AROGANKU & CINTAMU

AROGANKU & CINTAMU
PART 87 PULANG


__ADS_3

Akhirnya tadi malam judeo bisa tidur dengan tenang, karena sudah tercapai kesepakatan antara dia dan Ester begitu juga papinya.


Drama mulai terlihat ketika pagi hari masih subuh judeo bersiap untuk berangkat ke Jakarta. Jo sudah mengatur pesawat milik keluarga nyonya citra untuk menjemput.


Radit yang baru bangun melihat judeo sudah rapi mulai main drama menangis. Bocah kecil yang lagi senang-senangnya memiliki seorang ayah merasa takut kalau sampai papanya pergi lama.


"Papa mau kemana"? tanyanya sudah penasaran dan terlihat tidak rela


"Ehhh Radit sudah bangun nak. " ucap judeo mendekati Radit


"sudah pa, papa mau kemana, kok sudah rapi tidak bangunin Radit"? tanya bocah itu


"Radit, papa mau ke Jakarta dulu ya, ada pekerjaan papa di sana" ucapnya memberi pengertian


"tapi papa pergi lama? Radit boleh ikut ga"? tanya Radit


Jelas aja judeo bingung untuk menjawab, dia bingung harus jawab apa dan bagaimana menghadapi anak kecil.


Akhirnya Ester menunjukkan perannya sebagai ibu. Judeo sangat senang membayangkan keluarga kecilnya ini akan menghadapi berbagai drama di tangisi anak kalau mau berangkat. Biar bagaimana pun judeo merasa menjadi seorang ayah yang diharapkan dan ditunggu oleh anaknya.


"Radit, Radit tidak boleh begitu nak, papa pergi untuk bekerja bukan untuk main" jelas Ester.


"tapi papa nanti perginya lama lagi ma, Radit ngga bisa bermain lagi" rengeknya mulai sedikit berontak.


"Radit sejak kapan ngga dengar mama nak" ucap Ester penuh tekanan.


Melihat mamanya marah Radit tidak jadi ngambek. Dia memang paling tidak bisa melawan mamanya.


"iya ma" akhirnya Radit memeluk mamanya sambil menangis.


Melihat itu judeo tambah sedih, dia sedih melihat anaknya begitu, padahal anaknya hanya ingin ikut dengannya.


"sudah jangan di marahi lagi"


"bukan dimarahi mas, tapi dia harus tahu mana kerja dan mana bermain. kan mama sudah sering bilang" ucap Ester.


",iya ma uhukkk uuuuukkk " tangis radit


"Radit, begini aja. Papa pergi hanya beberapa hari, nanti papa akan tetap hubungi Radit setiap hari, Radit juga bisa kok kapan aja telepon papa, gimana"? bujuk judeo entah dapat stock kesabaran darimana sambil berjongkok di depan anaknya


"iya pa" ucapnya lesu


"ada apa cucu kakek pake acara nangis sih pagi-pagi" tanya pak ganda yang baru aja naik ke atas.


"kakek, papa mau pergi lagi" adunya


"terus"


"nanti papa perginya pasti lama kek"


"emank papanya Radit bilang pergi lama" ucap pak ganda


"nnggakk, tapi nanti papa bohong"


"nggaklah, papa pergi beresin kerjaannya dulu. Kan papa itu bos, nanti kalau papa ngga kerja siapa yang kasih gaji buat karyawannya, kan kasihan"

__ADS_1


"karyawan itu apa kek"


"orang yang bekerja di kantor papa kamu"


"emank kantornya besar kek"


"ya besarlah, makanya Radit jangan nangis, biar papanya bisa kerja dengan tenang terus pulang kesini ajak Radit main"


"ya sudah, papa hati-hati ya, cepat pulang kalau pekerjaan papa selesai" ucap Radit kearah judeo.


Hati judeo sangat terharu, benar-benar hal baru ini baginya. Dia merasa ditunggu orang yang dia sayangi di rumah.


"iya sayang, terimakasih ya"


"ya sudah sana Deo keburu telat, Radit ayo kita joging di bawah"


"oke kek"


"Ester, ingat pesanku tadi malam, jaga Radit, bila perlu tidak usah bekerja lagi"


"tenanglah kami akan baik-baik aja"


"Jo berikan dia satu kartu atm pribadiku"


"baik tuan"


Jo langsung membuka tas kerjanya dan mengeluarkan satu kartu ATM milik judeo


"ini nona Ester"


"kasih nomor rekeningmu ke Jo"


"tidak usah, kami masih cukup"


"jangan lama Ester, saya sedang buru-buru" ucapnya


"baiklah"


Mereka berbarengan turun ke bawah. Judeo dan Jo sudah ditunggu di bandara sedangkan pak ganda dan ibu Silvia ingin menikmati udara pagi.


Saat sudah naik di mobil pun hati judeo sangat hangat, ini seperti gambaran keluarga yang sesungguhnya, belum pernah dia merasakan hal semacam ini.


Akhirnya mereka langsung melaju menuju bandara. Judeo sangat bahagia sekarang, dia tidak menyangka bahwa akhirnya dia menemukan orang-orang yang dia cintai di daerah ini, daerah yang tidak pernah dia lirik sebelumnya.


Dua jam lebih terbang, mereka tiba di Jakarta, kota yang sangat sibuk dan tidak memiliki kepedulian, menurut judeo.


Lalu hatinya kembali teringat dengan papinya dan juga Ester serta Radit. Mereka adalah orang-orang sederhana yang mungkin bahkan tidak memiliki ambisi tapi hati dan pikiran mereka penuh rasa kepedulian dan saling sayang satu dengan lainnya.


Sampai Jakarta judeo langsung menuju kantornya dulu. Ternyata disana memang sudah menumpuk kerjaan judeo yang harus di kerjakan.


Begitu masuk ruangannya, sekretarisnya sudah masuk dengan setumpuk berkas yang harus di tangani.


"apa saya sudah bisa kasih laporan pak"


"boleh, tapi panggil Jo dulu biar ikut dengar"

__ADS_1


"baik pak"


Setelah Jo masuk sekretaris itu mulai menjelaskan laporannya dan juga berkasnya.


Sebenarnya Jo sudah yakin banyak kerjaan tertunda, tapi Jo tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Jo dapat melihat bagaimana senangnya bosnya itu ketemu dengan Ester dan juga anaknya Radit.


Dan Jo juga sudah yakin bahwa begitu sampai Jakarta dia akan lembur terus untuk menghandle kerjaan bosnya itu.


"ibu citra juga sudah berkali-kali telepon dan juga beberapa kali datang ke kantor pak"


"bilang aja lagi sibuk"


"baik pak"


Judeo mulai serius bekerja, dia ingin kerjaannya cepat selesai dan segera pulang menemui Radit dan Ester. Judeo tidak perduli handphonenya berkali-kali berdering dan tertera nama mami calling. Judeo masih malas bicara dengan maminya, apalagi setelah melihat Ester dan Radit anaknya.


Setelah bekerja lebih dari dua jam, sedikit demi sedikit kerjaannya mulai berkurang Tinggal mereschedule meeting-meeting yang tertunda.


Tapi sepertinya kerjaan itu akan tertunda lagi, karena sebelum makan siang ibu citra sudah nongol di ruangan judeo.


"Sesibuk apa sih kamu Deo"? cecar ibu citra seperti biasa sudah duduk di sofa ruangan judeo


"kenapa emank"


"mami ingin bicara"


"bicara apa, ada proyek besar yang harus di perjuangkan"? tebak judeo karena biasanya begitu.


"iya, kemarin kamu susah di hubungi, padahal itu proyek besar Deo"


"terus"


"ya terus mami ambil sendiri jadinya"


"ya sudah terus"


"kamu tuh ya, terus, terus, terus, sebenarnya kamu masih ingin maju ngga sih"?


"aku lagi sibuk mam"


"sibuk, sibuk apaan, kalau tahu sibuk kok bisa kamu dikampung-kampung sana hampir dua Minggu, coba apaan itu"?


Mendengar kata di kampung-kampung sana membuat judeo teringat lagi dengan Radit dan Ester, membuat rasa bencinya sama maminya nongol ke permukaan .


"Mami sebenarnya ingin apa kesini"?


"Minggu depan jangan sampai ngga ikut ke acara lelang proyek, itu semua sangat bagus, mami sudah pelajari" ucapnya singkat dan tegas selayaknya pemimpin.


"aku ngga bisa, mami aja" judeo langsung jawab karena dalam hatinya paling lama empat hari di Jakarta dia akan kembali ke daerah T.


Hallo semua readers setiaku


dukung terus ya


like, coment dan vote

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2