
Setelah lama berpikir akhirnya Ester menjawab juga setelah dengan berbagai pertimbangan.
"Aku terserah bapak dan ibu aja, aku ikut, karena aku percaya bapak dan ibu memang sayang banget samaku sama Radit" ucap Ester kepada pak ganda dan Bu Silvia.
"pasti bapa dan ibu juga ingin yang terbaik buat aku sama Radit" lanjutnya yakin membuat hati judeo sedikit lega.
Serasa mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat ganda dari yang dia harapkan judeo sangat bahagia. Diapun langsung tersenyum bahagia tanpa berusaha menjaga gengsi lagi.
Sementara pak ganda manggut-manggut sambil senyum. Dia juga merasa sangat bahagia, berarti kedepannya dia akan sangat dekat dengan anak, menantu dan juga cucunya.
Begitupun ibu Silvia, dia sangat bahagia juga, akhirnya suaminya bisa meraih anaknya judeo dan juga Ester menantu yang sudah dia anggap anak serta Radit cucu kesayangannya.
"Kalau begitu bapak hubungi teman bapa yang pemuka agama kemarin, biar kita pastikan langkah apa yang harus kalian lakukan untuk bersatu lagi." ucap pak ganda senang
"iya setuju pa, setidaknya kita berdoa bersama untuk mereka pa" dukung ibu Silvia juga senyum sumringah.
Judeo semakin malu dengan keluarga papinya. Di rumah mewahnya di Jakarta bahkan dia dan maminya tidak pernah tertawa lepas ataupun becanda. Hari-hari kita dipenuhi dengan hitungan seolah-olah otak kita harus selalu bekerja dua puluh empat jam.
Entah apa yang mereka kejar sebenarnya? Bahkan dengan tumpukan harta selama ini judeo merasa hidupnya hampa, kebahagiaanya hanya sesaat bukan dari hati.
"ya sudah Deo istirahat dulu aja, kamu kan baru menempuh perjalanan jauh, nanti kalau bapak itu kesini bapa panggil. Atau kamu ada kerjaan lain"? tanya pak ganda.
"ngga urgent Pi, beresin urusan ini dulu" ucapnya semangat
"ya sudah, kalian kalau mau bicara dari hati ke hati silahkan, papi sama ibu mau bicara sama bapa itu juga, biar dia tahu pokok masalahnya"
"iya pak" ucap Ester yang selalu hormat dan segan sama pak ganda dan Bu Silvia.
"ayo ma, kita telepon dulu bapak itu" ajak pak ganda menggandeng istrinya masuk kedalam membuat hati judeo lagi-lagi seperti di dunia baru. dia merasa tidak pernah melihat maminya dan papinya dulu berjalan bergandengan begitu. Tapi di rumah ini papinya sangat dihormati dan disegani, sehingga judeo merasa malu karena tadinya sangat tidak sopan sama papinya dan juga ibu Silvia tapi mereka tetap dengan tulus membantu dia.
Sepeninggal pak ganda sedikit terjadi kekakuan antara judeo dan Ester.
"katanya mas Deo mau istirahat, sana gih mas mumpung ada waktu, takutnya nanti kerjaannya sudah banyak"
"aku masih ingin bersama kamu"
"nanti masih bisa mas, istirahat dulu aja. apalagi bentar lagi Radit pulang, pasti nanti banyak permintaannya"
"iya itu yang aku tunggu, anakku merengek banyak hal samaku"
"tapi nanti masnya cape lho"
"iya sih, tadi malam aja aku ngga tidur" ucapnya mengadu
"lho kok bisa" ucap Ester
"karena hatiku sudah disini, badanku doank disana" ucapnya
"ihhhh mas Deo berubah, jadi tukang gombal" ucap Ester malu-malu.
__ADS_1
"aku ingin istirahat di kamar Radit, tempat kemarin kamu video call aku"
"ya sudah sana,"
"anterin, tunjukin dulu"
"panggil pak Jo ya"
"hahhhh buat apa panggil Jo"
"buat ngurusin bosnya lah" ucap Ester tersenyum menggoda judeo.
"ohhh begitu" judeo bangkit dan mendekati kursi Ester serta berbisik di telinganya.
"tapi aku ingin di urusin oleh istriku sekarang, cup" ucap judeo lalu mencium sekilas bibir Ester.
"mas Deo"
"soalnya sekarang bibir ini juga banyak omong" ucap judeo langsung mencium lembut bibir Ester kembali. Ester ingin berontak apalagi ini di meja makan siapa pun bisa lewat, bisa malu dia nanti.
"ummmh mas" ucap Ester saat bisa lepas lalu melihat kiri dan kanan.
"makanya sekarang aku ingin kamu temani istirahat, kalau tidak aku akan mencium kamu lagi di sini"? ancam judeo sambil senyum
"hahhhh"
"saya serius lho, ngga bohong, perlu buktinya" tanya judeo
Judeo tersenyum dalam hati, Ester yang dulu masih ada ternyata, walaupun sekarang dia sudah dewasa dan punya anak tetap aja menganggap segala sesuatu itu tabu. Dulu judeo berpikir karena Ester itu berasal dari kampung, tapi sekarang sudah hidup di kota dan pakaian modis pun prinsipnya tentang sesuatu yang tidak pantas itu sama.
Ester melangkah menuju kamar Radit diikuti oleh judeo.
Ester membuka pintu kamar Radit perlahan-lahan seperti ragu-ragu.
"kenapa kamu ragu, ada sesuatu di dalam" tanya judeo
"ahh ngga ngga, Radit lagi sekolah kok"
"iya dari tadi kan sudah ngomong" ucap judeo langsung menarik Ester ke balik pintu dan menutup pintu kamar Radit.
Judeo menatap Ester dengan intens, perlahan-lahan bibir itu sudah menempel. Ester mematung, bingung. Dia tidak pernah lagi di sentuh laki-laki selain judeo. Dan dulu dia melayani judeo karena sadar itu harus dan dia tidak bisa menolak seorang judeo.
Tapi sekarang apa ini?
Bahkan ester pun perlahan menerima sentuhan itu sehingga mereka larut ke dalam permainan mereka sendiri. Judeo sudah menggiring Ester ke kasur Radit setelah mengunci kamar Radit.
Untunglah kesadaran Ester cepat datangnya, sehingga permainan itu harus terhenti.
"mas" ucapnya malu begitu mereka saling melepas
__ADS_1
"belum waktunya, kita nanti kelewatan, ini kamar radit, tunggu kita di doakan lagi, biar kita awali dari awal"
"iya, kamu benar sayang" ucap judeo seperti disadarkan kalau Ester itu beda dari wanita lain. Bagi Ester doa itu sangat penting supaya berkah.
"aku ingin mandi dulu, tanya Jo dimana pakaianku"
"iya mas, sana gih" ucap Ester
cup
Masih sempat-sempatnya Deo mencium bibir Ester sekilas sebelum masuk kamar mandi.
"mas Deo"
"Napa, mau lagi, ntar ya, mas mandi dulu" ucap judeo dari balik pintu kamar mandi.
"huuuu"
Akhirnya Ester bertanya kepada Jo dimana pakaian tuannya judeo. Dan Jo dengan senang hati mengantarkanya kepada Ester karena itu akan mengurangi tugasnya yang sudah sangat banyak.
Ester memilih kaos kerah karena hanya untuk istirahat di rumah.
Lalu Ester menyiapkannya di kasur empuk milik Radit.
Setelah selesai mandi judeo dan Ester turun ke bawah menemui bapa ibunya serta bertanya tentang temannya itu.
"hehhh kalian sudah turun, orangnya baru mau datang, mungkin setengah jam lagi" ucap pak ganda.
"iya pak"
"mas Deo mau di buatin kopi ngga"?
"mau donk" ucap judeo sangat senang
"papa kopi apa teh pa" tanya Ester juga
"kopi juga nak"
"ibu mau di buatin apa"
"ibu nanti nebeng kopi bapak aja nak" ucap Bu Silvia senyum
"ohhh aku buatin dulu ya ma, pa"? ucapnya berlalu ke arah dapur.
"anak yang jadi menantu ya ma" ucap pak ganda tertawa lepas
Hai semuanya
Dukung terus ya
__ADS_1
like, coment dan vote
Terimakasih