
"apaaaa" Radit kaget ternyata orang yang seharian bersamanya adalah papanya.
"benaran ma"
"iya nak"
"tapi kenapa papa tidak tinggal disini, kenapa pulang lagi, apa papa tidak mau dekat Radit"
"bukan begitu sayang"
"aku akan tanya papa"
"ini sudah malam Radit"
"aku telepon ma, papa sudah kasih aku nomornya"
Belum sempat Ester berpikir mau jawab apa Radit sudah telepon nomor om judeo di handphonenya.
dddrrrttt dddrrrttt
"hallo" judeo yang lagi meeting di hotel tempatnya menginap keluar sebentar menjawab telepon anaknya.
"apa benar om papaku" tanyanya disebrang.
jedarrrr
Judeo memang ingin Radit tahu bahwa dia ayahnya, tapi kenapa sekarang dia seperti tidak siap. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Radit.
Judeo tidak pernah setakut ini menghadapi masalah pekerjaan. Bahkan bertemu dengan pengusaha kelas kakap sudah tidak ada grogi dan rasa takutnya. Kenapa menghadapi anak kecil seperti Radit membuatnya grogi dan takut ya, dia takut salah jawab membuat anaknya membencinya. Dia takut anaknya tidak akan menerimanya sebagai papanya karena tidak pernah dia biayain.
"jawab om, benar ngga" suara Radit disebrang seperti menangis.
Ingin rasanya judeo berlari memeluk Radit dan bilang' iya aku papamu, maafkan aku, sekarang ikutlah papa'. Tapi dia tahu tidak segampang itu, dia harus menggunakan seluruh kesabarannya untuk meraih hati dan kepercayaan ester saat ini.
"Radit" hanya itu yang bisa keluar dari mulut judeo
"apa benar om papaku" tanya Radit sudah terisak.
"apa om malu punya anak seperti aku, apa aku sangat merepotkan, apa aku terlalu banyak permintaan" celoteh Radit disebrang sudah menangis.
Ester dan ibu pengasuhnya hanya bisa bengong terdiam. Mereka bingung harus bicara apa pada situasi ini.
Sementara di sebrang judeo masih bingung juga. Dan samar-samar dia dengar Radit berbicara sama ibunya.
"ma aku mau kembalikan semua mainan ini, saya tidak mau merepotkan ma"
"tidak sayang, siapa yang bilang kamu anak yang merepotkan"
"kamu anak baik Radit, sangat baik"
"terus kenapa papa tidak mau tinggal samaku ma, sama kita. kenapa papa selalu pergi'
Semua perbincangan itu terdengar jelas ditelinga judeo. Hatinya semakin sakit dan teriris mendengar pernyataan anaknya. Di usia Radit hampir enam tahun sudah berpikir apakah dia anak yang merepotkan.
Bapa seperti apa aku ini?
Dulu aku sangat benci papaku karena mengabaikan aku, tapi aku sendiri melakukannya, batin judeo.
"halo pak, maaf Radit ganggu, mungkin besoklah kita bahas lagi" ucap Ester karena panggilan itu masih berlangsung.
"tidak, aku ingin bicara sama Radit sekarang, aku pasti tidak bisa tidur nanti"
"tapi"
"Jo dan supir akan jemput kalian ke hotel"
"tapi"
__ADS_1
"tidak ada tapi-tapian Ester"
Lagi lagi Ester harus mengalah akhirnya.
"terserah bapak aja" lalu judeo menyudahi panggilan itu.
Judeo langsung masuk keruang meeting dan menghandle meeting itu.
"maaf, Jo jemput Radit dan keluarga kesini"
Walaupun belum tahu kenapa tapi Jo sudah yakin untuk menjalankan perintah ini. tanpa bertanya ini itu, dia langsung bangkit dan menyerahkan laptop judeo. Kalau mengenai kerjaan dia yakin sekali bosnya pasti bisa handle semua.
Jo dan supir langsung menuju rumah ester. di gang itu.
Begitu Jo ketuk pintunya, benar saja mereka belum pada tidur.
Jo langsung mengajak mereka untuk ke hotel.
Mereka bertiga akhirnya ikut Jo ke hotel tempat judeo menginap.
Ternyata judeo sudah dikamar, karena tadi meetingnya langsung dia bubarin.
Begitu bel berbunyi judeo sudah membuka pintu dan terlihatlah rombongan itu disana.
"Jo bukakan kamar satu lagi"
"baik tuan"
"ibu, ikut pak Jo sebentar ya, aku ingin bicara sama mereka" ucap judeo kepada ibu pengasuh itu. Pengasuh Radit bingung, ia menatap Ester minta persetujuan. Dan saat Ester mengangguk barulah dia mengikuti tuan Jo.
Sementara judeo, dia langsung jongkok didepan Radit anaknya. Dia memeluk Radit sangat erat dengan perasaan campur aduk.
"raditttt"
"iya om"
"Radit, tadi kamu bertanya kan apakah aku ini papamu"
"hummmm" Radit mengangguk
"iya sayang, aku papamu, aku papamu." ucapnya serius
"panggil aku papa nak"
" papa" ucap Radit pelan
"iya sayang, aku papamu" jawab judeo dengan perasaan yang sangat bahagia. Entah kenapa banyak hal yang membuatnya bahagia, tapi hari ini, panggilan papa pertama oleh anaknya sangat susah dia jelaskan.
"benaran kan"
"benar nak, maafkan papa, karena bukan papa yang baik. Papa sangat tidak berguna." ucap judeo sudah memeluk Radit lagi.
"benarkah" tanya Radit belum percaya dan sangat senang
"hummmm iya sayang,"
"tapi mulai sekarang papa akan belajar jadi papa yang baik, papa akan berusaha nak"
"hmmmmm"
"sebaiknya bawa masuk dulu pak, malu dilihat orang dipintu"
"iya, aku lupa. tadi terlalu antusias"
"ayo Radit, ini kamar papa, kamu akan tidur disini, mau"
"emang boleh pa"
__ADS_1
"bolehlah"
"terimakasih pa, aku janji tidak akan merepotkan deh, aku tidak akan minta ini itu"
"tidak apa-apa sayang, mulai sekarang kalau ingin apa minta sama papa"
"benaran pa"
"benaran lah"
"tapi mama bolehin ngga ya" Radit menoleh ke mamanya.
"coba kamu tanya mama"
"ma, boleh ngga Radit tidur disini, dan minta sesuatu sama papa"
Ester yang ditanya anaknya begitu jadi kagok kan, karena dia ngga nyangka anaknya akan nanya begitu.
"nanti boleh dit, tapi sekarang siapa teman mama tidur, masa mama sendiri nak"
"iya ya, pa nanti aja Radit tidur disini ya, kasihan mama"
Walaupun sedikit kecewa entah kenapa judeo merasa senang juga, anaknya sangat sayang dan menurut sama mamanya.
"ya sudah sini, boleh papa peluk lagi"
"boleh pa" merekapun berpelukan erat lagi.
Ester hanya bisa terdiam melihat interaksi mereka itu. Sebenarnya dia juga tidak terlalu menyalahkan judeo karena memang dia ngga tahu Ester hamil selama ini.
Judeo membawa anaknya ke atas kasur empuknya. Mereka bercanda dan tertawa lepas.
Sementara Ester duduk dimeja rias di kamar itu. Dia jadi penonton interaksi antara papa dan anak itu.
Dalam hati sebenarnya Ester sangat senang ternyata tuan judeo tidak menolak keberadaan anaknya bahkan sepertinya dia sangat mendambanya. Tapi disisi lain Ester masih ada rasa takut, apalagi mami citra belum tentu setuju.
Tapi semuanya aku serahkan padamu Tuhan. aku tidak berdaya mengatur apapun, hanya rencana Tuhanlah yang selalu terbaik, doa Ester dalam hati.
"nah Radit sepertinya kamu sudah ngantuk, sini bobo dulu nunggu om Jo.". ucap judeo sambil menggaruk garuk punggung anaknya.
"Ester, apa dia tidur harus dibacakan cerita biasanya"
"ngga juga, elus kepalanya dikit aja dia akan langsung tidur" ucap Ester memberitahu kebiasaan Radit.
"terimakasih Ester, sudah merawatnya sampai sebesar ini" ucap judeo serius sambil mengelus kepala Radit.
"aku pasti akan merawat anakku dengan baik , semampuku"
"iya aku tahu"
"apa setelah kita berpisah kamu pernah menikah"
"tidak"
"kenapa" tanya judeo lagi
"tidak kenapa-napa, aku hanya ingin mengurus anakku"
"kita akan menikah lagi" jawab judeo tegas
"hahhhh"
Hai readersku, jangan bosan ya. tetap semangat.
jangan lupa like, coment dan vote.
Terimakasih
__ADS_1
"