Aqila Love Story

Aqila Love Story
Bab 28


__ADS_3

“Ternyata wajah mu lebih tampan secara langsung Rey.” ~Rossa~


.


.


.


Aqila berjalan meninggalkan rumah sakit dan berdiri di depan lobby. Ia menunggu Rey menjemputnya. Akhirnya Aqila beralih ke tempat duduk karena kakinya sudah lelah berdiri.


Aqila bolak balik menatap jam dipergelangan tangannya. Tangannya tak habis-habis mengotak-atik handphonenya seperti menghubungi seseorang.


“Kenapa handphonenya mati sih,” ucap kesal Aqila.


Ia mendengus menatap jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 17.00 yang artinya ia sudah menunggu 2 jam disana.


Aqila beranjak berdiri dan berjalan menuju pinggir jalan. Satu-satunya yang ia tunggu adalah taxi. Ia akan pulang menggunakan taxi saja pikirannya.


Tapi sebelum taxi lewat Aqila menjadi teringat perkataan temannya.


Aqila segera mengambil ponselnya dan menghubungi temannya.


“Ya La,” suara terdengar dibalik telfon.


“Ayo sekarang ketemunya Ca,” ucap Aqila.


“Ehh gak bisa La.”


“Lah kenapa Ca?” tanya heran Aqila dari balik telfon.


“Gue lagi mau keluar sama calon gue,” bisik Rossa.


“Oh baiklah, semangat ya. Gue naik taxi deh,” seru Aqila.


“Ati-ati,” ucap tulus Rossa.


Akhirnya keduanya mematikan ponsel dan Aqila tak butuh waktu lagi sebuah taxi berhenti didepannya.


“Ke perumahan XX ya pak,” seru Aqila.


“Siap non,” saut supir sopan.


Dalam perjalanan Aqila menikmati jalanan yang tampak seperti berjalan itu dari balik jendela. Ia menunggu kabar dari Rey. Kenapa Rey tak jadi menjemputnya bahkan ini sampai menunggu 2 jam tanpa kabar apapun.


Aqila menghela nafas berat. Air mata tak lagi merembes dimatanya. Mungkin air matanya sudah lelah dengan janji palsu seperti ini.


“Harusnya aku lebih berhati-hati,” gumam Aqila dalam hati.


--*--


Sedangkan di Kantor Rey.


Setelah tadi pagi mengantar Aqila ke Rumah sakit. Rey dikejutkan dengan kedatangan sang mama dikantornya. Ya Rey memang setelah menjabat diperusahaan ia lebih sering tidur di apartemennya daripada rumahnya.


Setelah Rey memarkirkan mobilnya ia berjalan cepat menuju ruangannya. Bima sudah mengabari jika Mama Ria ada diruangannya.


Ceklek.


“Mama,” panggil Rey.


“Kamu darimana Rey. Kenapa baru dateng?” tanya Mama Ria khawatir.


“Rey kerumah temen tadi ma,” seru Rey.


“Oh,” Mama Ria membulatkan bibirnya.


“Mama ada apa kesini?” tanya Rey.


“Duduklah dulu,” ajak Mama Ria.

__ADS_1


Rey menurut ia duduk disamping mamanya.


“Mama mau kamu nanti sore jalan sama Rossa ya kenalan sama anak temen mama itu,” suruh Mama Ria.


“Apa ma!” Rey kaget.


Ia bahkan membeku, bagaimana bisa sang mama sangat memaksanya untuk mengenal wanita ini. Rey frustasi harus bagaimana, bahkan tadi ia sudah ada janji mau jemput Aqila. Tapi sekarang ia harus terjebak oleh sang mama. Ia tahu persis jika sang mama tak dituruti maka kemurkaan sang mama akan muncul.


Rey hanya bisa mengangguk pasrah saat menatap wajah sang mama yang diam.


Waktu menunjukkan pukul 15.00.


Rey segera keluar dari perusahaan dan menuju tempat parkir. Bima yang mengikuti dari belakangnya dengan setia.


“Tuan mau kemana?” tanya Bima sopan


“Aku harus keluar dengan anak temen mama, kamu pulang sendiri ya bim,” seru Rey tak enak hati.


“Baik tuan,” ucap Bima.


Ia segera menunduk sopan dan mundur lalu beranjak meninggalkan Rey. Rey sendiri ia segera naik ke mobil dan melajukan kendaraannya ke arah rumahnya.


Tak butuh waktu lama Rey sudah sampai didepan rumahnya. Terlihat mobil asing didepan rumahnya.


“Maafkan aku sayang, kamu harus pulang sendiri. Ponselku juga habis daya,” gumam Rey sambil memejamkan matanya.


Mengatur nafasnya yang menderu karena mengingat wanitanya. Rey segera membuka mata setelah tenang. Ia masuk dan mendapati gadis muda di ruang tamu bersama mamanya.


“Ah ini anak mama sampai,” ucap Mama Ria.


Rey mendekat dengan wajah dingin.


“Ya tuhan wajahnya saja lebih tampan secara langsung” gumam Rossa dalam hati


Ia begitu memuja lelaki didepannya mungkin dari umur terpaut jauh. Tapi melihat tubuh dan rupawan wajah Rey membuat Rossa makin terpesona.


“Ayo kenalan sayang,” ucap Mama Ria membuyarkan lamunan Rossa.


“Rey,” mengulurkan tangannya kearah Rossa.


Rossa dengan ragu-ragu menatap tangan Rey dan menerima uluran itu.


“Rossa,” ucap Rosaa malu.


“Nah Rossa belanjanya diantar Rey yah ” seru Mama Ria.


“Tapi ma,” belum sempat Rey komentar Mama Ria sudah menyela.


“Gakpapa Rey mau kok. Bener kan nak?” tanya Mama Ria pada sang putra.


Rey hanya bisa mengangguk. Ia tidak bisa berkutik jika melawan sang mama. Terlalu sayang pada mamanya membuat Rey menuruti semua keinginannya. Apalagi 2 tahun mamanya terkena penyakit jantung yang membuat Rey harus ekstra hati-hati pada kondisi sang mama.


--*--


Dan disinilah Rey berada, mengantar gadis yang dikenalkan sang mama belanja. Berjalan memasuki Mall mencari tempat langganan Rossa.


“Apa kamu capek?” tanya Rossa canggung.


“Tidak,” ucap dingin Rey.


“Hah gue gak tau lagi harus ngomong apa” gumam Rossa dalam hati.


Ia tetap berjalan menuju toko langganannya.


“Mbak Oca,” sapa pelayan toko itu."


“Hay,” sapa Rossa ramah.


“Wahh sama siapa mbak ,calon suami yah?” tanya pelayan lainnya.

__ADS_1


Rossa hanya tersenyum tanpa berniat membalas. Ia masuk dan mulai berkeliling mencari pakaian yang ia inginkan. Sedangkan Rey ia menatap baju-baju itu untuk mencarikan wanitanya hadiah sebagai permintaan maaf karena tak jadi menjemputnya.


Rossa memilih beberapa baju dan membawa ke ruang ganti, ia mencoba satu baju dan memperlihatkan pada Rey. Dia ingin mengambil perhatian lelaki tampan itu. Entah kenapa Rossa menjadi tertantang untuk menaklukan hati Rey.


“Mas,” panggil Rossa.


Rey menoleh dengan malas. “Ya,” saut Rey.


“Bagaimana dengan baju ini?” tanya Rossa.


“Bagus,” ucap Rey.


Rossa masuk lagi dan mengganti pakaiannya. Lalu ia keluar lagi.


“Bagaimana?” tanyanya pada Rey


“Bagus,” Rey mengangguk.


Hampir semua baju yang ia pilih dan coba, Rey mengantakan bagus semua. Sepertinya lelaki didepannya itu bosan.


“Aku beli yang ini deh mbak,” ujar Rossa.


Pelayan toko mengangguk lalu mereka berjalan ke kasir. Saat Rossa akan membayarnya Rey mengulurkan kartunya.


“Biar aku yang bayar,” ucap Rey.


Rossa mengangguk lalu ia menunggu.


Setelah selesai kasir memberikan 3 paperbag beda. 2 kasir berikan pada Rossa. Dan yang 1 bungkus dibawa Rey sendiri.


Rossa menatap 1 kantung yang dibawa Rey.


“Apa mas juga beli?” tanya Rossa.


“Ya,” jawab Rey


“Oh,” Rossa ber oh ria.


Akhirnya keduanya keluar dari toko dan berjalan beriringan.


“Kamu mau kemana lagi?” tanya Rey.


“Makan gimana mas?” tawar Rossa.


Rey mengangguk lalu mereka menuju food curt yang ada disana. Rey sudah harap-harap cemas. Ia sudah siap dengan kemarahan wanitanya. Apalagi mendapati ponsel nya habis daya. Ia harus siap-siap dengan jutaan pertanyaan wanitanya.


Setelah menunggu beberapa lama akhirnya makanan mereka selesai. Keduanya memakan dnegan lahap hingga habis. Lalu segera beranjak pulang.


Sepanjang perjalanan kerumah Rossa hanya hening. Rossa sebenarnya ingin berbicara tetapi melihat tatapan dingin Rey nyalinya menciut.


Hingga sampai didepan rumah Rossa. Akhirnya sang empu melepas sabuk pengamannya.


“Besok mobilmu akan diantar supirku,” ujar Rey.


“Iya mas, makasih ya udah antar aku belanja,” ucap Rossa dengan senyum manis.


Mungkin jika lelaki lain yang melihat senyum Rossa akan terpesona. Tapi tidak untuk Rey ia malah biasa saja.


Rey hanya mengangguk lalu Rossa segera keluar dan masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Rey ia menatap jam dipergelangan tangannya.


“Sudah malam pasti dia tidur,” gumam Rey.


Dengan raut wajah menyesal ia pulang dengan hati kalut. Rey langsung masuk kekamarnya tanpa menjawab pertanyaan sang mama yang menunggunya.


--*--


Bagaimana dengan part ini? Mau lanjut gak? masih penasaran gak.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE KOIN POIN YAJ

__ADS_1


__ADS_2