Aqila Love Story

Aqila Love Story
Season 2 Bab 99 (Ekstra Part-Bahagia Bersama)


__ADS_3

“Terimakasih tuhan, sudah memberikan suami yang baik untukku, mampu membimbing dan mengajariku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Aku bersyukur karena dibalik semua pengorbanan dan ujian yang kau berikan ternyata menghasilkan ending yang begitu membahagiakan.” ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


.


.


.


Tak ada lagi yang begitu membahagiakan kecuali bisa bersama dengan suami. Suami yang begitu mencintai kita, memperlakukan kita seperti ratunya. Dan terpenting tak pernah bersikap kasar sekaligus kita melakukan kesalahan.


Begitupun dengan yang dirasakan Aqila. Dia tak pernah dimarahi oleh Khali. Malah tiap Aqila sedikit ceroboh dan salah Khali akan mengingatkannya dengan begitu romantis.


Seperti saat ini, Aqila yang sedang kehausan karena dia baru saja selesai nge-gym bersama Khali langsung menenggak minumannya tanpa duduk. Tentu saja itu pandangan yang tidak baik bagi orang yang faham akan agama.


Ditariknya pelan botol minum itu oleh Khali, hingga membuat sang istri menatap dirinya bingung. Aqila masih diam karena ia belum menyadari kesalahannya.


Diciumnya bibir istrinya pelan, Khali memagutnya dengan lembut dan secara perlahan menggiring istrinya untuk duduk. Saat dirasa Aqila sudah duduk nyaman, Khali melepas ciuman dibibir istrinya.


“Kalau minum harus sambil....,” Khali menggantung kalimatnya untuk melihat istrinya sadar atau tidak.


Aqila menunduk ia tersadar. Namun dengan cinta Khali mendongakkan kepala istrinya. Dia diam menunggu ucapan dari bibir seksi istrinya.


“Duduk,” ucap Aqila pelan.


“Pintar.” Mengelus kepala istrinya lembut. “Lain kali diingat yah,” ujar Khali.


“Iya sayang, maafin aku ya karena sering gak sadar dan lupa.”


“Mas ngerti sayang,” ungkap Khali.


Aqila tersenyum, di lubuk hati terdalam ia begitu bersyukur karena suaminya tak pernah membentak, menghardik atau memarahinya sedikitpun. Jika salah dia akan memberitahu dengan lembut dan mesra seperti tadi.


Setelah selesai nge-gym, keduanya segera menuju ke kamar. Kemesraan mereka memang semakin hari semakin terlihat.


Jika diitung, pernikahan mereka sudah ada dibulan ke dua, namun belum ada tanda-tanda isi untuk perut Aqila. Tapi keduanya tak mempermasalahkan itu. Karena Khali juga masih ingin jalan berdua berkeliling dunia bersama istrinya.


Sejak beberapa minggu kemarin dia memang sempat mengobrol dengan ayahnya, Khali meminta pengangkatan dirinya menjadi raja yaitu tahun depan. Ia beralasan ingin menghabiskan waktu setahun ini dengan istrinya. Ia tau jika sudah menjadi raja waktunya akan banyak dihabiskan dengan bekerja. Mungkin istrinya juga akan menjadi korban untuk ikut kemana saja. Khali sendiri sudah siap akan memboyong istrinya kemanapun karena memang dirinya tak bisa jauh dari Aqila.


Selesai membersihkan diri dan melaksanakan sholat wajib. Keduanya segera keluar dari kamar. Tepat seminggu yang lalu. Khali dan Aqila memang pindah ke Indonesia sementara waktu. Khali dan Aqila menggunakan rumah lama yang dulu pertama kali digunakan Kevin dan Adel. Karena permintaan keluarga mereka akhirnya sepasang pengantin baru itu menyetujui keinginan semua orang. Mereka juga mau tinggal di Indonesia karena bersamaan adanya kerja sama Khali dengan perusahaan Kevin dan Rey. Sekaligus Aqila akan membantu rumah sakit Kevin sementara waktu.


Memang jika diperhitungkan pekerjaan Khali begitu banyak memang, dia kadang pulang juga agak telat. Namun tak menyurutkan keinginan menggebu dari keduanya. Mungkin efek dari pengantin baru. Jadinya tak ada yang bisa saling menjauh satu dengan yang lain.


--*--


Sekitar pukul 10 pagi, Adel dan ketiga anaknya datang mengunjungi Aqila. Siang ini memang Aqila sendirian di rumah karena suaminya sudah berangkat tadi pukul 9 ke perusahaan kakak iparnya.


Di bunyikan bel itu dengan tak sabaran oleh Arianna yang berada digendongan Adel. Hingga akhirnya pintu itu terbuka dan tampaklah Aqila yang menggunakan gamis berwarna mocca dengan hijab warna senada.


“Aunty,” teriak Brianna.


Brianna dan Taqy memeluk kaki Aqila bersamaan. Begitupun Arianna, bocah kecil cantik itu segera turun dari gendongan mamanya dan ikut memeluk auntynya.


“Aunty Liana kangen,” ucap Arianna.


“Uhh aunty juga kangen banget sama kalian,” ujar Aqila memeluk ketiganya.


Aqila meminta Adel dan ketiga ponakannya masuk lalu duduk di ruang tamu. Sebelum ikut duduk, Aqila berjalan menuju dapur untuk mengambilkan minum dan cemilan. Seperti itulah Aqila, selama dia bisa mengerjakan sendiri maka dia yang akan melakukannya. Ia tak ingin semua orang memanjakan dirinya. Cukup ketika dia berada di Istana, segala urusannya sudah tertata rapi tanpa dirinya harus membantu.


Dibawanya nampan dengan pelan lalu berjalan menuju ruang keluarga. Diletakkannya diatas meja dan dia ikut duduk.

__ADS_1


“Ada apa kakak kemari?” tanya Aqila heran.


Dia tau betul jika kakaknya kesini akan ada suatu hal. Karena memang Adel jarang keluar karena suaminya Kevin masih begitu posesif tanpa memandang umur.


“Kakak kesini ingin mengundang kamu kerumah untuk barbeque bareng.”


“Wahhhh pasti enak, mau kak mau,” sahut Aqila senang.


“Oke, nanti jam 4 atau jam 5 otw kerumah yah,” ujar Adel.


“Oke siap kak.”


---*---


Sepulangnya Adel dan ketiga ponakannya, Aqila segera mengirimkan pesan pada suami tercintanya.


Love Habibiku.


Sayang, nanti jam 4 kita ke rumah kak Adel yah, barusan Kak Adel undang kita untuk barbeque an bareng dirumahnya. Jadi kamu pulangnya jangan sore-sore bi. Love you habibiku.


Send.


Ahh meleleh, rasanya tiap kata yang diketik oleh Aqila membuat wanita itu selalu berdebar. Entah kenapa rasanya makin hari cintanya makin besar. Namun ia juga takut, karena suaminya selalu bilang, jangan mencintaiku terlalu dalam melebihi rasa cintamu pada allah.


Kata-kata itu selalu terngiang dikepala Aqila dan membuat wanita itu selalu belajar lebih baik lagi untuk dirinya sendiri.


Tepat pukul 15.30 Khali mulai memasuki halaman rumah mereka. Dengan langkah lebar ia segera masuk ke dalam rumah.


“Assalamu’alaykum ya humairah,” ucap salam Khali pada istrinya.


Seperti biasa memang Aqila selalu menyambut suaminya didekat pintu dan merentangkan kedua tangannya. Khali memeluk istrinya erat dan menghadiahi ciuman dipucuk kepalanya.


Panggilan sayang dan cinta seperti itu memang kerap kali mereka ucapkan ketika bersama dan berdua saja. Panggilan yang tiap hari selalu membuat keduanya makin lengket dan romantis.


Tepat pukul setengah lima sore, Aqila dan Khali berangkat menuju rumah Adel. Keadaan rumah yang ia rindukan membuat Aqila ingin segera sampai kesana. Hingga beberapa menit akhirnya mobil memasuki halaman rumah Kevin.


Keduanya mengernyit alis saat melihat banyaknya mobil kesayangan Kevin terparkir di depan rumah Kevin.


“Kenapa banyak mobil gini mas?” tanya Aqila pada Khali.


“Mas juga gak tau, ayo masuk,” ajak Khali.


Keduanya berjalan bergandengan tangan dan segera mengucapkan salam sebelum membuka pintu.


“Surprise,” teriak semua orang yang berada di dalam rumah Kevin.


Sungguh sebuah kejutan tak terhingga untuk Aqila dan Khali. Bagaimana tidak, keluarga Khali dan keluarga besar Aqila sekaligus dari Arab ikut hadir dirumah Kevin.


Aqila menghambur ke pelukan neneknya Ratu Fatimah, dan kakeknya juga. Tak lupa ke umi mertuanya yang sudah begitu lengket dengannya.


“Umi kenapa gak ngabarin dulu kalau kesini?” tanya Aqila lalu melepaskan pelukannya dari Ratu Mayra.


“Hehehe iya maafkan umi ya sayang, umi emang sengaja bikin kejutan buat kamu,” ujar Ratu Mayra.


Akhirnya kehangatan semua keluarga begitu terasa dirumah Kevin. Canda tawa terdengar di seluruh penjuru rumah besar itu. Bahkan tak segan-segan suara cekikikan dan celotehan dari ketiga anak kecil itu tak kalah nyaring.


Hingga akhirnya sehabis sholat magrib, semua keluarga segera berjalan menuju taman belakang. Disana sudah ada meja yang berisi ayam dan ikan yang siap dibakar bersama. Alat pemanggang pun sudah siap.


Para wanita mulai menyiapkan ikan dan Ayam yang sudah dilumuri bumbu oleh Adel sore tadi. Lalu para lelaki bagian menghidupkan pemanggang untuk membakar ikannya. Sedangkan Ratu Fatimah dan Raja Abdullah hanya duduk santai sambil menjaga ketiga cicitnya itu.

__ADS_1


Setelah pembakar siap Aqila dan Adel membawa ikan -ikan itu ke arah para lelaki. Lalu dengan sigap mereka mulai membakar ikan-ikan itu hingga matang.


--*--


Butuh perjuangan untuk para suami membakarkan ikan bagi setiap istrinya. Khali yang begitu semangat membakar satu ikan gurame besar untuk dirinya dan sang istri segera menyelesaikan ikannya itu. Setelah siap dibawanya ikan itu ke arah Aqila.


“Hmm pandainya suamiku membakar ikan hingga harum,” ujar Aqila dengan menerima ikan bakar itu dari sang suami.


Axel yang berada didepan adiknya hanya bisa menghela nafas.


“Sabar-sabar dilihat napa ada jomblo disini yang merasa iri dengan ke uwuwan kalian,” sindir Axel sambil pura-pura mengusap dadanya.


“Hahahaha mangkanya cepet nikah kak,” ejek Aqila.


“Huh nikah-nikah. Ya nanti kalau dah nemu,” ucap Axel kesal.


“Dikira barang nemu-nemu,” sahut Aqila terkikik geli.


Debatan mereka berhenti ketika Mama Angel memanggil mereka untuk mulai berkumpul dimeja panjang yang sudah disiapkan. Hasil ikan bakar pun mulai ditata rapi. Dan para pelayan juga membawa beberapa nasi dan minuman dimeja panjang.


Makan malam hangat di taman belakang dengan ditemani canda tawa semua orang serta rasa persaudaraan itu begitu terasa. Aqila dan Khali saling tatap penuh cinta. Mereka mulai menghabiskan makan malam dengan lahap tanpa sisa.


Setelah makan malam selesai, mereka melanjutkan dengan acara sesi mendengarkan Axel main gitar dan nyanyi bersama. Mereka duduk di atas rumput yang telah dialasi sebuah alas karpet.


Gitar mulai dipetik dan suara merdu Axel membuat semua orang terhipnotis. Ada yang ikut memetikkan ibu jarinya, ada yang ikut bernyanyi dan ada yang ikut menggerakkan kepalanya untuk menikmati alunan musik indah itu.


Begitupun pasangan Khali dan Aqila. Mereka mendengarkan dengan posisi Aqila berada didepan Khali. Lalu Khali memeluknya dari belakang. Keduanya berpelukan untuk membagi rasa hangat dan ikut merasakan indahnya suara Axel dan petikan gitar. Aqila sampai memejamkan matanya dan mengelus pipi sang suami.


“Sayang,” pnggil Aqila.


“Hmm,” sahut Khali.


“Makasih ya mas,” ujar Aqila.


“Untuk?” tanya Khali.


“Untuk semuanya, makasih mas sudah datang di hidupku. Mengucapkan ku disetiap doa mas dan juga berkat mas aku bisa bertemu dengan keluarga ayahku,” ucap Aqila tulus.


Khali mengeratkan pelukan ke pinggang istrinya dan menjatuhkan kepalanya dipundak sang istri.


“Sama-sama sayang, itu semua adalah bonus dari Allah untuk ujian yang sudah Allah berikan pada kita.”


Aqila mengangguk membenarkan ucapan suaminya. Ini semua sudah jalan takdir Allah dan hasil dari semua ujian yang sudah ia dan keluarganya lakukan. Ia makin memegang lengan sang suami yang melekat dipinggangnya.


“Aku berharap semoga keluarga kita selalu diberi kebahagiaan dan kesehatan seperti ini sayang dan semoga allah segera menitipkan buah hati kita disini,” ujar Aqila memegang perutnya.


“Aamiin.”


Akhirnya perjuangan dan pengorbanan yang Aqila lakukan berbuah manis. Ujian yang selalu Aqila hadapi tanpa mengeluh berakhir dengan manis dan indah. Tak ada yang menduga jika cintanya akan berakhir pada seorang Pangeran yang bahkan belum lama ia kenal.


Siapa sangka hadirnya Khali membuatnya juga bisa bertemu dengan keluarga ayahnya yang sangat dirindukannya selama ini. Aqila bersyukur dengan hikmah yang allah beri adalah hadiah yang begitu membahagiakan untuknya dan untuk semua orang. Dia berharap semoga Allah selalu mencurahi kebahagiaan dan kesehatan pada dirinya, suaminya dan seluruh keluarganya.


TAMAT BENERAN.


--*--


BERIKAN VOTE KALIAN UNTUK NOVEL INI YANG TERAKHIR KALI MUNGKIN. KARENA MEMANG NOVEL INI BENAR-BENAR TAMAT SAMPAI DISINI.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN KALIAN YANG BANYAK YAH.

__ADS_1


__ADS_2