
“Maaf, aku bukan lelaki yang pandai mengumbar janji. Aku hanya bisa melakukan ini untuk membuktikan bahwa cintaku padamu karena lillahi ta’ala” ~Khali Matten~
.
.
.
Khali tak pernah menyangka waktu akan berlalu begitu cepat. Cinta yang tak pernah dia rasakan sekarang Khali labuhkan kepadanya. Waktu terasa berputar sesuai porosnya. Debaran jantung yang tak henti-hentinya berdebar membuat Khali semakin gugup.
Namun hati dan bibirnya tak putus-putus memanjatkan doa pada sang pencipta-NYA. Bagaimanapun hari ini adalah hari yang begitu membahagiakan bagi semua orang. Terutama sang pengantin, Aqila dan Khali.
Khali hanya berdoa semoga sampai dia mengucapkan kata ijab Allah akan memberikan kelancaran dan kemudahan kepadanya. Tak ada yang dapat dia mintai doa kecuali hanya Allah. Allah yang dapat membolak-balikkan hati dan semua yang terjadi di dunia ini.
Khali terdiam di depan kaca. Memandangi penampilannya secara lekat. Gamis putih panjang se mata kaki menutup seluruh tubuh kekarnya. Tak lupa surban ia tutupkan pada kepalanya dan ujungnya menjuntai kebawah sampai dada. Khali juga memandangi igal yang membalut diatas kepalanya. Penampilannya memang sudah sempurna. Malahan ini sesuai seperti arahan Raja Abdullah.
Pakaian yang Khali gunakan memang asli diberikan oleh Raja Abdullah. Sehari sebelum menikah lebih tepatnya kemarin Raja Abdullah datang menemuinya memberikan ini.
Khali tersenyum kecil lalu mulai membenarkan gamisnya agar rapi. Ketukan pintu membuatnya menatap ke arah sumber suara.
“Sudah siap nak?” tanya Ratu Mayra masuk.
Dia menatap anaknya dengan penuh haru. Ternyata anak yang ia lahirkan sudah sebesar ini. Sebentar lagi tanggung jawab anaknya akan bertambah. Selain untuk dirinya sendiri, Khali akan bertanggung jawab untuk istrinya.
Ratu Mayra berdiri dihadapan anaknya. Ia membenarkan igal anaknya dengan pelan. Lalu menangkup kedua pipi putranya.
“Sebentar lagi kamu akan menjadi suami nak, dengarkan nasihat umi. Jangan pernah memukul istrimu, jangan pernah membentaknya dan jangan pernah memarahinya,” nasihat Ratu Mayra.
“Jika dia salah. Tegurlah dengan halus. Nasehati dia dengan pelan. Kamu sudah tau kan jika hati wanita itu rapuh. Jangan sekali-kali kamu membuatnya menangis. Jika kamu salah minta maaflah padanya. Ingatlah dibalik suami yang sukses ada doa istri dibelakangnya,” sambung Ratu Mayra.
Khali tersenyum dan mengangguk. Lalu ia segera mencium dahi ibu yang sudah melahirkannya.
“Terimakasih nasehatnya umi. Khali akan ingat selalu ucapan umi ini,” ujar Khali mantap.
__ADS_1
“Belajarlah menjadi suami yang baik dan bimbing istrimu juga ke jalan Allah. Raihlah jannahnya bersama nak. Paham?”
“Paham umi,” sahut Khali.
Ratu Mayra tersenyum lebar lalu mulai membenahi gamis anaknya dibagian pundak.
“Ayo kita turun dan segera berangkat. Waktu sudah pukul 07.00 ini,” ucap Ratu Mayra.
Khali menggandeng lengan bidadari dunianya. Dia memang begitu pada uminya. Selalu lembut dan penuh kasih. Keduanya turun bersama ke lantai satu. Disana sudah ada keluarganya. Haura, adik cantiknya mendekat ke arahnya.
“Kau begitu tampan abang, ini adalah harimu yang begitu membahagiakan,” komentar Haura.
Haura terlihat cantik dengan gamis berwarna senada dengan yang lain. Gamis putih dipadu dengan kerudung putih menjadi outfit untuk seluruh keluarga.
Khali hanya tersenyum lebar lalu mengusap kepala adiknya penuh kasih sayang.
“Ayo nak ini sudah mendekati waktumu,” ajak Raja Malik.
Mobil mulai melaju membelah jalanan pagi di Jakarta. Tujuan mereka saat ini hanya satu yaitu Masjid Al Bina Gelora Bung Karno. Masjid ini merupakan salah satu masjid megah yang terpengaruh gaya Timur Tengah dan bisa dilihat dari kubahnya yang berwarna biru seperti Masjid Sultan Ahmed di Istanbul, Turki. Lokasinya sangat strategis di pusat Jakarta daerah Tanah Abang.
Akhirnya perjalanan mereka telah sampai dengan selamat. Khali menapakkan kakinya lalu turun dari mobil. Ia melihat sekeliling dan menurutnya pas dan cocok. Ia hanya melihat masjid ini dari gambar di ponselnya saja. Karena memang selama 4 hari pengantin tak diijinkan keluar dari rumah.
Khali mulai melangkah tanpa ragu menuju pintu masuk masjid. Mulai memasuki ruangan suci yang akan menjadi saksi dirinya mengucapkan ijab kabul pernikahan. Tempat suci ini juga yang akan menjadi bukti jika dirinya sudah menjadi seorang suami. Menjadi imam dari wanita yang selalu memenuhi pikirannya. Siapa lagi jika bukan Aqila Kanaira Putri Cullen.
--*--
Sesuai kesepakatan, akhirnya para undangan yang hadir tak terlalu banyak. Menurut Aqila dan Khali lebih sedikit orang maka nilai kesakralan lebih terasa pada kedua pengantin dan tamu undangan.
Langkahnya yang semakin mendekati tempat yang sudah disediakan tetap tanpa ragu. Tak ada celah untuk Khali berkata mundur. Ia sudah memilih, memutuskan dan menjalani. Tak akan ada kata mundur untuk ia pergi meninggalkan ruangan ini.
Khali mulai duduk ditempat yang sudah tersedia. Debaran jantungnya semakin menjadi. Keringat basah membasahi telapak tangannya. Seumur hidup ia tak pernah grogi namun sekarang kegugupan itu menerpanya.
__ADS_1
Khali mengedarkan pandangannya. Disana sudah ada Adel dan ketiga anaknya. Lalu ada Axel juga disamping, kehadiran mereka menjadi pertanda jika sang calon istrinya sudah ada ditempat yang sudah disediakan. Khali mulai menarik nafas begitu dalam.
Sebelum memasuki acara yang sakral, Ibra yang sudah ditunjuk Khali untuk membacakan ayat suci Al-quran sudah mengambil tempatnya. Lantunan ayat-ayat suci Al-quran mulai terdengar menggema di dalam masjid. Suara Khali yang bergetar mampu membuat Khali menangis.
Perlahan namun pasti air mata merambat dari kedua matanya. Hatinya selalu bergetar jika sudah mendengar bacaan Al-quran. Sampai akhirnya lantunan terjemahan mulai terdengar untuk menerjemah ayat Al-quran yang sudah dibaca terlebih dahulu.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Raja Abdullah sebagai pihak kakek dari sang Ayah akan menjadi wali sekaligus dia yang akan menikahkan cucunya dengan anak dari sahabat almarhum putranya itu.
Sebelum membaca ijab qabul, Khali terlebih dahulu membaca surat Ar-Rahman seluruhnya. Suara yang merdu serta menyejukkan itu mampu membuat semua orang yang didalam masjid menangis. Bahkan hingga Aqila yang sedang berada di balik tirai pun haru menghapus air matanya secara perlahan.
Suara Khali memang jangan diragukan lagi. Sangat merdu dan sesuai dengan makhorijul huruf. Hingga akhirnya ia berhenti sampai di akhir hayat dan menutupnya.
Waktu yang dinanti-nantikan pun sudah di depan mata. Raja Abdullah mengulurkan tangannya dan langsung dijabat mantap oleh Khali. Tatapan mata yang serius dan tegas itu dibalas dengan senyum tulus Raja Abdullah.
Setelah menanyakan keduanya siap. Penghulu mulai membantu Raja Abdullah untuk membacakan ikrar pernikahan yang nanti akan ditirukan oleh Khali. Tepukan ditangannya dan hentakan sedikit pertanda jika waktunya Khali mengatakan ijab qabulnya dengan lantang dan dalam satu tarikan nafas.
“Saya terima nikah dan kawinnya Aqila Kanaira Putri Cullen binti Abdullah Khalid dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
---*---
Huwaaa emak dah kawin mereka, haru banyak jalan dan rintangan mereka buat bersatu.
Jalan cinta Aqila yang penuh luka dan emosi mampu menghantarkannya ke jalan halal saat ini.
Emak doain semoga sakinah, mawaddah dan warrahmah ya anak emak, huhuhu.
Emak mo tahan napas dulu ini soalnya udah detik-detik tamat.
Emak coba ikhlasin kalian yah😭😭
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA KHUSUS HARI INI DONG!
__ADS_1