa sungkan memeluk tubuh Aqila yang membuat gadis itu merasa senang.


Raja Malik tetap meneliti gadis didepannya, namun karena Aqila menunduk ia bahkan belum bisa menatap wajah itu. Ketika sudah berpelukan dengan Ratu Mayra, Aqila segera beralih menyatukan dua tangannya didepan dada dengan mengangkat wajahnya untuk memberi salam.


Saat ini wajah itu terlihat jelas di mata Raja Malik. Matanya terbelalak, melihat gadis didepannya memang memiliki wajah yang mirip dengan seseorang yang selama ini ia cari.


“Masya allah apa ini sebuah kebetulan.”


---*---


Cukup sampai disini heheh.


Kebetulan ketemu kali yah? hahaha rasanya seneng bikin orang penasaran sama menebak-nebak. Hihihi


Yang sabar yah. harus tenang dan sabar kalau baca novel ini. Jangan lupa bawa kacang buat nyemil sambil baca ini novel.


Yang minta Crazy up, mohon maaf belum bisa yah. Ini aja aku lagi sendirian dirumah. Jadi mohon pengertiannya.


JANGAN LUPA LIKE. KOMEN DAN VOTENYA YAH.

__ADS_1


__ADS_2