
“Ketika kaki ini menapak untuk yang pertama kali ke Indonesia, entah kenapa hatiku menjadi menghangat.” ~Khadijah Haura~
.
.
.
“Terus apa yang harus Khali lakuin abi?” tanya Khali bingung.
“Tunggu lamaranmu dapet jawaban, kemudian nanti kita langsung ke Indonesia,” ujar Raja Malik.
“Betul nak, Umi juga sudah ingin bertemu dengan Angel. Umi ingin tau kesulitan saat mereka hidup sendiri,” lirih Ratu Mayra sambil menangis.
Khali menganguk mengiyakan. Ia menjadi sedikit lega dihatinya. Entah kenapa tapi manurutnya jalan restu kedua orang tuanya sekarang sudah didapat. Namun ada ketakutan dalam hatinya. Bagaimana jika Aqila dan keluarganya diketahui oleh Kerajaan Arab.
“Abi Umi,” panggil Khali ragu.
“Ya nak ada apa?” sabut Raja Malik.
“Bagaimana jika mereka diketahui oleh Kerajaan Arab, apalagi Almarhum Pangeran Khalid memiliki keturunan lelaki,” ucap Khali.
“Kita harus membantu mereka untuk menyembunyikan identitasnya sementara waktu. Sampai kita tau bagaimana keadaan di Arab,” ujar Raja Malik.
Khali menyetujui rencana itu. Lebih baik ia mengecek dulu bagaimana keadaan jika keluarga kerajaan tau. Apa mereka menarik keluarga Angel kembali ke Arab atau malah mencampakkannya setelah mengetahui jika putranya meninggal.
Khaki pamit kembali ke apartemen Aqila karena dia merasa sudah lama meninggalkan keduanya. Raja dan Ratu pun mengijinkan lalu Khali segera mencium tangan kedua orang tuanya.
---*---
Sesampainya didepan pintu apartmen Aqila, Khali mulai membunyikan bel apartemen. Namun tak ada sahutan dan bahkan pintu dari dalam. Hingga Khali merasa sudah menunggu sampai 10 menit tapi tetap saja tak ada orang.
Bertepatan dengan waktu yang sama, Dini keluar dari apartemen untuk ke apartemen Aqila.
“Astagfirullah. Pangeran kenapa disini?” tanya Dini bingung.
“Aku mau menjemput adikku yang berada di apartemen Aqila,” ucap Khali.
“Kenapa gak masuk?” tanya Dini.
“Saya sudah pencet bel tapi gak ada yang bukain,” ujar Khali.
“Hah pasti dia tidur pangeran,” ucap Dini.
Dini yang tau password pintu Aqila segera menekan beberapa digit. Dan benar saja pintu terbuka. Dini segera berjalan masuk dan menuju ke dalam kamar. Sedangkan Pangeran Khali dan Ibra duduk di ruang tamu.
“Ck kebiasaan kalau udah tidur pasti gak denger,” gerutu Dini.
“Eh tapi lihat disampingnya juga ada putri tidur. Apa dia yang dimaksud adik dari Pangeran Khali,” gumam Dini dalam dalam.
Ia menatap wajah cantik Haura, Dini tak hentinya berdecak kagum. Hingga ia tersadar jika ada dua lelaki yang menunggunya. Dini segera keluar dan menutup kembali pintu kamar Aqila.
“Mereka tidur tuan,” ucap Dini pelan.
“Oh yasudah biarkan saja, aku akan pulang. Nanti aku akan kembali dan tolong salamkan pada mereka yah,” pinta Khali.
Dini mengangguk lalu kedua lelaki itu langsung keluar. Selepas kepergian Pangeran Khali, Dini meletakkan berkas rumah sakit diatas meja tamu, lalu segera keluar dari apartemen itu.
__ADS_1
---*---
Suara Adzan dari handphone membangunkan Aqila. Ia mulai mengerjapkan matanya dan mengucek mata kanannya. Perlahan mendudukkan diri dan bersandar diranjang.
Meraih ponsel didekatnya, ia menatap jam yang sudah pukul 15.00, Aqila segera beranjak dan mulai menyegarkan dirinya. Tak lupa sebelum mandi ia juga membangunkan Haura.
Melaksanakan kewajiban bersama hingga akhirnya keduanya mulai duduk bersama menonton televisi. Tak lupa Aqila melihat berkas yang tadi diletakkan oleh Dini. Dia mengambilnya dan menyimpan di dalam kamar.
Saat mereka menonton televisi ,tak lupa ditemani dengan cemilan dan minuman untuk menghabiskan waktu dengan bersantai.
Hingga akhirnya Haura mulai mengatakan dirinya akan ke Indoensia.
“La,” panggil Haura.
“Hm,” sahut Aqila menatap televisi
“Aku minggu depan ke Indonsia,” ujar Haura.
“Wah serius?” tanya Aqila.
“Iya serius, aku disuruh menggantikan kakak,” ujar Haura tak bersemangat.
“Loh tapi kamu kok lesu gini?” tanya Aqila heran
“Aku paling malas bisnis. Aku lebih suka hidup diluar dan membantu banyak orang,” ucap Haura.
“Bisnis juga membantu banyak orang lo Ra, meski tak langsung. Mereka kerja di kantor kita itu sudah menandakan kalau kita membantu mereka untuk mencari nafkah kan?’’ tanya Aqila.
“Ya kamu benar La, aku bakalan inget ini,” ucap Haura.
“Harus inget dong sama nasihatku ” canda Aqila.
Ternyata hari itu Haura benar-benar menghabiskan waktunya dengan Aqila. Bahkan Haura juga menginap namun dengan syarat penjagaan 2 pengawal wanita didalam apartemen.
Aqila tak mempermasalahkan itu. Ia bahkan mungkin harus membiasakan diri jika dia menerima lamaran dari Khali yang termasuk seorang Pangeran.
---*---
Seminggu kemudian.
Tepat hari ini Haura harus terbang ke Indonesia, dengan semangat dia berangkat menuju Bandara. Disana dia akan menggunakan pesawat pribadi. Namun sayang, kedua orang tuanya tak bisa ikut mengantarkan karena takut dengan banyaknya rakyat Brunei dan kejaran Media.
Akhirnya pagi itu Haura diantar oleh Khali dan Ibra ke Bandara. Tak lupa dengan penyamaran yang baik. Sesampainya di Bandara, Haura langsung menghambur kepelukan Aqila.
Ya semalam Aqila sudah menyetujui untuk ikut mengantarkan Haura dengan menunggunya di Bandara.
“Kamu hati-hati disana yah, jangan lupa kabarin aku,” ujar Aqila.
“Pastinya, aku nanti langsung kabarin kamu yah,” ucap Haura.
“Kakak juga jangan lupa Ra,” sahut Khali.
“Hehehe siap kak.”
Mereka langsung mengantarkan Haura dengan menggunakan ruangan khusus menuju pesawat pribadi milik Khali.
Dengan drama menangis membuat Aqila juga ikut menitikkan air mata. Bahkan berulang kali Haura tak ingin melepas pelukan dari sahabatnya itu.
__ADS_1
“Sudah sana berangkat. Ingat jaga diri yah,” peringat Aqila.
“Pastinya,” sahut Haura.
Berganti memeluk Khali lalu mulai melepaskan pelukannya. Melambaikan tangan lalu mulai bergerak menjauh dari keluarganya. Haura menaiki satu persatu tangga menuju dalam pesawat. Mendudukkan dirinya di pesawat dan menatap sayu ke arah orang-orang tercintanya.
Perlahan namun pasti pesawat mulai lepas landas dan Haura hanya bisa melambaikan tangannya. Saat dirasa pesawat sudah mulai naik, Haura memilih memejamkan matanya untuk tidur.
Akhirnya perjalanan dari Brunei ke Indonesia pun berakhir. Haura membuka matanya dan tak lupa mengucapkan puji syukur didalam hatinya. Dengan kuasa Allah Haura bisa sampai disini dengam selamat itulah fikir Haura.
Berjalan perlahan keluar dari pesawat, Aqila mulai menapaki tangga tiap tangga untuk turun. Dan sebelum kakinnya sampai di tanah Indonesia, dia berhenti sejenak.
“Bismillahirrahmanirrahim, lancarkan semuanya ya allah,” ucap Aqila dalam hati.
Dia membuka matanya lalu mulai memijakkan kakinya untuk pertama kalinya ke Indonesia. Bagaimanapun Haura kebanyakan diam di dalam Istana. Haura sendiri keluar jika ada acara amal atau ketika dia berhasil kabur untuk jalan-jalan sendiri.
Pikiran Haura mulai disadarkan lagi, dia mulai mengikuti langkah Asisten Haki yang ternyata ikut juga dengan Haura ke Indonesia. Berjalan dengan bersisian keduanya memang sangat profesional.
Haki mulai menggiring Haura kesebuah mobil yang sudah orang suruhannya siapkan. Dia juga segera masuk ke dalam mobil, saat dia melihat Putri Haura juga sudah duduk didalam.
Melajukan mobilnya perlahan dan mulai membelah jalanan yang padat itu.
Haura hanya duduk tenang sambil menatap jalanan yang asing baginya, namun senyum mengembang mulai menghias tatkala ia melihat banyak orang berjualan dipinggir jalan. Ah bisa menjadi kesempatan agar dia makan semuanya batin Haura.
Hingga tatapan Haura terfokus pada sebuah toko roti didekat rumah sakit. Haura segera memerintahkan Haki dan supir untuk berhenti didepan toko roti.
Mereka berbiacara menggunakan bahasa melayu.
“Kamu tunggu disini ya, aku mau keluar sebentar,” ujar Haura lembut.
“Saya ikut nona,” ucap Haki mulai menekan pintu mobil.
“Ah tidak perlu, tokonya didepan kan. Kamu tunggu sini saja,” ujar Haura.
“Tapi...,”
“Tunggu disini atau kita pulang ke Brunei,” ancam Haura.
Dan berhasil. Haki memilih diam dan membiarkan Haura mulai turun. Berjalan dengan tegas memasuki ruangan itu. Pandangan yang ia lihat pertama adalah banyaknya muda mudi disana. Ada yang bersantai, mengobrol bahkan terlihat berkencan.
Dengan pelan Haura mulai mendekat ke arah etalase roti. Membawa sebuah nampan dan cupit untuk ia gunakan mengambil makanan. Haura mengambil sesuai kemauannya dan tak lupa untuk para pengawalnya. Hingga Haura berjalan dengan cepat dan tanpa sadar ia bertabrakan dengan seseorang.
Bukk.
“Astagfirullah,” ucap Haura sambil badannya hampir terhuyung.
Namun untung saja ada sebuah lengan kekar yang menahan tubuhnya.
Haura yang tersadar lengannya dipegang langsung mendongakkan kepalanya.
“Astagfirullah,”
----*----
Astagfirullah ada apa Ra? ketemu sama hantu kah?
Hahaha hayo tebak nyenggol siapa tuh.
__ADS_1
Maaf ya belum bisa up 3 bab, doain biar bisa up 3 bab. Anak lagi demam jadi ngetiknya malam aja bisanya.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE