
Judeo keluar dari rumah maminya dengan perasaan kesal dan marah. Entah kenapa hatinya sedih juga melihat maminya tetap arogan dan egois, tidak pernah berubah melihat kehidupan, padahal papinya yang sudah dia miskinkan sudah sangat bahagia.
Tapi menyalahkan papinya juga judeo kurang setuju, karena semua sikap papinya selalu baik, dia hanya korban dari maminya. Bahkan telah terbukti bahwa papinya bisa merawat anaknya dengan baik selama bertahun-tahun.
Jo dengan sigap membukakan pintu mobil untuk tuannya. Jo sudah tahu bahwa tuannya pada posisi badmood.
"kita kemana tuan" tanya Jo
"kita ke apartemen Jo, kamu juga nginap, kita harus bicara" ucap judeo datar.
Lalu dia menarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di jok mobil. terlihat sekali kalau hatinya sedang galau.
"Mungkin nyonya hanya lagi emosi tuan, sebaiknya tuan tenang dulu"
"saya ngga pikirkan mami akan menarik sahamnya lalu CJ failid Jo, tapi yang aku pikirkan adalah sikap mami yang tidak pernah berubah. Bahkan dia akan menghancurkan anaknya sendiri demi untuk keegoisannya. Apa itu sikap seorang ibu Jo" ucapnya lemah penuh sesal.
Jo hanya diam tanpa menanggapi, karena dia juga sependapat dengan tuannya, harusnya seorang ibu tidak mengorbankan anaknya demi keegoisannya.
Tapi tidak mungkin Jo ikut memojokkan nyonya citra di depan anaknya, biar bagaimana pun itu anaknya sendiri.
Sepanjang jalan menuju apartemen judeo dan Jo tidak banyak bicara lagi. Mereka sibuk dengan pikiran masing - masing.
Begitu sampai apartemen jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Judeo mendudukkan dirinya di sofa ruangan tamu apartemen mewahnya.
"Jo" ucapnya padahal dia memejamkan matanya.
"iya tuan"
"tolong hitung semua jumlah aset ku, termasuk apartemen yang di selatan" ucapnya membuat Jo terpana sejenak. Dia tahu judeo ingin mengatasi masalah CJ tanpa maminya.
"tuan yakin melakukannya"
"iya, lakukan saja"
"baik tuan, besok akan saya laksanakan".ucap Jo menyanggupi padahal dia sendiri belum yakin untuk melakukannya.
"apa tuan ingin berendam" ucap Jo menawarkan kepada bosnya.
"iya Jo"
"akan saya siapkan tuan"
Jo melangkah masuk ke kamar mewah judeo dan menyiapkan air hangat dan aromateraphy untuk bosnya berendam.
Sementara judeo membuka matanya ketika handphonenya bergetar.
dddddrrrttt dddddrrrttt
Tertera di layar handphonenya my son calling...
Dengan semangat judeo membetulkan letak duduknya dan berusaha sedang bahagia saat menggeser warna hijau di handphonenya.
"hallo boy"
"halo papa, apa papa masih sibuk"
"tidak, siapa yang bilang papa sibuk"
"mama" jawab Radit cepat
"papa memang sibuk, tapi kalau angkat telepon Radit pasti papa sempat" ujar judeo
"kapan papa pulang" tanya Radit membuat sekejap judeo jadi teringat dengan masalah dengan maminya.
__ADS_1
"papa beresin kerjaan papa dulu ya nak"
"oke papa"
"mama mana sayang"? tanya judeo
"ini pa, disampingku" ucap Radit
"kasih mama, papa mau bicara dulu"
"iya pa"
Radit menyerahkan handphone ke mamanya dan pergi mencari mainannya.
"hallo" ucap Ester
"lagi ngapain tadi"
"mau boboin Radit"
"kok tumben ngga video call"? tanya Ester ingin lihat wajah judeo
"oh iya ya, lupa sayang" ucapnya lalu mengubah mode panggilan itu
"ada apa mas, kok wajahmu murung" tanya Ester melihat wajah judeo tidak seperti ekspektasinya yang pasti ceria menerima panggilan itu.
"ngga apa-apa sayang"
"jangan bohong mas, wajahmu kusut"
",hehehe kamu bisa aja"
"iya katakanlah ada apa, siapa tahu bisa kami bantu"
"aku tanya pak Jo ya, kalau bohong kita ngga suka" ancam Ester membuat judeo takut.
"ada sedikit masalah di perusahaan"
"ohhhh, kalau itu aku tidak bisa bantu mas"
"iya ngga apa-apa, kalian tetap di sampingku aja aku sudah sangat bahagia"
"emang masalahnya berat"
"yahhh gimana ya, oh iya kalau aku jadi miskin apa kalian akan meninggalkan aku" tanyanya tiba-tiba
"kok mas ngomongnya begitu"
"ya, nanya doank, kalau aku miskin kamu masih mau ngga sehidup semati samaku sampai maut yang memisahkan"
"iya mas, aku ngga perduli mas seperti apa, yang penting jangan ada orang ketiga, kita pasti akan bahagia. Uang bukan ukuran mas" jawab Ester pasti
"terimakasih sayang"
"sama - sama mas. sudah aku percaya mas bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik. sekarang mending makan dan istirahat ya mas"
"hmmmm kamu sangat perhatian" ucap judeo senang
"geer"
"biarin, emank di perhatikan kok" ucapnya reflek senyum
Judeo kembali tersadar sekarang ada orang yang selalu mengingatkannya dan temannya curhat. Mereka tidak egois dan matre, hidupnya selalu penuh makna bersama mereka.
__ADS_1
"tuan airnya sudah tuan," ucap Jo melihat tuannya sepertinya tidak segalau tadi.
"aku barusan teleponan Jo"
"dengan siapa tuan" Jo pura - pura bertanya, padahal melihat keceriaan judeo pastilah anak dan istrinya yang telepon.
"Ester sama Radit, mereka selalu percaya padaku dan menyemangati aku. sekarang aku merasa sangat senang Jo, ada temanku untuk berjuang, ada teman curhat yang tidak menghakimi" tutur judeo sumringah, sangat jelas kalau dia sangat bahagia denga Radit dan Ester.
"iya tuan, sepertinya mereka adalah penolong buat tuan"
"iya Jo"
Dengan sedikit lebih semangat judeo masuk kamarnya dan berendam di kamar mandi mewahnya.
Baru aja judeo keluar kamar mandi setelah lebih setengah jam dia berendam, Jo sudah masuk memberikan handphone judeo.
"pak ganda , papinya tuan ingin bicara"
"hmmmm" judeo menerima handphone yang di kasih Jo.
"hallo"
"hallo Deo"
"ada apa Pi"? tanya judeo takutnya Ester sama Radit kenapa-napa.
"ngga nak, tadi papi kepikiran, gimana pertemuan mu dengan mamimu"? tanya pak ganda bohong, padahal pak ganda ingin tahu ada masalah apa kantor judeo sebenarnya.
"yahhh begitu Pi, mami tetap egois. papi tahulah mami, dan mungkin kantor judeo akan bangkrut Pi, karena 55 persen itu milik mami, dan dia akan tarik semua" ujar judeo sedih
'ohhhj ternyata ini masalah judeo, maminya lagi, citra sudah keterlaluan' batin pak ganda.
"apahhhh, mamimu mengatakan itu"
"iya Pi"
"terus"
"yahhh terus begitu Pi, mungkin CJ akan hancur dulu Pi, sampai suatu saat bisa aku benahin lagi"
"emank kamu kira-kira butuh suntikan dana berapa, gadaikan aja separoh lahan panti milik panti untuk membantumu. tapi separuh aja, separuh lagi itu buat Aldo" ujar papinya.
Judeo sangat terharu dengan semua perhatian papinya, rela berkorban apa saja demi anaknya.sementara maminya justru ingin menghancurkannya, anak kandungnya sendiri.
"terimakasih Pi, tidak perlu. aku jual aja dulu asetku yang ada"
"terserah kamu nak, tapi kalau kamu perlu papi akan tanya Aldo dan Tante Silvia, mereka pasti juga setuju"
"makasih Pi, belum se urgent itu"
"ya sudah nak, kamu jangan terlalu pikirin ya, semua bisa ada jalan keluarnya, nanti kamu sakit. ingat anak dan istrimu, mereka menunggumu bukan hartamu" ucap pak ganda membesarkan hati anaknya.
"iya Pi, makasih Pi" airmata judeo sudah menetes.
Benarkah ini papinya yang selama ini dia benci, dia cap penghianat dan tidak tanggung jawab.
Hai readersku yang setia
Dukung terus ya
Like, coment dan vote
Terimakasih
__ADS_1