
“Wajar jika aku memiliki ketakutan mendalam dilubuk hatiku. Karena setelah suamiku yang kucintai meninggalkanku untuk selamanya, ketiga anakku lah yang selalu menjadi penyemangatku selama ini.” ~Mama Angel~
.
.
.
Jika diluar Khali dan Aqila sedang berbicara dengan hangat. Maka didalam rumah juga tiga orang yang sudah memiliki anak itu juga sedang duduk diam. Tak ada yang memulai percakapan. Namun Mama Angel bisa menangkap raut wajah serius dari Papa Radit dan Mama Nora.
Memang benar semalam Papa Radit saat masuk ke dalam kamar. Dia mendapati istrinya baru saja menidurkan kedua cucu kembarnya diatas ranjang. Saat melihat istrinya turun dari ranjang dan mendekati Papa Radit. Perlahan Papa Radit menarik pinggang istrinya untuk mendekat. Menenggelamkan wajahnya diceruk leher Mama Nora.
Mama Nora tau jika sudah begini. Pastinya suaminya sedang ada pikiran yang mengganggu. Akhirnya Mama Nora mengajak Papa Radit keluar menuju ruang tamu yang lain.
“Ada apa mas?” tanya Mama Nora.
“Kehidupan temanmu ternyata begitu rumit di masa lalu sayang,” ujarnya.
Mama Nora jadi faham arah ucapaan suaminya. Ia mengerti yang dimaksud disini adalah Angel. Nora sendiri tau jika Angel adalah seorang yatim piatu sejak remaja. Dia hidup sendiri, bekerja paruh waktu dan sekolah dengan mendapatkan beasiswa. Takdir memang berpihak padanya, otaknya pintar dan cerdas lalu wajahnya cantik. Dia bisa mendapatkan beasiswa dan memiliki banyak teman yang tulus padanya.
“Rumit bagaimana mas?” tanya Nora.
Papa Radit mulai menceritakan semuanya pada istrinya Nora. Wajah Mama Nora kadang terkejut, marah, kesal dan sedih. Seakan dirinya ikut merasakan apa yang dirasakan besannya itu. Memang semenjak menikah dengan anaknya. Mama Nora begitu dekat dengan Angel. Kehidupan masa lalu keduanya saling terbuka. Bahkan tak ayal satu dengan yang lain berbagi keluh kesah. Itulah yang membuat Mama Nora tau betul dengan Angel.
Setelah selesai bercerita, Mama Nora mulai berfikir apa yang harus ia lakukan hingga akhirnya mereka berakhir disini. Di dalam ruang kerja Axel, duduk bertiga tanpa suara. Mama Nora sudah mengatur kata agar mereka bisa berbicara secara nyaman dan saling memahami.
“Angel,” panggil Mama Nora ketika dia sudah duduk di samping Mama Angel.
“Hmm,” sahut Angel pelan.
“Apa kau harus seperti ini terus?” tanya Nora pelan.
“Seperti ini bagaimana?” tanya Angel heran.
“Apa kau tak ingin berdamai dengan masa lalu,” ujar Mama Nora.
Papa Radit masih diam menatap percakapan dua orang yang berhubungan sebagai besan.
__ADS_1
“Sejak dulu aku ingin berdamai dengan masa lalu tapi semenjak Mas Khalid meninggal rasanya semua begitu menyakitkan. Bahkan aku tak ingin anak-anakku mengenal keluarga papanya,” lirih Angel dengan mata sudah menggenang air mata.
“Apa kau tau? Dulu Khalid meninggal karena sakit keras dan dan kami kekurangan uang untuk berobat.” Jatuh sudah air mata yang Angel tahan.
“Aku berusaha mencari hutang untuk pengobatan Khalid, uang tabungan kami sudah habis hingga akhirnya mas memilih menerima semua sakitnya tanpa pengobatan hingga dia meninggal,” sambungnya.
“Hingga aku berfikir ternyata karena tak mendapat restu kehidupan mas menjadi kurang hingga dia harus bekerja keras dan sakit.”
“Sejujurnya aku tak memikirkan hartanya atau apapun. Bersatu dengan mas saja aku bahagia. Meski kita hidup kekurangan namun aku bahagia. Tapi karena restu kami harus seperti ini,” isaknya.
Mama Nora tertegun begitu pun Papa Radit. Langsung saja Mama Nora memeluk Angel erat. Ia seakan mengerti perasaan Mama Angel. Dirinya saja sudah ikut meneteskan air mata.
“Maafkan kami membuatmu menangis,” ucap Nora.
“Sudahlah, aku mengerti. Kalian pasti ingin aku menemui Ratu Fatimah kan?” tanya Angel menghapus air matanya.
“Iya Ngel, apa kau tak kasihan. Dia datang kemari dengan keadaan seperti itu. Melihat semangatnya sudah bisa kita lihat jika dia begitu menyesal dan ingin bertemu dengan mu,” ucap Papa Radit.
“Bahkan dia juga kemarin menanyakan dimana Khalid tapi aku dan Kevin tak menjawabnya,” sambungnya.
“Itulah alasanku kenapa semalam aku mengamuk. Aku belum bisa menjelaskan keadaan mas. Melihat beliau duduk diatas kursi roda dengan wajah sudah menua. Aku menjadi tak tega, aku takut ketika mendengar berita ini dia akan semakin drop,” ujar Angel lesu.
Mama Angel mengangguk lemah.
“Jika mas ada disini pasti aku akan berhambur kepelukannya. Pelukan seorang mertua yang begitu aku rindukan namun sayang takdir berkata lain hingga aku memilih bersandiwara agar mereka bisa pergi tanpa tau jika Mas sudah meninggal,” ucap Angel menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Isak tangis kembali terdengar. Dia sejujurnya kaget memang dengan kehadiran Ratu Fatimah. Namun melihat kilatan kerinduan dan penyesalan dimatanya membuat Mama Angel mengerti jika Ratu Fatimah pasti sudah menerimanya.
Namun lagi-lagi dia mengingat bahwa suaminya Khalid sudah meninggal. Itulah yang membuat Mama Angel menangis dan mengamuk agar mereka pergi.
Mama Angel mulai membuka tangannya dan mengusap kasar air matanya.
“Lalau mereka sekarang dimana?” tanya Angel.
“Dirumah Kevin.”
Angel menghembuskan nafas berat.
__ADS_1
“Apa aku harus menemui beliau?” tanya Angel pada Nora dan Papa Radit.
“Lambat laun semua ini akan terjadi dan diketahui. Lebih baik kamu menemui mereka sekarang dan mengatakan semuanya.”
“Meski itu akan membuat shock Ratu?” tanya Angel.
Nora mengangguk pelan. “Sebagai seorang ibu pasti dia sakit hati, berduka dan kaget. Namun bagaimanapun pasti beliau akan menerima semua itu. Karena jodoh maut kan hanya ditangan Allah.”
“Baiklah, sepertinya tak ada jalan lain,” ujar Mama Angel lesu.
Ketiga orang itu bukannya bernafas lega namun mereka menjadi takut. Takut akan kesehatan Ratu Fatimah menurun. Takut hal hal buruk akan terjadi dan takut jika berita ini akan membuat anak-anaknya akan dipisahkan olehnya. Fikiran itu tentu saja merambat memenuhi otaknya.
Tapi bagaimanapun dia harus segera mengatakan yang sebenarnya. Perlahan ketiga orang itu keluar dari ruangan kerja Axel. Berjalan lesu menuju ke arah ruang keluarga.
Adel dan Kevin yang berada di ruang keluarga dibuat bingung dan heran. Pasalnya raut wajah mertua dan mamanya seperti orang tertekan.
“Ada apa ma?” tanya Adel.
Axel yang sedang mengetik dilaptop juga ikut menatap mamanya itu. Axel mulai meletakkan laptopnya dan menghampiri mamanya.
“Jangan banyak pikiran ma ntar mama sakit lagi,” peringat Axel lembut.
Mama Angel menatap kedua anaknya. Dia memaksakan tersenyum agar kedua anaknya tak khawatir.
“Mama gakpapa sayang,” ujar Mama Angel lembut.
“Beneran?” tanya Adel.
Mama Angel mengangguk.
Lama mereka terdiam kemudian ucapan Mama Angel membuat kedua anaknya sontak mendelik tajam.
“Nanti setelah sholat dhuhur kita ketemu nenek kalian yah.”
-----*-----
Hiyahhh ternyata semalam cuma akting woy, hihihi.
__ADS_1
Acak kali semalem udah emosi yakan hahaha. Yang sabar tahan yah, aku mau bobok dulu deh. Biar ide banyak yang muncul di mimpi.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, RATE BINTANG 5 DAN VOTE