
“Ingatlah! seberapa banyak Allah memberi ujian kepadamu, jangan pernah berfikir untuk menyerah. Tanamkan pada hatimu, setiap ujian yang Allah beri, pasti dibalik itu semua Allah menyiapkan hasil akhir yang begitu indah.” ~Author JBlack~
.
.
.
“Saya terima nikah dan kawinnya Aqila Kanaira Putri Cullen binti Abdullah Khalid dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Ada perasaan lega yang tak bisa di jabarkan. Ada kupu-kupu bertebaran di hati Khali. Ia mengucapkan syukur dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sudut matanya meneteskan air mata. Ia tak menyangka dirinya sudah menjadi seorang suami. Khali mengusap air mata yang tak berhenti mengalir. Semua orang menengadahkan kedua tangan mendengarkan doa yang dibacakan oleh penghulu hingga selesai.
Hingga akhirnya waktu untuk bertemu wanitanya, pengantinnya, istrinya telah tiba. Dia memutar kepalanya untuk menunggu dipintu yang sudah disediakan di samping masjid. Terbukalah pintu itu perlahan.
Khali menahan nafas. Maniknya terpaku dengan obyek yang sungguh begitu mempesona. Senyuman lebar menghiasi wajah Khali. Kali ini waktu seakan berhenti berputar.
Khali seakan tak bisa melepaskan tatapannya pada sosok wanita yang berjalan ke arahnya. Semakin mendekat semakin mengembang senyum keduanya.
Khali mulai mengulurkan tangannya ketika tepat sang gadis berhenti didepan tubuhnya. Tangan itu masih menggantung. Aqila tak langsung menyambut uluran itu. Ia masih ragu karena baru kali ini mereka akan saling bersentuhan secara sengaja.
Secara perlahan Aqila mengulurkan tangannya menerima uluran tangan Khali. Pertama kali keduanya bersentuhan membuat sengatan listrik ditubuh Aqila. Aqila sempat gemetaran merasakan gelenyar aneh ditubuhnya. Perlahan ia mendekati Khali lalu melingkarkan tangannya dilengan Khali.
Khali membantu Aqila untuk duduk disamping tempat yang ia duduki. Keduanya mulai berhadapan dengan penghulu. Penghulu memberikan dua buku nikah untuk ditandangani oleh keduanya.
Secara bergantian keduanya mulai menggoreskan tinta hitam itu pada buku nikah mereka dan itu pertanda bahwa mereka sudah menikah secara negara. Setelah selesai, sekarang waktunya keduanya untuk saling memakaikan cincin di jari mereka.
Khali membantu Aqila berdiri dan mulai bergeser tempat karena para fotografer meminta mereka mengabadikan momen ini. Haura yang membawa nampan berisi kotak beludru itu mendekat.
Perlahan Ratu Mayra membantu putranya mengambilkan cincin untuk dipakaikan ke jari Aqila. Ditariknya pelan jemari Aqila lalu dimasukkan cincin itu secara perlahan ke jari manis kanannya. Setelah terpasang sempurna, bergantian Aqila memakaikan juga cincin itu dijari yang sama pada Khali.
Akhirnya cincin itu sudah tersemat di kedua jari manis Aqila dan Khali. Perlahan Khali mendekat dan meletakkan telapak tangan kanannya diatas kepala sang istri dan tangan kirinya menengadah. Begitupun Aqila, dia sedikit menunduk dan menengadahkan kedua tangannya.
Pelan tapi pasti Khali membaca doa doa sesuai ajaran rasulullah lalu ditutup dengan ciuman di dahi Aqila dan ditahan sebentar. Aqila merasakan benda kenyal itu menyentuh dahinya dan mulai terlepas perlahan bersamaan Aqila membuka mata. Setelah itu dia mulai meraih punggung tangan suaminya dan menciumnya dengan hormat.
Ahh rasanya meleleh. Ada yang iri ya siapa lagi kalau bukan para jomblo hihihi. Axel yang belum nikah hanya bisa elus dada liat tingkah keduanya. Akhirnya prosesi akad nikah telah selesai. Aqila dan Khali masih dimintai foto hingga beratus pose sudah mereka lakukan.
Saat para pencari foto pergi, Khali mulai mendekat dan menarik pinggang istrinya sedikit. Sekarang mereka sedang berada di luar masjid lebih tepatnya disamping kanan. Tadi para fotografer mencari tempat untuk mereka agar bisa foto berdua. Dan akhirnya kesempatan ini bisa membuat Khali berduaan dengan sang istri.
“Kau begitu cantik ya humairah,” bisik Khali tepat ditelinga kiri Aqila.
Ahhh ada yang berdebar tapi bukan genderang. Ada yang merah tapi bukan tomat. Ada yang malu tapi bukan putri malu. Jika dilihat dan tanpa make up sudah pasti wajah Aqila akan memerah. Mendengar bisikan sang suami saja begitu membuatnya bergetar. Apalagi kata-kata itu dilatunkan dengan lembut.
Khali yang melihatnya hanya tersenyum kecil lalu mendekatkan kembali bibirnya. “Mulai sekarang kau harus membiasakan diri dengan ini ya humaira.”
Aqila langsung mencubit lengan Khali. “Jangan menggodaku.”
“Hahaha.” Khali tertawa terbahak hingga membuat Aqila cemberut lalu meninggalkan Khali sendirian.
Khali yang tersadar segera menarik sang istri. Lalu menggenggam tangannya berjalan beriringan. Semua keluarga menyambut mereka dengan senyum lebar. Saling berpelukan mengucapkan terima kasih dan tak lupa memanjatkan doa untuk pengantin baru.
Ada rona kebahagiaan terpancar dari semua orang. Tatapan penuh cinta selalu diberikan keduanya saat mata mereka saling pandang. Lalu perlahan Khi dan Aqila melangkah menuju Rati Fatimah dan Raja Abdullah. Khali memeluk Raja Abdullah dengan erat.
“Tolong jaga cucuku dengan baik, kau tau bagaimana kehidupannya kan nak tanpaku. Sekarang tanggung jawab dia ada padamu,” bisik Raja Abdullah.
__ADS_1
“Iya kakek aku akan selalu menjaganya,” ucap Khali mantap tanpa ragu.
Perlahan pelukan itu terlepas dan bertukar tempat. Aqila memeluk sang kakek dengan meneteskan air matanya hingga akhirnya pelukan itu terlepas. Raja Abdullah menatap Aqila dan Khali bergantian.
“Jika kau sudah capek menghadapi cucuku atau bosan, tolong kembalikan secara baik-baik dia kepadaku. Karena aku akan selalu menerima cucuku apapun keadaannya,” ucap Raja Abdullah yakin.
“Aku tak akan pernah melepaskannya kakek,” sahut Khali.
Raja Abdullah menepuk pundak Khali dan tersenyum lebar. Ia begitu percaya jika pemuda didepannya bisa menjaga cucunya yang begitu dia sayang.
---*---
Setelah selesai dengan prosesi akad di masjid. Semua keluarga dan tamu undangan terdekat mulai kembali ke rumah Aqila karena bagaimanapun ada pihak tamu undangan sebagian yang jamnya berbeda diletakkan di rumah.
Sesampainya dirumah Aqila. Kedua pengantin baru langsung berjalan menuju kamar. Aqila dengan tak sabar ingin segera membuang hajat karena sudah tak tahan. Dengan berlari kecil ia menuju kamarnya dilantai dua. Dibukanya pintu warna coklat itu lalu segera melepas sepatunya.
Perlahan Aqila membuka pintu kamar mandi dan masuk. Rasanya begitu melegakan saat sedari tadi yang ia tahan akhirnya keluar.
Aqila segera keluar kamar mandi setelah selesai. Terlihat pintu balkonnya terbuka dan pintu kamar tertutup. Dengan perasaan berdebar Aqila berjalan mengendap menengok siapa yang berani masuk ke kamarnya.
Saat hendak bersuara tiba-tiba tangannya ditarik oleh orang yang tak lain adalah Khali suaminya.
“Ya allah aku kira siapa,” ucap Aqila kaget.
Dirinya mencoba memberontak karena posisi Aqila saat ini berada dipelukan Khali.
“Malu mas,” cicit Aqila pelan.
Khali tertawa terbahak. “Kita sudah sah sayang, kamu harus biasain.”
Aqila berhenti memberontak dia hanya diam menunduk. Sungguh ia merasa malu bukan main. Dirinya memang sudah lama tak bersalaman dengan lawan jenis. Inilah yang membuatnya merasa grogi setelah sekian lama tak kontak kulit dengan lelaki manapun.
Setelah semua siap, Aqila dan Khali berjalan bersama menuju taman belakang. Wajah bahagia dengan senyum mengembang terpancar jelas diwajah Aqila.
Sepanjang jalan menuju pelaminan sederhana, keduanya saling menatap dan melambaikan tangan ke para tamu. Hingga akhirnya keduanya sampai di pelaminan itu dan berdiri.
MC acara pun memulai acara, sambutan dari Khali dan Aqila juga diucapkan.
“Saya sebagai pemilik acara mengucapkan terima kasih atas kehadiran kalian dalam acara saya yang begitu membahagiakan ini. Saya ucapkan banyak terima kasih,” ucap Khali menatap semua orang.
Semua orang balas tersenyum ramah dan akhirnya mulai lah acara menjamu dan sesi foto sekaligus memberi ucapan selamat. Khali dan Aqila hanya saling menatap dan tertawa lebar. Kedua hati mereka sama berbunga dan sedang bertebaran cinta mereka. Tak tau tempat jika kemesraan mereka membuat hati Axel meronta.
“Ya tuhan kak, ngenes banget sih aku,” ucap Axel pada Adel.
“Hahaha mangkanya nikah,” ledek Adel.
“Nikah juga butuh pasangan kak,” kesal Axel.
“Ya iyalah. Sini kakak cariin,” goda Adel.
“Gak jadi, makasih banyak. Mending cari sendiri,” uajr Axel sebal sambil meninggalkan sang kakak.
Adel hanya geleng-geleng kepala dan mendoakan adik lelakinya segera menyusul. Lalu tatapan Adel berpindah ke arah Aqila.
“Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu dek,” gumam Adel dalam hati.
---*---
Satu persatu tamu undangan mulai bersalaman dan memberi selamat pada Khali dan Aqila. Dari kejauhan terlihat James dan Luna berjalan menuju sang pengantin.
__ADS_1
Saat sudah dekat, James dan Luna melemparkan senyum bahagia. James menyalami tangan Khali dan tak lupa doa untuk keduanya.
“Selamat ya atas pernikahan kalian, aku doain semoga pernikahan kalian sakinah, mawaddah dan warrahmah.”
“Aamiin makasih,” sahut Khali tegas.
Begitupun dengan Luna. Luna yang menyadari bahwa suami Aqila tak menyentuh wanita akhirnya dia segera menghampiri Aqila.
Luna segera memeluk Aqila erat dan menitikkan air mata.
“Maafin aku ya La, jika dimasa lalu aku begitu salah. Mengambil milikmu dan membuatmu sakit hati,” bisik Luna.
“Usst tidak apa-apa aku sudah memaafkan kalian. Yang penting sekarang kita sudah berdamai dan bahagia dengan jodoh masing-masing,” ujar Aqila melepaskan pelukannya.
Keduanya mengangguk dan tersenyum, lalu mulai berganti lagi para tamu undangan. Aqila yang mulai lelah memegang lengan Khali.
“Kenapa hm?” tanya Khali lembut
“Gakpapa mas,” sahut Aqila.
Tanpa mereka sadari ternyata ada seorang lelaki dengan seorang wanita sudah mendekat.
“Kenapa Aqila Kak?” tanya Haura tiba-tiba.
“Gakpapa kok Ra ” sahut Aqila.
Pengantin baru mulai menegakkan kepalanya dan Aqila terbelalak kaget melihat lelaki di depannya beriringan dengan Haura, membuat Khali dan Aqila saling pandang namun mereka hanya diam.
Lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah Rey mendekat ke arah Khali dan bersalaman.
“Selamat Tuan Khali. Semoga pernikahan kalian sakinah, mawaddah warrahmah dan segera diberi momongan.” Doa Rey.
“Terima kasih tuan Rey atas doanya dan kehadiran anda,” ujar Khali.
Rey mulai berpindah pada Aqila. Dia menangkupkan kedua tangannya dan dibalas juga hal yang sama dengan Aqila.
“Aku doakan semoga kamu bahagia selalu,” doa tulus Rey.
“Makasih. Aku juga mendoakanmu semoga kamu segera mendapatkan seseorang yang benar mencintai dan menerimamu,” doa Aqila.
Rey mengangguk lalu meninggalkan pelaminan dengan Haura.
Khali dan Aqila hanya saling tatap dan tersenyum bahagia. Tanpa malu Aqila mulai menghambur ke pelukan suaminya. Ia tak menyangka jika yang akan menjadi pundaknya adalah lelaki yang belum lama ia kenal. Lelaki yang tak pernah romantis dan mengenal cinta. Lelaki yang bahkan tak pernah merasakan pertemuan istimewa dengannya.
Namun bagaimana takdir tuhan yang bermain, banyaknya ujian dalam perjalanan cinta Aqila membuat Aqila sadar bahwa dirinya dulu telah jauh dari Allah. Maka dia bersyukur bahwa hijrahnya dia membuahkan hasil yang indah untuk dirinya.
Jodoh yang baik, suami yang pengertian dan mengerti agama. Aqila menikmati pelukan suaminya itu dengan perasaan hangat yang tiada tara. Perlahan Aqila mendongak dan dibalas tatapannya oleh Khali.
“I love you Imamku.”
“I love you too Humairahku.”
TAMAT
---*---
Alhamdulillah akhirnya TAMAT.
Mau ektra part gak? kalau mau yuk like yang banyak dulu. Like lebih dari 100 pasti aku up ekstra partnya yah😚
__ADS_1
JANGAN LUPA DI LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH!