
“Setelah hujan pasti ada pelangi, sama seperti ujian. Jika ujian datang. akan kita hadapi dan selepas itu akan ada hikmah yang indah sesudahnya.” ~Aqila~
.
.
.
Seperginya Aqila, Pangeran Khali dan Ibra berjalan juga menuju mobil mereka. Keduanya sudah berada didalam mobil dan memakai sabuk. Setelah selesai Ibra segera menginjak pedal gas dan mobil melaju meninggalkan pelataran Masjid.
Dalam perjalanan hati Khali menjadi hangat, entah karena dia selesai mendapat siraman rohani atau karena dia telah bertemu perempuan yang pertama kalinya bisa menarik perhatiannya. Khali sendiri tak tau karena ini baru pertama kali dihidupnya. Dan sepertinya dia harus segera kembali ke istana dan bercerita dengan abi dan umminya.
Jika mengingat orang tuanya. Rindu itu menyeruak dari hatinya. Kebersamaan antara dia dan keluarganya memang jarang. Karena kesibukan Khali yang padat membuatnya tak bisa selalu dekat dengan keluarganya.
Dia sering pergi lama dan pulang kerumahnya sebentar, bahkan tak jarang bisa sebulan sekali dia kembali kerumah. Tapi itu tak membuat hubungan dengan keluarganya menjadi renggang. Sebisa mungkin Khali menghubungi orang tuanya melalui panggilan telfon.
Jaman sekarang komunikasi sudah canggih. Bisa bertukar kabar langsung bahkan bertatap muka melalui video call. Jadi tak ada alasan untuk tak bisa mengabari orang rumah.
Lamunan Khali tersentak karena panggilan Ibra yang berulang kali.
“Tuan.”
“Iya?” tanya Khali setelah kembali dari lamunannya.
“Tuan mau kemana?” tanya Ibra.
“Kita ke Restaurant untuk makan malam saja,” ucap Khali.
Ibra mengangguk lalu kembali fokus dengan jalanan yang padat itu.
---*---
“Apa besok kita ada jadwal Ibra?” tanya Khali.
“Ya ada tuan, besok kita akan ke perusahaan Tuan Rey untuk tanda tangan kontrak kerja sama tuan. Tadi asistennya menghubungi saya,” ucap Ibra
“Baiklah,” Khali mengangguk.
“Urus semuanya, setelah semua selesai aku ingin segera kembali ke istana.”
“Baiklah tuan. Apa tuan rindu pada Raja dan Ratu?” tanya Ibra.
“Tentu saja apalagi pada adikku yang cantik itu,” ucap Khali membayangkan wajah sang adik perempuannya.
“Pasti tuan putri bahagia melihat anda pulang.”
“Kau benar Ibra.”
__ADS_1
Obrolan mereka berhenti karena kedatangan pelayan Restaurant. Mereka makan dalam diam dan hanya bunyi sendok dan garpu yang terdengar. Setelah selesai mereka segera kembali ke penginapan karena mereka harus menyelesaikan berkas untuk besok.
---*---
Seperti yang sudah dibicarakan semalam, kedua lelaki tampan itu datang ke perusahaan yang lumayan besar itu. Siapa lagi jika bukan perusahaan milik Rey.
Asisten Bima menyambut kedatangan keduanya dengan senyum ramah dan sopan. Mempersilahkan masuk kedalam ruang meeting lalu disambut oleh jabat tangan Rey.
Tak butuh waktu lama lagi mereka sudah masuk dalam pembahasan serius. Meeting itu membutuhkan waktu hampir 3 jam. Hingga pukul 11 siang meeting pun selesai dan diakhiri dengan jabat tangan tanda bahwa kerja sama mereka dimulai.
“Semoga kerja sama kita saling menguntungkan tuan,” ucap sopan Rey.
“Dan semoga bisa bermanfaat untuk semua orang,” balas Pangeran Khali dengan senyuman menawannya.
Rey mengangguk, dan sejurus kemudian Asisten Bima mengambil sebuah undangan dan diberikan pada Ibra.
“Jika anda berkenan, anda datanglah ke pernikahan saya lusa,” ucap Rey pelan.
Wajah Rey sedikit murung dan bisa ditangkap perubahan wajah itu oleh Khali.
“Saya usahakan untuk datang,” seru Pangeran Khali.
“Terimakasih,” seru Rey.
“Tapi kenapa dilihat wajah anda tampak murung?” tanya Pangeran Khali.
Rey membuang nafasnya kasar dan menatap kembali pada Khali.
“Baiklah saya harus pergi dulu kalau begitu,” seru Khali pamit.
“Mari tuan.”
Rey dan Bima ikut mengantar kepergiannya Pangeran Khali dan Ibra. Selepas kepergian mereka Rey kembali keruangannya.
Dia menghempaskan tubuhnya disandaran kursi. Dirinya tak bisa mundur lagi ia harus tetap maju demi sang mama.
“Kenapa begitu sulit ya allah,” gumam Rey sambil memejamkan matanya.
Kepalanya sungguh pusing bahkan Rey sudah tak tidur dengan waktu yang cukup dan juga jarang makan. Itulah kerjaannya Rey saat ini. Ia sudah tak peduli dengan kesehatannya. Keinginannya saat ini bertemu dengan wanita yang sangat ia cintai tapi sayangnya gerak-geriknya dipantau oleh sang mama.
Entah kenapa Rey sempat berpikir bahwa mamanya sangat egois padanya. Bahkan terkesan jahat pada kebahagiaannya. Sedari kecil semua sudah di kemudi oleh sang mama. Dikontrol apapun itu tapi untuk masalah jodoh ternyata sang mama juga ikut mengendalikannya.
Tak mau ambil pusing Rey kembali fokus dengan pekerjaannya kembali. Mungkin sakit kepalanya akan hilang dengan menatap kata demi kata dilayar laptopnya.
---*---
Di Taman Baca.
__ADS_1
Sejak pagi Aqila dan Kayla serta sikecil Azzahra sudah berkutat dirumah impiannya. Kemarin beberapa teman masa kuliahnya dulu mendonaturkan buku-buku yang masih layak untuk ikut diletakkan ditaman baca Aqila.
Rumah impian itu memang sudah disulap menjadi sebuah rumah yang dipenuhi buku dan tempat-tempat baca yang nyaman. Ditambah dengan desain sekaligus taman yang indah membuat siapa saja yang masuk ingin berlama-lama didalamnya. Aqila sendiri juga menambah petugas untuk bagian mencatat buku yang akan dipinjam dibagian depan.
Kayla sendiri dia asyik bermain bersama putri kecilnya ditaman. Dengan beralasan selembar kain untuk tempat duduk. Akhirnya jadilah seperti sebuah liburan sederhana. Aqila berjalan dari arah belakang dengan keranjang buah dan membawanya kearah Kayla.
Aqila duduk lalu meletakkan buah-buah itu didepan mereka.
“Makan kak,” pinta Aqila.
“Pastinya dong, ini buah mu sangat enak-enak sekali,” ucap Kayla tanpa canggung.
“Alhamdulillah. Tapi memang hasilnya manis banget kak aku juga bersyukur loh,” ucap Aqila dan tak kalah heboh.
“Emm kalau boleh tau ini rumah siapa yang kamu beli La?” tanya Kayla setelah menelan buah yang dimakannya.
Deg.
Aqila bungkam, dia tak pernah berfikir jika akan ada orang yang menanyakan ini padanya. Aqila bingung harus mengatakan apa, apa dia akan mengatakan rumah ini adalah pemberian dari Rey.
Kayla melihat tatapan Aqila yang bimbang membuat Kayla menggenggam tangan Aqila.
“Jika itu sulit untuk dijawab jangan dijawab dek,” seru Kayla lembut.
Aqila menatap wajah Kayla sebentar lalu menunduk. Ia menguatkan diri untuk membuka luka lama itu kembali.
“Sejujurnya ini adalah rumah impianku yang dibangun dan dibelikan oleh seseorang kak.”
“Tapi aku tak ingin tinggal disini karena bagaimanapun aku lebih suka bersama mama dan kakakku. Rumah ini dibelikan oleh Rey,” Aqila berhenti sejenak sambil menerawang kedepan tatapannya.
“Dan dulu rumah ini akan ditinggali kita berdua jika sudah menikah tapi qadarullah-“ Aqila belum melanjutkan kata-katanya, Kayla sudah memotongnya.
“Jangan diteruskan aku sudah tau,” Kayla menggeleng sambil genggaman tangan mereka lebih kuat.
“Aku sudah mencoba mengiklaskan semuanya kak, benar memang suatu hari nanti Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Jadi meski luka lama itu aku harus buka kembali, aku harus lebih meneguhkan hatiku,” lirih Aqila.
“Pelan-pelan saja sayang, jangan dipaksakan. Jalani saja pasti kamu bisa,” Kayla menyemangati.
“Tentu saja kak,” Aqila tersenyum.
Keduanya hening sesaat saling berkutat dengan pemikiran mereka sendiri-sendiri. Hingga suara celotehan membuat perhatian mereka teralihkan padanya.
“Mama mama,” celoteh Azzahra.
Celotehan bayi mungil itu mengalihkan kesedihan Aqila. Aqila bermain bersama Zahra Dan Kak Kayla ditaman itu. Bahkan mereka makan siang disana juga. Menghabiskan waktu bersama sambil bertukar pikiran membuat keduanya menjadi lebih terbuka dengan hati yang lega.
Aqila tak pernah menyangka pertemuan sederhana dengan wanita yang sudah menikah didepannya ini membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik. Mungkin ini artinya pertemanan yang membawa hal kebaikan dan itu sudah dirasakan oleh Aqila sendiri. Dan Aqila bersyukur dalam hatinya telah dipertemukan dengan sosok seperti Kayla dihidupnya.
__ADS_1
---*---
Selamat membaca😉