
“Kenangan itu terlalu pahit hingga selalu terekam di memori otakku, bahkan ketika aku membukanya kembali perasaan sakit itu datang dan seperti meremas jantungku lagi.” ~Mama Angel~
.
.
.
“Mukanya mukanya ya allah,” ucapnya kaget.
“Bi bagaimana bisa bi?” tanya Mayra.
“Aku meminta Haki untuk mengawasi Khali dari jauh sayang. Saat tau dia dekat dengan wanita aku terus meminta Haki untuk mencari tau siapa dia dan betapa terkejutnya aku ketika melihat foto dirinya yang begitu mirip dengan Khalid,” lirih Malik.
“Berarti Khalid merubah nama dan identitasnya bi sebelum pergi?” tanya Mayra.
“Iya sayang,” sahut Malik sedih.
“Terus apa yang membuatmu tak bahagia bi?” tanya Mayra lagi bingung.
“Apa kamu tak mendengar tadi jawaban Aqila saat kamu tanya kedua orang tuanya?”
Mayra terdiam dan mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu dan,
Jderrr.
Bak disambar petir, dia baru tersadar ketika mengingat jika gadis tadi mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal. Itu tandanya jika Edward yang tak lain yaitu Khalid berarti dia sudah meninggal.
“Bi,” panggil Mayra dengan bibir bergetar.
Bahkan air mata telah menggenangi matanya.
“Itu tandanya kalau....,” Mayra tak sanggup meneruskan.
Dia menangis dipelukan suaminya. Sungguh ia tak menyangka bahwa kejadian ini berakhir seperti ini. Bahkan Mayra dulu menjadi saksi bisu persahabatan suaminya itu dengan Khalid.
“Yang sabar bi,” ucap Mayra dengan menangis sesegukan.
“Abi selalu menunggunya sayang, mas sabar menunggu kabar dirinya. Bakan semua detektif mas kerahkan untuk menemukannya. Tapi kenapa sekarang ketika kita sudah menemukan mereka, sahabatku sudah menghadap pada yang kuasa,” ucap Malik memeluk istrinya dengan menangis.
Sungguh dirinya begitu lemah jika sudah mengingat sahabatnya itu. Semenjak hilangnya sahabatnya Khalid, Malik menjadi lebih tertutup hingga dia menikah lalu mulai dia menata kehidupannya.
“Mayra tau bi, sudah abi gak boleh sedih begini,” bujuk Mayra.
Malik mengangguk dan mulai menghapus air matanya. Dia memeluk kembali istri yang sangat ia cintai itu. Mencium aroma tubuhnya yang sangat ia sukai.
“Ayo abi sekarang istirahat, nanti kita obrolin sama Khali,” ucap Mayra.
“Iya sayang,” sahutnya.
Kedua orang tua itu keluar dari ruang kerja Raja dan segera menuju kamarnya untuk beristirahat.
---*---
Apartemen Aqila.
Setelah kepulangan Khali dan Ibra. Aqila mulai menghempaskan tubuhnya pada sofa diikuti oleh Dini. Kedua wanita seumuran itu merebahkan diri untuk beristirahat.
“Kau belum cerita padaku,” ucap Dini.
“Besok aja oke,” sahutnya malas.
“Ishh aku ingin tau sekarang,” kesal Dini.
“Hah.” Menghela nafas berat.
Aqila mulai membenarkan duduknya dan bersandar pada sofa.
__ADS_1
“Sejujurnya aku tadi dari Istana Khali,” ucap Aqila mengawali.
“Apa!!” kaget Dini.
“Serius?” sambungnya tak percaya.
“Iya serius,” sahut Aqila.
“Terus?” tanya Dini.
Dan mulai lah cerita Aqila mulai dari berangkat, sikap hangat ibunda ratu bahkan jalan-jalan keliling istana bersama Haura. Semuanya diceritakan secara detail tanpa tambah kurang oleh Aqila.
“Seneng lo La?” tanya Dini.
“Banget,” shaut Aqila bahagia.
“Alhamdulillah gue juga ikut seneng.”
Aqila menoleh, mengernyit heran. “Maksud lo apaan?”
“Gue seneng liat lo bahagia gini. Jangan sedih lagi yah,” lirih Dini.
Mata Aqila berkaca-kaca dirinya segera memeluk sahabatnya itu dengan erat.
“Jangan tinggalin gue,” pinta Aqila.
“Gak bakalan La, gue juga jangan smpek lo tinggalin,” ancam Dini.
“Hhahahhaha ya gak bakal lah,” tutur Aqila.
Malam ini keduanya berniat untuk tidur bersama di apartmen Aqila. Menghabiskan waktu panjang untuk bercerita satu dengan yang lain. Ya beginilah jika besoknya hari libur maka malamnya akan menjadi hari yang panjang untuk istirahat bagi keduanya.
---*---
Keesokan harinya di Jakarta.
Lamunan Mama Angel buyar karena suara teriakan Axel. Ia mengecilkan kompornya dan meminta bibi menggantikannya.
“Apa sayang,” teriak Mama Angel.
“Dasi aku dimana ma?” tanya Axel.
“Astaga udah gedhe begini gak tau tempat dasi,” ejek Mama Angel.
“Tadi udah aku cariin tapi gak ada,” seru kesal Axel.
“Baiklah sebentar,” ucap Mama Angel.
Mama Angel masuk kedalam walk in closet anaknya dan mengambil dasi ditempat yang sudah ia rubah kemarin. Memang kemarin ia sengaja merombak walk in closet anaknya agar terlihat lebih luas dan rapi.
“Mama pakaikan yah,” ucap Mama Angel lembut.
Axel mengangguk sambil tersenyum. Mama Angel mulai mendekat dan melingkarkan dasi itu ke kerah baju anaknya.
“Kalau Axel udah nikah, nanti bakalan istri yang pakein dasi ini,” ucap Mama Angel.
“Iya ma tapi itu masih lama,” ujar Axel lembut.
“Kamu udah umur berapa sayang?” seru Mama Angel.
“Aku masih umur segini ma belum waktunya nikah,” ungkap Axel.
“Kamu udah 25 adikmu udah 21 kok. Gitu masih muda katanya,” dengus Mama Angel.
“Iya nanti kalau waktunya nikah pasti nikah ma,” ujar Axel bercanda.
Mama Angel hanya tersenyum dan merapikan dasi yang sudah menggantung indah.
__ADS_1
“Ganteng kan ma?” tanya Axel.
Deg.
Degub jantung Mama Angel berdetak kencang. Bahkan dadanya merasakan sesak. Ucapan ini sangat sama dengan ucapan almarhum suaminya dulu. Setiap kali suaminya ke kantor dia akan meminta dipakaikan dasi dan pasti memuji dirinya sendiri seperti ini.
Mata Mama Angel berkaca-kaca. Axel sendiri bingung kenapa mamanya hampir menangis.
“Mama kenapa ma? Apa Axel salah?” tanya Axel panik.
Mama Angel menggeleng lalu memeluk anaknya erat.
“Maafkan mama nak,” lirih Mama Angel.
Axel hanya bisa mengusap punggung sang mama dengan bingung.
“Kenapa mama minta maaf?” tanya Axel heran.
“Karena dulu kita pernah hidup susah sayang. Maafkan mama sama papa yah ” ucap Mama Angel dengan melepas pelukan.
“Ustt udah ma, dengan keadaan apapun Axel tetep bahagia, pokoknya aku terus bareng mama, Kak Adel sama Aqila ma,” ujar Axel tulus.
Mama Angel tersenyum dan menatap wajah tampan anaknya. Memang betul ketiga anaknya semua lebih banyak gen suaminya. Namun yang lebih mirip dengan Edward atau Khalid yaitu wajah Adel. Lalu baru Aqila selanjutnya yang mirip.
Bagaimanapun wajah suaminya dulu juga campuran arab dan bule. Itulah yang membuat anak-anak Angel dan Khalid berwajah blasteran.
Setelah drama kesedihan ibu dan anak itu. Mama Angel mengajak Axel untuk turun kebawah. Seperti biasanya keduanya sarapan bersama. Dilubuk hati Axel merindukan kehadiran sang adik yang selalu membuat ramai. Namun ia juga tak bisa melakukan apapun dengan keputusan adiknya.
“Ma,” panggil Axel.
“Ya sayang,” sahut Mama Angel.
“Kita ke Brunei yok ma,” ajak Axel.
Sontak Mama Angel mendongak dan menatap wajah putranya. Tak ada candaan disana bahkan terlihat sekali jika Axel sedang serius.
“Untuk apa sayang?” tanya Mama Angel.
“Kita jenguk Aqila ma, aku kangen dia,” ucapnya pelan.
Ibu anak tiga itu tersenyum. Inilah yang ia hasilkan ketika dulu merawat ketiga anaknya yang sangat ia sayangi satu dengan yang lain. Ketika dewasa ketiganya memang saling mengasihi bahkan tak pernah ada keributan besar.
Dulu Papa Edward selalu mengajarkan menyelesaikan semuanyaa dengan kepala dingin tanpa emosi.
Jadi sejak itulah semua anggota keluarga selalu mengingat nasihat dari kepala keluarga yang telah meninggal itu.
Setelah sarapan Axel segera berpamitan pada mamanya dan pergi meninggalkan rumah. Sedangkan Mama Angel dirinya membawa piring ke dapur dan membersihkannya.
Setelah semua selesai dia kembali ke kamarnya. Mengunci pintu dan berjalan menuju almari yang selalu ia kunci juga. Membukanya pelan dan mengambil sebuah kotak besar disana.
Diambillah kotak itu dan diletakkan diatas ranjang. Membuka gembok pada kotak dan mulai meletakkan kunci dan gemboknya diatas ranjang.
“Kuatkan aku ya allah,” gumam Mama Angel lirih sambil membuka kotak itu secara perlahan.
Ternyata dugaan memang benar. Ia tak akan pernah sanggup melihat isinya. Isi yang sudah banyak kenangan disana. Isinya sungguh membuat dirinya menangis dan otaknya selalu kembali ke masa lalu.
---*---
Coba tebak apa isinya ayo?
Gak telat lagi alhamdulillah untung saja. Gimana part ini uy?
Uhhh rasanya seneng kan kalau hati udah lega.
Yang mau masuk grub jangan lupa baca syarat masuk di bab 51 novel ini.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YAH.
__ADS_1