
Terlalu asyik dan terbawa suasana masa lalu mereka tidak sadar Raditya sudah berada disana.
"mama" teriak Raditya yang sudah menenteng mobilan besar dan juga pesawat-pesawatan.
"Radit" ucap Ester segera memperbaiki mimik wajahnya yang tadi terlihat sedih.
"om Jo memberikan aku banyak hadiah ma, aku ngga minta lho ma, om Jo yang kasih" ucap Raditya serius membela diri sambil melirik Jo. Ester juga melirik pak Jo yang segera mengangguk mengiyakan pernyataan Raditya.
"iya nak, mama tahu, sekarang sudah sore kita pulang ya"
"oke mama"
"pamit sama om dan say thank you sama om Jo"
"om, Radit mau pulang dulu ya, terimakasih ya om Jo sudah dibelikan mainan, om Jo orang terbaik sedunia" ucap Radit kocak sambil mempraktekkan tangannya terbuka lebar.
Jo sangat suka Radit, pintar dan punya prinsip, padahal masih kecil.
Judeo merasa sedikit kurang senang dengan keadaan ini. Radit yang nota Bene anaknya malah lebih akrab dengan asistenya Jo. Tapi tunggu dulu itu hanya sebentar karena Radit belum tahu bahwa aku papanya, batin judeo.
Mereka akhirnya turun untuk pulang. Judeo dan Jo sudah dijemput supir di lobby, tapi kalau Ester sama Radit hanya jalan kaki, karena kostan Ester dekat dengan mall ini.
"silahkan pak" ucap supir yang mengantar jemput judeo dan Jo sambil membuka pintu mobil.
"ohhh bapak sudah di jemput, kalau begitu saya dan Radit duluan ya pak, rumah kami dekat kok, jalan kaki lima menit doank" ucap Ester sopan
"ehhhhh jangan, kita bareng, naik ke mobil" perintah Judeo yang dipanggil juga oleh Jo.
"tapi rumahnya masuk gang pak, tidak bisa mobil"
"sampai sebisanya aja, saya ingin lihat" ucap judeo sudah masuk dikursi penumpang dan bergeser ke pojok.
"ayo Radit masuk" ucap judeo mengajak Radit
"ayo ma" ajak Radit ke mamanya
Lagi-lagi Ester harus mengalah karena tidak ada pilihan. Dia menyuruh raditya masuk dan disusul oleh dirinya. Sementara Jo duduk didepan bersama supir.
"kita kemana tuan" tanya jo
"kerumah Ester"
"baik tuan, rumahnya dimana Radit"? tanya Jo ke Radit
"dekat om, nanti kita turun didepan terus jalan ke dalam"
__ADS_1
"pak supir pasti sudah tahu pak jo, itu pak kost-kostan "Clarisa"" akhirnya Ester bantu menjelaskan.
"ohhh itu ya mba, saya tahu kok" ucap sang supir sambil menjalankan mobil.
Selama dalam perjalanan mereka semua diam, hanya Raditya yang sesekali berceloteh tentang mainannya. Begitu masuk gang dan dekat rumahnya di gang sempit Radit langsung antusias untuk bilang rumahnya yang mana.
"itu om rumah Radit yang nomor dua" jelas Radit begitu sampai rumahnya.
Jo dan judeo hanya bisa melongo melihat kost-kostan sederhana itu. Kostan berderet seperti rumah petakan yang ada dua lantai. Rumahnya sangat kecil menurut Jo dan judeo. hanya berukuran tiga kali lima meter mungkin.
"kalian tinggal disini"? tanya judeo prihatin
"iya om, kami tinggal disini, ayo masuk om" ucap Raditya ramah
"iya, ayo tuan" ajak Jo sang asisten. Mereka akhirnya turun dan masuk rumah raditya. dan Ester. Sementara supir dan bodyguard judeo menunggu agak jauh dari mereka.
Begitu masuk kerumah itu hati Judeo tambah miris. Rumah yang diusahakan pemiliknya memang terlihat rapi dan bersih, tapi tetap aja itu hanya bangunan sederhana dan sangat sederhana menurut judeo.
Betapa tidak bergunanya semua kesuksesan judeo ketika anaknya harus hidup prihatin seperti ini. Bahkan kamar pembantu dirumah judeo jauh lebih bagus dari rumah ini.
"duduk dulu pak" ucap pengasuh Raditya
"oh iya, iya Bu" ucap Jo sambil melirik tuannya untuk duduk.
Ester yang sudah faham dengan karakter judeo sudah tidak kaget dengan semua yang dia ucapkan. Tapi berbeda dengan Raditya yang tidak tahu mengenai hubungannya yang sebenarnya dengan judeo. Dia terlihat melongo menatap Judeo seolah ingin bertanya 'kenapa harus pindah'.
Judeo semakin terlihat sedih ketika melihat agak ke belakang ada kompor masak dan juga beberapa piring serta kamar mandi kecil.
Saking tidak kuat dengan itu, judeo langsung memerintahkan Jo untuk menyuruh orang cari rumah yang lebih besar untuk mereka pindah.
Jo langsung bergerak cepat untuk mencari rumah yang besar untuk tinggal Ester dan Raditya. Dia langsung minta tolong dengan karyawan perusahaan yang ada disini untuk membantu. Banyak orang dia kerahkan yang penting yang mana duluan.
Ester akhirnya ingin ganti baju dulu karena dari tadi dia masih memakai seragam SPG.
"maaf pak saya ganti baju sebentar" ucapnya sopan.
"hmmmmm"
Judeo sebenarnya sudah tidak betah di rumah itu, rumah sempit dan pengap karena lokasi padat penduduk. Dan kebanyakan yang tinggal disana adalah orang yang bekerja dimall itu ataupun disekitarnya.
judeo yang terbiasa hidup super mewah akhirnya tidak kuat.Begitu Ester keluar dari kamar mandi untuk ganti baju, judeo langsung mengajak mereka keluar.
"Ester, aku ingin ajak kalian keluar, terserah mau makan lagi atau hanya sekedar jalan"
"tapi..."
__ADS_1
"ayolah Ester, kamu bukan posisi memilih" ancam judeo mendekat dan berbisik pelan dikuping Ester.
"baiklah, tapi kami bertiga harus ikut"
"hmmmm"
"Radit, simpan dulu mainanya nak, kita mau lihat pasar malam, mau ngga"?
"mau ma" ucap Raditya girang sambil bangkit berdiri dan menyimpan mainanya di dekat lemari plastik.
"ya sudah ganti baju ya nak, ibu juga ganti baju ya Bu"
"saya ikut juga Ter" tanya pengasuh Raditya yang masih bingung siapa sih laki-laki ini, soalnya dari tadi siang kayanya mengikuti Ester terus dan melihat Raditya seperti ada kesedihan di matanya.
"iya Bu, ikut ya, kita kemana-mana selalu bertiga kan" ucap Ester berusaha senyum.
"ayo Bu, kita ganti baju. ibu nanti temanin aku di rumah hantu" ajak Raditya juga.
Ester juga akhirnya ganti baju lagi, karena tadi dia hanya pake baju tidur rumahan. Akhirnya dia ganti dengan kaos oblong dan celana Levis hitam.
Melihat tampilan Ester yang makin berisi dan cantik kembali hati judeo bergetar. Tapi sekarang situasinya berbeda, dia tidak mungkin memaksa Ester, sekalipun dia masih istrinya. Dan entah kenapa sekarang judeo sangat takut kalau sampai Raditya membencinya.
Yang tidak kalah memukau adalah Raditya. Dengan kaos oblong dan celana Levis juga. dia terlihat makin tampan dan berkharisma, padahal pakaian yang dia gunakan itu bukan pakaian mahal, malah sangat murahan.
'Kamu benar-benar anakku radit' batin judeo seperti melihat dirinya dimasa kecil
"ma, kami sudah siap, let's go"
"oh iya, anak mama sudah ganteng. ayo sayang, nanti jangan nakal ya"
"iya mah" ucapnya sambil cup pipi kanan Ester.
Ada kecemburuan dihati judeo melihat keakraban Ester dan anaknya. Entah kecemburuan yang gimana, yang pasti dia tidak pernah merasakan seperti yang mereka lakukan.
"oke boy, mama pegang janjinya"
"yes mama"
Hai readersku, jangan bosan-bosan ya
Terus dukung author
Berikan like, coment dan vote
Terimakasih
__ADS_1