Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 4


__ADS_3

“Waktu yang mengajarkan semuanya, bagaimana kita menghargai, melupakan dan melepaskan semua beban berat dalam diri kita.” ~Aqila~


.


.


.


Di Palestina.


Setelah pertemuan singkatnya dengan lelaki tampan itu, Aqila tak pernah lagi bertemu dengannya tetapi wajah kilasnya berkelebat dalam pikirannya. Sering kali Aqila pergi untuk menenangkan pikirannya dnegan sholat agar bayang lelaki itu hilang. Dan alhamdulillah selalu manjur.


Sejak kepergiannya dari Indonesia, hari ini tepat hari terakhir Aqila berada di negara yang berbahaya ini. Hidup selama 2 bulan dinegara orang dengan makanan yang berbeda, hidup yang sedikit berbeda dengan Indonesia membuatnya lumayan bisa menyesuaikan dirinya. Meski memang harus jujur bahwa Aqila sering kali masih belajar untuk memperdalam bicara bahasa arabnya.


Hari ini semua Relawan membereskan pakaiannya dan harus segera kembali ke Kairo. Aqila dengan pelan tapi pasti menata pakaiannya dan barang-barangnya.


“Ah akhirnya La kita pulang,” ucap Dini senang.


“Iya Din, kamu benar aku sudah rindu sekali dengan keluargaku. 2 bulan aku gak hubungin mereka,” lirih Aqila dengan melipat pakaiannya.


“Bagaimana hatimu sekarang?” ucap Dini.


“Alhamdulillah hatiku sudah baru Din, hatiku sudah normal tak ada perasaan apa-apa dan tenang,” ucap Aqila tersenyum manis.


“Berarti berhasil dong,” seru Dini.


Aqila mengangguk antusias. Setelah merapikan pakaiannya Aqila turun kebawah, ia ingin bertemu dengan anak-anak yang sudah menemaninya selama 2 bulan. Jujur dia banyak mendapatkan pelajaran dan pengalaman hidup selama di Palestina.


Dari hidup sederhana, hidup dalam kesederhanaan, tidur hanya dengan alas karpet dibawah. Bahkan makanannya pun bisa dibilang sering hemat. Jika boleh mengatakan berat badan Aqila saja turun. Aqila bisa melihat dari tubuhnya saja ia yakin bahwa beratnya turun.


Apa kata nanti jika sudah kembali ke Jakarta Aqila akan timbang BB nya. Aqila sekarang berada dilantai bawah. Ia keluar ke pelataran. Senyumnya merekah menatap anak-anak yang bermain dengan semangat.


“Assalamu’alaykum,” salam Aqila.


“Wa'alaykumsalam,” jawab serempak mereka.


“Selamat siang,” sapa Aqila dalam Bahasa Indonesia.


“Siang juga kak,” saut semua anak-anak dengan terbata-bata.


Ya selama dua bulan juga Aqila menjadi guru Bahasa Indonesia bagi mereka anak-anak bahkan orang dewasa yang ingin belajar. Dan tentunya usahanya berhasil. Anak -anak itu lumayan bisa dan mengerti meski ya bicaranya masih pelan dan terbata.


Percakapan dengan bahasa arabnya.


“Kalian sedang apa?” tanya Aqila dengan Bahasa Arab.


“Kami sedang bermain kak,” ucap salah satu anak.


“Boleh kakak ikut?” ucap Aqila memelas.


“Boleh, kemari,” salah satu anak berusia 4 tahun itu menarik tangan Aqila.


Mereka semua sedang duduk manis dibawah tanpa alas. Dan ternyata mereka sedang bermain tebak-tebakan. Aqila pun ikutan meski ya dia bicara arabnya juga masih kaku tapi setidaknya ia masih mengerti dan faham apa yang anak-anak ucapkan.


Canda tawa bahagia sampai terdengar oleh orang yang berlalu lalang. Bahkan Dokter dan para Suster yang melihatpun menjadi bangga pada Aqila. Bahwa dia dokter yang tak pernah merasa risih dengan keadaan. Seperti sekarang dia bahkan ikut duduk dibawah lantai yang kotor tapi dia cuek saja.


Menurut Aqila wajah lucu dan bahagia mereka lebih penting daripada pakaian kotor yang bisa dicuci. Sampai menjelang sholat ashar Aqila bermain hingga suara adzan di ponselnya membuat dia berdiri.


“Kakak pamit dulu ya,” ucap Aqila.


“Kakak mau sholat?” celoteh anak umur 6 tahun.

__ADS_1


“Iya sayang,” saut Aqila.


“Baiklah kita juga mau sholat kak,” seru anak lelaki tertua.


“Wah anak pintar, ayo semua sholat,” ajak Aqila.


Anak-anak itu berhamburan meninggalkan pelataran. Mereka kembali keruangan tempat tinggal mereka. Ada yang mandi ada yang membersihkan diri dan berwudhu lalu segera berkumpul dilantai bawah yang dijadikan tempat jamaah untuk sholat.


--*--


Malam harinya.


Karena malam terakhir akhirnya malam itu diisi dengan berkumpul bersama dan bercerita ringan dengan semua orang. Bahkan semua orang juga mendengarkan cerita tentang peledakkan yang dilakukan oleh Israel.


Cerita menakutkan itu membuat buku kuduk para relawan meremang. Bahkan Dini pun bergelanyut dilengan Aqila karena merinding mendengar ceritanya.


Anak-anak sendiri ada yang ikut mendengar ada yang tertidur dipangkuan orang tuanya. Aqila yang menatapnya tersenyum hangat. Menatap kedekatan anak dan orang tua disituasi sekarang menjadikannya pelajaran jika dikeadaan pelik apapun, keluarga menjadi tempat terhangatnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, semua relawan kembali ke ruangan tidurnya. Setelah sampai diruangan mereka segera menidurkan dirinya karena besok mereka akan kembali ke Indonesia siang harinya.


--*--


Di Indonesia.


Dirumah Mama Angel, semua keluarga berkumpul karena permintaan Adel. Adel tau betul bahwa sang adik lusa akan datang. Ia paling antusias untuk menyambut kedatangan sang adik. Bahkan dia sudah menyiapkan pesta kecil untuk Aqila.


“Mama besok jangan lupa ya kue kesukaan Aqila,” ucap Adel.


“Iya nak, adikmu kapan datang?” tanya Mama Angel.


“Insya allah lusa ma pesawatnya mendarat,” seru Adel.


“Baiklah,” ucap Mama Angel.


“Wah mama makasih ya ma,” saut Aqila.


“Tak perlu berterima kasih sayang, Qila sudah mama anggap anak mama sendiri,” ucap Mama Nora.


Memang benar, Axel dan Aqila sudah dianggap anak kandung bagi Mama Nora dan Papa Radit. Karena memang mereka hanya memiliki 1 anak tunggal. Dengan hadirnya Adel dan kedua adiknya membuat Mama Nora dan Papa Radit menjadi bahagia. Keluarga mereka menjadi banyak dan bahkan ramai jika berkumpul semua.


“Sayang kamu sudah turutin kemauanku kan?” ucap Adel manja pada Kevin.


“Iya sudah sayang,” saut Kevin.


“Tapi,” suara Kevin menggantung.


“Apa mas?” tanya Adel penasaran.


“Kamu harus bayar aku nanti malam,” bisik Kevin dengn sensual.


“Ih” mencubit lengan Kevin, “Dasar mesum,” gerutu Aqila.


“Ya kan cuma sama kamu doang sayang,” rayu Kevin.


Semua orang yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Untung saja ketiga anak Kevin dibawa Axel dihalaman rumah.


“Udah anak tiga tetep aja kelakuan anakmu pa,” ucap Mama Nora.


“Itu kan anak mama juga,” ucap Papa Radit.


“Kalau kayak gitu anak papa aja,” ucap Mama Nora cekikikan.

__ADS_1


“Tega bener mama sama Kevin,” ucap Kevin kesal.


“Kamu persis papamu dulu manja sama mama, gak tau umur,” seru Mama Nora.


“Namanya aja anak sama papa pasti kembar ma, ya kan pa,” seru Kevin mencari pembelaan sang papa.


“Iya betul.”


Para wanita hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Anak sama bapak memang sama, manja dan hangat jika berkumpul seperti ini. Jika diluar wajah menyeramkan nya yang keluar.


Setelah semua pembahasan selesai, Aqila dan Kevin segera memanggil ketiga anaknya.


“Taqy ayo masuk ajak adik-adikmu,” panggil Kevin.


Ketiganya berlari menuju Kevin dengan Arianna yang paling kencang.


“Tangkap aku tangkap aku papa,” Tangan Arianna merentang.


Happ.


“Dapat yeyy,” ucap Arianna sambil tertawa bahagia digendongan sang papa.


Brianna yang menatap pun menjadi kesal ia menarik celana Kevin.


“Papa aku juga papa,” seru Brianna kesal.


Kevin berjongkok dan meraih tubuh Brianna hingga akhirnya Kevin masuk dengan menggendong kedua anak kembarnya. Sedangkan Taqy jalan bergandengan tangan dengan Axel.


Kevin dan Adel membantu ketiganya membersihkan diri dan berganti pakaian untuk tidur. Dan kamar tamu dilantai bawah memang sudah dijadikan sebagai kamar ketiga anak Kevin. Dua kamar didesain khusus untuk Taqy dan sikembar. Taqy sudah bisa tidur sendiri. Kalau sikembar mereka sekamar tapi beda ranjang. Karena Kevin sudah membelikan ranjang berbeda.


Setelah ketiga anaknya tertidur, Kevin keluar kamar menuju kamarnya. Ia melihat sang istri sedang memakai krim malam didepan meja riasnya.


“Sikembar tidur mas?” tanya Adel.


“Iya sayang,” saut Kevin sambil mendekati Adel.


“Taqy juga tidur sayang?” tanya Kevin.


Adel mengangguk.


“Ya berarti tinggal sikecil belum ditidurin yang,” ucap Kevin manja.


Alis Adel sampai berkerut tak paham dengan perkataan suaminya.


“Maksut mas?” tanya Adel.


“Astaga kita sudah menikah berapa tahun yang kamu masih gak tau,” ucap Kevin.


“Memangnya apa mas?” seru Adel.


“Tuh,” menunjuk celanannya.


Adel yang mengikuti arah tangan Kevin menjadi memerah wajahnya. Ia memalingkan wajahnya agar Kevin tak melihat wajahnya tapi telat Kevin sudah melihatnya.


“Ah lihat istriku manis sekali,” seru Kevin.


Lalu ia menarik Adel ke ranjang dan menidurkannya, mengukungnya diantara kedua tangannya hingga bau maskulin Kevin tercium di indra penciuman Adel. Dan akhirnya jadilah adegan orang profesional.


--*--


Yang rindu Babang Kevin sama Adel aku selipin dimari hahaha.

__ADS_1


Ah ternyata pendukungnya My Prince banyak. Komenan langsung berkomentar ahhaha. Yang sabar yah, besok mungkin My Pince hadir lagi ahahaha.


Yuk JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE AKU DONG


__ADS_2