AROGANKU & CINTAMU

AROGANKU & CINTAMU
PART 74 PENJELASAN


__ADS_3

Judeo semakin bingung untuk menentukan sikapnya.


Kenapa orang yang paling dia benci malah sangat berarti bagi orang yang paling berarti dalam hidupnya, yaitu Ester dan Radit.


Haruskah dia membenci orang yang paling mereka sayang dan banggakan?


Semua jadi diam dengan pikiran masing-masing. keadaan jadi sangat kaku.


"Deo, bagaimana kabar mamimu"? tanya pak ganda akhirnya membuyarkan kakakuan yang ada.


"baik" ucapnya masih agak judes


"syukurlah" ucap pak ganda tetap lembut


"terus gimana kalian bisa bertemu lagi nak" tanya Bu Silvia ke Ester. Sikap Bu Silvia yang lembut terhadap Ester dan Radit membuat hati judeo ikut bergetar.


"itulah Bu, kadang kita ngga bisa tebak sama sekali. Ternyata pak judeo adalah pemilik mall tempat saya bekerja sekarang. tidak masuk akalkan Bu"


"itulah kalau Tuhan yang menghendaki nak" ucap Bu Silvia lagi tetap lembut.


"tapi bapak benar-benar bersyukur Ester, telah merawatmu dan Radit cucuku sendiri" ucap pak ganda sudah berlinang airmata.


"iya ya pak, siapa yang menyangka kalau bapak masih bisa bertemu dan merawat anak kandung Deo. bahkan karena Radit cucu kita bapak bisa kembali bertemu judeo" ucap Bu Silvia menguatkan suaminya.


"iya ma, pantas aja selama ini perasaanku sama Radit itu sangat dekat ma. aku sangat tidak ingin dia terluka oleh apapun"


"itulah namanya ikatan darah pak" ucap Bu Silvia


"iya ma," ucap pak ganda lalu menatap judeo yang ikut hanyut mendengar perbincangan mereka.


"aku dengar usahamu semakin berkembang nak, kamu memang hebat, kamu punya bakat" tutur pak ganda


"biasa aja"


"pak, pak judeo memang sangat kaya raya. Bahkan mall tempat aku bekerja bisa dengan gampang dia beli" ucap Ester lagi


"iya nak, bapak tahu kok. makanya bapak tidak khawatir dulu meninggalkan dia bersama maminya"


"bukannya kamu ngga mikirin aku sama sekali" ucapnya masih judes


"kata siapa begitu Deo, itu bohong sama sekali" kali ini ibu Silvia yang bicara dengan lembut.


"itu nyata kan, bukan karena kata siapa" ucap judeo meninggi.


"Deo, papimu sangat menginginkanmu, tapi dia tidak berdaya" ucap Bu Silvia masih lembut

__ADS_1


"hahaha tidak berdaya karena kamu" ucapnya pedas membuat ibu Silvia terdiam.


"Deo, jangan keterlaluan kalau bicara. Aku tahu kamu marah karena kamu belum tahu yang sebenarnya" ucap pak ganda lembut.


"memang salah papa dan Silvia adalah selingkuh dibelakang mami kamu, hanya itu"


"hanya itu kamu bilang, rumah tangga mami hancur, mami sedih gara-gara kalian. bahkan aku sampai kehilangan kehidupanku gara-gara kalian" ucap judeo meninggi dan berapi-api.


"Deo, marahlah, supaya kamu bisa mengeluarkan isi hatimu nak, papi tahu kamu juga sayang sama papi" ucap pak ganda sudah meneteskan air mata yang dari tadi dia tahan.


"Deo, rumah tangga papi hancur bukan karena Silvia. justru silvialah satu-satunya orang yang mau menerima aku apa adanya."


"hehhh" ucap judeo meledek


"kamu boleh percaya, boleh tidak nak, tapi itulah kenyataanya. papi hanya berharap suatu saat kamu mengerti papi dan jangan benci sama papi atau Silvia. papi tidak mengharapkan apa-apa, hanya ingin tenang, tidak dibenci anak sendiri", ucap pak ganda sedih sekali.


"Deo, jika kamu tahu perjuangan papimu untuk ketemu kamu, sampai papimu dilaporkan ke polisi, apa semua itu belum cukup" cerita Bu Silvia


"apahhh, siapa yang melaporkan ke polisi"?


"citra" ucap pak ganda sudah enggan menyebut mami.


"Silvia harus menjual mobil kesayangannya untuk menebus aku dari penjara, karena menunggu kamu didepan sekolah" kenang pak ganda.


"itu tidak mungkin"


"tidak mungkin, uang mamiku banyak, ngapain ngambil rumah itu" tapi judeo sedikit ingat dengan ucapan pak Yosef tentang rumah kakeknya.


"aku juga tahu mamimu kaya raya, bahkan nilai rumah kakek hanya senilai dapur mamimu, tapi itulah kenyataannya. papi juga kurang tahu tujuannya pada awalnya, tapi ada orang yang bilang tujuannya memiskinkan saya sampai jadi gelandangan. Dia hubungi semua pengusaha untuk memblacklist saya dengan alasan karena korupsi" ucap pak ganda tambah sedih


"sejujurnya saya sudah tidak ingin ingat masalah itu lagi" ucapnya menghapus air matanya.


"kenapa mami ngga pernah bilang"


"yahhh saya rasa kamu sudah tahu mamimu" ucap pak ganda


"oh iya, menurut Ester dia dan anaknya tidak diharapkan oleh mertuanya, dan ternyata mertuannya itu adalah citra. Saya jadi percaya kalau dia bisa membuang Ester kedaerah terpencil begini , dengan harapan Ester sudah mati. oleh karena itu nak, biarkanlah Ester dan Radit disini bersamaku, mereka adalah anak dan cucuku. kasian kalau mamimu ntar menyiksa Ester. Aku tahu banget sifat mamimu, kalau belum berubah" ucap pak ganda.


Sejujurnya judeo juga mengiyakan ucapan pak ganda. Maminya memang sangat egois dan arogan, bahkan sifat itulah yang dia berusaha turunkan ke judeo.


Sementara pak ganda dan istrinya tetap lembut walaupun judeo sudah berkata kasar.


Jadi siapa yang harus judeo percaya sekarang.


Melihat judeo terdiam merenungi kata-kata pak ganda, ibu Silvia ingin menawarkan mereka makan malam.

__ADS_1


"oh iya pak nanti aja ngobrol lagi , Ester, kalian sudah makan, ayo kita tambahin masak, soalnya itu pasti kurang"


"ohhh iya sih, tapi pak judeo mungkin mau makan diluar Bu, kan tidak biasa dengan masakan sederhana"


Judeo yang mendengarnya jadi salah tingkah, tidak tahu harus jawab apa.


"nanti bilang Jo aja yang cari makan"


"ya sudah pak"


"apa pak judeo mau mandi dulu, mari pak saya antar ke kamar Radit"


"iya, sebaiknya kalian mandi dan bersih-bersih dulu" tutur pak ganda


Lalu Ester memanggil Radit dan pak Jo yang ada dihalaman depan.


"Radit, sekarang temani papa ke kamar Radit ya, dan papa juga mau mandi " ucap Ester begitu mereka di dalam.


"oke mama, came on, papa" ucap Radit sambil menarik tangan judeo.


"ayo" judeo akhirnya menurut


"Jo, Carikan kita makan malam, mungkin supir itu tahu lokasi terdekat dari sini" ucap judeo sebelum melangkah ke kamar Raditya.


"baik tuan"


Setelah judeo masuk kamar Radit barulah pak ganda menjelaskan lokasi penjual makanan kepada Jo dan supir kantor itu.


Sementara judeo mulai bimbang dengan pendapatnya sendiri.


Benar ngga sih papinya jahat?


Apa memang maminya yang terlalu egois dan arogan!


Karena yang saya lihat kehidupan di rumah ini penuh dengan cinta dan kasih sayang, walaupun mereka tidak hidup berlebih bahkan hanya sederhana, tapi mereka saling menyayangi satu sama lain.


"pa, ini kamar Radit, bagus kan pa, ada gambar pesawatnya" cerita Raditya yang merasa kamarnya dua kali tiga meter itu sudah hebat.


Kembali hati judeo tercubit, bahkan kamar pembantunya berkali-kali lipat lebih bagus dari ini.


Hai readers ku yang baik


jangan bosan ya


tetap dukung tulisan ini

__ADS_1


like, coment dan vote


terimakasih


__ADS_2