
"sabar ya sayang bentar lagi, sepuluh menit lagi mama telepon" ucap ester karena merasa tidak enak dengan orang yang ada disana. apalagi ada orang lain selain mertuannya.
Ester kembali fokus dengan pertemuan itu.
"Baiklah pak hendra, saya rasa cukup, karena tadi juga aku sudah banyak bicara sama bapak. Jadi ini hanya formalitasnya aja. Saya rasa mekanismenya juga bapak sudah tahu" ujar bu citra penuh wibawa.
"sudah bu, akan kami aturkan dulu, kalau begitu kami mohon pamit dulu" ujar mereka sambil bangkit berdiri.
"mari pak" ucap bu citra sudah sedikit lebih rileks tidak sekaku biasanya.
Setelah tamu-tamunya keluar ibu citra ingin bicara dengan cucunya raditya.
"Kamu telepon lagi radit siapa tahu ada yang penting" ujar bu citra ingin juga bicara dengan cucunya.
"iya sayang, saya juga dah kangen tuh anak" dukung judeo sambil senyum sumringah, jauh dari karakter judeo yang biasanya. Pimpinan berwibawa yang tanpa senyum.
"iya mas " ester tetap tenang
Ester langsung mencari kontak anaknya dan langsung menghubunginya. sejak ketemu judeo kembali handphone radit bukan lagi handphone murah, tapi sudah yang berkelas.
dddrrrtt dddrrrrttt dddrrrrttt
"hallo mama"
"hallo sayang, kamu lagi ngapain"?
"lagi benarin pesawatku mah, tapi jatuh agak penyok "
"kok bisa, di jaga dong nak mainannya"
"tadi ngga sengaja ma,maaf"
"ya sudah, kalau ngga bisa dibenarin ngga apa - apa nak, nanti kita bongkar celenganmu, buat beli lagi" tutur ester kurang sadar bahwa judeo tidak akan membiarkan anaknya merengek sampai bongkar celengan demi mainan , begitu juga bu citra. bahkan pabrik mainan itu bisa mereka beli.
"oke ma" jawab radit antusias mendengar mainannya akan di ganti.
"radit, ini oma sama papa mau bicara sayang, taruh dulu mainannya ya"
"iya ma"
"hallo radit, ini papa dan juga oma" ucap judeo sambil mengarahkan kamera ke maminya.
"siapa oma pa" terlihat radit bertanya antusias
"oma itu, omanya radit, maminya papa"
"ohhh" jawab radit manggut - manggut menggemaskan.
"sapa oma dong nak " ucap ester tanpa menunjukkan wajahmya ke dekat handphone.
__ADS_1
Radit pun langsung menyapa oma citra.
"hallo oma, apa kabar, oma sudah makan" sapa radit dan judeo mengarahkan handphone ke wajah bu citra membuat ibu citra terharu. Setelah bercerai dengan pak ganda bahkan ibu citra tidak pernah terharu kayanya, karena hati dan perasaannya sudah membatu membeku.
Tapi ini hatinya bahagia, sedih dan juga bersyukur.
'bagaimana dulu dia ingin menyingkirkan ester sampai hampir buang cucunya selucu ini?
'Dan sekarang mendengar cucunya menyapanya hati bu citra benar - benar susah di jelaskan'
"hallo sayang , oma sudah makan, kamu sudah belum" Tanya bu citra dengan genangan air mata tapi dia usahakan jangan sampai jatuh.
"sudah oma, tadi setelah pulang sekolah, ganti baju terus makan, kalau tidak makan nanti aku sakit, mama pasti pusing kalau aku sakit, kasian deh, makanya aku makan teratur oma. " tutur raditya sangat jelas dan gampang di mengerti.
"iya sayang, baguslah" ucap ibu citra benar - benar terharu bisa berkomunikasi dengan cucunya. Untuk pertama kali cucunya memanggilnya oma. Sebenarnya ibu citra masih ingin berlama -lama bicara dengan radit, tapi judeo juga ingin bicara.
"hallo radit" sapa judeo lagi di layar handphonr
"pa, kapan pulang, pesawatku penyok pa" adunya lagi sambil menunjukkannya ke layar handphone.
"iya nak, nanti kita beli yang baru ya"
"benaran pa" ucapnya semangat, tapi menit berikutnya lesu lagi.
"tapi tabungan radit nanti habis pa, benarin ini aja deh" ucap radit polos karena ester memang sudah mendidik radit dengan keuangan yang disiplin.
"sayang nanti oma beliin ya, " ucapnya tanpa mendekat ke handphone.
"terimakasih oma , tapi aku harus tanya mama dulu ya oma, boleh apa ngga" ucapnya polos.
Lagi dan lagi ibu citra harus mengakui kehebatan ester dalam hati. Dia wanita sederhana tapi bisa bertahan hidup dan mengasuh anaknya dengan baik yang penuh kesederhanaan, itu terlihat dari radit yang sangat mematuhi mamanya.
"iya sayang" ucap ibu citra terharu
Ester hanya terdiam mendengar percakapan ibu mertuannya dan anak laki-lakinya itu.
Ditengah - tengah percakapan itu kedengaran bahwa radit di panggil.
"radit, main catur yo" mereka semua yang mendengar tahu kalau itu suara pak ganda.
"iya kek, sebentar radit turun" terdengar lagi radit menjawab
"papa, mama, oma aku sudah di panggil kakek, mama papa cepat pulang ya" ucap radit
"iya sayang " jawab judeo lalu menyudahi panggilan itu.
Kembali mereka bertiga di ruangan besar ibu citra, sedikit agak masih kaku, masing -masing hati mereka sibuk sendiri.
"apa rencana kalian" ibu citra memulai pembicaraan sambil menatap judeo anaknya. Tapi judeo malah menatap istrinya juga seolah keputusan ada di tangan ester.
__ADS_1
"Saya terserah mas deo aja ma, tapi biar bagaimana pun kami tetap harus balik dulu ke kota T dan bicara dengan bapak dan ibu. Biar bagaimana pun merekalah yang banyak mengurus radit bu " tutur ester jujur dan jelas.
"iya mi, tidak mungkin langsung instan prosesnya " timpal judeo juga.
"dan lagi radit itu sangat dekat dengan bapak bu, bahkan sebelum bapak tahu itu cucu kandungnya. Kalau radit itu sakit bapak sudah seperti kebakaran jenggot bu. Jadi darah dan hati mereka sudah sangat dekat.
saya belum tahu dia bisa ngga jauh dari bapak"? ujar ester
"mi, biarkanlah mengalir, jangan di paksakan" ujar judeo yang sudah mengerti sedikit dengan keadaan kedekatan radit , ester dan juga papinya.
"baiklah terserah kalian, tapi mami ingin secepatnya " ujarnya kembali duduk ke kursi kebesarannya. Saat mertuannya berbalik sebentar dan berjalan ke arah kursinya, ester berbisik sama judeo.
"mas aku lapar, aku cari makanan bentar ya" ucapnya malu
"ohhh kamu lapar, kok ngga ngomong, ayo" ucapnya
Ternyata hal itu dilihat ibu citra walaupun dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena berbisik.
"ada apa"? tanya bu citra
"dia lapar, kami pamit dulu mi" ucap judeo
"ohhh kamu sudah lapar, maaf" ujar bu citra seolah baru sadar, lalu menekan tombol interkomnya.
'clara bawa makanannya ke ruangan saya'
...
"Clara sudah pesan makanan, kita makan dulu " ucap bu citra
tok tok tok
"masuk"
Masuklah beberapa orang yang menggunakan seragam salah satu restoran terkenal. Mereka membawakan banyak makanan dan beberapa minuman hangat.
Melihat ikan asam manis yang masih ngebul, ester sudah langsung ingin menyantapnya. Matanya tidak bergeser dari ikan besar dan masih hangat itu.
"Ambil aja apa yang kamu inginkan, semua ini bagus kok untuk wanita hamil" ujar ibu citra
"terimakasih bu"
Esterpun benar - benar menikmati ikan asam manis itu dengan lahap. judeo senang istrinya tidak rewel mengenai makanan.
Hai semua
Terimakasih untuk like, coment dan votenya
Terimakasih
__ADS_1