
Akhirnya dengan emosi ibu citra keluar dari rumah yang menurut Pak ganda adalah rumah radit cucunya. Bahkan ibu citra tidak sempat berkenalan dengan cucunya karena terlalu emosi.
Ibu citra dengan emosi langsung menuju mobil dan ingin langsung menuju bandara.
"kita langsung ke bandara"
"tapi barang kita masih di Hotel bu, dan kita belum chek out tadi" ujar Clara
"kamu urus sendiri"
"baik bu, pak tolong antar ibu ke bandara ya" perintah clara ke supir dan pengawal. Sementara dia sendiri kembali ke hotel Dan mengurus administrasi chek out.
Sementara pak ganda dan judeo belum beranjak dari tempat duduk mereka masing - masing.
"ckckck mamimu sama sekali tidak berubah deo, masih sangat egois " ujar pak ganda sambil geleng -geleng.
"yahhh begitulah mami pi, selalu merasa mampu mengukur kehidupan orang lain" keluh judeo melihat kelakuan maminya.
"tapi mas deo ngga boleh bentak ibu begitu mas, dosa" ucap Ester lembut. Mendapat teguran lembut dari istrinya membuat judeo makin bersyukur dengan kehadiran Ester.
"iya sayang, saya juga cuma gertakan
doank, setidaknya biar mami sedikit sadar gitu"
"Ya sudah, mami ngga bisa di ajak ngomong baik - baik. setidaknya dia sudah pulang. Mami tidak akan buat keributan lagi. " lanjut judeo
"iya kamu benar deo, semoga aja mamimu langsung balik ke Jakarta "
"itu pasti pi, mami sudah sangat tersinggung pastinya " ujar judeo sebenarnya kasian juga sama maminya karena hidup tanpa kasih sayang seorang pasangan, sementara papinya sama tante silvia sudah bahagia.
"jo "panggil judeo
"iya tuan " jawab jo sambil mendekat
"tolong panggil radit sama tante silvia " perintah judeo
"baik tuan" jo berlalu ke arah kamar utama
Pak ganda yang melihat jo selalu memanggil deo dengan panggilan tuan merasa risih dan seperti kasih jarak.
"deo, jo itu memanggil kamu tuan, apa ngga bisa di rubah nak,? pak gitu "?
"iya sih, nanti coba aku bilangin pi " jawabnya santai sambil melirik istrinya. Judeo yakin istrinya ini pasti seendapat dengan papi.
__ADS_1
"kakek " suara radit menyudahi pembicaraan mereka.
"halooo cucu kakek, sini sayang" ucapnya sambil mengangkat tangannya untuk meraih radit.
"kek ternyata mainan ini seru lho" ujarnya antusias
"nenek aja sampai kewalahan " ucapnya semangat.
"oh iya, coba kalau sama kakek pasti oke" pak ganda selalu antusias kalau mengenai cucunya. Dan judeo yang melihat papinya dan tante silvia sangat menyayangi radit kembali merasa terharu.
'coba aja Ya, waktu bisa di putar dan aku bisa bersama papi dari kecil pasti aku sangat bahagia. Sejujurnya aku ngga butuh pengawal-pengawal maupun mobil mewah itu, aku butuh diperhatikan Dan di belai seperti yang papi lakukan untuk radit sekarang ' batin judeo.
Melihat judeo terpana dengan kebersamaan radit dan kakeknya, Ester sengaja menyenggol judeo.
"mas liatin apa sih, mau makan dulu ngga"?
"iya sayang mau, setelah itu makan kamu ya"? bisiknya di dekat telinga Ester membuat wajah Ester tersipu malu.
"iya deo, kami sudah makan tadi, kirain kalian masih makan di hotel, makan dulu gih. kalau anak buahmu sudah pada makan juga tadi" jelas pak ganda yang selalu mengajak semua orang makan bersama.
"iya pi "
"jo ,radit, kita Main catur di teras samping yo" ajak pak ganda yang rajin mengajari cucunya untuk main catur.
"oke kakek " radit bangkit berdiri dan setengah berlari menuju teras samping.
"mama sayang, kita menunggu cemilan sama kopinya ya, sekalian buat mereka yang di depan " canda pak ganda kepada istrinya sambil tersenyum dan mengedipkan matanya.
"iya papa sayang, segera datang, oke" jawab tante Silvia tidak kalah juga.
Lagi -lagi judeo harus terpana dengan keakraban keluarga papinya, harmonis, padahal hidup mereka tidak kaya raya walaupun tidak miskin juga. Tapi belum pernah judeo melihat wajah seperti senyum tante silvia menanggapi candaan papinya, senyum tulus.
Setelah semua pergi, tinggal judeo dan Ester di ruang tamu. Ester melihat judeo sepertinya memikirkan sesuatu, tapi anaknya dia ragu untuk bertanya, cuma karena penasaran akhirnya dia tanya juga.
"kenapa mas, mas deo jadi kepikiran ibu ya " tanya Ester hati -hati.
Judeo menggelengkan kepalanya cepat.
"aku tidak memikirkan ibu sama sekali, ibu tidak akan kenapa - kenapa, ada banyak pengawalnya dan juga asistennya yang standby melayaninya. Aku hanya iri melihat papi dan tante silvia, di usia senja mereka masih bisa becanda " tutur judeo menatap ke satu arah.
Ester terpana mendengar jawaban judeo yang menurut Ester pak ganda dan bu silvia biasa aja, tidak ada yang spesial. Tapi bagi orang kaya seperti judeo itu sangat spesial.
"mas, syukurilah hidup kita, jangan hanya melihat kepada hidup orang lain lalu iri. Jadikan itu pelajaran." ucap Ester bijak
__ADS_1
"mas tahu ngga, menurutku yang di lakukan ibu Silvia sama Papa tadi biasa aja, dulu waktu di panti hampir setiap hari melihat kemesraan mereka, tapi Ya itu biasa aja. Kami waktu itu malah merasa gimana gitu kalau melihat orang kaya hidup berkecukupan, ngga pernah kekurangan, semua bisa di atur dengan duit, seperti hidup mas deo " ucap Ester yang berhasil mengalihkan pandangan judeo kepada Ester.
Judeo tersenyum kecil lalu bertanya lagi.
"kalian iri melihat aku? ngga salah tuh "? ucap judeo sambil senyum hambar.
"iya mas, begitulah kehidupan " ucap Ester
"tau ah pusing, ayo " ajak judeo bangkit berdiri diikuti oleh Ester.
"kok ke atas, katanya mau makan"? tanya Ester berusaha menahan tangannya yang di genggam judeo.
"belum lapar nanti aja" ucapnya asal sambil tetap menarik istrinya.
Judeo ternyata membawa istrinya ke kamar mereka . Ester hanya menurut aja karena dia pikir suaminya itu lagi banyak beban pikiran. Dia tidak ingin menambah beban judeo dengan banyak pertanyaan.
Sampai di kamar judeo langsung mendudukkan istrinya di kasur empuk mereka.
"Aku ingin melupakan sejenak semuannya, selain kamu " ucap judeo sambil menatap Ester.
"maksudnya " Ester bingung arah pernyataan judeo.
Judeo tidak menjawab pertanyaan Ester lagi, dia sudah tidak tahan melihat pemandangan keindahan istrinya di matanya.
Perlahan tapi pasti, judeo sudah menyatukan bibir mereka dengan posisinya berdiri agak menunduk sementara Ester duduk di pinggir kasur.
Ester sebenarnya masih bingung di tengah masalah yang sedang di hadapan mereka suaminya ini masih memikirkan untuk bermesraan. padahal beda lagi menurut judeo, itulah hal yang bisa membuat pikirannya tenang dan Fresh.
Judeo sudah larut dengan permainannya, dan pada akhirnya Ester pun membalas suaminya. Akhirnya bukan makan malam di meja makan tapi makan di tempat tidur seperti yang judeo katakan.
"apa kamu mau menemaniku sampai Tua, sampai aku tidak berdaya lagi"? tanya judeo saat dia melepaskan ciumannya sejenak. Dia menatap Ester sangat dalam dan mencari ketulusan di sana, dan Ester dengan yakin menganggukkan kepalanya.
"iya mas, bahkan sampai maut yang memisahkan " jawab Ester senyum manis
"terimakasih"
Hai semua
Dukung terus Ya
Like, coment dan vote
Terimakasih
__ADS_1