Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 17


__ADS_3

“Jangan jadikan doaku sebagai penghalang kebahagiaannya. Cukup selalu doakan yang terbaik, karena akan selalu ada yang terbaik untuk sesuatu yang aku ikhlaskan.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


.


.


.


Tatapan Aqila berhenti pada saat telingannya menangkap teriakan orang.


“Pengantin lelaki datang.”


“Wah penggiring pengantin lelaki datang.”


“Pengantinnya tampan sekali.”


Bisikan-bisikan itu ditangkap baik oleh telinga Aqila. Hingga ia tak sadar berbalik dan benar saja. Lelaki gagah dengan balutan jas putih yang membuatnya lebih terlihat tampan dan berkharisma.


Bahkan kehadirannya saja membuat wartawan dan setiap undangan menjadi tertarik. Banyak yang mengambil foto dan video saat Rey dan keluarganya berjalan menuju masjid. Saat Aqila ingin memutus tatapannya. Ternyata Rey mendongak dan tatapan mereka bertemu.


Aqila membatu, bahkan dia tak berkedip menatap Rey. Mata Rey penuh luka dan kesedihan bisa ditangkap oleh Aqila. Aqila tau lelaki itu pasti menahan semuanya, Aqila hanya membalas dengan sebuah senyuman lalu memutus kontak mata mereka.


Keluarga Kevin segera duduk ditempat yang sudah disediakan ,sedangkan Aqila berjalan menuju tempat Rossa berada.


“Assalamu’alaykum,” salam Aqila.


“Wa’alaykumsalam,” balas semua orang.


Rossa menjadi senang meski gugup diwajahnya masih terlihat. Aqila menggenggam tangan Rossa dan tersenyum.


“Doa sama Allah biar rasa gugupmu hilang,” ucap Aqila.


Rossa mengangguk sambil bibirnya tak henti memanjat doa.


“Pengantin pria datang loh mbak,” ucap periasnya yang berada didekat Aqila.


“Apa iya?” tanya Rossa gugup.


“Iya mbak, ganteng banget suami mbak lo,” ucap perias satunya dengan wajah berbinar.


“Ya harus dong mbak,” ucap Rossa bercanda.


Obrolan mereka berhenti karena suara penghulu sudah bergema. Tiap kata demi kata yang dilontarkan Penghulu membuat detak jantung Aqila berdetak kencang. Mungkin hatinya masih sakit tapi sudah tak sesakit dulu.


Aqila hanya bisa mengatur nafasnya, berdoa dalam hati dan berdzikir agar emosinya saat ini stabil. Hingga telinganya menangkap suara penghulu yang meminta Rey mengucapkan kata akad.


Dan terdengar kata sahhh menggema dimasjid itu.


Tes.


Sebutir air mata jatuh di mata kiri Aqila. Ia memejamkan matanya dan menunduk.


“Semoga Allah memberkati pernikahan kalian dan diberi keturunan yang shaleh dan shalehah,” ucap Aqila dalam hati.

__ADS_1


Aqila memeluk Rossa dan isak tangis Rossa terdengar.


“Kok nangis,” ucap Aqila mengurai pelukannya.


“Aku gak nyangka udah jadi seorang istri,” ucap Rossa.


“Tapi ini nyata Ca. Ingat kan nasihatku tentang hakikat seorang istri,” seru Aqila pelan.


Rossa mengangguk.


“Jadilah istri yang baik dan menurut, aku doakan semoga kalian sakinah mawaddah warrahma,” ucap tulus Aqila.


“Makasih doanya yah,” ucap Rossa.


“Ayo sayang bangun, Rey nyusul kamu sebentar lagi,” seru Mama Clara.


Aqila dan Mama Clara mengapit lengan Rossa dikanan kirinya. Senyum bahagia terpancar jelas diwajah Rossa. Aqila bahagia melihat sahabatnya juga bahagia.


Rey mendekat ke tempat Rossa bersama dengan Mama Ria yang mengapit lengannya. Tetapi tatapan Rey tertuju pada Aqila. Matanya sendu mengisyaratkan bahwa dirinya sedang bersedih tapi Aqila tak bisa melihat tatapan itu karena ia menunduk.


Rossa yang melihat tatapan Rey pada sahabatnya membuat dirinya curiga tapi ia masih menekan perasaan itu karena ia bahagia saat ini telah menjadi Nyonya Rey.


“Nak ayo bawa istrimu,” ucapan Mama Ria membuyarkan lamunan Rey.


Rey datang dan membawa Rossa bersamanya, berjalan beriringan menuju tempat tadi saat dia mengucapkan Akad. Aqila dibelakangnya ikut mengantarkan mereka. Sehabis itu Mama Ria memberikan nampan berisi cincin untuk kedua mempelai.


Aqila menatap wajah Mama Ria sekilas saat wanita paruh baya itu memberikan nampan.


“Kamu kan sahabatnya jadi kamu yang anter cincin mereka yah,” ucap Mama Ria.


Acara tukar cincin itu berakhir dan Aqila undur diri. Aqila berjalan keluar dari masjid. Dia menuju kearah samping dan duduk ditangga masjid.


Dia tak menangis, dia hanya diam sambil mengatur nafasnya. Axel dan Adel sudah keluar mencari keberadaan Aqila. Saat bertemu keduanya segera memeluk sang adik perempuannya itu.


“Kalian jangan menangis. Adik gak nangis kok,” ucap Aqila pelan.


Adel dan Axel melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang adik yang tanpa ekspresi.


“Kalau mau nangis. Menangislah dek,” pinta Adel.


Aqila menggeleng.


“Allah sudah menakdirkan ini untukku kak, apa kakak tau, kehilangan itu tandanya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik”, seru Aqila.


Adel hanya terdiam dan memeluk adiknya kembali.


“Kita pulang yah,” ajak Axel.


Aqila mengangguk dan keluarga besar Kevin itu segera pulang.


----*----


Dipenginapan Pangeran Khali.

__ADS_1


Pangeran Khali menatap tayangan pernikahan pembisnis muda yang tak lain adalah Rey. Dia bahkan terpesona pada seorang gadis yang membawa nampan sekotak cincin. Entah kenapa hatinya berdebar kencang.


Perasaan ini berbeda dnegan perasaan lainnya. Dia merasa dirinya ingin sekali menatap wajah cantik itu secara langsung. Tapi buru-buru Khali menggeleng dan beristigfar pada Allah.


Pangeran Khali kembali fokus menatap acara televisi itu. Dia menangkap wajah rekan bisnisnya yang memang tak bahagia sekali. Bahkan untuk tersenyum saja tak ada.


Tapi Pangeran Khali hanya bisa mendoakan mereka nanti saat bertemu langsung. Tak ingin ikut campur lebih dalam ke masalah mereka.


Ketukan pintu membuat Khali beranjak dari kursinya dan berjalan membuka pintu.


“Assalamu’alaykum,” ucap Ibra.


“Wa’alaykumsalam, ada apa Ibra?” tanya Khali saat mereka sudah duduk di sofa kamar Khali.


“Apa tuan sudah menyiapkan kado untuk pernikahan Tuan Rey?” tanya Ibra.


“Ah iya hampir lupa, berikan tiket bulan madu keliling dunia Ibra,” ucap Pangeran Khali.


“Anda serius tuan?” tanya Ibra.


Pastinya Ibra kaget, karena tiket keliling dunia juga mahal harganya. Tapi mungkin untuk sebangsa Khali tak ada arti uang itu.


“Aku ingin membuat kedua mempelai menjadi bahagia Ibra,” seru Khali dengan suara tegas.


Jika seperti ini tak ada yang bisa menolak, Ibra mengangguk lalu ijin keluar untuk mengurus semua permintaan pangeran.


Selepas kepergian Ibra, Pangeran Khali mengambil ponselnya. Dia ingin menelfon keluarga kerajaan dan adik tercintanya. Mungkin bercerita pada sang ibunda membuat hatinya tenang.


Sayangnya sampai panggilan ke lima tak ada sambungan. Pangeran Khali hanya bisa menghela nafas kasar pasti keluarga kerajaannya sedang sibuk.


Pangeran Khali memilih melaksanakan Ibadah rutin paginya daripada otaknya akan selalu memutar wajah cantik gadis berparas kebulean itu.


----*----


Dirumah Kevin.


Sepulang dari akad nikah, Aqila tak keluar dari kamar. Gadis itu memgunci dirinya dikamar miliknya hanya untuk menenangkan hatinya yang sempat runtuh tapi usahanya tak menangis sangat kuat dan benar saja dia tak menangis. Dia yakin bahwa Allah selalu membantunya untuk melewati ini semua.


Aqila segera mengistirahatkan dirinya saat selesai sholat duhur. Ia ingin tidur sejenak melupakan semuanya hingga tak begitu lama Aqila sudah mengarungi dunia mimpi itu.


Di lantai bawah.


Semua keluarga berkumpul setelah membersihkan dirinya. Adel sendiri hanya menangis dipelukan Kevin. Dia sangat iba terhadap kondisi sang adik. Tapi dia juga khawatir melihat sang adik yang tak menangis.


Berulang kali Adel memukul dada Kevin sambil meracau tak jelas. Sepertinya Adel hanya ingin melampiaskan amarah pada dirinya.


Axel sendiri hanya diam termangu menatap kosong kedepan. Wajahnya sudah sendu bahkan sang mama berulang kali mengusap punggung tangan anak lelakinya itu.


Terlihat jelas raut wajah khawatir pada wajah Axel. Tapi semua itu tak bisa membuat semua keadaan membaik. Axel seperti itu karena ia merasa ia gagal menjadi kakak. Ia tak bisa membahagiaakan sang adik. Ia kecewa pada dirinya sendiri mangkanya dia memilih diam dan hanya memikirkan Aqila bahagia Aqila bahagia saja dalam otaknya.


---*----


Selamat membaca.

__ADS_1


Jangan lupa VOTE, LIKE DAN KOMEN YANG BANYAK YAH. UDAH HARI SENIN NIH JADI YOK DULU VOTE.


__ADS_2