
“Dulu memang sakit tapi sekarang ketika hatiku ikhlas tak ada kesakitan lagi dihatiku. Bahkan sekarang aku mendoakanmu agar kau hidup bahagai bersama sahabatku.”~Aqila~
.
.
.
Sayup-sayup adzan subuh terdengar. Langit gelap masih terlihat dari dalam kamar. Seorang gadis menggeliat dan mulai membuka matanya. Aqila mengerjap pelan. Dia melirik kesamping ternyata sahabatnya masih tertidur.
Aqila ingat semalam mereka baru tertidur sekitar pukul 1 malam. Pantas saja matanya saat ini mengantuk dan bisa dipastikan pasti ada kantung mata.
Aqila beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Seperti rutinitas biasanya. Setelah selesai ia segera melaksanakan 2 rakaatnya. Setiap manusia didunia ini usahakan memiliki waktu khusus untuk kembali pada tuhannya.
Percayalah jika selalu dekat dengan sang penciptanya maka apa yang kamu inginkan pasti allah mudahkan. Itulah yang selalu diingat oleh Aqila.
Selesai sholat Aqila segera turun untuk membantu mamanya didapur. Hari ini jadwalnya sedikit sibuk sepertinya. Pasti dia akan menemani Rossa dulu, setelah itu Aqila berencana membeli buku untuk taman bacanya dan terakhir ia akan datang kajian muslimah bersama Dini dan Kak Kayla.
Aqila dan Mama Angel berkutat didapur sampai waktu menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Setelah dirasa selesai Aqila segera pergi ke taman. Seperti biasa menyiram dan membuang rumput liar yang mengganggu tanamannya.
Setelah selesai Aqila segera naik ke kamarnya.
Ceklek.
“Assalamu’alaykum,” salam Aqila.
Dilihatnya ranjang sudah kosong dan gemiricik air terdengar. Aqila menebak pasti Rossa sedang mandi. Dan benar saja ketika dia menata ranjang Rossa keluar dengan bathrobe miliknya.
“Aku gak bawa baju ganti,” ucap Rossa cemberut.
“Pakek bajuku gimana?” tawar Aqila.
Bagaimanapun Aqila pasti menawarkannya dulu ia takut Rossa tak nyaman dengan pakaiannya. Karena Qila tau sendiri keluarga Rossa adalah orang kaya. Dan pasti pakaian Rossa termasuk dalam pakaian mahal.
“Nah oke gakpapa mana La,” ucap Rossa senang.
Aqila berjalan menuju walk in closethnya. Dia mencari pakaiannya dulu saat sebelum berjilbab. Dia mengambil dress selututnya dan memberikan pada Rossa.
“Itu dress gak pernah aku pakek masih baru. Pakai saja sana,” ucap Aqila.
Rossa mengangguk dan kembali ke kamar mandi. Setelah selesai berganti pakaian Aqila mengajaknya turun kebawah untuk sarapan pagi.
Sarapan pagi berjalan sempurna. Lauk pauk yang dimasak pun habis tak tersisa. Apalagi Rossa dia sampai nambah karena menurutnya masakan Qila dan Mama Angel sangat enak.
“Kalau disini terus kayaknya Rossa bakalan gemuk deh,” celetuk Rossa.
“Ya gakpapa dong Sa,” saut Adel.
“Ya jangan dong kak nanti calon suami aku gak mau sama aku,” seru Rossa.
Deg.
Aqila mematung. Dia tau betul siapa yang dimaksud Rossa. Tapi entah kenapa memang jika menyangkut masa lalunya Aqila merasa terganggu. Meski perasaannya pada masa lalunya menipis dan ia sudah pasrah dengan takdir Allah padanya.
Adel sendiri menatap wajah sang adik yang berubah. Dia tau pasti sang adik mulai risih akhirnya Adel mencari pengalihan dan berhasil. Rossa tak membahas masalah calon suami lagi.
Mereka semua akhirnya pindah ke ruang keluarga untuk bercengkrama. Rossa sendiri menempel dimanapun Aqila berada. Tapi tak membuat Aqila tergganggu karena memang sudah begitulah keduanya.
Ketika asyik mengobrol ponsel Rossa berdering. Rossa mengambil dan membaca id pemanggil. Senyumnya mengembang dan segera menggeser icon hijau itu.
“Ya mas,” ucap Rossa.
“....”
“Baiklah mas jemput kesini aku siap-siap,” ucap Rossa lembut.
“....”
__ADS_1
“Oke mas bye.”
Lalu Rossa meletakkan kembali ponselnya.
“Aku harus pulang La, kita gak bisa keluar,” ucap Rossa sedih.
“Its oke gakpapa. Kamu mau kemana memang?” tanya Aqila.
“Hari ini aku harus melihat persiapan gedung pernikahan aku. Pernikahan aku kurang 4 hari lagi,” ucap Rossa.
“Ah begitu baiklah hati-hati,” Aqila tersenyum manis.
Sakit? Tidak sama sekali. Namanya orang sudah ikhlas dia tidak akan merasakan sakit. Malahan Qila berharap sahabatnya mendapat cinta dari Rey. Doa selalu dipanjatkan untuk keduanya.
Setelah mengambil tasnya dikamar Qila. Rossa pamit pada semua keluarga Aqila. Terakhir ia menggandeng tangan Aqila untuk mengantarnya keluar. Tentu saja Aqila tak menolak.
Ceklek.
Pintu utama terbuka. Dan bersamaan mobil sport Rey sampai didepan.
“Aku pulang dulu yah,” pamit Rossa.
“Iya” Aqila mengangguk, “Hati-hati,” seru Aqila.
Rossa mengangguk dan melambaikan tangannya. Saat Rossa berjalan menuju mobil, kaca dekat Rey terbuka. Rey memandang wajah Aqila penuh kerinduan.
Ingin rasanya Rey menarik Qila dipelukannya tapi tidak mungkin. Bahkan dia sempat takjub menatap penampilan Aqila saat ini. Menurut Rey penampilan sekarang membuat Aqila semakin cantik dan anggun.
Mendengar pintu samping terutup Rey buru-buru menutup jendela dan segera melajukan mobilnya meninggalkan Aqila yang masih mematung.
Aqila bisa bernafas lega ketika melihat Rey tak melakukan hal gila. Ketika ia hendak masuk. Kakaknya Adel sudah berdiri di dekat pintu dengan wajah sendu.
“Ada apa kak?” tanya Aqila dengan masuk kedalam.
“Kamu baik-baik aja kan?” tanya Adel.
“Kakak takjub sama kamu. Kamu udah kuat sekarang,” ucap Adel.
“Adiknya siapa dulu dong,” Aqila membanggakan diri.
“Adiknya kakak,” Adel menarik Qila dipelukannya.
Adel memperat pelukan itu saat dirasa sang adik juga memeluknya tak kalah erat. Dari tingkah laku sang adik, Adel sudah bisa menebak bagaimana perasaan adiknya.
“Udah kak,” melepas pelukan.
“Aku mau keluar loh,” pamitnya.
“Kemana?” tanya Adel.
“Aku mau beli buku buat taman baca aku dan nanti sore ke kajian muslimah,” seru Aqila.
“Baiklah, yang penting hati-hati,” seru Adel.
--*--
Dimobil Rey.
Setelah Rossa naik, Rey segera melajukan mobilnya. Tujuan mereka saat ini adalah gedung pernikahan. Sejujurnya Rey sudah menolak sang mama, berbagai alasan sudah ia lontarkan tapi sang mama tak percaya. Mau tak mau Rey pun menjemput Rossa.
“Mas gak kerja?” tanya Rossa mencairkan suasana.
“Gimana mau kerja kalau kayak begini,” saut Rey dingin.
“Tapi ini kan untuk pernikahan kita mas,” ucap Rossa menoleh Rey.
“Menurutmu seperti itu. Menurutku tidak,” ucap Rey.
__ADS_1
“Mas kenapa sih mas, gak pernah mau nyoba suka ke aku,” ucap Rossa.
“Karena aku sudah memiliki wanita yang aku cintai,” ucap Rey menatap tajam Rossa.
“Tapi mas harus ingat pernikahan kita sebentar lagi. Mau tak mau lupakan dia mas,” teriak Rossa.
Citttt.
Rey menekan rem secara mendadak. Dia menatap tajam ke arah Rossa. Dan Rossa tak kalah sengit menatapnya.
“Gara-gara kamu aku pisah sama dia,” ucap Rey dingin.
“Yah bagus deh. Jadinya aku gak perlu singkirin dia,” seru Rossa angkuh.
“Kamu,” ucap Rey.
Ia menahan nafas memburunya. Ia tak mungkin memukul seorang wanita. Bisa dibilang banci dia. Rey diam dan akhirnya menakan pedal gas kembali.
Mobil melaju menuju gedung tempat mereka nanti menikah. Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai didepan gedung. Keduanya berjalan, dan dengan segera Rossa merangkul lengan Rey karena didalam ada Mama Clara dan Mama Ria.
Senyum mengembang di wajah kedua wanita paruh baya itu ketika melihat anak dan menantunya telah sampai.
“Lama sekali,” ucap Mama Ria.
“Iya ma macet,” seru Rey malas.
Mereka berjalan ke arah dalam gedung. Gedung ini nanti akan disulap menjadi sebuah pernikahan yang megah. Dibelakang gedung pun nanti juga didekorasi sebagai suasana outdoor.
Seorang WO memberikan semua penjelasan dengan detail. Bahkan tak jarang ketiga wanita itu merubah sesuai keinginan mereka. Tentu saja mereka ingin yang terbaik di hari pernikahan nanti. Tak boleh ada yang cacat sedikitpun.
Setelah semua masalah dekorasi selesai. Mereka menuju butik untuk melihat gaun yang sudah dijahit milik Rossa.
Tak perlu waktu lama lagi mereka sampai disebuah butik. Dan ternyata butik itu tak lain tak bukan milik Kayla.
Kayla memandu para pembeli VVIP nya dengan ramah. Kayla meminta karyawannya menyiapkan gaun dan jas yang sudah selesai dijahit. Dengan segera Kayla meminta calon pengantin itu mencoba gaun dan jas mereka.
Rey dan Rossa segera menuju ruang ganti. Sedangkan Mama Clara dan Ria melihat gaun-gaun indah yang menjuntai disana.
Drett drett.
Getaran ponsel Kayla membuat sang empu merogoh ponselnya dan segera mengangkat telfon itu setelah melihat id pemanggil.
“Ya sayang?” tanya Kayla.
.....
“Ah baiklah, aku ada didalam. Kamu masuklah dulu aku masih menerima tamu VVIP. Nanti setelah mereka selesai kita sama-sama mencari apa yang kamu butuhkan” ucap Kayla.
.....
Klik. Akhirnya panggilan terputus.
Kayla menunggu seseorang dibalik telfon itu dengan tenang.
“Assalamu'alaykum Kak Kay,” panggil gadis itu.
Dan bersamaan dengan itu Rey keluar dengan mengenakan jas pernikahannya dan berjalan menuju Kayla dan Mamanya yang sedang asyik melihat gaun.
Kedua wanita itu asyik mengobrol hingga tak menyadari jika sang calon pengantin dan kedua mamanya mendekat ke Kayla.
“Kayla,” panggil Mama Ria.
Kayla menoleh dan terlihat wajah gadis didepan Kayla. Spontan Rey mematung. Dia membeku menatap seseorang didepannya.
---*---
Selamat membaca
__ADS_1
Tetot hayoo siapa siapa?